
October
17, 2013
Khutbah
Pertama:
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
…
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ
Amma
ba’du
Kaum
muslimin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala
Khatib
mewasiatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa
bertakwa kepada Allah Tabarak awa Ta’ala. Takwa dalam pengetian
sebenarnya menaati perintahnya dan menjauhi semua larangan-Nya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ
“Dan
sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum
kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (QS. An Nisa:
131)
Takwa
adalah wasiat Allah, wasiat rasul-rasul-Nya, dan wasiat orang-orang shaleh
kepada sahabat-sahabat mereka.
Shalawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita, kekasih kita, penyejuk
hati kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga,
sahabat, serta pengikutnya hingga akhir zaman.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala
Yang
terbaik adalah pilihan Allah. Sesungguhnya yang lebih mengetahui tentang
kemaslahatan kita adalah pencipta kita. Dia-lah Allah yang telah menciptakan
kita dan mengetahui apa yang terbaik untuk kita, Dia mengetahui perkara-perkara
gaib di masa depan, Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
أَلاَيَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah
Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau
rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al Mulk: 14)
Terkadang
kita merencanakan sesuatu, menurut prasangka dan perkiraan kita, apa yang kita
rencanakan adalah yang terbaik bagi diri kita. Kita pun berusaha untuk
meraihnya. Namun ternyata kita gagal setelah berusaha, tidak sesuai dengan apa
yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang
membuyarkan semua yang kita cita-citakan.
Namun
ingatlah, kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala
Jika
seorang hamba telah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah
tetapkan adalah yang terbaik bagi hamba tersebut. Kenapa? Karena yang terbaik
adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala
berfirman,
وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS.
Al-Baqarah: 216)
Kemudian
Allah tutup ayat ini dengan kalimat,
وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Dalam
ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Kemudian
bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak
menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(QS. An Nisa: 19)
Ada
seorang ulama di masa lalu, ia memiliki seorang anak yang sangat berbakti.
Bakti sang anak ini sangat luar biasa, hingga membuat orang-orang takjub dengan
perbuatannya tersebut. Mereka pun bertanya, apa rahasianya sehingga anak ini
bisa begitu berbakti. Ulama tersebut menjawab, ini lantaran saya sangat
bersabar menghadapi ibunya.
Ibunya
mungkin bukan seorang wanita yang shalehah, mungkin bukan wanita yang begitu
diharapkan, akan tetapi karena sabarnya ulama tersebut menghadapi istrinya,
lahirlah seorang anak yang begitu berbakti dari rahim istri tersebut. Kalau
seandainya ia ceraikan istrinya, mungkin ia tidak mendapatkan anak yang sangat
berbakti seperti anaknya saat ini. Ternyata Allah mengharapkan kebaikan yang
begitu banyak kepada ulama tersebut dengan lantaran ia bersabar menghadapi
istrinya yang tidak begitu shalehah.
Kaum
muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Sesungguhnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan beberapa contoh di
dalam Alquran, bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik, yang terkadang di luar
imajinasi kita, di luar dugaan kita, di luar daya hayal kita.
Contohnya
seperti kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Allah Ta’ala
menyebutkan kisah yang sangat luar biasa tentang Nabi Yusuf di dalam Alquran.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ
“Kami
kisahkan kepadamu (wahai Muhammad) kisah yang terbaik.” (QS. Yusuf: 3)
Kisah
siapa? Kisah Nabi Yusuf. Kisah yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang
menakjubkan. Bagaimana Allah Subahanahu wa Ta’ala memberikan
karunia kepada Nabi Yusuf dalam bentuk ujian-ujian. Oleh karenanya kata para
ulama –di antaranya Ibnu Qayyim rahimahulla– terkadang
karunia atau anugerah Allah berikan dalam bentuk ujian. Dan ini yang pernah
dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Kita tahu bagaimana nanti
di akhir kisah Nabi Yusuf menjadi seorang al-aziz, seorang menteri yang mulia,
yang dihormati oleh pendudu negeri Mesir. Bagaimana ceritanya Nabi Yusuf bisa
menjadi seorang yang mulia? Ternyata dengan rangkai ujian dan cobaan.
Dari
awal kisah, Allah sebutkan dalam surat Yusuf. Diawali dengan hasadnya
saudara-saudara Nabi Yusuf terhadapnya, akhirnya ia dipisahkan dari ayahandanya
dan dilemparkan ke dalam sumur. Ini ujian yang pertama, dipisahkan dari sang
ayah dan dilemparkan ke dalam sumur, namun Nabi Yusuf sabar dalam
menghadapinya. Dipisahkan dari sang ayah, yang mebuat sang ayah, Nabi
Ya’qub, begitu sedih, demikian juga Yusuf kecil, beliau sangat bersedih
atas musibah ini. Ayah yang mencitainya, ayah yang menyayanginya, ayah yang
mengayominya selama ini, harus terpisah darinya. Beliau diuji dengan ujian ini
dan dilemparkan oleh saudara-saudaranya ke adalam sumur. Ternyata di masa
mendatang ini adalah sebuah anugerah, namun anugerah tersebut akan digapai
melalui jalan ujian-ujian.
Kemudian
yang kedua. Ada orang yang sedang lewat, lalu ingin mengambil air dari sumur
tersebut, ternyata ada anak kecil, Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Orang
yang menemukan ini, bukan malah menyelamatkan dan membebaskan Nabi Yusuf, malah
dia menjadikan beliau seorang budak untuk dijual. Bayangkan! seorang yang
merdeka dijadikan barang dagangan untuk dijual. Ini musibah kedua yang dialami
Nabi Yusuf.
Akan
tetapi ternyata, tatkala Nabi Yusuf menjadi budak ini, ini adalah langkah
menuju kebahagiaan. Nabi Yusuf dibeli oleh pembesar negeri Mesir, kemudian
dirawat di istana yang megah, dan akhirnya Nabi Yusuf menjadi seorang pemuda
yang sangat tampan. Lalu muncullah musibah berikutnya.
Nabi
Yusuf dirayu oleh pemaisuri untuk diajak berzina. Nabi Yusuf menolak sehingga
beliau dijebloskan ke dalam penjara. Ini ujian yang ketiga. Bayangkan! Ujian
setelah ujian. Beliaupun tetap bersabar.
Kemudian
setelah beberapa saat di penjara, datanglah dua orang yang ingin ditafsirkan
mimpinya. Nabi Yusuf menafsirkan mimpi kedua orang tersbut dengan mengatakan
‘engkau akan dibunuh. Sedangkan engau akan selamat dan menjadi pelayan
yang menuangkan minuman untuk sang raja’. Lalu Nabi Yusuf berpesan kepada
orang yang akan selamat ini, ‘Jangan lupa engkau sebutkan
kebaikan-kebaikanku di sisi sang raja’. Apa maksud Nabi Yusuf? Apabila
sang raja mengetahui bahwasanya Nabi Yusuf adalah orang yang shaleh, yang mampu
menafsirkan mimpi, maka Nabi Yusuf akan dibebaskan dari penjara.
Ternyata
Allah menakdirkan lain, orang yang telah bebas ini lupa untuk menyebutkan
kebaikan-kebaikan Nabi Yusuf di sisi sang raja. Akhirnya, bertambah beberapa
tahun lagi Nabi Yusuf harus mendekam di penjara gara-gara orang ini lupa.
Ternyata
Allah punya sekenario yang lain. Lupanya orang tersebut ternyata adalah sebuah
anugerah. Sampai kapan? Sampai sang raja sendiri yang bermimpi.
إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنبُلاَتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ
“Sesungguhnya
aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh
ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh
bulir lainnya yang kering.” (QS. Yusuf: 43)
Tatkala
itu tidak ada seorang pun yang mampu menafsirkan mimpi sang raja, akhirnya
ingatlah orang tersebut bahwa Nabi Yusuf mampu menafsirkan mimpi. Ia
mengatakan,
وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ
Orang
itu teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan
memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu,
maka utuslah aku (kepadanya).” (QS. Yusuf: 45)
Allah
menjadikan orang ini ingat tatkala sang raja langsung yang bermimpi. Nabi Yusuf
pun menafsirkan mimpi sang raja dan masyhurlah Nabi Yusuf sebagai seorang yang
hebat. Akhirnya Nabi Yusuf pun diangkat menjadi seorang menteri yang mulia.
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Lihatlah!
Rentetan ujian yang dihadapi Nabi Yusuf ternyata semua itu kesimpulannya adalah
anugerah, kesimpulannya adalah karunia, Allah hendak mengangkat Nabi Yusuf
sebagai seorang pembesar di negeri Mesir bahkan seorang raja. Tidak hanya itu,
dengan lantaran itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan Nabi
Yusuf membawa ayah, ibu, saudara-saudaranya tinggal bersama di negeri Mesir
dari kehidupan yang sulit menuju kehidupan yang lapang. Ini adalah anugerah
yang sangat luar biasa, walaupun ceritanya tidak seperti yang kita bayangkan.
Tidak semua anugerah datang dengan jalan penuh kenikmatan, sebagaimana karunia
yang didapatkan Nabi Yusuf haru melewati berbagai ujian.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
الحمد لله الذي ظهر لأوليائه بنعوت جلاله. وأنار قلوب أصفيائه بمشاهدة صفات كماله. وتحبب إلى عباده بما أسداه من إنعامه وإفضائه. أحمده سبحانه حمد عبد أخلص لله في أقواله وأفعاله. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا معين في تدبيره وأفعاله. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله نبي أنعم الله على جميع أهل الأرض ببعثه وإرساله. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى جميع أصحابه وآله وسلم تسليما كثيرا
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala
Demikianlah
karunia Allah, terkadang didapatkan dengan penuh kesedihan yang harus dihadapi
dengan kesabaran. Takdir dan ketetapan Allah adalah yang terbaik. Allah adalah
Maha Bijaksana dalam takdir-Nya, Maha Mengetahui apa yang akan terjadi.
Hendaknya kita berbaik sangka terhadap Allah, bukan malah meratapi apa yang
kita hadapi. Ingatlah setelah kesulitan itu ada kemudahan.
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala.
Kisah
berikutnya adalah kisah ringan yang juga penuh pelajaran agar kita berbaik
sangka kepada pilihan Allah. Walaupun kisah ini apakah shahih benar-benar
terjadi atau tidak, namun ini sebuah ilustrasi yang bisa kita petik pelajaran
di dalamnya.
Ada
sebuah kisah seorang raja dan seorang menteri. Menterinya ini senantiasa
berkata
الخَيْرُ خِيْرَةُ اللهِ
Yang
terbaik adalah pilihan Allah.
Setiap
ada orang yang terkena musibah, akan dinasehati oleh sang menteri dengan
mengatakan, yang terbaik adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Suatu saat sang raja yang terkena musibah, jari raja ini terputus karena suatu
hal. Sang menteri datang dengan tetap mengatakan, wahai raja yang terbaik
adalah pilihan Allah. Jarimu putus itu adalah yang terbaik.
Mendengar
ucapan menterinya ini, raja pun tersinggung dan marah. Dia mengatakan,
“Jari saya putus yang terbaik?! Penjarakan dia!”
Tatkala
di penjara, dengan mudah menteri ini mengatakan, yang terbaik adalah pilihan
Allah.
Ternyata
benar, suatu saat sang raja pergi berburu bersama bawahannya untuk berburu atau
suatu keperluan. Mereka terjebak, pergi ke tempat yang jauh, lalu mereka
ditangkap oleh segeromblan orang penyembah dewa tertentu. Mereka ditangkap dan
disembelih satu per satu sebagai tumbal untuk dewa-dewa mereka. Tatkala Tiba
giliran sang raja, mereka dapati jari raja ini putus, mereka anggap raja ini
orang yang cacat yang tidak pantas dikorbankan untuk sesembahan mereka. Raja
pun dibebaskan.
Saat
itulah sang raja sadar akan kebenaran perkataan menterinya. Jarinya yang putus
ini adalah suatu kebahagiaan, merupakan anugerah, sehingga dia tidak jadi
dibunuh oleh orang-orang tersebut. Ia pulang dengan begitu semangat, lalu
membebaskan sang menteri. Raja mengatakan, “Benar perkataanmu, yang
terbaik adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya selamat
dari cengkraman mereka. Namun saya ingin bertanya, mengapa waktu engkau di
penjara, kau katakan yang terbaik adalah pilihan Allah Subhanahu wa
Ta’ala? Apa kebaikan yang kau alami di penjara?” Menteri
menjawab, “Seandainya saya tidak di penjara, maka saya akan pergi turut
serta berburu bersamamu, saya akan ditangkap dan disembelih oleh mereka. oleh
karena itu, saya dipenjara adalah yang terbaik.”
Mudah-mudahan
pelajaran-pelajaran dan kisah-kisah hikmah yang kami sampaikan ini bermanfaat
bagi para jamaah sekalian. Mudah-mudahan kita menjadi seseorang yang senantiasa
berprasangka baik terhadap Allah, dan meyakini bahwa takdirnya adalah pilihan
yang terbaik untuk kita setelah kita berdoa dan berusaha.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّار
Sumber:
Ceramah pendek Ust. Firanda Andirja, M.A. dengan perubaha seperlunya oleh tim
KhotbahJumat.com