
July
5, 2011
***
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
خَلَقَ
الْإِنْسَانَ
فِي أَحْسَنِ
تَقْوِيْمٍ،
وَفَضَّلَهُ
عَلَى
كَثِيْرٍ
مِمَّنْ خَلَقَ
بِالْإِنْعَامِ
وَالتَّكْرِيْمِ،
فَإِنِ
اسْتَقَامَ
عَلى طَاعَةِ
اللهِ اسْتَمَرَّ
لَهُ هذَا
التَّفْضِيْلُ
فِي جَنَّاتِ
النَّعِيْمِ،
وَإِلاَّ
رُدَّ فِي
الْهَوَانِ
وَالْعَذَابِ
الْأَلِيْمِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَهُوَ
الْخَلاَّقُ
الْعَلِيْمِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
شَهِدَ لَهُ
رَبُّهُ
بِقَوْلِهِ:
{وَإِنَّكَ
لَعَلى
خُلُقٍ
عَظِيْمِ} صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
الَّذِيْنَ
سَارُوْا
عَلَى النَّهْجِ
القَوِيْمِ
وَالصِّرَاطِ
المُسْتَقِيْمِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا، أَمَّ
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوْا
اللهَ تَعَالىَ
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
سُبْحَانَهُ
لاَ يَنْظُرُ
إِلَى
صُوَرِكُمْ،
وَإِنَّمَا يَنْظُرُ
إِلَى
قُلُوْبِكُمْ
وَأَعْمَالِكُمْ
Ayyuhal muslimun! Bertakwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنَكُمْ وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan
perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya
jika kamu adalah orang-orang beriman.” (Q.S. Al-Anfal:1)
Ibadallah! Salah satu prinsip besar yang dibangun oleh agama kita ialah
prinsip ukhuwwah (persaudaraan)
di antara sesama orang beriman.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Q.S. Al-Hujurat :10)
Jika hubungan persaudaraan yang ada di antara manusia sangat
beraneka ragam menurut macam-macam tujuan dan maksudnya, maka hubungan
persaudaraan yang paling kokoh talinya, paling mantap jalinannya, paling kuat
ikatannya, dan paling setia kasih sayangnya ialah persaudaraan berdasarkan
agama. Karena, persaudaraan semacam ini tidak putus talinya, tidak akan berubah
karena perubahan zaman, dan tidak akan berbeda karena perbedaan orang dan
tempat. Persaudaraan yang berlandaskan akidah dan iman, serta berdasarkan agama
yang murni karena Rabb
Yang Mahaesa senantiasa mampu mempersatukan umat Islam dari berbagai penjuru.
Inilah rahasia kekuatan dan kekokohannya. Inilah kunci keakraban para
personelnya yang ada di belahan bumi bagian timur maupun barat. Dan inilah yang
membuat mereka menjadi satu kesatuan yang pilar-pilarnya sangat kuat dan
bangunannya sangat kokoh. Sehingga, badai topan pun tidak sanggup
menggoyahkannya. Ia laksana bangunan yang dibangun dengan timah dan ibarat
tubuh yang satu.
Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa
Al-Asy’ari radiyallahu
‘anhu, bahwa Rasulullahu shallallahu
‘slaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya
orang mukmin bagi mukmin (lainnya) bagaikan bangunan yang satu sama lain saling
menguatkan.” (Shahih
Al-Bukhari, 481, dan Shahih
Muslim, 2585 ). “Dan beliau pun menyilangkan
jari-jemarinya,” kata Abu Musa.
Sementara An-Nu’man bin Basyir radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Perumpamaan
orang-orang beriman di dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti
tubuh. Jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka anggota tubuh lainnya
akan memberikan kesetiaan kepadanya dengan berdagang (susah tidur) dan demam.”
(H.R. Al-Bukhari, 6011 dan Muslim, 2587 )
Saudara-saudara sekalian! Sesungguhnya, ukhuwwah Islamiyah adalah
ruh dari iman yang kuat dan inti dari perasaan yang meluap-luap yang dirasakan
oleh seorang muslim terhadap saudara-saudaranya yang seakidah. Bahkan, ia
merasa bahwa ia bisa hidup karena mereka, bersama mereka dan di tengah-tengah
mereka. Seolah-olah mereka semua adalah ranting-ranting yang tumbuh dari satu batang
pohon dan muncul dari pokok yang sama. Dengan perasaan itu, maka hilanglah
perbedaan kesukuan dan warna kulit, lenyaplah perbedaan ras, dan matilah
fanatisme kebangsaan dan kesukuan. Sehingga, yang ada hanyalah pondasi besar
yang menjadi landasan berdirinya masyarakat Islam internasional yang dihimpun
oleh satu tali dan dinaungi satu bendera, yakni bendera iman dan tali ukhuwwah Islamiyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لتعارفوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)
Saudara-saudara seiman dan seagama! Di dalam masyarakat Islam yang
berlandaskan akidah iman dan bertemu pada titik syi’ar Islam, persaudaraan akidah
menggantikan persaudaraan nasab (darah), dan ikatan iman menggantikan
ikatan-ikatan materi, kepentingan individu, maupun ambisi pribadi. Di situ
seorang mencintai saudara-saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Ia
merasa sedih bila mereka sedih dan ia merasa senang bila mereka senang. Ia
selalu berbagi suka dan duka bersama mereka. Oleh karena itu, Islam memberantas
gejala-gejala egoisme dan mental suka mementingkan diri sendiri yang kejam.
Karena, ia merupakan kecenderungan yang tercela dan bencana yang buruk yang
diberantas oleh Islam, serta diganti dengan rasa persaudaraan dan persahabatan.
Siapa pun yang meneliti sejarah umat ini akan menemukan, bahwa
umat Islam belum pernah bersatu kata, merapatkan barisan, mengangkat
panji-panji kejayaan, menegakkan negara, atau disegani musuh, melainkan karena
rasa persaudaraan yang sangat kuat di antara mereka dan tidak ada bandingannya
di dalam sejarah umat manusia. Yaitu sebuah persaudaraan yang sangat kuat dan
kokoh yang menjadi pondasi bangunan umat yang perkasa, tangguh, kuat, dan
gagah. Sehingga, setelah bertarung melawan musuh-musuhnya, posisinya sangat
disegani, tiang-tiangnya menjulang tinggi dan pilar-pilarnya sangat kokoh.
Wahai umat Islam sekalian! Di dalam sejarah kita mendapat banyak
contoh nyata dan peristiwa yang tiada tara yang menggambarkan betapa kuatnya
ikatan persaudaraan di antara sesama umat Islam. Yang paling masyhur ialah
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Sehingga, setiap
orang Anshar
memiliki saudara dari kalangan Muhajirin.
Bahkan, ada orang Anshar
yang mengajak saudaranya dari kalangan Muhajirin
ke rumahnya, kemudian ia menawarkan kepadanya untuk berbagi harta bendanya yang
ada di rumahnya. Dan ia pun siap berbagi suka dengannya. Persaudaraan manakah
di dunia ini yang bisa menandingi ukhuwwah
Islamiyah tersebut?
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَيَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan orang-orang
yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada
mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa
yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan
(apa yang mereka berikan itu).” (Q.S. Al-Hasyr: 9)
Kemudian, apa yang terjadi setelah banyak umat Islam dikuasai
hatinya oleh materi, peradaban yang palsu merajalela di mana-mana, dan dunia
melompat dari tangan ke dalam hati, lalu bertemu dengan iman yang lemah dan
pendidikan yang salah, dan melaju bersama kesenangan dan materi, lalu tunduk di
hadapan tantangan yang menghadang? Yang terjadi setelah itu adalah ketegangan
hubungan sosial di antara sesame, karena sebab yang sangat sepele. Bahkan,
ketegangan itu pun terjadi di antara orang-orang yang memiliki hubungan dekat,
baik hubungan nasab (keturunan), perkawinan, persahabatan, maupun tetangga.
Sehingga pertikaian merajalela, pertengkaran terjadi di mana-mana, perpecahan
meluas, dan pemutusan hubungan menjadi-jadi. Kondisi itu menyebabkan hilangnya
kasih sayang dan kejernihan, menimbulkan perpecahan dan gugat-menggugat, lalu
memicu timbulnya sikap egois dan mementingkan diri sendiri.
Gejalanya bermacam-macam dan banyak ditemukan di tengah
masyarakat. Hal itu dipicu oleh lemahnya ukhuwwah
Islamiyah di antara umat Islam, bahkan di antara sesama anggota
keluarga. Misalnya, ada orang yang terlibat pertengkaran kecil dengan saudara
kandungnya karena memperebutkan secuil harta. Lalu, masalahnya menjadi pelik
dan semakin besar. Para juru runding gagal mendamaikan mereka. Masing-masing
ngotot ingin menempuh jalur hukum dan mondar-mandir ke pengadilan hanya untuk
melampiaskan dendam kepada saudaranya sendiri, gara-gara segenggam harta atau
sejengkal tanah. Bahkan, ada orang yang tidak bertegur sapa dengan saudara kandungnya
selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Subhanallah!
Mengapa semua ini bisa terjadi? Seorang adik menggugat kakak
kandungnya ke pengadilan!
Ada pula orang yang tidak pernah berkunjung ke rumah pamannya atau
saudara sepupunya. Bahkan, juga tidak pernah menghubunginya melalui telepon
untuk sekadar basa-basi. Dan itu bisa bertahan selama bertahun-tahun.
Ada kawan dekat dan teman akrab yang bersahabat selama
bertahun-tahun dalam suasana yang harmonis. Lalu, tiba-tiba terjadi sedikit
kesalahpahaman dan mendadak tali persahabatannya putus begitu saja, bahkan
berubah menjadi permusuhan, dendam, dan buruk sangka.
Ada tetangga dekat yang dinding rumahnya berhimpitan dengan
dinding rumah Anda. Anda menyukainya dan dia pun menyukai Anda. Anda suka berkunjung
ke rumahnya dan dia pun suka berkunjung ke rumah Anda. Tiba-tiba anak-anak
seperti biasa bertengkar, lalu para ibu ikut campur, teriakan membahana, dan
para ayah yang berakal sehat pun terlibat. Akibatnya, terjadi perang dahsyat di
antara mereka. Kata-kata kotor meluncur, tangan diacung-acungkan, dan pihak
berwenang pun ikut campur. Hasilnya, terputusnya hubungan secara permanen,
permusuhan abadi dan caci maki di depan umum. Bahkan, tidak jarang mendorong
seseorang untuk pindah rumah dan balas dendam. Allahul musta’an! Inikah
umat yang bersatu? Inikah ajaran ukhuwwah
Islamiyyah yang benar? Cukuplah, wahai hamba-hamba Allah!
Hentikanlah permusuhan dan pertengkaran! Awas, jangan sampai setan berhasil
mengadu domba Anda! Berdamailah, wahai orang-orang yang berseteru! Sambunglah
hubungan, wahai orang-orang yang memutuskan hubungan! Karena dampak buruk dari
perseteruan dan pemutusan hubungan itu sangat besar, baik di dunia maupun di
akhirat. Tidakkah Anda mendengar sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
“Tidak
halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga
malam (hari). Mereka berdua berjumpa, lalu yang ini berpaling dan yang ini pun
berpaling. Dan yang terbaik di antara mereka berdua adalah orang yang memulai
mengucapkan salam.”(Shahih
Al-Bukhari, 6077 dan Shahih
Muslim, 2560)
Atau sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Tolonglah
saudaramu dalam posisi sebagai orang zalim maupun korban kezaliman.”
(Shahih Al-Bukhari, 2443)
Atau sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
“Amal
manusia ditunjukkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis. Lalu orang yang
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni dosanya, kecuali orang
yang memendam rasa permusuhan dengan saudaranya. Dia (Allah) berfirman,
‘Tinggalkan kedua orang ini sampai mereka berdamai.’”
(H.R. Muslim dan lain-lain)
Di sisi lain, sejauh mana dukungan umat Islam dalam mewujudkan ukhuwwah Islamiyah? Dalam
arti, siapakah di antara kita yang mau melihat kondisi saudara-saudaranya dan
keadaan tetangganya, terutama orang-orang yang miskin, lemah, tidak berdaya dan
membutuhkan uluran tangan? Maka, siapa pun yang memiliki kelebihan uang,
makanan atau pakaian hendaknya mencari saudara-saudaranya yang membutuhkan
bantuan. Betapa banyak jumlah mereka! Karena hal itu dapat menciptakan
kesetiakawanan dan menanamkan belas kasih. Dan hal itu akan meraup pahala yang
melimpah di sisi Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Sedangkan orang-orang yang bergelimang harta,
tetapi beberapa meter dari tempat tinggalnya ada saudara-saudaranya sesama
muslim menjerit kelaparan, adalah orang-orang yang tidak mau membuktikan dasar
yang agung ini.
Wahai umat Islam! Ketika mengingatkan tentang kewajiban membangun ukhuwwah Islamiyyah, kita
tidak boleh melupakan saudara-saudara kita yang seiman dan seakidah di berbagai
belahan dunia. Kita semua berkewajiban memberikan bantuan, dukungan, doa,
sumbangan, dan pertolongan kepada mereka. Lebih-lebih mereka yang tengah
berjuang dengan tabah dan minoritas muslim yang tertindas di mana-mana.
Kepada mereka yang tidak mau menyumbang dan tidak mau mendoakan
saudara-saudaranya saya katakan: Jangan begitu! Karena saudara-saudara Anda
sangat membutuhkan dukungan, bantuan dan doa Anda. Jangan menganggap remeh apa
yang bisa Anda berikan.
Sementara saudara-saudara kita yang ada di Palestina terus-menerus
melakukan aksi heroik dan berjuang mati-matian, kendati bakal mereka sangat
sedikit. Mereka terus menunggu uluran tangan, bantuan dan doa dari
saudara-saudaranya yang seiman, sampai Allah berkenan membebaskan tanah suci itu
dari pendudukan para perampok dan kotoran pada penjajah. Dan hal itu tidaklah
sulit bagi Allah.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ مُقَلِّبِ القُلُوْبِ وَعَلاَّمِ الغُيُوْبِ، وَقَابِلِ التَّوْبَةِ مِمَّنْ يَتُوْبُ، شَدِيْدِ الْعِقَابِ عِنْدَ قَسْوَةِ القُلُوْبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ سَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Dan ketahuilah, bahwa salah satu konsekuensi takwa
adalah menunaikan hak-hak ukhuwwah
Islamiyyah. Maka, latihlah diri Anda untuk mencintai
saudara-saudara Anda yang seiman dan seagama sebagaimana Anda mencintai diri
Anda sendiri. Yahya Ar-Razi berkata, “Hendaknya setiap orang mukmin
minimal mendapatkan tiga hal dari Anda: jika Anda tidak bisa memberinya manfaat
(keuntungan), maka jangan memberinya mudharat
(kerugian), jika Anda tidak bisa membuatnya gembira, maka jangan membuatnya
bersedih, dan jika Anda tidak mau memujinya, maka jangan mencelanya.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah! Sesungguhnya,
menelantarkan seorang muslim adalah perkara besar yang bisa menyebabkan
putusnya tali ukhuwwah
Islamiyyah dan mendatangkan kehinaan dan kenistaan bagi semua
orang. Dan umat Islam tidak mengalami kehinaan, kecuali pada saat tali ukhuwwah Islamiyyah
melemah, di saat seorang muslim enggan berhubungan dengan saudaranya. Sementara
pada saat yang sama musuh-musuh Islam bersatu padu melawan umat Islam.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
“Adapun
orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. Jika
kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah
itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(Q.S. Al-Anfal: 73)
Bertobatlah wahai umat Islam, dari penyakit saling menjauhi,
saling membantai, saling membenci, dan saling membelakangi. Bergeraklah menuju
naungan cinta, perdamaian, tolong-menolong, persaudaraan dan keharmonisan,
niscaya Anda akan dapat menggapai kebaikan yang Anda harapkan, di dunia dan
akhirat. Dan perlu kiranya saya ingatkan, bahwa salah satu hasil nyata dari
pembahasan ini adalah semua orang yang bertikai segera berdamai dan saling
mengunjungi setelah mendengar khutbah ini. Ketahuilah, bahwa yang terbaik di
antara mereka yang bertikai itu adalah yang memulai menyambung hubungan dan
mengucapkan salam.
Ibadallah! Dunia ini sangat kecil artinya. Dan apa yang ada di sisi Allah
jauh lebih baik dan lebih kekal.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ بِكَ
مِنْ زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
Dikutip dari buku Kumpulan
Khutbah Jum’at Pilihan Setahun (Edisi Pertama), Elba
Al-Fitrah, Surabaya (alsofwah.or.id) dengan beberapa tambahan dan penyuntingan
bahasa oleh redaksi KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com