
November
25, 2011
***
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَجَعَلَ لِلْوُصُوْلِ إِلَيْهِ طَرَائِقَ وَاضِحَةً وَسُبُلاً , وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , شَهَادَةً نَرْجُوْبِهَا عَالِيَ الْجَنَّاتِ نُزُلاً , وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , أَقْوَمُ الْخَلْقِ دِيْنًا وَأَهْدَاهُمْ سُبُلاً , صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ , وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
Jamaah Jumat rahimakumullah
Mari kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan
ketakwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan
oleh-Nya dan rasul-Nya Shallallahu
‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya
dan Rasul-Nya Shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah
Di saat Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki terjadinya
hari kiamat, Dia pun memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakalanya
dua kali. Tiupan pertama sebagai pertanda untuk membinasakan seluruh makhluk
yang ada di bumi dan langit, sedangkan tiupan kedua untuk membangkitkan mereka
kembali. Allah Ta’ala
berfirman,
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ مَن شَآءَ اللهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ ِقيَامٌ يَنظُرُونَ
Maka, setelah Malaikat Israfil meniupkan sangkakala yang kedua
kalinya, semua makhluk pun dibangkitkan dari kuburnya oleh Allah Ta’ala, lalu mereka
dikumpulkan dalam suatu padang yang amat luas yang rata dengan tanah dalam
keadaan tidak berpakaian, tidak memakai sandal, tidak berkhitan, dan tidak
membawa sesuatu apa pun. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pada
hari kiamat nanti manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak memakai sandal,
tidak berpakaian, dan dalam keadaan belum berkhitan. Aisyah bertanya,
‘Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita (berkumpul pada satu tempat
semuanya dalam keadaan tidak berbusana?!) apakah mereka tidak saling melihat
satu sama lain?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
‘Wahai Aisyah, kondisi saat itu amat mengerikan sehingga tidak terbetik
sedikit pun dalam diri mereka untuk melihat satu sama lain!’.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ya, saat itu masing-masing dari mereka memikirkan dirinya sendiri
dan tidak sempat untuk memikirkan orang lain, meskipun itu adalah orang
terdekat mereka. Allah Ta’ala
berfirman,
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ {34} وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ {35} وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ {36} لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ {37
“Pada
hari itu manusia lari dari saudaranya. Dari bapak dan ibunya. Dari istri dan
anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang
menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)
Semua manusia saat itu berada di dalam ketidakpastian.
Masing-masing menunggu apakah ia termasuk orang-orang yang beruntung,
dimasukkan ke taman-taman surga atau termasuk orang yang merugi terjerembab ke
dalam jurang neraka.
Dalam kondisi seperti itu Allah Ta’ala
mendekatkan matahari sedekat-dekatnya di atas kepala para hamba-Nya, hingga
panasnya sinar matahari yang luar biasa itu mengakibatkan keringat mereka bercucuran.
Demikianlah para manusia saat itu berada di dalam kesusahan,
kebingungan, dan ketidakpastian yang tiada bandingannya. Padahal satu hari pada
saat itu bagaikan 50 ribu tahun hari-hari dunia! Allah Ta’ala berfirman,
تَعْرُجُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Malaikat-malaikat
dan Jibril naik (menghadap) kepada Allah dalanm sehari yang kadarnya lima puluh
ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)
Jamaah Jumat yang kami hormati
Seandainya kita mau berpikir, betapa mengerikannya hari-hari itu
lantas kita merenungkan jalan hidup kebanyakan manusia di dunia yang kita lihat
selama ini, niscaya kita akan sadar betul bahwa ternyata masih banyak di antara
kita yang telah terlena dengan keindahan dunia yang semu ini dan lupa bahwa setelah
kehidupan dunia yang sementara ini masih ada kehidupan lain yang kekal abadi
yang lamanya satu hari di sana sama dengan 50 ribu tahun di dunia!
Kita telah terlena dengan gemerlapnya dunia dan lupa untuk
beribadah kepada Allah dan beramal salih. Padahal pada hakikatnya kita hanya
diminta untuk beramal selama 30 tahun saja! Tidak lebih dari itu. Suatu waktu
yang amat singkat!
Subhanallah, bayangkan! pada hakikatnya kita diperintahkan untuk bersusah
payah dalam beramal salih di dunia hanya selama 30 tahun saja! Alangkah naifnya
jika kita enggan untuk bersusah payah selama 30 tahun di dunia beramal shalih,
sehingga akan berakibat kita mendapat siksaan yang amat pedih di akhirat selama
puluhan ribu tahun!
Allah telah memperingatkan supaya kita tidak tertipu dengan
kehidupan duniawi yang fana ini dalam firman-Nya,
يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَيَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُور
“Wahai
para manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali
kehidupan dunia memperdaya kalian, dan janganlah sekali-kali (setan) yang
pandai menipu, memperdayakan kalian dari Allah.” (QS. Fathir:
5)
Mengapa orang yang tertipu dengan kehidupan duniawi benar-benar
telah merugi? Karena kenikmatan dunia seisinya tidak lebih berharga di sisi
Allah dari sebuah sayap seekor nyamuk!
Sahl bin Sa’d bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Seandainya
dunia sepadan dengan (harga) sayap seekor nyamuk, niscaya orang kafir tidak
akan mendapatkan (kenikmatan dunia meskipun hanya seteguk) air.”
(HR. Tirmidzi, dia berkata, “Sahih
gharib min hadzal wajhi.”).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Jamaah Jumat rahimakumullah
Maka, mari kita manfaatkan kehidupan dunia yang hanya sementara
ini untuk benar-benar beribadah kepada Allah Ta’ala,
mulai dari mencari ilmu, shalat lima waktu, berbakti kepada orang tua, berbuat
baik kepada sesama terutama tetangga, mendidik keluarga sebaik-baiknya, dll.
Juga berusaha untuk menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jangan sampai kita termasuk
orang-orang yang disebutkan Allah Ta’ala
dalam firman-Nya,
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّايَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ
“Dan
mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami,
niscaya kami akan mengerjakan amalan sholih berlainan dengan apa yang telah
kami kerjakan.’ Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang
cukup bagi orang yang mau berpikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada
bagi orang-orang zhalim seorang penolong pun.” (QS. Fathir:
37).
Namun, mereka tidak akan mungkin bisa kembali lagi ke dunia.
Demikian pula mereka tidak akan mati di neraka. Allah Ta’ala bercerita,
وَنَادَوْا يَامَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ {77} لقَدَ ْجِئْنَاكُم بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ {78
“Mereka
berseru: ‘Wahai Malik, biarlah Rabb-Mu membunuh kami saja.’ Dia
menjawab: ‘Kalian akan tetap tinggal (di neraka ini). Sesungguhnya Kami
benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, namun kebanyakan kalian
benci terhadap kebenaran tersebut.” (QS. Az-Zukhruf: 77-78).
Jangankan untuk menghentikan siksaan, untuk mendapatkan setetes
air pun mereka tidak bisa. Allah Ta’ala mengisahkan,
وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَآءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ قَالُوا إِنَّ اللهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ {50} الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَآءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَاكَانُوا بِئَايَاتِنَا يَجْحَدُونَ {51
“Dan
penghuni neraka menyeru penghuni surga: ‘Berilah kami sedikit air atau
makanan yang telah diberikan Allah kepada kalian.’ Mereka (penghuni surga)
menjawab: ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas
orang-orang kafir.’ (Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka
sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.
Maka pada hari (kiamat) ini Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan
pertemuan mereka dengan hari ini dan (sebagaimana) mereka lalu mengingkari
ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 50-51)
Semoga kita semua bukan termasuk golongan tersebut di atas, Amiin ya Rabbal ‘alamin.
إِنَّ
اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا وَ
لِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِاْلإِيمَانِ
وَلا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلاَّ لِلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ رَؤُوفٌ
رَحِيمٌ
رَبَّنَا
لا
تُؤَاخِذْنَا
إِنْ
نَسِينَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا
وَلا
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْراً
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلَى الَّذِينَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبَّنَا
وَلا تُحَمِّلْنَا
مَا لا
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنَّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِينَ,
وَأَقِمِ
الصَّلاَة
Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 01 Tahun ke-10 1431/2010 dengan
beberapa penyuntingan oleh redaksi www.Khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com