
March
15, 2016
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ؛
Ayyuhal
ikhwah,
Tiap
kali hati seorang muslim merenungi nash-nash syariat, maka akan ia dapati
segala bentuk motivasi yang dapat menyatukan hati kaum muslimin. Dan akan dia
dapati pula larangan dari segala hal yang dapat menyebabkan perpecahan di
antara mereka. barangsiapa yang membaca sejarah umat jahiliyah, mereka akan
mendapati dengan jelas bagaimana Islam membina umat tersebut. Mereka yang
berpecah belah dan saling benci karena fanatik kabilah, mencati bersatu dan
berada dalam ikatan persaudaraan Islam.
Di
antara benutk ibadah yang sangat dimotivasi syariat kita yang suci agar supaya
diwujudkan adalah menyambung kekerabatan. Atau silaturahim. Syariat mendudukan
silaturahim pada keadaan yang agung. Dan mereka yang mengamalkannya akan
mendapatkan pahala yang besar. Sebaliknya, mereka yang memutuskannya mendapat
siksa yang pedih. Barangsiapa yang tidak mengagungkan amalan ini dan tidak mengamalkannya,
maka dengarlah firman Allah ﷻ berikut ini,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ…
“Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu
sabil…” (QS:An-Nisaa | Ayat: 36).
Atau
firman Allah ﷻ berikut:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ، إنَّ اللهَ كَانَ عَليْكُم رَقِيباً
“Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 1)
Atau
firman Allah ﷻ tentang penduduk surga:
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ
“dan
orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya
dihubungkan.” (QS:Ar-Ra’d | Ayat: 21).
Setelah
mendengar ayat-ayat ini, bagaimana hari seseorang tidak bergetar? Orang yang
beriman akan merasa takut apabila berlaku tidak sempurna dalam ibadah ini. dan
ia juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ والْيوم الآخِر فَلْيصلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung
silaturahim.” (HR. al-Bukhari).
Karena
sesungguhnya seorang mukmin, ketika dia mendengar harid ini ia akan merasa
takut apabila termasuk orang yang memutus silaturahim. Atau tidak sempurna
dalam menunaikannya
Orang
beriman yang mana yang akan meremehkan silaturahi, padahal ia mendengar sabda
Nabi ﷺ dalam sebuah hadits muttafaq ‘alaihi.
مَنْ أَحبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ في رِزقِهِ، ويُنْسأَ لَهُ في أَثرِهِ، فَلْيصِلْ رحِمهُ
“Barangsiapa
yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan usianya, hendaklah ia
menyambung silaturrahim.” (Muttafaq ‘alaih).
Makna
dari diakhirkan usianya adalah ajalnya diakhirkan atau umurnya dipanjangkan.
Atau
sabda Nabi ﷺ yang lain,
الرَّحمُ مَعَلَّقَةٌ بِالعَرْشِ تَقُولُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّه، وَمَن قَطَعَني قَطَعَهُ اللَّه
“Ar-rahim
itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka
Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan
memutus hubungan dengannya”. (Muttafaqun ‘alaihi).
Dalam
hadits yang lain,
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ الرَّحِمُ قَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَذَاكِ لَكِ
“Sesungguhnya
Allah menciptakan makhluk dan setelah usai darinya maka rahim berdiri lalu
berkata: Ini adalah tempat orang berlindung dari pemutusan silaturramhi. Maka
Allah berfirman: Ya. Bukankah kamu merasa senang Aku akan menyambung hubungan
dengan orang yang menyambungmu dan memutuskan hubungan dengan orang memutuskan
denganmu? Ia menjawab: Ya. Allah berfirman: Demikian itu menjadi hakmu”.
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Lawan
dari menyambung silaturahim adalah memutuskan silaturahim. Allah ﷻ
berfirman,
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka
apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS:Muhammad | Ayat: 22).
Apa
balasan mereka wahai Rabb?
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ
“Mereka
itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan
dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS:Muhammad | Ayat: 23).
Bagaimana
bisa seseorang berani memutuskan silaturahim, padahal ia mendengar firman Allah
ﷻ
tentang penduduk neraka?
وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
“Orang-orang
yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa
yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi,
orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang
buruk (Jahannam).” (QS:Ar-Ra’d | Ayat: 25).
Ibadallah,
Ada
beberapa kesalah-pahaman terkait dengan silaturahim. Kita dapati orang-orang
keliru dalam memahami menyambung hubungan rahim dan hubungan kekerabatan.
Pertama: sebagian orang hanya menyambung
hubungan dengan orang yang mau menyambung hubungan dengan mereka. Ini adalah
pemahaman keliru. Karena menyambung hubungan ini terkait dengan hak Allah dan
juga hak kerabat. Oleh karena itu, ketika kerabat tidak menyambung hubungan
dengan Anda, maka jangan Anda melakukan hal yang sama. Karena Allah memiliki
hak dalam ibadah ini.
Ada
seseorang datang kepada Nabi ﷺ, ia berkata,
يَا رَسُول اللَّه! إِنَّ لِي قَرابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُوني، وَأُحسِنُ إِلَيْهِمِ وَيُسيئُونَ إِليَّ، وأَحْلُمُ عنهُمْ وَيجْهلُونَ علَيَّ
“Wahai
Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan
tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka
berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka
kasar terhadapku,”
Perhatikanlah
sifat ini! betapa banyak orang yang memutus hubungan kekerabatannya! Atau
bertemu mereka tanpa senyum dan bermuka masam. Atau sifat-sifat lain yang
merupakan sikap memutus hubungan. Perhatikan sekali lagi pertanyaan orang yang
datang kepada Nabi ﷺ,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Wahai
Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan
tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka
berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka
kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi
mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama
engkau berbuat demikan.” (Muttafaq ‘alaihi).
Memutus
hubungan silaturahim bagaikan sakit dosanya bagaikan seseorang memakan pasir
panas. Bayangkan betapa menderitanya hal itu. Tidak ada sedikit pun kebaikan
pada mereka. Mereka mendapat dosa yang besar karena meremehkan hak Allah. Dan
Allah timpakan siksa pada mereka.
Diriwayatkan
oleh al-Bukhari dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma bahwasanya abi ﷺ
bersabda,
لَيْسَ الْواصِلُ بِالمُكافئ، وَلكِنَّ الواصِلَ الَّذي إِذا قَطَعتْ رَحِمُهُ وصلَهَا
“Seorang
yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang
dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi
adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya
diputuskan oleh pihak lain.” (HR. al-Bukhari).
Kedua: Membatasinya hanya pada seorang
muslim saja.
Dalam
ash-Shahihain teradapat sebuah hadits dari Asma binti Abu bakr radhiallahu
‘anhuma.
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَتْ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ االله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ
Dari
Asma binti Abu Bakr radliallahu ‘anhuma, ia berkata; “Ibuku
menemuiku saat itu dia masih musyrik pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu aku
meminta pendapat kepada Rasulullah ﷺ. Aku katakana, ‘Ibuku sangat ingin
(aku berbuat baik padanya), apakah aku harus menjalin hubungan dengan
ibuku?’ Beliau menjawab, ‘Ya, sambunglah silaturrahim dengan
ibumu’.” (HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya).
Juga
dalam ash-Shahihain dari Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
“Aku mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkan dengan jelas,
إِنَّ أل أَبِيْ لَيْسُوْا بِأَوْلِيَائِيْ، إِنَّمَا وَلِيِّيَ الله وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ، ولكن لَهُمْ رَحِمٌ أَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا.
“Sesungguhnya
keluarga bapakku (yang tidak beriman) bukanlah wali-waliku, sesungguhnya
wali-waliku hanyalah Allah dan orang-orang shalih yang beriman, hanya saja
mereka mempunyai hak rahim yang akan aku berikan sebagaimana layaknya.”
(HR. al-Bukhari).
Beliau
tetap menunaikan hak-hak kekerabatan kepada keluarga beliau yang non Islam.
Jika
demikian, berarti syariat kita tetap menunutunkan agar kita menyambung hubungan
kekerabatan dengan keluarga kita yang non muslim. Lalu bagaimana kiranya dengan
keluarga yang muslim? Betapa besar keburukan yang dilakukan orang yang memutus
hubungan dengan keluarga yang muslim. Terlebih lagi memutus hubungan dengan
kedua orang tua. Wal ‘iyadzubillah..
Ayyuhal
muslimun,
Ada
sebagian orang yang diberikan taufik, ia mencari segala cara untuk menyambung
silaturahmi. Ia mengerahkan segala kemungkinan untuk menempuh jalan tersebut.
Di antara wasilah yang menyebabkan tersambungnya silaturahim adalah:
Pertama: bagi mereka yang memiliki kelebihan
harta. Lalu ingin berwasiat memberi sebagian dari hartanya. Hendaknya dia
memperhatikan kerabatnya. Perhatikan yang terdekat dan terdekat. Anas bin Malik
radhiallahu ‘anhu berkata,
Abu
Thalhah adalah seorang dari kaum Anshar yang paling banyak hartanya di kota
Madinah berupa kurma, dan harta yang paling ia cintai adalah Bairuha’.
Kebun tersebut berhadapan dengan masjid. Nabi ﷺ sering masuk ke dalamnya dan meminum dari
airnya yang baik.
Anas
yang meriwayatkan hadits ini berkata, ketika turun ayat { لَنْ
تَنَالُوا
الْبِرَّ
حَتَّى
تُنْفِقُوا
مِمَّا
تُحِبُّونَ } bangunlah Abu Thalhah menghadap
Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah
Ta’ala berfirman { لَنْ
تَنَالُوا
الْبِرَّ
حَتَّى
تُنْفِقُوا مِمَّا
تُحِبُّونَ } (Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan
sehingga kalian menafkahkan dari apa yang kalian cintai), dan sesungguhnya
harta yang pling aku cintai adalah Bairuha’, maka ia menjadi sedekah
untuk Allah. Aku berharap kebaikannya dan simpanan pahalanya di sisi Allah,
maka letakkanlah wahai Rasulullah dimana yang Allah beritahukan
kepadamu”. Lalu Rasulullah bersabda: “Bakhkhin (beruntung) itu
adalah harta yang mendatangkan keuntungan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari
ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiallahu ‘anha, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَعَرْتَ أَنِّي أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِي قَالَ أَوَفَعَلْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ
“Wahai
Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi
bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab,
“Ya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu
kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”. (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Kedua: membuat yayasan sosial.
Pembangunan
yayasan sosial bisa dilakukan dengan kerja sama antar anggota keluarga. Yang
jelas harus ada langkah pertama walaupun hal itu kecil. Pembangunannya
menghimpun pemuda dan orang tua. dari sana berbagai lapisan masyarakat dapat
mengambil manfaatnya. Dan yayasan sosial itu akan terus berkembang dalam waktu
yang tidak ditentukan. Tentu ini akan bermanfaat untuk sesama dan ibadah yang
agung kepada Allah Ta’ala.
Ketiga:
Membuat acara kumpul keluarga.
Acara
kumpul keluarga ini bisa dilakukan sebulan sekali atau waktu-waktu yang
disepakati bersama lainnya. Para keluarga yang masih muda hendaknya
menginisiasi hal ini. Merekalah yang menyiapkan pertemuan keluarga tersebut.
Karena biasanya orang yang sudah tua agak malas melakukan inisiatif demikian.
Dengan menjadi perantara dalam menyambung silaturahim, tentu mereka telah
menjadi pembuka pintu kebaikan yang besar.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
تَقْوَى مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يّسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ،
Ibadallah,
Dari
ayat-ayat dan hadits-hadits yang disebutkan pada khotbah ini, kita mengetahui
betapa agungnya menyambung silaturahmi. Namun sayangnya, sebagian orang menjadi
penggembira untuk setan. Mereka memutus hubungan silaturahim. Maka didapati
hubungan buruk antara anggota keluarga.
Dimulai
dari durhaka kepada kedua orang tua. Bisa jadi juga seorang ayah atau ibu
menzalimi anak-anak mereka. Mengutamakan yang satu dibanding yang lainnya.
Hubungan buruk ini terkadang memisahkan antara saudara kandung. Tidak jarang
disebabkan permasalahan dunia yang sepele. Yang sangat tidak sebanding dengan
harga kekerabatan mereka.
Ibadallah,
Dan
juga termasuk hal yang menyedihkan, sebagian menutup pintu untuk menyambung
hubungan kekerabatan. Di antara mereka saling mengirimkan ucapan yang menyakiti
perasaan. Berjumpa dengan wajah yang masam, tidak ada senyuman.
Wahai
saudaraku,
Demi
Allah yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia, hal ini akan mereka
sesali sejak malam pertama di kubur. Kemudian mereka berandai-andai kalau saja
dulu tidak berbuat demikian. Mereka mencela diri mereka yang tergelincir dari
jalan yang benar.
Teladanilah
Nabi Yusuf, beliau mendapat perlakuan buruk dari saudara-saudaranya, namun
beliau tetap menyambung silaturahim. Beliau memaafkan saudara-saudaranya.
تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ * قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Demi
Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. Dia (Yusuf) berkata:
“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah
mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para
penyayang”. (QS:Yusuf | Ayat: 91-92).
Inilah
seseorang yang berjiwa besar. Ketika Allah memberinya kedudukan yang tinggi dan
saudara-saudaranya berada dalam keadaan lemah, beliau tutup semua luka masa
lalu. Tidak sedikit pun beliau ungkit tentang kesalahan saudara-saudaranya
terhadap dirinya.
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَاأَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي
“Dan
ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya)
merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai
ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah
menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik
kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu
dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan
saudara-saudaraku.” (QS:Yusuf | Ayat: 100).
Beliau
tidak nisbatkan perbuatan jahat itu kepada saudara-saudaranya, tapi beliau
sebut itu ulah setan. Dalam posisi berkuasa, jika beliau mau beliau mengatakan
apa yang bisa dikatakan orang-orang, dan melakukan apapun sebagai perhitungan.
Namun beliau sama sekali tidak melakukan hal itu. beliau telah dilempar ke sumur,
dijual hingga menjadi budak, masuk penjara, dll. tapi beliau maafkan.
Allahu
akbar! Inilah hati yang besar. Dan ini adalah petunjuk dari Allah ﷻ,
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ
“Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah
petunjuk mereka.” (QS:Al-An’am | Ayat: 90).
Semoga
Allah ﷻ memperbaiki hubungan kekerabatan kita, menyambung hubungan yang
terputus, dan melembutkan hati di antara kita.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَعَاكُمُ
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ فَقَالَ:
﴿ إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦]،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ صَلاةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ، وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَبْدِلْ ذُلَّ
المُسْلِمِيْنَ
عِزًّا
وَفَقِرَهُمْ
غِنَى،
اَللَّهُمَّ
وَأَصْلِحْ
لَهُمْ شَأْنَهُمْ
كُلَّهُ يَا
ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ
النَّاصِحَةَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمَا
تُحِبُّ وَتَرْضَى،
وَأَعِنَّا
عَلَى
البِرِّ وَالتَّقْوَى،
وَسَدِدْنَا
فِي
أَقْوَالِنَا
وَأَعْمَالِنَا،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى،
وَأَعِنَّا
عَلَى البِرِّ
وَالتَّقْوَى
وَلَا
تَكِلْنَا
إِلَى
أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ
عَيْنٍ.
اَللَّهُمَّ
اكْتُبْ
لَنَا تَوْبَةً
نَصُوْحًا،
اَللَّهُمَّ
اكْتُبْ
لَنَا تَوْبَةً
نَصُوْحًا،
اَللَّهُمَّ
اكْتُبْ
لَنَا
تَوْبَةً
نَصُوْحًا،
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ
ذُنُوْبَ
المُذْنِبِيْنَ
وَتُبْ عَلَى
التَائِبِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا مَا
قَدَّمْنَا
وَمَا
أَخَّرْنَا
وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا
أَعْلَنَّا
وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ
بِهِ مِنَّا
أَنْتَ
المُقَدِّمُ
وَأَنْتَ
المُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا
أَنْتَ.
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا،
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا،
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّناَ آتِنَا
فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com