
June
28, 2011
***
[Khutbah
Pertama]
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَ
سَلِّمْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَ عَلىَ
اَلِهِ وَ
أَصْحَابِهِ
وَ مَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ
وَ خَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ و
كُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ
Amma ba’du, marilah kita senantiasa
meningkatkan ketakwaan kita kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah kita
senantiasa ingat, bahwa sebagai seorang muslim kita diwajibkan selama masih
hidup untuk senantiasa taat dan beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Allâh berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“dan
beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kematian kepadamu.”
(Q.S. al-Hijr/15: 99) .
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Tiada tujuan lain amalan seorang
muslim, kecuali untuk menghadapi kematian.”
Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim
untuk lebih serius memperhatikan dan mengerahkan segala kemampuannya pada mawâsimil khair
(waktu-waktu yang utama untuk melakukan kebaikan). Di antara bentuk rahmat
Allâh Subhanahu wa
Ta’ala yaitu Dia menyediakan bagi para hamba-Nya waktu-waktu
utama yang pada saat itu semua kebaikan dilipat gandakan balasannya
dibandingkan waktu-waktu lainnya. Di antara waktu itu adalah bulan
Ramadhân yang penuh berkah. Pada bulan ini, Allâh Subhanahu wa Ta’ala
menurunkan Alqurân yang merupakan petunjuk bagi umat manusia. Inilah
musim melakukan kebaikan yang sangat agung.
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Sungguh akan datang kepada kalian tamu yang membawa keberkahan dan
lagi mulia. Maka, hendaklah kita menyambutnya dengan penuh harapan dan
kebahagiaan. Hendaklah kalian bersyukurlah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala,
karena Allâh Subhanahu
wa Ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan
Ramadhân! Hendaklah kita memohon kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala
agar ditolong dalam melakukan berbagai amal shalih, serta mohonlah kepada-Nya
agar Allâh Subhanahu
wa Ta’ala menerima seluruh amal kita. Karena bulan
Ramadhân sebagaimana telah kita ketahui memiliki banyak keistimewaan.
Di antara keistimewaannya adalah Allâh Subhanahu wa Ta’ala
menjadikan puasa pada bulan Ramadhân sebagai salah satu rukun Islam.
Orang yang telah memenuhi persyaratan tidak diperkenankan meninggalkan berpuasa
pada bulan itu, kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, seperti
bepergian jauh atau sakit. Itupun dia tetap dikenai beban untuk menggantinya di
bulan-bulan yang lain. Allâh Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri
tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan
barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain.
(Q.S. al-Baqarah/2: 185).
Juga Allah Subhanahu
wa Ta’ala memberikan keringanan kepada orang yang sudah
berusia lanjut dan tidak mampu lagi untuk berpuasa. Orang seperti ini tidak
dikenai kewajiban mengganti pada bulan yang lain. Dia hanya dikenai kewajiban
membayar fidyah sesuai dengan ketentuan syariat.
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Di antara keistimewaan Ramadhân yaitu shalat tarawih yang
disyariatkan khusus pada bulan ini. Shalat sunat disyariatkan dikerjakan secara
berjamaah di masjid. Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
Barangsiapa yang shalat bersama imam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala
mencatat untuknya pahala shalat semalam penuh.
Para ulama mengatakan bahwa shalat ini hukumnya sunat mukkad, sehingga
seharusnya bagi seluruh kaum muslimin memperhatikannya dengan baik. Hendaknya
kita memperhatikan cara pelaksanaanya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
tidak hanya sekadar mengikuti adat atau kebiasaan. Sangat disayangkan fenomena
di tengah masyarakat, banyak di antara mereka yang melaksanakannya, namun
seakan sebagai adat saja. Sehingga, apa yang mereka lakukan tidak berbekas sama
sekali dalam jiwa. Nas’alullah
‘afiyah.
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Keistimewaan lain dari Ramadhân yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala
memilihnya sebagai waktu untuk menurunkan Alquran yang merupakan petunjuk bagi
manusia. Allâh Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Alqurân sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil). (Qs al-Baqarah/2:185)
Ibnu Abbâs mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala
menurunkan seluruh Alquran sekaligus dari Lauhul
Mahfuzh ke Baitul
Izzah di langit dunia pada bulan Ramadhân. Lalu di sana,
diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai kejadian.”
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Keistimewaan ramadhan yang selalu ditunggu-tunggu dan
diharap-harap yaitu dia memilki Lailatul Qadr yang dijelaskan langsung oleh
Allah Subhanahu wa
Ta’ala keistimewaannya yaitu lebih baik dari seribu bulan.
Barangsiapa yang diberi taufik oleh untuk beramal malam itu, berarti sama dengan
beramal selama delapan puluh tiga tahun. Semoga kita termasuk orang-orang yang
diberi taufik oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala untuk beramal shalih pada malam itu.
Dan masih banyak lagi keistimewaan bulan Ramadhân, bulan
yang ditunggu kehadirannya oleh seluruh kaum muslimin yang memiliki kepedulian
terhadap hari akhiratnya. Bulan yang penuh berkah ini akan segera datang.
Mestinya, sejak sekarang sudah bertekad akan bersungguh-sungguh dalam melakukan
amal shalih pada bulan Ramadhân, sebagaimana anjuran Rasûlullâh.
Bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai amalan shalih, baik yang wajib,
ataupun sunnah, seperti shalat, shadaqah, dan sabar dalam melaksanakan ketaatan
kepada Allâh Subhanahu
wa Ta’ala. Maka, janganlah kita sia-siakan bulan ini dengan
melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, sebagaimana kelakuan orang-orang
celaka. Yaitu orang-orang yang lupa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala,
sehingga Allâh pun melupakan mereka. Mereka tidak bisa memetik manfaat
apapun dari bulan yang penuh kebaikan yang akan menjelang ini. Mereka tidak
mengetahui kehormatan bulan ini dan tidak mengetahui nilainya.
Wahai kaum Muslimin, rahimakumullâh
Pada bulan Ramadhân, pintu-pintu surga dibuka, sementara
pintu-pintu neraka ditutup. Setan yang senantiasa menggoda dan menjebak manusia
agar berbuat maksiat pun dibelenggu. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ
Apabila bulan Ramadhân telah tiba,
pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. (H.R. Muslim).
Dengan demikian, kesempatan untuk melakukan kebaikan itu terbuka
lebar. Kita juga bisa menyaksikan pada bulan Ramadhân, banyak orang yang
berubah drastis. Dari yang tidak pernah ke masjid jadi gemar ke masjid; dari
yang bakhil
berubah menjadi pemurah dan lain sebagainya.
Namun sangat disayangkan, banyak orang yang tidak mengerti hakikat
bulan yang mulia ini, yang mereka tahu adalah bulan ini merupakan kesempatan
untuk menghidangkan dan menyantap makanan dan minuman yang bervariasi. Asumsi
ini mendorong berusaha keras untuk memenuhi apapun yang diinginkan oleh hawa
nafsunya. Mereka mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli barang-barang
yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Mereka berfoya-foya. Padahal sudah dimaklumi
bersama, bahwa terlalu banyak makan menyebabkan seseorang malas melaksanakan
perbuatan taat. Sementara pada bulan yang mulia ini, seorang muslim diharapkan
mengurangi makan sehingga bisa bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
Sebagian lagi memahaminya sebagai kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan.
Dia pun “memanfaatkan” sebagian besar waktunya untuk mendengkur,
bahkan sampai tertinggal shalat jamaah di masjid. Mereka berdalil dengan hadits
lemah,
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ
Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. (Hadits ini dinyatakan dhaif oleh Syaikh
al-Albâni rahimahullah
dalam Silsilah Ahadits
adh-Dhaifah, no. 4696).
Ini jelas sebuah kekeliruan.
Sebagian lagi memahaminya sebagai waktu untuk begadang, bukan
dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, tapi mereka habiskan waktu malam mereka dengan
bercanda-ria dan melakukan berbagai aktivitas yang sama sekali tidak bermanfaat
bagi mereka di akhirat. Ketika badan sudah terasa lelah akibat begadang, mereka
segera sahur, selanjutnya tidur sampai melewati shalat Shubuh. Na’udzubillah.
Sebagian lagi asik menyantap hidangan saat berbuka sampai lupa
diri dan meninggalkan shalat Maghrib berjama’ah di masjid. Inilah di
antara fenomena meyedihkan yang sering kita temukan di tengah masyarakat pada
bulan Ramadhân. Mereka meninggalkan berbagai kewajiban dan melakukan
aneka perbuatan yang diharamkan. Rasa takut kepada adzab Allâh Subhanahu wa Ta’ala
seakan sudah tidak ada lagi di hati mereka. Kalau kelakuan mereka, masihkah
Ramadhân memiliki keistimewaan di mata mereka? Manfaat apa yang bisa
mereka petik darinya?
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
Ada lagi sebagian orang yang memahami bulan Ramadhân sebagai
kesempatan emas untuk berbisnis. Mereka mencurahkan segala kemampuan untuk
menyusun strategi demi meraup untung sebanyak-banyaknya di bulan ini.
Waktu-waktu mereka dihabiskan di lokasi-lokasi bisnis, sampai-sampai tidak lagi
untuk ke masjid, kecuali sebentar saja dan itupun dalam suasana terburu-buru.
Di kepala mereka, Ramadhân merupakan kesempatan meraih dunia dan bukan
akhirat. Mereka letihkan diri mereka pada bulan Ramadhân demi mencari
sesuatu yang fana dan meninggalkan sesuatu yang manfaatnya kekal abadi.
Inilah beberapa contoh sikap yang keliru dalam menyikapi kemuliaan
bulan Ramadhân. Tanpa disadari, ini merupakan musibah besar bagi mereka.
Mereka dari terhalang berbagai kebaikan yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala
janjikan bagi orang-orang yang memanfaatkan momen berharga ini dalam rangka
beribadah kepada Allâh Subhanahu
wa Ta’ala semata. Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala
menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengerti akan arti Ramadhân dan
semoga Allâh Subhanahu
wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua
untuk senantiasa beramal shaleh.
[Khutbah Kedua]
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
Pada khutbah yang pertama, sudah kita sampaikan beberapa sikap
sebagian kaum Muslimin yang keliru dalam menyikapi Ramadhân. Keliru
karena bertolak belakang dengan sikap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena, pada bulan Ramadhân, Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam lebih giat lagi beribadah dibandingkan
dengan bulan-bulan lainnya. Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam tinggalkan berbagai kesibukan demi
beribadah kepada Allâh Subhanahu
wa Ta’ala. Ini juga yang dilakukan oleh para ulama salaf.
Mereka benar-benar serius memperhatikan bulan ini. Mereka meluangkan waktunya
untuk beribadah kepada kepada Allâh Subhanahu
wa Ta’ala dengan menunaikan berbagai amal shaleh. Mereka
memanfaatkan detik demi detik waktu dalam ketaatan kepada Rabb mereka dan
bersungguh-sungguh melaksanakan shalat tahajjud.
Az-Zuhri rahimahullah mengatakan,
“Apabila bulan Ramadhân telah tiba, maka waktu itu hanya untuk
membaca Alqurân dan memberi makan orang lain.” Para ulama salaf juga
senantiasa duduk di masjid dan mengatakan, “Kami menjaga puasa kami dan
tidak menggunjing seorangpun.” Mereka juga memiliki antusias tinggi untuk
melaksanakan shalat tarawih dan menyelesaikannya bersama imam. Maka dengan
demikian bertakwalah kalian kepada Allâh wahai kaum muslimin dan jagalah
bulan Ramadhân ini, perbanyaklah di dalamnya ketaatan-ketaatan kepada
Allâh mudah-mudahan Allâh menggolongkan (menetapkan) bagi kita ke
dalam orang-orang yang beruntung dan memperoleh kemenangan di bulan ini.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا
لاَ
تُؤَاخِذْنَآإِن
نَّسِينَآ أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ
عَلَيْنَآإِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلَى
الَّذِينَ
مِن
قَبْلِنَا
رَبَّنَا
وَلاَ
تُحَمِّلْنَا
مَالاَطَاقَةَ
لَنَا بِهِ وَاعْفُ
عَنَّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَآ
أَنتَ
مَوْلاَنَا
فَانصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
أَقِمِ
الصَّلاَةَ
Diangkat dari dua khutbah Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah dalam kitab al-Khutab al-Mimbariyah
Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04 tahun XIV Mei
2010 dengan penyuntingan bahasa oleh Tim Redaksi KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com