
June
9, 2015
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى؛
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ.
Ibadallah,
Sesungguhnya
keyakinan yang harus mantap menghujam di hati seorang mukmin adalah bahwa Allah
Maha Agung, Sang Pencipta, dan Maha Mulia. Allah ﷻ tidak menciptakan mahkluk-Nya sia-sia. Dia
juga tidak membiarkan mereka terlantar begitu saja. Allah ﷻ Maha Suci
dari melakukan kesia-siaan dan permainan. Dia Maha Tinggi, Maha Suci, dan jauh
dari sifat-sifat yang tidak sempurna dan kurang.
Allah
menciptakan makhluk-makhluk-Nya untuk tujuan yang agung dan hikmah yang besar.
Dia menciptakan makhluk-Nya dengan al-haq dan untuk al-haq. Allah ﷻ
berfirman,
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dia
menciptakan langit dan bumi dengan haq. Maha Tinggi Allah daripada apa yang
mereka persekutukan.” (QS:An-Nahl | Ayat: 3).
Allah
ﷻ
menyebutkan keadaan para ulil albab yang menyucikan Allah dengan mengatakan:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS:Ali Imran | Ayat: 191).
Allah
ﷻ
berfirman,
﴿ وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِِ (27) أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
“Dan
Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa
hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah
orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan
orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami
menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat
maksiat?” (QS:Shaad | Ayat: 27-28).
Allah
ﷻ
Maha Suci dari apa yang disangkakan orang-orang kafir. Karena Dia befirman,
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (16) لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لَاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ
“Dan
tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya
dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, (isteri
dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki
berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya).” (QS:Al-Anbiyaa |
Ayat: 16-17).
Dan
pada hari kiamat, Allah ﷻ berkata kepada penduduk neraka sebagai bantahan terhadap apa
yang mereka sangka.
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Maka
apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi
Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai)
Arsy yang mulia.” (QS:Al-Mu’minuun | Ayat: 115-116).
Allah
ﷻ
juga menyebutkan ketika Dia menciptakan manusia dari nutfah menjadi mudghah
kemudian menjadi manusia yang sempurna.
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah
manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung
jawaban)?” (QS:Al-Qiyaamah | Ayat: 36).
Yakni
apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan membangkitkan mereka kembali, lalu
memperhitungkan amalan mereka, dan kemudian menghukum bagi yang berbuat zalim?
Atau
apakah mereka menyangka mereka diciptakan begitu saja, tidak ada perintah dan
larangan?
Dua
makna di atas sama-sama benarnya dalam menafsirkan ayat ini. Allah tidak
membiarkan makhluk-Nya hidup di dunia ini tanpa ada perintah dan larangan. Dan
di akhirat nanti, Allah tidak membiarkan mereka begitu saja. Ada hisab dan
pertanggung-jawaban amal.
Ibadallah,
Sesungguhnya
Allah ﷻ menciptakan makhluk-Nya agar mereka beribadah hanya kepada-Nya
saja. Allah ﷻ membuat mereka ada agar mereka mentauhidkan-Nya dalam
beribadah, dalam ketaatan. Tunduk kepada-Nya dengan merendahkan diri penuh
kekhusyukan. Allah ﷻ menciptakan makhluk-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Untuk Dia
perintah dan Dia larang. Untuk Dia perintah agar menaati-Nya dan beribadah
kepada-Nya. Untuk Dia larang dari perbuatan dosa dan kemaksiatan.
Ibadallah,
Apabila
seorang muslim telah merenungi dan menyadari tujuan yang agung ini, timbul
pertanyaan, apa kewaijban seorang muslim terhadap perintah Allah ﷻ?
Kita dicptakan untuk Allah. Allah ﷻ menciptakan kita untuk diperintah dan
dilarang. Allah ﷻ menciptakan kita untuk menaati-Nya dan melaksanakan
perintah-Nya. Apa kewajiban kita terhadap perintah-perintah Allah?
Para
ulama menyatakan bahwasanya ada tujuh sikap yang wajid dimiliki setiap muslim
dalam menyikapi perintah Allah ﷻ. Tujuh kewajiban terkait perintah-perintah
Allah ﷻ semisal mentauhidkan-Nya, shalat, puasa, haji, sedekah dll.
Mari kita pahami ketujuh hal tersebut:
Pertama: Orang yang diperintah wajib
mempelajari dan mengetahui isi perintah tersebut. Oleh karena itu, banyak di
dalam nash-nash syariat yang memotivasi umat Islam untuk belajar. Seperti dalam
sebuah hadits shahih, Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa
yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya
jalan menuju surga.”
Misalnya
Allah memerintahkan mentauhidkan-Nya, maka wajib bagi seorang hamba mempelajari
apa itu tauhid. Allah ﷻ perintahkan shalat, maka wajib bagi seorang hamba mempelajari
bagaimana shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Dan demikian juga terhadap
kewajiban-kewajiban lainnya.
Kedua: Mencintai perintah Allah tersebut.
Kita
jadikan hati kita mencintai apa yang Allah perintahkan. Karena Allah tidak akan
memerintahkan kita, kecuali kepada apa yang berdampak baik bagi kita. Dan Dia
tidak melarang kita dari sesuatu, kecuali hal itu buruk untuk kita. Oleh karena
itu, wajib bagi kita mencintai apa yang Allah perintahkan.
Dalam
sebuah doa, Nabi ﷺ memohon kepada Allah dengan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ أَحَبَّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
“Ya
Allah, sungguh aku memohon agar aku mencintai-Mu, mencitai orang-orang yang
mencintai-Mu, dan mencintai amalan yang bisa mendekatkan diriku kepada
cinta-Mu.”
Waspadahal
wahai kaum mukminin, jangan sampai di hatimu terdapat setitik kebencian dan
kemarahan terhadap apa yang Allah perintahkan atau apa yang Rasulullah ﷺ
perintahkan. Allah ﷻ berfirman,
﴿ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Yang
demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan
Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal
mereka.” (QS:Muhammad | Ayat: 9).
Ketiga: Bertekad kuat untuk melaksanakan
perintah Allah ﷻ.
Tekad
adalah amalan hati. Tekad untuk mengarahkan hati kepada kebaikan dan
bersemangat untuk mengamalkannya. Dalam sebuah doa, Rasulullah ﷺ
mengajarkan kita agar memohon:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ
“Ya
Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kekokohan dalam agama ini, dan agar
bertekad untuk selalu terbimbing.”
Apabila
Anda mengetahui suatu amalan yang benar. Amalan kebaikan. Amalan yang dapat
menghantarkan kebaikan di dunia dan akhirat. Maka bertekad kuatlah untuk
mengamalkannya. Gerakkan hati Anda untuk mengamalkannya.
Keempat: Kita mengamalkan apa yang Allah
perintahkan dengan penuh rasa cinta dan ketundukan.
Seorang
hamba wajib menaati tuannya. Dalam sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi kita
Muhammad ﷺ, beliau mengajarkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya
Allah aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan
yang diterima.”
Doa
ini dibaca oleh Nabi ﷺ setiap hari selesai shalat subuh.
Kelima: Ikhlas dan sesuai tuntunan syariat
ketika beramal.
Amal
shaleh harus ikhlas karena Allah semata. Dan ia benar, sesuai dengan tuntunan
sunnah Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ tidak menerima suatu amalan kecuali dengan dua hal ini.
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah
ketika menafsirkan firman Allah ﷻ,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“supaya
Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
(QS:Al-Mulk | Ayat: 2).
Allah
menguji siapa yang paling ikhlas dan paling benar amalnya. Ada yang bertanya
kepada Fudhail, “Wahai Abu Ali, apa maksud dari yang paling ikhlas dan
paling benar?” Beliau menjawab, “Amal itu kalau hanya semata-mata
ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Kalau ia hanya benar saja
namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Hingga amal itu ikhlas dan benar.
Ikhlas adalah amalan yang karena Allah. Dan benar adalah amalan yang
berdasarkan sunnah Rasulullah”.
Keenam: Mewaspadai hal-hal yang dapat
merusak amal.
Hal
yang dapat merusak amalan shaleh sangat banyak. Telah dijelaskan oleh Alquran
dan sunnah Rasulullah ﷺ. Seperti ingin dilihat atau riya’. Kemunafikan.
Menginginkan dunia dengan amalan tersebut. Ingin tenar dan popular. Dan
selainnya.
Wajib
bagi setiap muslim bersikap dengan hal-hal ini terkait dengan perintah-perintah
Allah. Seorang muslim harus mengilmui, mencintai, mengamalkan, ikhlas dan
benar, dan menjauhi hal-hal yang dapat merusak amal.
Ketujuh: teguh dan istiqomah melakukannya.
Seorang
mukmin harus memiliki semangat dan motivasi untuk teguh dalam kebaikan. Ia
berjuang melawan hawa nafsunya agar istiqomah. Kemudian tidak lupa memohon agar
Allah meneguhkannya di atas agamanya.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka
berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong
kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah
kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha
Pemberi (karunia)”. (QS:Ali Imran | Ayat: 8).
Inilah
tujuh hal yang agung yang seorang muslim wajib memilikinya. Seorang muslim
harus memahami perintah-perintah Allah tersebut. Mencitainya. Berkeinginan kuat
untuk mengamalkannya dan benar-benar mewujudkannya. Wajib ikhlas dan benar. Mewaspadai
dari hal-hal yang dapat merusak amalan. Dan istiqomah dalam kesemuanya hingga
akhir hayat.
Semoga
Allah ﷻ memberi keteguhan kepada kita dengan keistiqomahan di dunia dan
akhirat. Semoga Dia menunjuki kita semua kepada jalan yang lurus.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الجُوْدِ وَالفَضْلِ وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اَتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى.
Ibadallah,
Ada
sebuah doa yang mencakup ketujuh hal yang telah khotib sebutkan pada khotbah
pertama tadi. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan yang lainnya, dari Syaddad bin
Aus radhiallahu ‘anhu,
ia berkata, Rasulullah ﷺ bersadba,
إِذَا رَأَيْتَ النَّاسَ قَدِ اكْتَنَزُوا الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ فَاكْنِزْ هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ , وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا , وَلِسَانًا صَادِقًا ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ
“Apabila
engkau melihat orang-orang menumpuk emas dan perak, maka perbanyaklah bekal
dengan kata-kata ini (yaitu dengan membaca):
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ , وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا , وَلِسَانًا صَادِقًا ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ
Ya
Allah, aku memohon keteguhan dalam menghadapi semua urusan dan tekad yang kuat
dalam mencari kebenaran. Aku memohon kepada-Mu untuk senantiasa mensyukuri
nikmat-Mu. Aku memohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang senantiasa
jujur. Aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau ketahui. Dan aku
berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui. Aku memohon ampun-Mu
terhadap segala kesalahan yang Engkau ketahui.”
Maka
amalkanlah doa ini. Mohonlah bantuan kepada Allah untuk mewujudkan tujuh sikap
tersebut.
هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرٍ
الصِدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
بِأَسْمَائِكَ
الحُسْنَى
وَصِفَاتِكَ
العُلْيَا
أَنْ
تَنْصُرَ
إِخْوَانَنَا
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنَ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
شُرُوْرِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِي مَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ،
وَأَعِنْهُ
عَلَى
طَاعَتِكَ
وَسَدِدْهُ
فِي
أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ
يَا ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ
لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
رَبَّنَا
إِنَّا ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ،
وَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
وَبَارَكَ
وَأَنْعَمَ
عَلَى عَبْدِ
اللهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com