
November
17, 2011
***
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعْيِنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَسْتَهْدِيْهِ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
, مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَهُوَ
الْمُهْتَدُّ
وَمَنْ
يُضْلِلْهُ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمِّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَللَّهُمَّ
صَـلِّ
وَسَـلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
قَالَ اللهُ
تَعَالَى
بَعْدَ أَنْ
أَعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ :
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلا
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيباً
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً ,
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً عَظِيماً
. أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا
فَإِنَّ
كُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ
Ayyuhal
muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa
rahimakum
Segala
puji hanya milik Allah Subhanahu
wa Ta’ala, yang telah menjadikan kaum mukminin saling
bersaudara, saling menguatkan satu dengan lainnya seperti sebuah bangunan; yang
telah mewajibkan tolong menolong bagi kaum muslimin dalam hal kebaikan,
menolak dosa dan maksiat serta permusuhan. Aku bersaksi bahwa tiada ilâh yang berhak
disembah kecuali Allah Subhanahu
wa Ta’ala semata, tiada sekutu bagi-Nya; Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
hamba dan utusan-Nya, yang diutus dengan membawa petunjuk , rahmat dan al-furqân (pembeda
antara kebaikan dan kebatilan)
Amma
ba`du,
Ayyuhal
muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa
rahimakum
Bertakwalah
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Ingatlah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada pada diri
kalian dengan agama yang telah menghimpun persatuan dan kesatuan urusan kalian,
serta memperbaiki hubungan di antara kalian. Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang di bawa oleh sebaik-baik manusia; agama yang menyuruh kalian agar bersikap
lemah lembut dan kasih sayang serta melarang kalian dari sikap murka dan
permusuhan. Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah mewajibkan kepada kalian agar bersatu dalam
agama-Nya, tidak berpecah belah menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok
merasa bangga dengan kelompoknya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada
kalian agar memerangi keburukan dan kerusakan. Mencegah perpecahan dan
perselisihan. Jadilah kalian wahai kaum mukminin, sebagaimana yang Allah
wajibkan atas kalian, sebagaimana yang di kehendaki oleh iman kalian. Janganlah
kalian berpecah belah dan bermusuhan, janganlah kalian saling mengacuhkan/
meng-hajr,.
Jadilah seperti bangunan yang saling menguatkan.
Ayyuhal
muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa
rahimakum
Sesungguhnya
pada manusia ada permusuhan dan keinginan tertentu. Akan tetapi, iman
mewajibkan menyelesaikan pertikaian, saling menyesuaikan dalam naungan agama
Islam. Sesungguhnya sebagian manusia ada yang senang dengan keburukan dan jatuh
ke dalam dosa. Di antara mereka ada yang mendahulukan kemaksiatan dari pada
ketaatan, kecurangan daripada keadilan, kezaliman daripada menahan diri, dan
pada setiap bangsa pasti ada yang seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah menjelaskan keinginan makluk sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjelaskan bentuk dan rupa-rupa mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi akhlak
mereka sebagaimana juga telah membagi rezeki mereka. Akan tetapi, agama Islam
mewajibkan bagi manusia dengan kadar kemampuannya agar menjadi umat yang satu,
yang berusaha mengerjakan satu tujuan yaitu memperbaiki akhlak dan istiqamah
dalam agama.
Ayyuhal
muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa
rahimakum
Sesungguhnya
kebanyakan manusia dihadapkan pada keburukan pelakunya seperti orang yang
bingung, bersikap menyerah atau meremehkan. Engkau tidak mendapati mereka
berusaha untuk berbuat baik. Di antara mereka ada orang yang lebih dari itu, ia
pun melemahkan semangat orang-orang yang bangkit menghendaki kebaikan. Hati
mereka diliputi rasa putus asa dan jauh dari cita-cita serta mengatakan,
“Janganlah memperbaiki manusia, karena mereka sudah baik.”
Pada
kenyataannya, orang yang pesismis ini memberi madharat kepada dirinya dan kepada lainnya.
Ia berusaha menghilangkan semua upaya perbaikan dan bersikap membatu terhadap
karunia Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam telah bersabda,
وَاللَّهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاًوَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi
Allah Subhanahu wa Ta’ala , sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberi hidayah kepada seseorang melalui tanganmu lebih baik bagimu dari
pada memperoleh unta merah.”
Ayyuhal
muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa
rahimakum
Bukanlah
termasuk seorang mukmin yang baik, apabila ia melihat saudaranya terkena rayuan
setan, diliputi amarah keburukan yang membawanya terjatuh pada sesuatu yang
haram. Bukanlah seorang mukmin apabila dia melihat saudaranya berada pada
keadaan tersebut kemudian dia tidak menasihati dan menolongnya. Bukankah
jikalau kamu melihat saudaramu celaka yang menyebabkan kematian; kemudian
jiwamu tersentuh dan berusaha menolongnya? Mengapa kamu tidak berusaha
menolongnya jika ia terjatuh ke dalam perbuatan yang menyebabkannya kematian
hati nuraninya?
Ayyuhal
muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa
rahimakum
Sesungguhnya
di antara kewajiban terhadap saudara-saudara kita yang bermaksiat adalah
mencurahkan nasehat dan bimbingan kepadanya sebagai bentuk permintaan maaf
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala agar mereka bertakwa. Kita nasihati dengan hikmah,
dengan cara yang baik, kita jelaskan kepada mereka pada kebaikan serta
membujuknya agar melaksanakannya, kita jelaskan kepada mereka bahwa tidak ada wasîlah/ perantara
kepada ketenangan hati, kelapangan dada kecuali dengan iman dan amal shalih,
kita jelaskan kepada mereka kebaikan-kebaikan taubat dari dosa dan
kebaikan-kebaikan kembali kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, bahwa taubat menghapuskan dosa-dosa yang telah
lewat. Demikian pula kita jelaskan kepada mereka tentang keburukan serta
memberi peringatah kepada mereka. Kita jelaskan kepada mereka bahwa kemaksiatan
dan kemungkaran merupakan sejelek-jelek perbuatan. Perbuatan maksiat akan
menambah jauh dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala, jauh dari makhluknya, menyesakkankan dada, dan
membebani hati. Maka, orang yang berbuat maksiat walaupun ia merasakan nikmat
maksiatnya, akan berakhir pada penyesalan dan kerugian.
أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ
KHUTBAH
KEDUA
Ayyuhal
muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa
rahimakum
Bukanlah
hak kita dan agama kita, jika kita berdiri di hadapan saudara kita yang jatuh
dalam perbuatan dosa, lalu kita membiarkan mereka. Akhirnya kita menjadikan
mereka sebagai bahan pembicaraan suatu majelis. Yang benar adalah kita berusaha
memperbaiki mereka dan menasehati mereka semuanya. Jika tidak, manusia akan
celaka. Sesungguhnya kaum muslimin itu ibarat satu tubuh, jika salah satu
anggota badannya sakit, maka seluruh tubuhnya juga akan merasa sakit. Untuk
itu, bantulah saudara-saudara kalian dan perhatikan orang yang kondisinya
berada bawah kalian. Tegakkanlah perbaikan semampumu dan janganlah berputus asa
dari rahmat Allah Subhanahu
wa Ta’ala, sesungguhnya hanya orang kafirlah yang berputus
asa dari rahmat Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman (yang artinya),
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah
orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang
bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada
mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Q.s. Ali Imrân/3: 104-105)
Sekian,
mudah-mudahan khutbah yang sangat singkat ini bermanfaat bagi pembicara dan
semuanya.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ,
اللَّهُمَّ
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْأِيمَانِ
وَلا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَحِيمٌ
رَبَّنَا لا
تُؤَاخِذْنَا
إِنْ
نَسِينَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا
وَلا
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْراً
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلَى الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِنَا
رَبَّنَا
وَلا
تُحَمِّلْنَا
مَا لا طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنَّا
وَاغْفِرْ لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلانَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِينَ,
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ
Disadur
dari kitab Adh-Dhiyâul
Lâmi` Minal Khuththabil Jawâmi` karya Syaikh Muhammad
Bin Shâlih al-Utsaimîn hal. 379-382. Disalin dari kumpulan naskah Khutbah Jumat Majalah
As-Sunnah dengan beberapa penyesuain oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com