
July
1, 2014
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
أَرْسَلَهُ
بَيْنَ
يَدَيَّ
السَّاعَةِ بِالْحَقِّ
لِيَكُوْنَ
رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْنَ،
وَهِدَايَةً
لِلْغَاوِيْنَ،
وَحُجَّةً
عَلَى
المُعَانِدِيْنَ،
فَصَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
وَبَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِ بَيْتِهِ
وَأَصْحَابِهِ
المَيَامِيْنِ،
وَعَلى
المُقْتَدِيْنَ
بِهِ
وَبِهِمْ
إِلَى يَوْمِ
الجَزَاءِ
وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا
بَعْدُ،:
Kaum
muslimini rahimakumulah,
Nikmat
Allah Jalla wa ‘Ala senantiasa kita dapatkan. Kebaikannya yang banyak
terus tercurah waktu demi waktu. Setiap hari nikmat tersebut kian bertambah.
Nikmat yang satu senantiasa disusul oleh nikmat yang lain. Allah menyayangi
hamba-hamba-Nya yang butuh kepada-Nya, butuh terhadap pertolongan, ampunan, dan
kenikmatan dari-Nya. Segala puji bagi-Nya.
Dalam
rangka menyempurnakan nikmat dan karunia-Nya, Allah Ta’ala mewajibkan
kepada kita berpuasa di bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila
tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu
neraka. Serta setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka
berbahagialah dan sambutlah bulan ini. Sambutlah dengan kebahagian dan
kesungguhan dalam mengisinya. Tempuhlah jalan menuju surga dan jauhi
jalan-jalan yang mengantarkan ke neraka. Kasihan dan sungguh kasihan bagi
mereka yang menempuh dan menceburkan dirinya untuk menempuh jalan-jalan
kemaksiatan. Mereka menempatkan diri mereka dalam kebinasaan dan murka Rabbnya.
Padahal jalan telah dimudahkan. Pintu-pintu surga telah dibukakan. Pintu-pintu
neraka ditutupkan. Dan setan-setan sudah dibelenggu.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Kalau
seseorang tidak bertaubat di bulan Ramadhan, kapan lagi ia hendak bertaubat?
Siapa yang tidak meninggalkan perbuatan dosa di bulan ini, kapan lagi ia akan
meninggalakannya? Siapa yang tidak mengasihani jiwanya di bulan ini, kapan lagi
ia akan memberikan kasih sayang kepadanya?
Suatu
hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke mimbar, lalu bersabda,
آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ الْمِنْبَرَ قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ، قَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ
“Amin..
amin.. amin..”Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah,
ketika Anda naik ke mimbar, Anda mengatakan, ‘Amin.. amin..
amin..’” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang
kepadaku dan berkata, ‘Siapa yang mendapati bulan Ramadhan lalu tidak
diampuni baginya, maka akhirnya masuk neraka dan dijauhkan Allah (dari surga),
katakanlah: “Amin (Kabulkanlah, Ya Allah)”, maka akupun
mengucapkan: “Amin…”
Alangkah
rugi dan celakanya orang yang didoakan Jibril demikian kemudian ditambah dengan
diaminkan oleh penghulu anak Adam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Baginya kecelakaan dan jauh dari rahmat.
Al-Hafizh
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang dirahmati pada
bulan Ramadhan, maka dia adalah orang yang mendapatkan kasih sayang. Siapa yang
diharamkan dari mendapatkannya maka dia telah terlarang dari hal itu. Dan siapa
yang tidak membekali diri dengan perbekalan (amal), maka dia tercela.
Barang
siapa yang melalukan dosa di bulan Rajab.
Hingga
ia lanjutkan juga di bulan Sya’ban.
Maka
setelah itu datang Ramadhan menaungi.
Janganlah
engkau teruskan juga menjadi bulan yang penuh dosa.
Wahai
orang-orang yang menginginkan kebaikan, sambutlah bulan ini dengan memperbanyak
ketaatan. Wahai orang-orang yang berkumbang dalam kejelekan, berhentilah dari
perbuatan dosa dan kemaksiatan.
Jika
kita ingin mendapatkan ampunan dan dihapuskan kesalahan serta dosa kita,
mintalah saat ini di bulan puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa
yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan berharap pahala, maka
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“Shalat
lima waktu, shalat Jumat ke Jumat, berpuasa Ramadhan ke Ramadhan lainnya adalah
penghapus dosa-dosa diantaranya jika dijauhi dosa-dosa besar.” (HR.
Muslim).
Apabila
kita menginginkan dilipat-gandakannya kebaikan dan diangkat derajat, maka kita
wajib menunaikan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي
“Seluruh
amalan anak Adam dilipatgandakan. Kebaikanal dilipatgandakan 10x lipat hingga
700x lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, karena itu antara Aku dan
hamba-Ku. Akulah yang akan membalasnya. Mereka meninggalkan keinginan syahwat
dan makanan karena Aku’.” (HR. Muslim).
Apabila
kita menginginkan menjadi penduduk surga yang senantiasa diberikan kenikmatan
dan kebahagiaan, maka jangan sampai kita melalaikan puasa Ramadhan. Pada saat
haji wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan
orang-orang. Beliau bersabda,
صَلُّوا خَمْسَكُمْ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ، وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ
“Kerjakanlah
shalat lima waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikan zakat dari harta
kalian, taatilah pemimpin-pemimpin kalian, maka kalian akan masuk ke dalam
surge Rabb kalian.”
Apabila
kalian menginginkan masuk ke dalam surga dari pintu ar-Rayyan, maka jadilah
orang-orang yang berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya
di surga ada sebuah pintu yang namanya pintu ar-Rayyan. Di hari kiamat,
orang-orang yang berpuasa masuk (ke surga) melalu pintu itu. Tidak seorang pun
yang masuk lewat situ kecuali mereka. dikatakan, ‘Mana orang yang
berpuasa?’ Mereka (orang-orang yang berpuasa) berdiri dan tidak masuk
melalui pintu itu kecuali mereka saja. Apabila mereka telah masuk semuanya,
maka pintu itu ditutup dan tidak ada lagi yang masuk dari situ.” (HR
Bukhari dan Muslim).
Apabila
kita ingin melindungi diri kita dari panasnya api neraka, maka kerjakanlah
puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ، كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ
“Puasa
itu adalah perisai (yang melindungi) dari api neraka. Sebagaimana perisai (yang
melindungi) seseorang dari kematian.”
Apabila
kita menginginkan syafaat pada hari manusia dikumpulkan di padang mahsyar. Cara
yang paling utama untuk memperoleh syafaat tersebut adalah dengan puasa. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa
dan Alquran adalah pemberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa
berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah menghalanginya dari makan dan keinginan
syahwatnya di siang hari. perkenankan aku memberi syafaat kepadanya’.
Alquran berkata, ‘Aku telah menghalanginya untuk tidur di malam hari.
Karena itu, perkenankan aku memberi syafaat kepadanya’. Beliau bersabda,
“Maka syafaat keduanya diperkenankan.”
Apabila
kita menginginkan menjadi orang-orang yang mendapatkan derajat yang tinggi dan
mulia, maka perolehlah dengan puasa. Ada seorang laki-laki yang datang menemui
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ، وَأَدَّيْتُ الزَّكَاةَ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَقُمْتُهُ، فَمِمَّنْ أَنَا؟، قَالَ: مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Wahai
Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi tiada sesembahan yang benar
kecuali Allah dan Anda adalah utusan Allah. Kemudian aku mengerjakan shalat
lima waktu, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan shalah di malam
harinya. Termasuk golongan yang mana aku ini?” Rasulullah menjawab,
“Termasuk golongan shiddiqin dan syuhada”.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Bulan
Ramadhan telah datang kepada kita. Bulan dimana Allah wajibkan puasa yang
termasuk salah satu dari rukun Islam. Bulan diamana Alquran diturunkan. Bulan
dimana setan-setan dibelenggu, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup.
Bersemangatlah dengan kesungguhan untuk mengisinya. Kuatkan tekad
menjalankannya. Agar kita menjadi orang yang benar-benar mewujudkan tujuan dari
puasa yaitu menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Menjauhkan kita dari dosa
dan kemaksiatan kepada Rabb kita. Menyemangati kita dalam beribadah dan
menunaikan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya
puasa itu meninggalkan makan, minum, jima’, dan pembatal-pembatal
lainnya. Termasuk juga orang yang berpuasa harus berpuasa anggota tubuhnya dari
mengerjakan perbuatan dosa. Lisannya tidak boleh berdusta, mengucapkan sesuatu
yang kotor, dan mengada-ada. Perutnya menjaga dari makan dan minum. Kemaluannya
dari hal-hal yang merangsang. Apabila ia berbicara, ia berbicara dengan apa
yang yang tidak merusak puasanya. Apabila ia berbuat sesuatu, ia juga tidak
melakukan hal yang bisa merusak puasanya. Jika ia mendengar, tidak mendengar
hal-hal yang mengecilkan puasanya. Perkataan yang ia keluarkan bermanfaat dan
baik. Amal perbuatannya baik dan diridhai. Apabila makan dan minum itu merusak
puasa, demikian juga dosa merusak pahala puasa.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa
yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak
mempunyai sebuah keperluanpun untuk meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Maksud
dari az-zur adalah semua perkataan yang diharamkan. Jadi az-zur ini meliputi
dusta, persaksian palsu, ghibah, mengadu domba, fitnah, nyanyian, mengejek,
menghina, dll.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَر
“Berapa
banyak seorang yang bangun (beribadah pada malam hari) bagiannya dari bangun
malamnya (hanya) begadang dan berapa banyak seorang yang berpuasa bagian dari
puasanya (hanya) lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah).
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Berhati-hatilah
dengan kehati-hatian yang sangat di bulan Ramadhan ini, jangan sampai kita
termasuk orang yang Allah tidak memperhatikan puasa kita. Jangan sampai puasa
kita hanya bernilai lapar dan haus. Jauhilah hal-hal yang menyebabkan demikian.
Jaga pendengaran, penglihatan, lisan, dan anggota-anggota tubuh lainnya.
Jagalah dari yang Allah haramkan di setiap waktu dan tempat.
Diriwayatkan
dari Abu Mutawakil an-Naji bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan
sahabat-sahabatnya, apabila berpuasa mereka duduk di masjid dan mengatakan,
“Kita sucikan puasa kita”. Karena di masjid mereka sibuk ibadah,
jauh dari pandangan, perkataan, dan perbuatan yang haram.
Jabir
bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata, “Apabila engkau berpuasa,
maka puasakan juga pendengaranmu (tidak banyak mendengar), penglihatan, lisan
dari dusta dan hal-hal yang haram. Jangan mengganggu tetangga. Jadilah orang
yang lemah lembut dan tenang pada saat engkau berpuasa. Janganlah jadikan
saat-saat puasamu dan saat-saat tidak puasa menjadi dua hal yang sama.”
Maimun
bin Mihran rahimahullah berkata, “Puasa yang paling ringan adalah
meninggalkan makan dan minum.”
نَفَعْنِيَ اللهَ وَإِيَّاكُمْ بِمَا سَمِعْتُمْ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ محمد الأَمِيْنِ المَأْمُوْنِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
العَظِيْمِ
الجَلِيْلِ،
اَلْغَفُوْرِ
الرَّحِيْمِ،
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى
خَاتَمِ
رُسُلِهِ
وَأَفْضَلِهِمْ،
وَآلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَتَمَمِ
بِالتَّابِعِيْنَ
لَهُ بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ،
أَيُّهَا
المُسْلِمُوْنَ:
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Di
bulan Ramadhan, para salafasuh shaleh menambah intensitas interaksi mereka
dengan Alquran. Mereka menaruh perhatian yang jauh lebih besar dari bulan-bulan
lainnya. Mereka membekali diri dengan banyak-banyak membaca Alquran. Imam
asy-Syafi’i rahimahullah
dua kali mengkhatamkan Alquran hanya dalam satu hari dan satu malam saja. Imam
Bukhari rahimahullah mengkhatamkan Alquran dalam satu hari dan satu malam. Ada
juga di antara mereka para salafush shaleh yang mengkhatamkannya dalam waktu
tiga hari, lima hari, dan satu pecan.
Bagaimana
mereka tidak bersemagat? Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Bulan
diman Jibril ‘alaihissalam mengajarkan Alquran kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Bulan ini adalah waktu yang baik dari selainnya. Dan
kebaikan di bulan ini dilipatgandakan.
Abdullah
bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,
تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُكْتَبُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنْهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَيُكَفَّرُ بِهِ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، أَمَا إِنِّي لَا أَقُولُ: { الم } وَلَكِنْ أَقُولُ: أَلِفٌ عَشْرٌ، وَلَامٌ عَشْرٌ، وَمِيمٌ عَشْرٌ
“Pelajarilah
Alquran karena dituliskan untuk setiap hurufnya sepuluh kebaikan dan dihapus
sepuluh kejelekan (dosa). Aku tidak katakan { الم }alif lam mim, akan tetapi aku katakana,
alif itu sepulu, lam itu sepuluh, dan mim itu sepuluh.”
Abdullah
bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,
مَا يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ إِذَا رَجَعَ مِنْ سُوقِهِ أَوْ مِنْ حَاجَتِهِ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ فَيَكُونَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ
“Apa
yang menghalangi salah seorang dari kalian saat ia kembali dari pasar atau
selesai menunaikan keperluan dengan keluarganya untuk membaca Alquran? Baginya
(yang membaca Alquran) sepuluh kebaikan di setiap hurufnya.”
Oleh
karena itu ibadallah, banyak-banyaklah membaca Alquran di bulan yang agung ini.
Motivasi orang-orang di keluarga Anda, laki-laki dan perempuan, kecil maupun
besar, untuk memperbanyak bacaan Alquran. Jadikan rumah, kendaraan, atau
waktu-waktu kita adalah waktu untuk membaca Alquran.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Abdullah
bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan
beliau lebih dermawan lagi pada saat bulan Ramadhan dimana beliau berjumpa
dengan Jibril. Jibril menjumpai beliau di setiap malam-malam Ramadhan untuk
mengajarkan Alquran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang
lebih dermawan dalam hal kebaikan dari pada angin yang berhembus.”
Teladanilah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadilah orang yang dermawan
pada bulan yang penuh kebaikan ini, dan tingkatlah kedermawanan tersebut. Uang
dirham dan dinar telah berganti dengan rupiah, kemudian kita menjadi takut
ditimpa kemiskinan. Padahal orang yang pelit itu tidak mengungtungkan, dirinya
sendirilah yang rugi. Allah Ta’ala berfirman,
هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
“Ingatlah,
kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah.
Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia
hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan
kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling
niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan
seperti kamu ini.” (QS. Muhammad: 38).
Berinfaklah
jangan kalian tahan harta kalian. Dermawanlah, jangan menjadi orang pelit.
Jangan remehkan sedikitnya pemberian. Jangan remehkan sedikitnya nominal
sedekah. Jangan sampai gara-gara kita meremehkan yang sedikit ini, hal itu
malah menahan kita untuk infak dan sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلاَ تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ، ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ: أَلَمْ أُوتِكَ مَالًا؟ فَلَيَقُولَنَّ: بَلَى، ثُمَّ لَيَقُولَنَّ أَلَمْ أُرْسِلْ إِلَيْكَ رَسُولًا؟ فَلَيَقُولَنَّ: بَلَى، فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلاَ يَرَى إِلَّا النَّارَ، ثُمَّ يَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَلاَ يَرَى إِلَّا النَّارَ، فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمُ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Sungguh,
kalian (semua) akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu
wa Ta’ala, tidak ada hijab antara Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan dirinya, tidak ada pula orang yang menerjemahkan untuknya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman kepadanya, ‘Bukankah Aku telah memberimu harta?’ Dia
berkata, ‘Benar.’ Kemudian Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman, ‘Bukankah Aku telah mengutus rasul
kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Benar.’ Kemudian dia melihat di
sisi kanannya, dia tidak melihat selain neraka. Kemudian dia melihat sebelah
kirinya, dia pun tidak melihat selain neraka. Maka dari itu, jagalah diri
kalian dari neraka walaupun dengan separuh kurma (yang dia sedekahkan). Jika
tidak bisa, dengan tutur kata yang baik.” (HR. al-Bukhari)
Dan
di antara bentuk kedermawanan pada bulan Ramadhan ini, kita memberi buka puasa
kepada orang-orang dekat, tetangga, teman, orang-orang miskin, para pekerja,
dll. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memotivasi untuk memberi
buka puasa, beliau menjelaskan keutamaan dan keagungan pahalanya,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ
“Barangsiapa
yang memberi buka puasa kepada orang-orang yang berpuasa, dicatatkan pahal
seperti pahala orang yang berpuasa itu. Namun sedikit pun tidak mengurangi
pahala orang yang berpuasa itu.”
Ma’asyiral
muslmin,
Bertakwalah
kepada Allah Rabb kalian, agungkanlah Dia dengan pengagungan yang memang pantas
untuk-Nya, hormatilah perintah-perintah-Nya, jangan kalian membuat hina diri
kalian sendiri dengan berbuat maksiat kepada-Nya. Jauhkanlah diri kalia dari
apa yang Dia haramkan. Waspadailah setan. Tundukkanlah nafsu syahwat kalian.
اَللَّهُمَّ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ المُتَقَبَّلَةِ أَعْمَالِهِمْ، وَقِنَا شَرَّ أَنْفُسِنَا وَالشَّيْطَانَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَأَجْدَادِنَا وَسَائِرِ أَهْلِيْنَا وَقَرَابَاتِنَا، اَللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانْ، وَأَعِذْهُمْ مِنَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَجَنِّبْهُمْ القَتْلَ وَالاِقْتَتَالَ، وَأَزِلْ عَنْهُمْ اَلْخَوْفَ وَالْجُوْعَ وَالدِّمَارَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ مَا يُرْضِيْكَ، وَاجْعَلْهُمْ عَامِلِيْنَ بِشَرِيْعَتِكَ، مُعْظِمِيْنَ لَهَا وَمُدَافِعِيْنَ وَنَاصِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ دِيْنَنَا وَبِلَادِنَا وَأَمْنَنَا وَأَمْوَالِنَا بِشَرٍّ وَمَكَرٍ وَضَرَرٍ فَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْراً لَهُ، وَإِضْرَارَهُ سُوْءًا عَلَيْهِ، وَلَا تُمَكِّنْ لَهُ عَلَى أَحَدٍ، يَا سَمِيْعُ الدُّعَاءِ.
وَسُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا
أَنْتَ،
أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوْبُ
إِلَيْكَ.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Qadir al-Junaid
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com