
September
20, 2011
***
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيباً.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً.
أَمَّا
بَعْدُ،
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللَّهِ،
وَخَيْرُ
الْهُدَى هُدَى
مُحَمَّدٍ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
Jamaah
Jumat rahimakumullah…
Pertama,
marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebenar-benarnya;
yaitu dengan mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam,
serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum
muslimin dan kaum muslimat yang kami hormati…
Suatu
hari, sebelum diharamkannya khamr,
beberapa sahabat Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam berkumpul di sebuah kebun untuk minum khamr bersama. Di tengah
keasyikan mereka itu, tiba-tiba datanglah utusan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam
seraya berkata, “Sesungguhnya
khamr telah diharamkan!” [HR. Abu Dawud dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu].Serta
merta mereka pun menghentikan aktivitasnya. Bahkan, khamr yang tersisa di mulut yang hanya
tinggal ditelan, mereka muntahkan pula [HR. Ath-Thabary dalam Tafsir-nya Q.S. Al-Maidah:
91].Gentong-gentong khamr
yang masih tersisa di rumah para sahabat pun ditumpahkan, hingga lorong-lorong
kota Madinah becek dengan khamr
[Lihat: HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu].
Subhanallah!
Bentuk kepatuhan
luar biasa terhadap aturan agama.
Empat
belas abad lalu, di suatu siang, salah seorang sahabat, Mâ’iz bin
Mâlik radhiyallahu
’anhu datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya
berkata, “Wahai Rasulullah sucikanlah aku!”.
“Celaka
engkau, kembalilah! Beristigfar dan bertobatlah engkau kepada Allah!”
jawab beliau.
Dia
mundur tidak jauh, lalu datang kembali dan berkata, “Wahai Rasulullah,
sucikanlah aku!”.
“Celaka
engkau, kembalilah! Beristigfar dan bertobatlah engkau kepada Allah!”
tukas beliau lagi.
Dia
mundur tidak jauh, kemudian datang kembali seraya berkata, “Wahai
Rasulullah, sucikanlah aku!”.
Namun
Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam tetap memberikan jawaban yang sama.
Akhirnya di kali keempatnya beliau bertanya, “Kusucikan engkau dari
apa?”.
“Sucikanlah
aku dari perbuatan zina!”.
Rasululullah
shallallahu ’alaihi wa
sallam bertanya apakah dia tidak waras? Dijawab “Dia
waras”.
“Apakah
dia baru saja minum khamr?”.
Seorang
sahabat berdiri dan membaui mulutnya, ternyata tidak tercium bau khamr.
Akhirnya
Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam pun memastikan, “Apakah engkau
benar-benar telah berzina?”.
“Ya”
jawabnya dengan pasti.
Lalu
ia diperintahkan untuk dirajam sampai mati.
Setelah
Mâ’iz meninggal, para sahabat terbagi menjadi dua. Sebagian mencela
Mâ’iz dan sebagian yang lain memujinya, hal itu berlangsung dua
hingga tiga hari…
Di
hari ketiga, Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam pun bersabda,
لَقَدْ
تَابَ
تَوْبَةً
لَوْ
قُسِمَتْ
بَيْنَ
أُمَّةٍ
لَوَسِعَتْهُمْ
“Ia
telah bertobat dengan sebuah tobat, yang jika dibagikan kepada suatu umat,
niscaya tobat tersebut cukup untuk mereka semua.” (H.r. Muslim dari Buraidah radhiyallahu ’anhu).
Subhanallah,
kebeningan hati luar
biasa, yang manakala tergores noda maksiat dia amat tersiksa dan merasa gundah
gulana, serta ingin untuk segera bening kembali!
Jamaah
Jumat rahimakumullah..
Dua
potret kejadian di zaman nubuwwah
di atas, menggambarkan dengan jelas kepada kita betapa tinggi tingkat kepatuhan
para sahabat dengan aturan agama. Dan betapa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah
menggoreskan prestasi keberhasilan yang tidak ada bandingnya, dalam menanamkan
benih-benih ketaatan dalam jiwa para sahabat.
Tanpa
diawasi beliaupun, mereka tetap menjalankan syariat dengan ketundukan sempurna!
Manakala bersalah, mereka segera mengakui kesalahannya, tanpa harus diseret ke
penjara, dikorek-korek di pengadilan, serta berkelit ke kiri dan ke kanan.
Bandingkan
dengan kondisi banyak manusia di zaman ini, yang giat bekerja manakala diawasi
oleh atasan, namun begitu pengawasan lengah, mereka bergegas memanfaatkan kesempatan
dalam kesempitan. Mental-mental ‘ABS (Asal Babe Senang)’!
Kembali
kepada pembahasan tentang keberhasilan Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam dalam mendidik para sahabatnya. Tidakkah
terbetik dalam diri kita sebuah pertanyaan mendasar, “Bagaimana Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa
sallam hanya dalam rentang waktu belasan tahun berhasil mencetak
generasi unggul dalam beragama? Apa gerangan resep suksesnya? Apa pula hal
pertama yang beliau tanamkan dalam jiwa para sahabat sebagai pondasi kokoh yang
menjadi landasan bangunan kuat di atasnya?”.
Jawaban
dari seluruh pertanyaan di atas terangkum dalam penuturan Aisyah radhiyallahu ‘anha
berikut, tatkala beliau menjelaskan metode penurunan Alqurân secara
bertahap,
…
إِنَّمَا
نَزَلَ (أَيْ:
اَلْقُرْآنُ)
أَوَّلُ مَا
نَزَلَ
مِنْهُ:
سَوْرَةٌ
مِنَ الْمُفَصَّلِ
فِيْهَا
ذِكْرُ
الْجَنَّةِ
وَالنَّارِ،
حَتَّى إِذَا
ثَابَ
النَّاسُ
إِلَى الإِسْلاَمِ،
نَزَلَ
الْحَلاَلُ
وَالْحَرَامُ.
وَلَوْ
نَزَلَ
أَوَّلُ
شَيْءٍ: لاَ
تَشْرَبُوا
الْخَمْرَ،
لَقَالُوا:
لاَ نَدَعُ الْخَمْرَ
أبداً،
وَلَوْ
نَزَلَ: لاَ
تَزْنُوا،
لَقَالُوا:
لاَ نَدَعُ
الزِّنَا
أَبَداً ….
“…Sesungguhnya (surat Alqurân)
yang pertama kali diturunkan adalah surat yang menceritakan tentang surga dan
neraka. Tatkala saat itu orang-orang telah berbondong-bondong masuk Islam, baru
turun (ayat-ayat yang menjelaskan hukum) halal dan haram. Seandainya (ayat)
yang pertama kali turun adalah ‘Jangan kalian minum khamr (minuman
keras)’, niscaya orang-orang akan berkata, ‘Selamanya kami tidak
mau meninggalkan khamr’. Begitu pula jika (ayat) yang pertama kali
turun, ‘Jangan kalian berzina’, niscaya mereka akan berkata,
‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya’…”
[HR. Bukhârî (hal. 1087 no. 4993).].
Al-Hâfizh
Ibnu Hajar rahimahullâh
menjelaskan maksud dari perkataan di atas, “Aisyah menerangkan hikmah
Allah Ta’ala
di balik pengaturan susunan turunnya (ayat-ayat dan surat-surat Alqurân).
(Surat atau ayat) Alqurân yang pertama kali turun adalah dakwah
kepada tauhid dan pemberian kabar gembira kepada orang-orang yang beriman
dan taat; bahwa mereka akan dimasukkan ke surga. Juga ancaman bagi orang kafir;
bahwa mereka akan dimasukkan ke neraka. Tatkala umat telah merasa mantap dengan
hal itu, baru kemudian (ayat-ayat yang menjelaskan tentang) hukum-hukum (halal
dan haram) diturunkan. Oleh karena itu Aisyah berkata, ‘Seandainya (ayat)
yang pertama kali turun adalah ‘Jangan kalian minum khamr dst.”.
Sebab rata-rata orang akan merasa berat untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan
yang telah lama digemarinya” [Fath
al-Bârî (IX/51).].
Jadi,
sumber kesuksesan pendidikan Rasul
shallallahu ’alaihi wa sallam adalah karena beliau memulai
dakwahnya dengan poin yang diperintahkan Allah Ta’ala sebagai titik tolak dalam
berdakwah, yakni: tauhid atau akidah.
Kaum
muslimin dan muslimat yang kami cintai…
Carut
marutnya kondisi tanah air kita tercinta saat inipun, sejatinya bersumber dari kerapuhan akidah
banyak dari penduduk negeri ini.
Tahukah
Anda, bahwa korupsi yang merajalela saat ini bersumber dari lemahnya akidah
para pelakunya?
Andaikan
mereka berbekal akidah
kuat, yang membuahkan rasa takut kepada Allah dan sadar akan
pengawasan Allah Ta’ala
yang tidak pernah lengah apalagi tidur, niscaya mereka akan
berhenti untuk berkorupsi ria, walaupun tidak diawasi oleh KPK!
Tahukah
Anda, bahwa dekandensi moral dan merebaknya pergaulan bebas di antara muda-mudi
bangsa ini juga bersumber dari sakitnya akidah mereka?
Andaikan
mereka memiliki akidah kuat, yang membuahkan kesadaran akan adanya
kehidupan lain setelah kehidupan fana ini, akan adanya hari kiamat dan akan
adanya hari pembalasan amalan, niscaya mereka akan lebih berhati-hati lagi
dalam bertindak tanduk.
Hadirin
dan hadirat yang kami hormati…
Akidah
memang tidak terlihat, namun sangat urgen. Seperti pondasi suatu bangunan yang
tidak terlihat, namun begitu vital bagi kekokohan dan kekuatan bangunan,
tanpanya dia akan ambruk. Akidah bertempat dalam hati, jika lurus maka akan
luruslah lahiriah manusia, begitu pula sebaliknya. Sebagaimana diisyaratkan
dalam sabda Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam,
أَلاَ
وَإِنَّ فِي
الْجَسَدِ
مُضْغَةً إِذَا
صَلَحَتْ
صَلَحَ
الْجَسَدُ
كُلُّهُ وَإِذَا
فَسَدَتْ
فَسَدَ الْجَسَدُ
كُلُّهُ
أَلَا وَهِيَ
الْقَلْبُ.
“Ketahuilah
bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh jasad
akan baik. Namun jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa
segumpal daging tersebut adalah: hati.” (H.r. Bukhari dan Muslim dari
an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ’anhu).
Bukanlah
mudah mendirikan bangunan kuat akidah insan, sebab membutuhkan waktu lama dan
usaha yang tiada henti. Lihat Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam selama tiga belas setengah tahun tanpa
kenal lelah berjuang menancapkan akidah dalam jiwa umatnya!
Tidak
kalah, Nabi Nuh ‘alaihissalam,
siang dan malam, selama 950 tahun berjibaku menegakkan kalimat suci akidah di
muka bumi.
وَلَقَدْ
أَرْسَلْنَا
نُوحًا إِلَى
قَوْمِهِ
فَلَبِثَ
فِيهِمْ أَلْفَ
سَنَةٍ
إِلاَّ
خَمْسِينَ
عَامًا.
“Sungguh
kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, dan dia tinggal bersama mereka selama
seribu tahun kurang lima puluh tahun”. (Q.s. Al-Ankabut: 14).
Wahai
kaum muslimin, inilah jalan para nabi, tidak sepantasnyakah kita meniti jalan
mereka??
أقول
قولي هذا،
وأستغفر الله
لي ولكم
ولجميع المسلمين
والمسلمات،
فاستغفروه
إنه هو الغفور
الرحيم.
الحمد
لله حمداً
كثيراً طيباً
مباركاً فيه، كما
يحب ربنا
ويرضى، وأشهد
أن لا إله إلا الله
وحده لا شريك
له، له الحمد
في الآخرة والأولى،
وأشهد أن
سيدنا ونبينا
محمداً عبده
ورسوله،
الرسولُ
المصطفى
والنبي
المجتبى، صلى
الله عليه
وعلى آله
الأصفياء،
وأصحابِه الأتقياء،
والتابعين
ومن تبعهم
بإحسان وسار على
نهجه واقتفى.
Jamaah
Jumat rahimakumullah…
Seluruh
keterangan di atas bukan berarti kita mengesampingkan sisi syariat Islam
lainnya; semisal ibadah dan akhlak. Bagaimana mungkin akan dilalaikan,
sedangkan itu juga merupakan bagian dari Islam? Bahkan Islam tidak akan tegak
sempurna kecuali dengan itu semua!
Namun
yang kita inginkan adalah, bagaimana kita meneladani Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam dalam berdakwah dan bersikap. Memulai dengan sesuatu yang
beliau mulai dan memprioritaskan sesuatu yang menjadi prioritas beliau.
Bukankah kita semua sepakat bahwa beliau adalah qudwah dan panutan kita semua?
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ
فِي رَسُولِ
اللَّهِ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ
لِّمَن كَانَ
يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ
الْآخِرَ
وَذَكَرَ اللَّهَ
كَثِيراً
Artinya:
“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat
dan yang banyak mengingat Allah.” (Q.s. Al-Ahzab: 21).
Mari
kita bersama-sama tidak menjadikan itu sekadar lipstik dan slogan dalam lisan,
namun benar-benar dibumikan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga hari-hari esok
kita lebih cerah, hidup di bawah naungan sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam…
ألا
وصلوا وسلموا
-رحمكم الله-
على الهادي
البشير,
والسراج
المنير, كما
أمركم بذلك
اللطيف الخبير؛
فقال في محكم
التنـزيل:
“إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً”.
اللهم صل على
محمد وعلى آل
محمد كما صليت
على إبراهيم
وعلى آل
إبراهيم إنك
حميد مجيد,
اللهم بارك
على محمد وعلى
آل محمد كما
باركت على
إبراهيم وعلى
آل إبراهيم إنك
حميد مجيد
ربنا ظلمنا
أنفسنا وإن لم
تغفر لنا
وترحمنا لنكونن
من الخاسرين
ربنا اغفر لنا
ولإخواننا
الذين سبقونا
بالإيمان ولا
تجعل في
قلوبنا غلا
للذين آمنوا
ربنا إنك رؤوف
رحيم
ربنا لا تزغ
قلوبنا بعد إذ
هديتنا وهب لنا
من لدنك رحمة
إنك أنت
الوهاب
ربنا آتنا في
الدنيا حسنة
وفي الآخرة
حسنة وقنا
عذاب النار
وصلى الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه ومن تبعهم
بإحسان إلى
يوم الدين
وآخر دعوانا
أن الحمد لله
رب العالمين.
أقيموا
الصلاة
Penulis:
Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A
Ditulis di Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jumat 12
Ramadhan 1432 H / 12 Agustus 2011 M
Artikel www.khotbahjumat.com dengan
penyuntingan bahasa oleh tim redaksi KhotbahJumat.com