
January
26, 2016
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، أَحْمَدُهُ وَأَشْكُرُهُ وَأَسْتَعِيْنُهُ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، فِي رُبُوْبِيَتِهِ وَإِلَهِيَتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى،
Kaum
muslimin,
Kami
mengajak kalian untuk mengingat rahmat Allah yang cukup membesarkan hati para
hambaNya sebagaimana kita jumpai di permulaan setiap surah Al-Qur’an,
yaitu :
بسـم الله الرحمن الرحيم
“Dengan
Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”
Allah
-subhanahu wa ta’ala- mensifati Dzatnya dengan sifat rahmat kasih sayang
di beberapa ayat Al-Qur’an. Dia-pun mensifati rasul-Nya
–shallallahu alaihi wa sallam- dengan sifat rahmat kasih sayang dalam
beberapa hadis.
Firman
Allah :
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [ الأعراف/156]
“Dan
rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk
orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman
kepada ayat-ayat Kami”. Qs Al-A’raf : 156
Sabda
Nabi :
” إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ” رواه البخاري من حديث أبى هريرة
“Sesungguhnya
Allah menetapkan satu ketetapan sebelum mencipta penciptaan bahwa
‘rahmat-Ku lebih mendahului kemurkaan-Ku”. HR Bukhari dari hadis
Abu Hurairah.
Rahmat
paling agung yang Allah berikan kepada hambaNya ialah bahwa Dia telah memasang
rambu-rambu untuk meraih segala kebaikan, kebahagiaan dan kejayaan ketika hidup
dan sesudah mati, yaitu dengan menyambut seruan Allah Tuhan yang Maha Pengasih,
serta menyambut ajakan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam –
yang telah menyampaikan amanat.
Firman
Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/ 24]
“Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul
menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan bagimu”. Qs Al-Anfal :
24
Firman
Allah :
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ [ النور/54]
“Katakanlah:
“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling
maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan
kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika
kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban
rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. Qs An-Nur
: 54
Allah
– subhanahu wa ta’ala – membuat perundang-udangan yang
demikian itu agar seorang muslim menggapai kehidupan yang aman, sentosa dan
bahagia, selain agar terhindar dari sanksi hukuman dunia dan akhirat.
Penetapan
syariat Allah bagi orang-orang mukallaf itu adakalanya berupa perintah wajib,
sunnah, atau berupa larangan, sanksi hukuman yang membuat jera, ancaman, atau
berupa hukuman kebijaksanaan (ta’zir). Semua itu dimaksudkan sebagai
perwujudan kasih sayang Allah – subhanahu wa ta’ala –kepada
hamba-hambaNya, serta telaksananya kemaslahatan, kepentingan, kemudahan dan
rasa keadilan bagi mereka.
Firman
Allah :
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [ البقرة/185]
“Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Qs
Al-Baqarah : 185
Firman
Allah :
وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى [ الأعلى/ 8]
“dan
Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah” Qs Al-A’la : 8
Firman
Allah :
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [المائدة/6]
“Allah
tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan
menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Qs Al-Maidah :
6
Firman
Allah :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ [ النحل/90]
“Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”. Qs An-Nahl :
90
Hukum
syariat Islam dapat mewujudkan kehidupan sejahtera bagi manusia dalam kehidupan
dunianya, dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan kelak di akhirat.
Allah
–subhanahu wa ta’ala – dengan pemberlakuan hukum syariatNya
dan sanksi pidana agamaNya bermaksud menghindarkan hamba-hambaNya dari
ketetapan hukum alamNya (yang pasti berlaku). Ketika manusia menerapkan hukum
syariat, Allah tidak menjatuhkan hukuman terhadap mereka lantaran perbuatan
dosa. Allah jauhkan mereka dari bencana yang membinasakan di dunia ini dan
menyelamatkan mereka pula dari azab di akhirat kelak. Tetapi jika manusia tidak
mengindahkan hukum syariat, maka berlakulah ketetapan hukum alam terhadap
mereka yang tidak mengindahkannya itu sebagai balasan dan ganjaran atas
pelanggaran mereka.
Firman
Allah :
لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا [النساء/123]
“bukanlah
menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli
Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan
setimpal dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula)
penolong baginya selain dari Allah”. Qs An-Nisa : 123
Hukuman
alam yang telah menjadi ketetapan Allah lantaran dosa-dosa mereka itu sungguh
keras dan menyakitkan.
Firman
Allah :
وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ [ هود/102]
“Dan
begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang
berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”.
Qs Hud : 102
Sabda
Nabi :
” إنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ ”
“Sesungguhnya
Allah memberi kelonggaran waktu untuk orang yang zalim sehingga jika telah tiba
waktunya, Allah tidak akan melepaskannya”. HR Bukhari dan Muslim dari
hadis Abu Musa –radhiyallahu anhu-.
Firman
Allah :
إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ [ البروج/12]
“Sesungguhnya
azab Tuhanmu benar-benar keras”. Qs Al-Buruj : 12
Firman
Allah :
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ [ الأنعام/65]
“Katakanlah:
“Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu
atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan orang-orang
(yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan
sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda
kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Qs
Al-An’am : 65
Sebagai
bukti rahmat kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya ialah bahwa Dia tidak
mempercepat menghukum mereka yang berbuat zalim, tetapi Allah memberi mereka
kesempatan hingga waktu tertentu.
Firman
Allah :
وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا [ الكهف/58]
“Dan
Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka
karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi
bagi mereka ada waktu yang telah ditentukan (untuk mendapat azab), mereka
sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya”.Qs
Alkahfi : 58
Firman
Allah :
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى [ النحل/61]
“Jikalau
Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan
ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah
menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan”. Qs An-Nahl :61
Jika
sanksi hukuman alam memang sudah saat dijatuhkan, maka Allah jatuhkannya kepada
orang-orang yang benar-benar pantas menerimanya untuk mengingatkan mereka akan
adanya hukuman yang lebih dahsyat dari pada hukuman alam tersebut, agar
pelakunya yang mengundang murka Allah itu sadar dan insaf.
Firman
Allah :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم/41]
“Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum :
41
Firman
Allah :
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ السجدة/21]
“Dan
Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia)
sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke
jalan yang benar)”. Qs As-Sajdah : 21
Barangsiapa
yang sadar dan kembali ke jalan yang benar, Allah menyambutnya. Tetapi
barangsiapa yang membandel dan tetap nekat, sedangkan Allah melihatnya tidak
bakal kembali ke jalan yang benar, maka ketika itulah Allah menghukumnya
sekeras-kerasnya sesuai ketetapan takdirNya yang berlaku, sedangkan hukuman
yang dahsyat di akhirat adalah neraka Jahanam.
Jelaslah,
sanksi hukuman syariat dan penerapan hukum pidananya tidaklah berarti apa-apa
bila dibandingkan dengan sanksi hukuman alam lainnya, apalagi azab yang dahsyat
di akhirat.
Maka,
mari berpikir wahai sesama manusia, betapa luasnya rahmat kasih sayang Allah
dan sifat santunNya. Bagaimana Allah mensyariatkan untuk Anda berupa perintah,
larangan, hukum perundang-undangan (syariat), dan hukum pidanaNya ( hudud ).
Tujuannya adalah agar Anda terhindar dari hukuman alam yang pasti berlaku dan
terhindar pula dari hukuman siksa yang amat dahsyat selama Anda hidup dan
sesudah mati. Selain itu agar Anda memperoleh segi kemaslahatan dari hukum yang
Allah syariatkan, dan terhindar dari segala keburukan.
Maka
ambil-lah hikmah dari semua itu, bercerminlah kepada para sahabat
Nabi-radhiyallahu anhum- ketika mereka menyambut dakwah Nabi –shallallahu
alaihi wa sallam- dengan mencintai syariat dan menerapkannya, ketika itulah
Allah –subhanahu wa ta’ala- menghindarkan mereka dari bencana alam
yang pernah menimpa bangsa-bangsa di masa silam, berupa kehinaan hukuman,
musibah tenggelam, pekikan yang mematikan, terhempit batu, badai, gempa bumi
dan berubah muka. Namun demikian Allah masih menghidupkan mereka kembali di
dunia secara baik, memberi mereka kejayaan dan kekuasaan di bumi serta
memenangkan mereka dalam menghadapi musuh, meskipun jumlah mereka sedikit,
persenjataan mereka terbatas. Itu semua berkat keimanan, keikhlasan, kepasrahan
dan ketaatan mereka.
Umar
Bin Khatab – radhiyallahu anhu – berkata kepada panglima perangnya
:
“Saya
berpesan kepada Anda dan para prajurit yang bersama Anda agar tetap bertakwa
kepada allah dalam keadaan apapun. Sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh
untuk mengalahkan musuh, dan strategi yang paling jitu dalam perang. Hendaklah
Anda bersama segenap staf lebih takut berbuat maksiat dari pada takut
menghadapi musuh kalian. Sebab lawan-lawan kalian lebih takut kepada dosa
mereka dari pada kepada kalian. Kalau bukan karena itu, kalian tidak akan
sanggup menghadapi mereka, sebab jumlah kita sedikit tidak sebanding dengan
jumlah mereka, demikian pula persenjataan kita sangat minim dibanding
persenjataan mereka.
Kalaulah
dosa-dosa kita sepadan dengan ukuran dosa-dosa mereka, itupun mereka masih
tetap unggul dari segi kekuatan dari pada kita. Maka kita bisa menang atas
mereka lantaran ketaatan kita kepada Allah. Kita tidak bisa mengalahkan musuh
dengan mengandalkan kekuatan semata. Itulah sebabnya, para sahabat –
radhiyallahu anhum – dan generasi yang mengikuti jejak mereka dalam
kebaikan berhak menerima penghargaan sesuai janji Allah dalam Al-Qur’an.
Firman
Allah :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [ التوبة / 100 ]
“Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan
anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka
kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. QS At-Taubah : 100
Perhatikanlah,
bagaimana Allah –subhanahu wa ta’ala- mendatangkan segala kebaikan
dan menolak segala macam keburukan bagi orang-orang yang berpegang teguh kepada
agama Allah. Lalu lihatlah kondisi mereka yang berpaling dari seruan Nabi
–shallallahu alaihi wa sallam-, yang menentang hukum syariat, yang
menyerang ajaran Islam, yang berseberangan dengan para kekasih Allah.
Renungkanlah,
bagaimana para pembangkang itu terkepung oleh bencana hukuman Allah di alam ini
sehingga mereka merasakan penderitaan yang menyakitkan karena terhina,
tersakiti, terasing, terlantar, terpojokkan, terbuang dan berbagai malapetaka
alam dalam kehidupan ini.
Firman
Allah :
وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [ التوبة / 40 ]
“Dan
Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Qs At-Taubah
: 40
Dan
Allah berfirman :
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ كُبِتُواْ كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ وَقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖۚ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٞ مُّهِينٞ [ المجادلة / 5 ]
“Sesungguhnya
orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan
sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya
Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa
yang menghinakan”. (QS Al-Mujaadilah : 5)
Dan
Allah berfirman :
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ [ المجادلة / 20 ]
“Sesungguhnya
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang
yang sangat hina”. (QS Al-Mujaadilah : 20)
Dan
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي
“Dan
dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi yang menyelisihi perintahku”
Adapun
siksaan yang ditetapkan di akhirat bagi orang-orang kafir adalah neraka
Jahannam. Allah berfirman ;
قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ سَتُغۡلَبُونَ وَتُحۡشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ [ آل عمران/ 12 ]
“Katakanlah
kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini)
dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang
seburuk-buruknya”. (QS Ali ‘Imron : 12)
Maka
apakah yang engkau cari wahai muslim setelah semua pemuliaan ini?, dan apakah
yang bisa lebih dari rahmat Robmu yang memerintahkanmu kepada seluruh kebaikan
dan melarangmu dari seluruh keburukan?, dan Allah telah memerinci hukum-hukum
bagimu dan telah mensyari’atkan bagimu hukuman-hukuman had dan
perkara-perkara yang menjerakan.
Perintah-perintah
merupakan persiapan untuk mencapai kesempurnaan manusia, dan pensucian serta
pembersihan bagi tubuh, untuk memperkuat ruh dan memperkuat kehendak untuk
berbuat kebajikan serta tarbiah yang sempurna untuk membentuk seluruh akhlak
yang mulia, untuk memperkokoh hati dan memuliakan manusia. Allah berfirman :
وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ [ فاطر/18]
“Dan
barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk
kebaikan dirinya sendiri”. (QS Fathir : 18)
Allah
berfirman :
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ، وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ [ الأعلى / 14-15]
“Sesungguhnya
beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama
Tuhannya, lalu dia sembahyang”. (QS Al-A’la : 14-15)
Allah
berfirman :
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ، وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا [ الشمس / 9-10]
“Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang
yang mengotorinya”. (QS Asy-Syams : 9-10)
Perintah
yang pertama kali Allah keluarkan adalah mentauhidkan Allah dan beribadah
kepadaNya. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid maka Allah menjamin baginya
keamanan di dunia dan akhirat dan Allah mensucikan jiwanya. Allah berfirman :
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ [ الأنعام / 82]
Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),
mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 82)
Dan
telah berulang-ulang perintah untuk menjalankan rukun-rukun Islam dan penjelasan
bahwa padanya ada pensucian, pembersihan, ganjaran yang agung,
manfa’at-manfa’at, dan banyak keberkahan bagi individu dan
masyarakat. Barangsiapa yang menelaah dalil-dalil maka akan jelas baginya hal
ini. Dan rukun-rukun tersebutlah yang dibangun di atasnya seluruh perintah, dan
seluruh motivasi kembali kepadanya.
Adapun
larangan-larangan maka demi memberi penjagaan bagi hati dari penyakit-penyakit
syubhat dan syahwat, serta menjaga manusia dari perkara-perkara yang buruk,
penyakit-penyakit, kerusakan-kerusakan, dan kejahatan-kejahatan, karena hal-hal
yang dilarang itu ibarat racun bagi tubuh, dan perintah-perintah itu ibarat
nutrisi bagi tubuh. Allah berfirman :
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ [ النحل/90]
“Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan
permusuhan”. (QS An-Nahl : 90)
Adapun
hukuman-hukuman had maka Allah mensyari’atkannya untuk menjaga agama,
menjaga nyawa, menjaga kehormatan, menjaga akal dan menjaga harta, dan bukan
karena mengikuti hawa nafsu seseorang. Adanya hukum had bagi murtad adalah
untuk menjaga agama, dan adanya hukum qisos untuk menjaga nyawa, adanya hukum
had zina demi menjaga kehormatan, dan adanya hukum had khomr dan narkoba adalah
untuk menjaga akal, adanya hukum had mencuri adalah untuk menjaga harta. Dan
inilah lima perkara darurat (primer) yang dijaga dengan pencegah yang agamis
intern.
Perkara
yang paling kuat untuk menjaga lima perkara primer tersebut adalah penegakan
hukum had, karena Allah memperbaiki dengan kekuatan perkara yang tidak terbaiki
dengan Al-Qur’an. Dan para ulama pakar ushul fiqh telah memberikan
perhatian terhadap lima perkara primer ini. Dan barangsiapa yang mencela
hukum-hukum had dan menolaknya dengan akalnya maka ia telah berdusta atas nama
Allah dan telah berani terhadap Allah hanya dengan persangkaannya bahwa hukum
had adalah bentuk membuang hak-hak manusia. Dan siapakah yang lebih kasih
sayang kepada manusia dari pada Allah?, siapakah yang lebih mengetahui dari
Allah?, siapakah yang lebih bijak dari Allah? Siapakah yang lebih adil dari
Allah?. Allah berfirman :
وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]
“Dan
(hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang
yakin”. (QS Al-Maidah : 50)
Dan
hukum-hukum had merupakan penjera dan pencegah dari melakukan hal-hal yang
menyebabkan hukum had, dan sebagai kafarah (pembersih) dosa-dosa, serta menjaga
kehidupan dari gangguan dan pelanggaran. Dan dalam hadits :
إِقَامَةُ حَدٍّ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحَا
“Menegakan
hudud ( hukum pidana) di dunia lebih baik bagi penghuni bumi dari pada turun
hujan bagi mereka selama empat puluh hari” (HR An-Nasaai dan Ibnu Majah
dari hadits Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu).
Dan
hukum had merupakan pembersih dosa bagi seorang muslim berdasarkan sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Al-Aslami yang Nabi telah merajamnya:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ الآنَ لَفِي أَنْهَارِ الْجَنَّةِ يَنْغَمِسُ فِيْهَا
“Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya ia sekarang berada di
sungai-sungai surga, ia menyelam di dalamnya” (HR Abu Dawud)
Dan
darah yang terjaga serta harta yang terjaga termasuk dari lima perkara yang
primer yang benar-benar diperhatikan dan diagungkan perkaranya oleh seluruh
syari’at yang penutupnya adalah syari’at Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam pemimpin seluruh manusia.
Yang
sekarang kaum khawarij masa kini serta teroris telah menganggap sepele dan
ringan terhadap nyawa-nyawa yang diharamkan untuk dibunuh, dan mudah untuk
berbuat pelanggaran terhadap nyawa-nyawa tersebut dengan menumpahkan darahnya,
serta pelanggaran terhadap harta-harta dengan merusaknya, terhadap
mesjid-mesjid dan yayasan-yayasan.
Sungguh
hal ini merupakan fitnah zaman ini yang merusak, yang dilakukan oleh sebagian
non muslim dan sebagain orang yang berafiliasi kepada Islam, namun Islam
berlepas diri dari kejahatan, kezoliman, dan kriminal mereka.
Jadilah
terorisme perkara yang dibenci dan kejahatan bagi manusia, banyak orang menjadi
korbannya di banyak tempat. Dan negara yang paling menjadi korbannya adalah
negeri Al-Haromain.
Dengan
adanya pembentukan persekutuan pasukan Islami yang dipimpin oleh Arab Saudi
adalah untuk mencegah kejahatan terorisme agar tidak mengenai manusia. Dan
orang-orangpun gembira berharap kebaikan dengan adanya persekutuan Islami ini,
mereka telah melihat tanda-tanda buah kabaikannya. Dan diantara hak-hak
negara-negara yang bersekutu tersebut adalah menjaga rakyatnya dan membentengi
para pemudanya serta menjaga aqidah mereka dari penyimpangan, serta
memperhatikan kemaslahatan mereka dan pengkokohan stabilitas keamanan dan
ketentraman, dan riset tentang metode-metode yang mendatangkan seluruh kebaikan
bagi negeri dan masyarakat.
Dan
yang wajib pertama dan terakhir bagi kaum muslimin baik masyarakat maupun
negara, untuk menolong permasalahan-permasalahan kaum muslimin, dan agar mereka
menjaga rakyat mereka dari serangan akidah yang menyimpang yang menyelisihi
akidah Islam yaitu akidahnya para sahabat dan tabi’in, yang merupakan
akidah yang tengah dan adil, dan hendaknya mereka menjaga rakyat mereka dari
sikap terlepas dari ajaran-ajaran Islam dan kecondongan kepada syahwat dan
perkara-perkara haram, dan kita memohon kepada Allah agar menjadikan
persekutukan Islam ini bermanfaat bagi negeri dan rakyat. Allah berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ، وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ [ آل عمران / 102-103]
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai (QS Ali ‘Imron 102-103)
Semoga
Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an yang agung.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ؛ وَأَسْتَغْفُرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
Kaum
muslimin,
Bertakwalah
kepada Allah dan sembahlah Dia, karena Dialah yang telah memelihara kalian
dengan berbagai kenikmatan dan telah memalingkan dari kalian berbagai keburukan
dan bencana. Kaum muslimin sekalian, renungkanlah tentang kandungan firman
Allah ta’aala :
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ [ المائدة/ 2]
Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada
Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2).
Maka
dengan kerjasama Allah menggabungkan seluruh kebaikan dan menolak seluruh
keburukan. Dan dengan meninggalkan kerja sama maka akan terluput banyak
kebaikan dan akan muncul banyak keburukan. Para pemuda sekalian, hendaknya
kalian semangat menuntut ilmu yang bermanfaat, dan beramal sholeh, dan
bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki dunia dan akhirat kalian dengan
berbagai macam ilmu dan dengan amal yang bermanfaat dan berfaedah.
Waspadalah
kalian dari jerat-jerat terorisme dan jalan-jalan khawarij, dan jika engkau
diajak kepadanya maka lihatlah kondisi para dari mereka dalam perjalanan mereka,
maka engkau akan tahu bahwasanya mereka adalah pecinta dunia dan tukang pembuat
onar. Dan sesungguhnya piramida mereka, dan perantara-perantara mereka untuk
menjeratmu adalah orang-orang yang majhul (tidak dikenal), mereka menghendaki
seluruh keburukan bagi umat ini, mereka ingin engkau mengguncang stabilitas
keamanan, mereka ingin engkau mengangkat senjata untuk memerangi polisi dan
tentara yang mereka sedang melayani umat. Mereka ingin menculikmu dari
penjagaan kedua orang tuamu dan memakaikan kepadamu pakaian ketakutan,
kehinaan, dan pengusiran.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَعَاكُمُ
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ فَقَالَ:
﴿ إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
(( مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِيٍّ,
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ، وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْهُمْ
فِي أَرْضِ
الشَامِ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
كُنْ لَنَا
وَلَهُمْ
حَافِظاً
وَمُعِيْنًا
وَمُسَدِّداً
وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
حُبَّكَ،
وَحُبَّ مَنْ
يُحِبُّكَ،
وَحُبَّ
العَمَلَ
الَّذِيْ
يُقَرِّبُنَا
إِلَى
حُبِّكَ.
اَللَّهُمَّ
زَيِّنَّا
بِزِيْنَةِ
الإِيْمَانِ
وَاجْعَلْنَا
هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا
أَنْتَ خَيْرَ
مَنْ
زَكَّاهَا،
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عباد
الله، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ*
وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)
[النحل:90-91]،
فاذكروا
اللهَ
يذكرْكم،
واشكُروه على
نعمِه
يزِدْكم،
ولذِكْرُ
اللهِ أكبرُ،
واللهُ يعلمُ
ما تصنعون.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Ali al-Hudzaifi
Penerjemah : Firanda dan Usman Hatim
Artikel www.Firanda.com
Dipublish
ulang oleh www.KhotbahJumat.com