
November
25, 2015
Khotbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ خَلَقَ الإِنْسَانَ، عَلَّمَهُ البَيَانَ، وَحَذَّرَهُ مِنْ آفَاتِ الْلِسَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَدَةً تُفْتَحُ لِقَائِلِهَا أَبْوَابَ الجِنَانِ، وَتُغْلَقُ عَنْ أَبْوَابِ النِيْرَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُؤَيِّدُ بِالمُعْجِزَاتِ وَالبُرْهَانِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَهْلُ البِرِّ وَالْإِيْمَانِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى،
Ibadallah,
Kondisi
kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan,
terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka
sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan
agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan
kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.
Camkanlah
baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang
membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka
menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang
kehidupan. Firman Allah :
وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]
“Dan
apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari
kesalahan-kesalahanmu].” (Qs As-Syura :30).
Firman
Allah:
ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ الروم / 41 ]
“Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Qs Ar-Rum: 41)
Rasulullah
ﷺ
bersabda:
وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Selama
para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh
Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling
permusuhan di antara mereka.”
Ali
–radhiyallahu ‘anhu– berkata :
( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )
“Tidak
terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak
akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.”
Dosa
kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah
penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat
selanjutnya.
Ibnul-Qayim
–rahimahullah– berkata:
“Hal
ini terdapat dalam Alquran, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap
musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh
merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu
(Alquran dan As-Sunnah)
Disebutkan
dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :
( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )
“Jika
kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan
menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-Nya.”
Jika
telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh
dari sistem hukum Alquran dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa
sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan
diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan
terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.
Prinsip
pertama: Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan
kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan
mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat
kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung
dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور / 31 ]
“Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung.” (Qs An-Nur : 31)
Allah
berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
Dan
[Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu
bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu,
dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu
berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)
Kebaikan
dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan
kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah
:
فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.
“Maka
jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka
berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia
dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak
(pula) penolong di muka bumi.” (Qs At-Taubah : 74)
Bertobat
kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban
dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya
bala’. Firman Allah :
وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ [ الأنفال / 33 ]
“Dan
Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara
mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta
ampun.” (Qs Al-Anfal: 33).
Bahkan
tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka
ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ [ هود / 3 ]
“Dan
hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu
mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik
(terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan
memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan)
keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan
ditimpa siksa hari kiamat.” (Qs Hud: 3).
Firman
Allah melalui lisan Nabi Nuh:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ، يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً [ نوح / 10 – 12 ]
“Maka
aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya
Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Qs
Nuh 10-12).
Prinsip
kedua: Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada
Allah Ta’ala.
Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya
rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan
kepadanya.” (Qs. At-Thalaq : 2-3)
Ibnul-Qayim
berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan
prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri
sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara,
sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh
musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan.
Semoga Allah menjadi Penolong kita”.
Orang-orang
yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri
dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus
dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.
Firman
Allah:
إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا [ الحج / 38 ]
“Sesungguhnya
Allah membela orang-orang yang beriman.” (Qs Al-Haj : 38).
Prinsip
ketiga : Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang
ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan
meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai ke daratan
keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan
selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya
Alquran dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah
menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang
memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua
sumber wahyu.
Allah
Ta’ala
berfirman :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا [ آل عمران / 103 ]
“Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai.” (Qs Ali Imran : 103).
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]
“Sesungguhnya
telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat
sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya.” (Qs
Al-Anbiya : 10).
Artinya
di dalam kitab Alquran itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi
kalian.
Imam
Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau
bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku
tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat
selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah
Nabi-Nya.”
Imam
Abu Dawud –rahimahullah– meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari
hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata :
صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .
“Rasulullah
telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk
memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan
membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah,
nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka
berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat
kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at
walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di
antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak
perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah
Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah
itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang
diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat.”
Maka
berpegang teguh kepada dua wahyu (sebagai sumber hukum) ketika menghadapi
bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan
dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan
satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan
kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.
Prinsip
keempat: Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah
saw bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا
“Barang
siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya,
sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia
seluruhnya telah menjadi miliknya.” (HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan
sanad hasan).
Ingatlah!
Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam
aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah
mempraktekkan perintah-perintah Alquran dan arahan-arahan Nabi serta
mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]
“Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik],
mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (Qs Al-An’am : 82).
Negeri
manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa
nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan
keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.
Firman
Allah :
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ [ النحل / 112 ]
“Dan
Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi
tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi
[penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan
kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu
mereka perbuat.” (Qs An-Nahl : 112).
Prinsip
kelima: Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama
[tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan
serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.
Firman
Allah :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا [ آل عمران / 103 ]
“Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai.” (Qs Ali Imran : 103).
Sementara
musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan
lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian
dan perebutan.
Firman
Allah :
وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ [ الأنفال / 46 ]
“Dan
janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar.” (Qs Al-Anfal: 46).
Rasulullah
bersabda:
( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم
“Janganlah
kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian
hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot
saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim).
Rasulullah
bersabda:
( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا
“Wahai
manusia! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ],
janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga
kali.” (HR. Ahmad).
Dan
peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa
perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.
مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِ
أَلْقَابُ
مَمْلَكَةٍ
فِي غَيْرِ
مَوْضِعِهَا…
كَالْهِرِّ
يَحْكِي
انْتِفَاخًا
صَوْلَةَ
الأَسَدِ
“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan
negeri Andalus….
Adalah
nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu
Mu’tamid dan Mu’tadid…
Gelar-gelar
untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…
Seperti
kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti
singa…”
Maka
wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka
berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Alquran sebagai hakim dan sebagai
metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka,
serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh
yang baik bagi mereka.
Dan
kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka
tergambarkan seperti ucapan seseorang :
كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِ
وَلَوْ
أَنَّهُم
عِنْدَ
التَّنَازُعِ
وُفِّقُوا ***
لَتَحَاكَمُوا
للهِ دُوْنَ
تَوَانِ
ولَأَصْبَحُوا
بَعْدَ
الْخِصَامِ
أَحِبَّةً ***
غَيْظَ
العَدَا
وَمَذَلَّةَ
الشَّيْطَانِ
“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan
pendapatnya…
Dan
ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…
Seandainya
tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…
Maka
sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama
sekali…
Dan
sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…
Yang
hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan setan…”
Maka
bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin
akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di
bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Alquran dan As-Sunnah, dan
hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal
ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar
dan mengabulkan doa.
Dan
prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya
berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan
Alquran, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :
وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ
“Dan
apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan,
mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan
Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui
kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil
Amri).” (Qs An-Nisaa : 83)
Rasulullah
ﷺ
bersabda :
عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ
“Ibadah
tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku.”
Dan
hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara
yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya.
Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada
kesalahan. Allah berfirman
إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥
“(Ingatlah)
di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan
dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya
suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (Qs
An-Nuur: 15)
Sesungguhnya
para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media
sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu
terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang
memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.
Telah
datang dalam hadits yang marfu’ :
ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ
“Akan
muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang
mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam
fitnah tersebut seperti pedang.” (HR. Abu Dawud). Dan makna dari hadits
ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun
yang khusus.
Ibnu
Abbas telah berkata ;
إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ
“Sesungguhnya
fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan.”
Kebenaran
akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada
fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan
tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.
Semoga
Allah memberkahi kita pada Alquran dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil
manfaat dari keduanya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ البَيَانِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَاسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى،
Kaum
muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sesungguhnya
kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan
kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at
yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan
rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan
kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini
dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoan-Nya,
dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan
petunjuk.
Saudara-saudaraku
se-Islam,
Termasuk
amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia,
Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta
para sahabatnya.
Ya
Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah
kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah
hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…
Ya
Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu,
wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka
berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha
Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia
kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini
dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah
kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah
meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan
akhirat serta jagalah kami dari adzab neraka.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
وَعَلَيْكُمْ
بِالْجَمَاعَةِ،
فَإِنَّ يَدَ
اللهِ عَلَى
الجَمَاعَةِ
وَمَنْ شَذَّ شَذَّ
فِي
النَّارِ،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
فَقَالَ
سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى:(إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا)،
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنْ
خُلَفَائِهِ
الرَاشِدِيْنَ،
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ،
أَبِي بَكْرٍ،
وَعُمَرَ،
وَعُثْمَانَ،
وَعَلِيٍّ،
وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ،
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنَ،
وَاجْعَلْ
هَذَا
البَلَدَ آمِناً
مُطْمَئِنّاً،
وَسَائِرَ
بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ
عَامَةً يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الغَلَا
وَالْوَبَا
وَالرِّبَا
وَالزِّنَا
وَالْزَلَازِلَ
وَالمِحَنِ
وَسُوْءَ
الفِتَنِ مَا
ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ عَنْ
بِلَادِنَا
هَذَا
خَاصَّةً
وَعَنْ
بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
عَامَةً يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَلِّي
عَلَيْنَا
خِيَارَنَا
وَكْفِيْنَا
شَرَّ
شِرَرَنَا
وَلَا
تُسَلِّطْ
عَلَيْنَا
بِذُنُوْبِنَا
مَا لَا
يَخَافُوْكَ
وَلَا
يَرْحَمُنَا،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا فِيْهِ
صَلَاحَهُ
وَصَلَاحَ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
بِطَانَتَهُ
وَجُلَسَاءَهُ
وَمُسْتَشَارِيْهِ
وَأَبْعَدْ
عَنْهُ
بِطَانَةَ
السُّوْءِ
وَالمُفْسِدِيْنَ
(رَبَّنَا تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ)،
وَقِنَا
شَرَّ
الفِتَنِ مَا
ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ
(رَبَّنَا تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ)،
(وَتُبْ
عَلَيْنَا
إِنَّكَ
أَنْتَ
التَّوَّابُ
الرَّحِيمُ).
عِبَادَ
اللهِ، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ)،
(وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)،
فَاذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرُ،
وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ
.
Diterjemahkan
oleh Firanda Andirja dan Usman Hatim
http://firanda.com/
www.KhotbahJumat.com