
November
7, 2011
***
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَجَعَلَ لِلْوُصُوْلِ إِلَيْهِ طَرَائِقَ وَاضِحَةً وَسُبُلاً , وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , شَهَادَةً نَرْجُوْبِهَا عَالِيَ الْجَنَّاتِ نُزُلاً , وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , أَقْوَمُ الْخَلْقِ دِيْنًا وَأَهْدَاهُمْ سُبُلاً , صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ , وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
Amma
ba`du,
Wahai
kaum muslimin, sesungguhnya telah datang bagi manusia suatu masa, di mana pada
waktu itu dia merupakan sesuatu yang belum bisa disebut. Kemudian Allah Subahanahu wa Ta’ala
menciptakan kita, menyempurnakan nikmat-nikmatnya,
menghindarkan bencana, dan memberikan kemudahan, serta menjelaskan semua yang
bermanfaat dan berbahaya bagi kita. Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjelaskan bahwa manusia itu memiliki dua negeri,
yaitu negeri tempat berjalan dan menyeberang, dan negeri tempat menetap dan
hidup abadi. Negeri tempat menyeberang adalah alam dunia ini. Negeri yang
segala sesuatunya terdapat kekurangan, kecuali yang bisa mendekatkan diri
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Angan-angan dunia adalah suatu penyesalan,
kejernihannya adalah suatu kekotoran. Sekiranya orang yang berakal melihat
sedikit saja, pasti dia akan mengetahui kadar dan kehinaannya serta
tipudayanya. Dunia itu terlihat seperti fatamorgana. Orang yang kehausan
mengira itu adalah air, padahal apabila dia mendekatinya, dia tidak akan
memperoleh apa-apa. Dunia juga dihiasi dengan berbagai macam kemegahan dan
sesuatu yang menggiurkan. Allah Subahanahu
wa Ta’ala berfirman,
حَتَّى إِذَآ أَخَذَتِ اْلأَرْضُ زُخْرُفُهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَآ أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَآ أَتَاهَآ أَمْرُنَا لَيْلاً أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِاْلأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Hingga apabila bumi itu telah sempurna
keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira
bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di
waktu malam atau siang, lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana
tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang
berfikir.” (Q.s. Yûnus/10: 24)
Jadi, akhir dunia
ini adalah ketiadaan dan kebinasaan. Keindahannya adalah petaka dan
penyesalan. Inilah dunia. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَآ إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta
dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi
hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.” (Q.s. Al-Hadîd/57: 20).
Wahai
kaum muslimin, sedangkan akhirat adalah negeri dan kehidupan yang
hakiki. Kehidupan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur kehidupan, seperti
keabadian, kesenangan dan kedamaian. Dan kesenangan di sana adalah hakiki.
Apabila manusia melihat hakikat sebenarnya. Ia akan mengatakan, “Aduhai
baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidup
ini.” Jadi, kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat,
tempat manusia hidup dan mereka tidak akan mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ
“Barangsiapa
yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat
keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah
orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka
jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam
keadaan cacat.”
(Q.s. al-Mukminûn/23: 102-1032).
Wahai
kaum muslimin, marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melihat dunia ini
dengan pandangan orang yang berakal, membandingkan kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat, agar kita mengetahui perbedaan kedua negeri tersebut. Di
negeri akhirat terdapat semua yang diinginkan oleh manusia dan nikmati oleh
mata. Surga adalah darus
salâm (kampung kedamaian), yang terlepas dari berbagai
kekurangan, bala`,
penyakit, kematian, kesusahan maupun usia yang tua. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لَمَوْضِعُ سَوْطٍ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Sesungguhnya tempat cemeti kalian di
surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (H.r.
Ahmad no. 21732).
Ini
adalah ucapan seorang nabi yang jujur lagi dipercaya. Sesungguhnya tempat
tongkat di surga itu lebih baik dari dunia ini semuanya, dari awal hingga
akhirnya dengan segala kenikmatan
dan kemewahan yang ada di dalamnya. Apabila ini saja lebih baik
dari dunia semuanya, lantas kiranya kenikmatan apa yang kita dapatkan di dunia
ini dengan waktu yang sangat singkat.
Wahai
kaum muslimin, sungguh mengherankan sekali ada kaum yang lebih mengutamakan
kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat. Padahal akhirat itu lebih baik dan
kekal. Mereka lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat. Mereka mencari dunia
dan meninggalkan amal akhirat. Meraka sangat berambisi untuk mendapatkan dunia
dan melewatkan apa yang Allah Subahanahu
wa Ta’ala wajibkan kepada mereka. Mereka tenggelam dalam hawa
nafsu dan kelalaian. Mereka melupakan rasa syukur kepada zat yang telah
memberikan nikmat
kepada mereka. Ciri-ciri mereka yaitu bermalas-malasan mengerjakan salat dan
merasa berat untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Di dunia ini mereka berani bermuamalah riba yang mereka perindah namanya, atau
dengan riba yang terang-terangan tanpa peduli sedikitpun dengan dosa di akhirat
kelak. Mereka berbohong dalam setiap pembicaraan, tidak menunaikan janji-janji
mereka, tidak berbuat baik kepada orang tua dan tidak menyambung silaturahmi.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Sebaliknya,
orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, maka dia terkadang
diberikan dunia, akan tetapi dia tidak mendapat bagian di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ. أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan
dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan
mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah
apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs.. Hûd/11:
15-16).
Ya Allah,
jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada
dunai, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan dia akhirat serta jagalah
kami dari api neraka.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ,
اللَّهُمَّ
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَِلإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِاْلإِيمَانِ
وَلا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلاَّ
لِلَّذِينَ
آمَنُوا رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَحِيمٌ
رَبَّنَا لا
تُؤَاخِذْنَا
إِنْ
نَسِينَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا
وَلا
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْراً
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلَى الَّذِينَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبَّنَا
وَلا تُحَمِّلْنَا
مَا لا
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنَّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِينَ,
وَأَقِمِ
الصَّلاَة
Dikutip
dari Adl-Dhiyâul
Lâmi` Minal Khuthâbil Jawâmi`, karya Syekh
Muhammad bin Shâlih Al-Utsaimîn, 6/280-282. Disalin dari
kumpulan naskah khutbah Jumat Majalah As-Sunnah dengan beberapa penyuntingan
oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel
www.khotbahjumat.com