
November
22, 2011
الْـحَمْدُ
لِلهِ
الَّذِي
خَلَقَ كُلَّ
شَيْء
فَقَدَّرَهُ
تَقْدِيْرًا
وَأَتْقَنَ مَا
شَرَعَهُ
وَصَنَعَهُ
حِكْمَةً
وَتَدْبِيْرًا،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَّ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَكَانَ
اللّهُ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَرْسَلَهُ
إِلَى
الْـخَلْقِ
بَشِيْرًا
وَنَذِيْرًا
وَدَاعِيًا
إِلَى اللهِ
بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا
مُنِيْرًا،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا.
أمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتّقُوْا
رَبَّكُمْ
واعْلَمُوْا
مَا لِلهِ
مِنَ الْـحِكْمَةِ
الْبَالِغَةِ
فِيْ
تَعَاقُبِ
الشُّهُوْرِ
وَالأَعْوَامِ.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Segala
puji bagi Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang menciptakan segala sesuatu dan menetapkan
ketentuan atas seluruh makhluk-Nya. Dialah satu-satunya yang menguasai serta
mengatur seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan
orang-orang yang mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.
Saudara-saudaraku
yang semoga dirahmati Allah Subhanahu
wa Ta’ala,
Marilah
kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala kapan dan di manapun kita berada. Karena dengan
bertakwalah seseorang akan mendapatkan pertolongan-Nya untuk bisa menghadapi
berbagai problema dan kesulitan yang menghadangnya. Begitu pula, marilah kita
senantiasa merenungkan betapa cepatnya waktu berjalan serta mengambil pelajaran
dari kejadian-kejadian yang kita saksikan.
Hadirin
yang semoga dirahmati Allah Subhanahu
wa Ta’ala,
Di
sisi lain, perayaan tahun baru tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para sahabatnya. Bahkan hal itu justru merupakan kebiasaan yang dilakukan
oleh orang-orang orang kafir. Karena mereka sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
adalah orang-orang yang tertipu dengan kehidupan dunia sehingga yang mereka
bangga-banggakan adalah kemewahan dunianya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan
tentang mereka di dalam firman-Nya,
اللهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ
“Dan mereka (orang-orang kafir)
berbangga-bangga dengan kehidupan dunianya, padahal tidaklah kehidupan dunia
itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, kecuali hanyalah kesenangan (yang
sedikit).” (Q.s. Ar-Ra’d: 26)
Ayat-ayat
yang semisal ini banyak disebutkan dalam Alquran. Mengingatkan kita untuk tidak
mengikuti akhlak orang-orang kafir yang membangga-banggakan dunia. Yang
demikian ini karena sifat membangga-banggakan dunia akan menyeret pelakunya
pada kesombongan dan melalaikannya dari mengingat kematian dan beramal untuk
akhiratnya. Oleh karena itu wajib bagi kaum muslimin untuk meninggalkan kebiasaan
mereka dalam merayakan tahun baru hijriyah, karena acara tersebut bukan
termasuk ajaran Islam. Bahkan merupakan kebiasaan orang-orang kafir.
Saudara-saudaraku
yang semoga dirahmati Allah Subhanahu
wa Ta’ala,
Adapun
yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim terlebih di akhir tahun ini
adalah berupaya untuk melakukan interopeksi diri. Selanjutnya bertaubat kepada
Allah Subhanahu wa
Ta’ala atas seluruh kesalahan yang telah dilakukannya serta
memohon ampun atas kekurangannya dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Di
samping itu juga memohon pertolongan kepada-Nya untuk bisa istiqamah dan
senantiasa bertambah ilmu dan amal shalihnya. Begitu pula berusaha agar hari
yang akan datang senantiasa lebih baik dari yang sebelumnya, sehingga hidupnya
lebih baik dari kematiannya.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah
bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi seorang muslim. Bahkan
lebih berharga dari harta dunia yang dimilikinya. Karena harta apabila hilang
maka masih bisa untuk dicari. Sementara waktu apabila telah berlalu tidak
mungkin untuk kembali lagi. Sehingga tidak ada yang tersisa dari waktu yang
telah lewat kecuali apa yang telah dicatat oleh malaikat. Maka sungguh betapa
ruginya orang yang tidak memanfaatkan waktunya apalagi jika dipenuhi dengan
kemaksiatan kepada Rabb-nya.
Meskipun kehidupannya serba tercukupi dan serba ada, namun apalah artinya kalau
seandainya berakhir dengan menerima siksaan api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
أَفَرَءَيْتَ إِن مَّتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ . ثُمَّ جَآءَهُم مَّاكَانُوا يُوعَدُونَ . مَّآ أَغْنَى عَنْهُم مَّاكَانُوا يُمَتَّعُونَ
“Maka tentunya engkau tahu, jika Kami
berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada
mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka niscaya tidak berguna bagi
mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Q.s.
Asy-Syu’ara: 205-207)
Hadirin
rahimakumullah,
Selanjutnya
perlu diketahui pula, bahwasanya tidak disyariatkan bagi kaum muslimin untuk
berdoa dengan doa khusus yang dikenal oleh sebagian orang dengan istilah doa
akhir tahun dan doa awal tahun. Karena hal ini tidak pernah dicontohkan pula
oleh suri tauladan kita Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sehingga tidak boleh
bagi kita untuk mengamalkannya. Karena kita harus mengingat bahwa sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek amalan adalah yang
menyelisihi petunjuknya.
Akhirnya,
mudah-mudahan Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjadikan tahun yang akan datang dan tahun-tahun
berikutnya menjadi tahun yang penuh dengan keamanan dan kesejahteraan.
Mudah-mudahan kaum muslimin baik masyarakatnya maupun para pemimpin bangsanya
dimudahkan untuk semakin memahami Alquran dan As-Sunnah dengan pemahaman para
sahabat dan para ulama yang mengikuti jalannya serta dalam mengamalkan
keduanya.
Walhamdulillahi
rabbil ’alamin.
الْـحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْجَحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ، وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah
bahwa kemuliaan itu akan diraih manakala kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam
mengikuti agamanya. Namun ketika kaum muslimin lebih suka untuk mengikuti
apa-apa yang bukan dari ajaran agamanya maka kehinaanlah yang akan menimpanya.
Oleh karena itulah sejak masa pemerintahan Amiril Mukminin ‘Umar ibn
Al-Khaththab radhiallahu
‘anhu ditetapkan penanggalan yang diberlakukan untuk urusan
kaum muslimin. Beliau menetapkan peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai permulaan penanggalan Islam dan menjadikan bulan Muharram sebagai bulan
yang pertama dalam penanggalan tersebut setelah bermusyawarah dengan para
sahabat yang masih hidup di masanya.
Sejak
saat itu hingga masa-masa berikutnya, para salafush
shalih menjadikannya sebagai penanggalan dalam seluruh urusannya
dan meninggalkan untuk menggunakan penanggalan-penanggalan orang-orang kafir
yang ada pada waktu itu. Oleh karena itu, sudah seharusnya pula bagi kita untuk
mengikuti mereka dalam menggunakan penanggalan tersebut. Cukuplah bagi kita
untuk mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam menetapkan jumlah hari dalam setiap
bulannya. Begitu pula sudah mencukupi bagi kita untuk mengikuti apa yang telah
ditetapkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam menetapkan jumlah bulan dalam satu tahun dan
mengikuti istilah yang ditetapkan dalam menggunakan nama bulan. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi
Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan
langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram, itulah (ketetapan) agama yang
lurus.” (Q.s. At-Taubah: 36)
Empat
bulan haram yang disebutkan dalam ayat tersebut ada tiga bulan yang berurutan,
yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta ada satu bulan yang
bersendirian yaitu bulan Rajab yang berada di antara Jumadi Ats-Tsani dan
Sya’ban.
Hadirin
rahimakumullah,
Oleh
karena itu marilah kita berusaha untuk menjadikan kalender Islam sebagai alat
untuk memperhitungkan kegiatan-kegiatan kita. Janganlah kita bermudah-mudah
dalam masalah ini dan janganlah kita menyangka bahwa permasalahan ini adalah
permasalahan yang semata-mata berkaitan dengan kebiasaan. Ingatlah bahwa di
balik penggunaan penanggalan Islam ada usaha menampakkan syiar-syiar Islam.
Begitu pula sebaliknya, di balik penggunaan penanggalan orang-orang kafir ada
usaha menampakkan syiar-syiar agama mereka yang batil dan tidak diridhai oleh
Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Wallahu
a’lamu bish-shawab.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِّ مَكَانٍ وَالْـحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ.
Penulis:
Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
Disalin dari naskah Khutbah
Jumat Majalah Asy-Syariah Edisi 46 dengan beberapa penyuntingan
oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com