
November
18, 2011
***
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ
لِلهِ عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ،
أَمَرَ
بِالتَّوَكُّلِ
عَلَيْهِ مَعَ
الْأَخْذِ
بِالْأَسْبَابِ
النَّافِعَةِ،
وَنَهَى عَنِ
الْإِعْتِمَادِ
عَلَى غَيْرِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَأَتْبَاعِهِ
إِلَى يَوْمِ
القِيَامَةِ،
أَمَّا
بَعْدُ؛
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوْااللهَ
تَعَالَى
فِيْ
السَّرَّاءِ
وَالضَّرَّاءِ
فَإِنَّ
التَّقْوَى
سَبَبٌ
لِتَفْرِيْجِ
الْكُرُوْبِ
وَمَحْوِ
الذُّنُوْبِ
Jama’ah
Jum’ah rahimakumullah,
Marilah
kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam keadaan apapun. Sesungguhnya dengan bertakwa
kepada-Nya seseorang akan diberikan jalan keluar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
dari berbagai kesulitan yang dihadapinya.
Hadirin
rahimakumullah,
Kita
semua adalah makhluk yang lemah dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka, janganlah orang yang sehat dan kuat tertipu dengan kekuatannya, sehingga
merasa dirinya bisa melakukan apa saja yang dikehendakinya tanpa memohon
pertolongan Rab-nya.
Sebaliknya, jangan pula orang yang tertimpa musibah atau dalam kondisi lemah
berputus asa dari rahmat-Nya. Ingatlah bahwa putus asa adalah sifat yang sangat
tercela. Orang yang berputus asa sama artinya telah berburuk sangka kepada Rab-nya, serta menganggap
bahwa rahmat Allah Subhanahu
wa Ta’ala itu sangat sedikit terhadap hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman, mengabarkan perkataan Nabi-Nya Ibrahim ‘alaihissalam,
قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّالُّونَ
“Telah berkata (Ibrahim
‘alaihissalam), ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat
Rabb-nya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (QS.
Al-Hijr: 56).
Hadirin
rahimakumullah,
Marilah
kita senantiasa mencontoh akhlak para nabi, yang senantiasa yakin akan
pertolongan Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan tentang
Nabi-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam
yang berkata,
وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah)
yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80)
Begitu
pula tentang Nabi-Nya, Ayyub ‘alaihissalam,
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia
berdoa kepada Rabb-Nya, ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan
Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang’.”
(QS. Al-Anbiya’: 83)
Hadirin
rahimakumullah,
Demikianlah
keadaan sosok orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pengenalan
yang sebenar-benarnya. Sehingga dengan sebab itu, mereka menjadi orang-orang
yang senantiasa yakin akan pertolongan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan senantiasa berprasangka baik kepada-Nya. Begitu
pula, dengan sebab keimanan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh menancap
di dalam hatinya, mereka menjadi orang yang yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
Mahakuasa untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala
sangat luas rahmat-Nya serta sangat besar kebaikan dan keutamaan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Dalam
kehidupannya di dunia, setiap orang tentu sangat mungkin untuk jatuh sakit.
Bahkan terkadang dalam satu waktu seseorang bisa terkena beberapa jenis
penyakit. Maka perlu kiranya kita ingatkan, bahwa orang yang sedang sakit
disyariatkan baginya untuk memerhatikan dua perkara, yaitu:
Pertama,
tidak mengucapkan kata-kata atau melakukan perbuatan yang menunjukkan
ketidaksabaran terhadap ketetapan Allah Subhanahu
wa Ta’ala atas dirinya. Namun dia harus bersabar atas
ketetapan Allah Subhanahu wa
Ta’ala pada dirinya. Karena kesabaran seorang muslim
menandakan keimanan dirinya, sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam sabdanya,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَه
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang
muslim, (karena) sesungguhnya semua urusannya berakibat baik (baginya), dan
yang demikian ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang muslim, (yaitu)
apabila mendapat nikmat dia bersyukur sehingga akibatnya baik baginya dan
apabila tertimpa musibah dia bersabar dan akibatnya (juga) baik baginya.”
(HR. Muslim dan yang lainnya)
Begitu
pula hendaknya orang yang sakit juga melakukan introspeksi diri dari
kesalahan-kesalahannya. Karena musibah yang menimpa seseorang merupakan akibat
dari kesalahannya, sebagaimana Allah Subhanahu
wa Ta’ala sebutkan di dalam firman-Nya,
وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu
adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar
(dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Sehingga
dengan kesabarannya dan upaya mengintrospeksi diri tersebut akan menjadi sebab
terhapuskan dosa-dosanya.
Hadirin
rahimakumullah,
Adapun
perkara kedua yang perlu diperhatikan oleh orang yang sakit adalah berobat
dengan pengobatan
yang bermanfaat. Tidak boleh baginya untuk mencari bentuk pengobatan yang
menyelisihi syariat. Hal ini karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah menetapkan bahwa segala penyakit itu ada
obatnya. Maka hendaknya yang dia lakukan adalah berusaha untuk mencari tahu
tentang obat atau tatacara pengobatannya, karena tidak setiap orang
mengetahuinya. Al-Imam Muslim rahimahullah
di dalam kitab Shahih-nya
menyebutkan dalam salah satu hadits yang beliau riwayatkan dengan sanadnya melalui
jalan sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu‘anhu,
dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Setiap penyakit ada obatnya, apabila
obat penyakit tersebut mengenai (orang yang sakit), maka dia akan sembuh atas
izin Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)
Hadis
tersebut dan yang semisalnya menunjukkan bahwa orang yang sakit tidak dilarang
untuk berobat. Begitu pula berobatnya orang yang sakit tidaklah berarti
menentang ketetapan Allah Subhanahu
wa Ta’ala, serta tidak pula bertentangan dengan kewajiban
bertawakkal kepada-Nya. Bahkan orang yang berobat ibarat orang yang berusaha
menghilangkan rasa lapar dan hausnya dengan makan dan minum. Tentunya hal
tersebut sebagaimana telah kita ketahui bersama merupakan perkara yang tidak
terlarang. Bahkan berobat selama menggunakan cara yang tidak bertentangan
dengan syariat merupakan salah satu bentuk usaha yang menunjukkan benarnya
tawakkal seseorang. Di samping itu, telah menjadi sunnatullah bahwa segala sesuatu telah
ditetapkan sebab untuk mendapatkannya. Sehingga justru dengan berobat akan
menjadi sebab semakin sempurnanya tauhid seseorang.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah,
bahwa berobat yang sesuai dengan syariat secara umum bisa dilakukan dengan dua
cara. Cara yang pertama adalah berobat dengan menggunakan ayat-ayat Alquran
atau dengan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Yaitu dengan cara dibacakan ayat dan doa
tersebut dengan diniatkan untuk mengobati pada bagian yang terkena sakit.
Pengobatan cara seperti ini disebut dengan istilah ruqyah. Cara ini, dengan
izin Allah Subhanahu wa
Ta’ala, akan menjadi sebab sembuhnya orang yang terkena
penyakit. Karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa kalam-Nya
adalah obat. Sebagaimana pula telah disebutkan dalam banyak hadis yang
menunjukkan disyariatkannya pengobatan dengan cara ini. Di antaranya disebutkan
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالمُعَوِّذَاتِ
“Bahwasanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dahulu apabila terkena sakit beliau membaca untuk
(mengobati) dirinya dengan mu’awwidzat (yaitu surat
Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas).” (HR. Muslim)
Adapun
cara yang kedua adalah berobat dengan menggunakan pengobatan yang bermanfaat
dan diperbolehkan secara syariat. Adapun obat-obatan yang terbuat dari sesuatu
yang diharamkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala, maka tidak boleh dijadikan sebagai obat. Hal ini
sebagaimana disebutkan Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, ketika ada salah seorang
sahabat yaitu Thariq bin Suwaid radhiallahu
‘anhu menanyakan tentang khamr,
yaitu sesuatu yang memabukkan, untuk dijadikan sebagai obat. Maka beliau
menjawab,
إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٍ
“Sesungguhnya (khamr) itu bukan obat,
bahkan (khamr)itu adalah penyakit.” (HR. Muslim)
Hadirin
rahimakumullah,
Termasuk
pengobatan yang tidak diperbolehkan adalah pengobatan dengan sesuatu yang tidak
ada kaitannya dengan penyakit. Misalnya dengan mengikatkan benang di leher atau
di tangan, dengan maksud untuk menghilangkan penyakit yang mengenainya atau
untuk mencegah datangnya penyakit. Perbuatan ini bahkan dikategorikan sebagai
perbuatan syirik yang bisa mengurangi kesempurnaan iman, bahkan bisa
menghilangkannya. Oleh karena itu, apa yang dilakukan sebagian orangtua dengan
mengalungkan benang di leher atau di tangan anaknya ketika ingin mengobatinya
dari penyakit panas atau yang semisalnya adalah cara pengobatan yang dilarang
dalam syariat. Karena benang atau semisalnya yang dikalungkan itu tidak ada
kaitannya secara langsung untuk mengurangi atau menghilangkan penyakit. Oleh
karena itu, disebutkan dalam hadis, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika
mendapatkan ada sahabatnya yang mengenakan sejenis logam di lengannya untuk
menghilangkan sakit pada lengannya tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengatakan,
انْزِعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مُتَّ وَهُوَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا
“Lepaskan dan buanglah (logam yang
engkau lingkarkan di tanganmu), karena sesungguhnya (apa yang kamu lingkarkan
di tanganmu itu) tidak akan membuat engkau kecuali semakin lemah. Seandainya
engkau mati dalam keadaan masih memakainya, sungguh engkau tidak akan
mendapatkan keberuntungan selamanya.” (HR. Ahmad dengan sanad
yang dikatakan baik oleh sebagian para ulama)
Hadirin rahimakumullah,
Akhirnya,
marilah kita senantiasa berhati-hati dalam masalah yang berkaitan dengan
pengobatan dan tatacaranya. Jangan sampai keinginan untuk mendapatkan
kesembuhan baik untuk diri kita, keluarga kita, atau yang lainnya, membuat kita
tidak memerhatikan aturan yang telah disyariatkan. Ingatlah! bahwa sakit yang
menimpa seseorang itu tidaklah seberapa dibandingkan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala di
akhirat kelak. Maka janganlah kita mengorbankan agama kita dengan terjatuh pada
pelanggaran dan menyalahi syariat-Nya, terkhusus dalam masalah berobat. Begitu
juga dalam masalah yang lainnya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala
senantiasa menjaga dan menunjuki kita semua ke jalan yang diridhai-Nya. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Walhamdulillahi rabbil ’alamin.
Khutbah
Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Marilah
kita berusaha untuk mengenal Rabb
kita dengan sebenar-benarnya. Semakin mengenal-Nya, maka kita akan semakin
mengerti apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan di dunia ini. Seseorang
yang mengetahui Allah Subhanahu
wa Ta’ala adalah Rabb yang memiliki sifat hikmah dan Maha
Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, tentu akan bersabar dan tetap
istiqamah di atas syariat-Nya. Karena dia mengerti bahwa di balik datangnya
musibah itu ada hikmah yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala kehendaki. Di antaranya adalah sebagai ujian bagi
hamba-hamba-Nya yang beriman. Sehingga dengan ujian tersebut terbedakanlah
antara orang yang bersabar dengan yang tidak bersabar. Oleh karena itu,
seseorang yang telah mengenal Rab-nya
tidak akan melanggar syariat-Nya tatkala dirinya ditimpa musibah. Termasuk
dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan masalah berobat. Seorang muslim
tentu tidak akan mengorbankan agamanya, dengan melakukan pengobatan yang
diharamkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Hadirin
rahimakumullah,
Termasuk
dari cara berobat yang diharamkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala adalah cara pengobatan dengan mendatangi para dukun
atau yang semisalnya. Bahkan para ulama telah menghukumi para dukun atau tukang
ramal sebagai orang-orang kafir. Karena mereka dalam praktik pengobatannya
menggunakan bantuan dan beribadah kepada setan. Begitu pula, karena mereka
adalah orang-orang yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mengaku bahwa
dirinya bisa mengetahui perkara yang ghaib. Maka tidak boleh bagi orang yang
menderita sakit untuk mendatangi dukun atau orang-orang yang dianggap bisa
meramal nasib atau mengetahui apa yang akan terjadi di masa datang. Begitu pula
tidak boleh bagi kaum muslimin untuk membenarkan berita yang datang dari
mereka.
Hadirin
rahimakumullah,
Di
dalam Shahih-nya,
Al-Imam Muslim rahimahullah
meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً
“Barangsiapa mendatangi dukun dan
menanyakan sesuatu (kepadanya) maka tidak akan diterima shalatnya selama empat
puluh hari.” (HR. Muslim)
Dalam
hadits lainnya disebutkan,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا وَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa mendatangi dukun dan
membenarkan ucapannya maka dia telah mengingkari wahyu yang diturunkan kepada
Muhammad.” (HR. Muslim)
Kedua
hadis tersebut dan hadis-hadis lainnya yang semakna menunjukkan larangan dan
ancaman yang sangat keras bagi orang yang mendatangi serta membenarkan berita
dari dukun dan yang semisalnya.
Hadirin
rahimakumullah,
Maka
sudah semestinya bagi kaum muslimin untuk tidak mendatangi praktik-praktik
perdukunan yang mereka lakukan, serta tidak menyaksikan pertunjukan-pertunjukan
yang menggunakan bantuan setan yang mereka peragakan. Sebagaimana pula
hendaknya pemerintah melarang praktik dan pertunjukan tersebut. Karena semua
itu bertentangan dengan syariat Allah Subahanahu
wa Ta’ala. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa
memberikan hidayah-Nya kepada kita dan para pemimpin bangsa kita sehingga bisa
menjalankan syariat-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ احْفَظْ وُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ، يَا حَيُّ، يَا قَيُّوْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Ditulis
oleh Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
Disalin dari kumpulan naskah Khutbah Jumat Majalah Asy-Syariah dengan beberapa
penyesuaian oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com