
November
1, 2011
الْحَمْدُ
للهِ الَّذِي
خَلَقَ
الْجَنَّةَ
وَالنَّارَ،
وَخَلَقَ
لِكُلِّ
وَاحِدَةٍ
مِنْهُمَا
أَهْلاً
وَأَصْحَابًا،
وَجَعَلَ
الْجَنَّةَ
دَارَ
أَوْلِيَائِهِ،
وَالنَّارَ
دَارَ أَعْدَائِهِ.
وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ
عَلَى خَاتَمِ
رُسُلِهِ،
وَأَشْرَفِ
خَلْقِهِ، الَّذِي
جَاءَ إِلَى
الْجَنَّةِ
دَاعِيًا، وَفِي
نَعِيْمِهَا
مُرَغِّبًا،
وَمِنَ النَّارِ
وَعَذَابِهَا
مُخَوِّفًا
وَمُحَذِّرًا
وَمُرَهِّبًا
وَأُصَلِّي
وَأُسَلِّمُ
عَلَى آلِ
الرَّسُوْلِ
وَصَحْبِهِ
وَتاَبِعِيْهِمْ
بِإِحْسَانٍ،
الَّذِيْنَ
أَعَدُّوا
لِلْأَمْرِ عِدَّتَهُ،
وَأَخَذُوْا
لَهُ
أُهْبَتَهُ، فَأَسْهَرُوْا
لَيْلَهُمْ
يُصَلُّوْنَ،
وَيَسْتَغْفِرُوْنَ،
وَيُنَاجُوْنَ
اللهَ،
وَيُرَتِّلُوْنَ
كِتَابَهُ،
َوأَظْمَؤُوْا
نَهَارَهُمْ
تَقَرُّبًا
إِلَى اللهِ
بِالصِّيَامِ،
لأَنَّهُمْ عَلِمُوْا
أَنَّ
الْأَمْرَ
جَدٌّ، وَلاَ
نَجَاةَ مِنَ
النَّارِ،
وَلاَ فَوْزَ
بِالْجَنَّةِ
إِلاَّ
بِِالتَّشْمِِيْرِ
عَنْ سَاعِدِ
الْجَدِّ،
وَبَعْدُ
Ma’âsyaral
Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Bagi
seorang muslim, masuk surga merupakan cita-cita tertinggi dan mulia sepanjang
hidupnya. Namun ironisnya, terkadang perbuatannya berbicara lain. Perbuatan
yang dia lakukan justeru bisa menggiringnya ke neraka Allâh Subhanahu wa Ta’ala
dan menghalanginya dari surga. Oleh karena itu, pada kesempatan yang berbahagia
ini, kita perlu mempertajam perhatian kita dan meperdalam ilmu kita, agar kita
bisa lebih waspada dan cermat dalam memilih perbuatan yang hendak kita lakukan.
Rasûlullâh shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ
Dalam
hadits yang mulia ini, Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam
memberitakan dengan tegas bahwa Allâh Subhanahu
wa Ta’ala mengharamkan surga atas tiga golongan manusia ini.
Di antaranya adalah
ad-dayûts (yakni) kepala rumah tangga yang menyetujui atau
membiarkan keburukan dalam keluarganya, khususnya keburukan yang mengarah
kepada perzinaan. Misal pergaulan bebas, mengumbar aurat, ikhtilâth (campur
baur) laki-laki dan perempuan yang bukan mahram atau yang semisalnya. Inilah
inti pembahasan kita pada kesempatan yang berbahagia ini.
Dalam
hadits yang lain, Rasûlullâh shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ وَالدَّيُّوثُ
Tiga
golongan manusia yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala (tidak
berkenan) melihat mereka, (yaitu) orang yang durhaka kepada orang tuanya,
wanita yang bergaya seperti lelaki dan menyerupainya, serta ad-daiyûts. (HR. Ahmad, an-Nasâ’i dan
al-Hâkim, serta dishahihkan al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’,
no. 3071).
Ma’âsyaral
Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Dalam
dua hadits yang mulia di atas, nampak jelas bahwa seorang kepala rumah tangga
beresiko besar terhalang dari masuk surga-Nya bahkan disaat yang begitu
mencekam, pada hari kiamat tidak dihiraukan Rabb-nya.
Hal ini berakar pada prinsip yang disampaikan Rasulullah,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap
anak itu, dilahirkan dalam keadaan fithrah, lalu kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. al-Bukhâri dan Muslim)
Begitulah
kedua orang tua,
terutama kepala rumah tangga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk
kepribadian anak, baik dalam hal aqidah, ibadah maupun akhlaq. Dengan demikian,
adalah sebuah kesalahan besar jika seorang kepala rumah tangga membiarkan istri
dan anak perempuannya mengumbar aurat di jalan-jalan, membiarkan mereka jilbab,
atau berjilbab tapi busananya sempit dan ketat membentuk lekukan tubuh sehingga
memancing keinginan buruk kaum lelaki yang berpenyakit hatinya. Padahal
Rasûlullâh shallallahu
‘alaihi wa sallam memberitakan,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا ….. وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Dua
golongan manusia penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, (di antaranya):
… , dan kaum wanita berbusana, akan tetapi telanjang, berjalan dengan
berlenggak lenggok sambil memiringkan pundaknya serta menambahkan sesuatu pada
kepala mereka agar menarik perhatian, (manusia jenis ini) tidak akan masuk surga
dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga bisa tercium dari jarak sekian
dan sekian. (HR.
Ahmad dan Muslim)
Sekiranya
ada kepala rumah tangga yang dimasukkan ke surga, akankah dia rela melihat
istri tercinta, anak-anak tersayang menjadi penghuni neraka, terpisah darinya,
bahkan bau surga pun tidak bisa mereka cium??
Ma’âsyaral
Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Bagaimanakah
tanggung jawab orang tua?
Akankah dia meraih keberuntungan ketika ia menyia-nyiakan ladang amal
terdekatnya? jawabannya tentu tidak.
Kalau
membiarkan kemungkaran saja di hukumi daiyûts,
lalu bagaimana dengan kepala rumah tangga yang menganjurkan atau bahkan
menyuruh keluarganya untuk berlaku maksiat.
na’uudzubillah min dzalik.
Apakah
mereka tidak pernah mendengar sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang mulia,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Barangsiapa
yang mengajak orang untuk mengikuti petunjuk Allâh Subhanahu wa
Ta’ala, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang
mengikutinya, tanpa mengurangi pahala orang-orang tersebut sedikitpun. Dan
Barangsiapa yang mengajak orang lain untuk mengikuti kesesatan, maka ia
mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi
dosa orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. (HR. Muslim dan Ahmad, serta
dishahihkan al-Albâni dalam Shahîhul
Jâmi’, no. 6234)
Ma’âsyaral
Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Hendaklah
kita selalu mengingat sabda Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila
seorang anak Adam telah wafat maka terputuslah semua amal perbuatannya kecuali
dari tiga perkara (yaitu) sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil
manfaatnya atau anak shaleh yang mendoakannya. (HR. Muslim dan Abu Daud)
Tanpa
pembinaan yang baik, maka seorang anak tidak akan menjadi shaleh. Orang
tuanyalah yang berperan dan mereka pulalah yang akan memetik hasilnya. Alangkah
ruginya! Orang tua atau kepala rumah tangga yang menyia-nyiakan keturunannya
tanpa arahan dan bimbingan. Sehingga mengakibatkan ia menyimpang jauh dari
ajaran Islam, tidak mengenal cara berbakti kepada kedua orang tua. Kebiasaannya
melakukan maksiat hanya akan menambah dosa, bahkan menjadi aib kedua orang
tuanya, baik tatkala orang tua masih hidup maupun setelah meninggal dunia.
Semoga
kita dijadikan orang tua yang gemar dan sabar membimbing anak-anak, terutama
anak perempuan kita, sehingga kita bisa menikmati hasilnya di hari tua atau
sepeninggal kita. Amin.
أقول قولي هذا، فأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنه سميع قريب مجيب الدعوات
الحمد لله حمدا كثيرا مباركا فيه، والصلاة والسلام على سيد الأنبياء و رسله، وأقرب عباده، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:
Ma’âsyaral
Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Wahai
para orang tua, terutama kepala rumah tangga! Di antara yang paling berpengaruh
terhadap anak kita selain keluarganya adalah teman. Maka perhatikanlah
anak-anak kita! Dengan siapakah anak-anak kita bergaul?
Rasûlullâh
shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah mengingatkan dalam sabda,
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Sungguh
permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk, adalah seperti penjual minyak
wangi dan tukang pandai besi. Adapun (jika berteman dengan-pen) penjual minyak
wangi, maka mungkin kamu diberi minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau
(minimal-pen) kamu mencium bau wanginya. Adapun (jika berteman dengan-pen.)
tukang pandai besi, bisa jadi bajumu terbakar atau kamu mencium bau yang tidak
sedap darinya. (HR.
al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’, no. 2367)
Betapa
banyak anak-anak yang terlahir di lingkungan keluarga baik-baik, terbiasa
dengan berbagai perangai yang baik, terdidik untuk taat terhadap agama Islam
dan menjunjung nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya, akan tetapi
berubah seratus delapan puluh derajat, setelah mengenal dunia luar dan salah
memilih teman. Maka pembinaan anak dimulai dari lingkungan keluarga dan terus
kita pantau perkembangannya di lingkungan luar, supaya benar-benar bisa kita
memanen hasilnya di hari tua dan berlanjut sampai setelah kita dipanggil
oleh-Nya.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
وَالَّذِينَ
جَآءُو مِن
بَعْدِهِمْ
يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ سَبَقُونَا
بِاْلإِيمَانِ
وَلاَتَجْعَلْ
فِي
قُلُوبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِينَ
ءَامَنُوا
رَبَّنَآ
إِنَّكَ
رَءُوفٌ
رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَآ
ءَاتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
وَصَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَىمُحَمَّدٍ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا وَ
آخِرُ
دَعْوَانَا
الْحَمْدُِ
للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Disalin
dari naskah khutbah Jumat
Majalah As-Sunnah Edisi 01 Tahun XV dengan beberapa penyuntingan oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com