
September
23, 2011
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَ نَسْتَعِيْنُهُ
وَ
نَسْتَغْفِرُهُ
وَ نَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَاِلنَا
مَنْ يَهْدِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَ مَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ
لاَشَرِيْكَ
لَهُ وَ
أَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَ
رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَ
سَلِّمْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَ عَلىَ
اَلِهِ وَ
أَصْحَابِهِ
وَ مَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
أَمَّا
بَعْدُ
Wahai
saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya
musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin saat ini berupa penderitaan,
kesulitan dan kesempitan baik pada harta maupun keamanan, baik yang menyangkut
pribadi ataupun sosial, sesungguhnya disebabkan oleh maksiat-maksiat yang
mereka lakukkan. Sikap mereka yang meninggalkan perintah-perintah Allah serta
meninggalkan penegakkan syariat Allah, bahkan ada diantara mereka mencari-cari
hukum selain dari syariat Allah yang telah menciptakan seluruh makhluk dan yang
paling sayang terhadap mereka daripada kasih sayang ibu-ibu dan bapak-bapak
mereka dan yang paling mengetahui kemaslahatan dan kebaikan bagi mereka
daripada diri mereka sendiri.
Allah
berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً
Apa
saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang
menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (QS. Nisa’:79)
Kebaikan
apa saja yang kita rasakan baik berupa kenikmatan ataupun keamanan sesungguhnya
Allahlah yang telah mengaruniakannya kepada kita. Dialah yang telah memberikan
karunia kepada kita (berupa kemudahan untuk bisa beribadah kepada-Nya, pen.)
maka kitapun bisa melakukan hal-hal yang menyebabkan datangnya
kebaikan-kebaikan. Dialah yang telah menyempurnakan kenikmatan bagi kita.
Wahai
saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya
kebanyakan orang-orang sekarang mengembalikan sebab musibah-musibah yang
mereka alami, baik musibah yang menyangkut harta atau yang menyangkut keamanan
dan politik, mereka mengembalikan sebab-sebab musibah-musibah ini hanya kepada
sebab-sebab alami, materi, atau kepada sebab pergolakan politik, atau sebab
perekonomian, atau kepada sebab perselisihan tentang daerah perbatasan antara
dua negara.
Tidak
disangsikan lagi, hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka dan lemahnya
iman mereka dan kelalaian mereka dari mentadabburi Alquran dan sunnah-sunnah
Rasulullah.
Wahai
saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya
dibalik semua sebab-sebab materi, alami tersebut adalah sebab syar’i, yang
merupakan sebab timbulnya seluruh musibah
dan malapetaka. Pengaruhnya lebih kuat, lebih besar, daripada
sebab-sebab materi di atas. Namun terkadang sebab-sebab materi merupakan sarana
timbulnya musibah
dan bencana sesuai dengan konsekuensi dari sebab-sebab syar’iyah berupa
bencana dan hukuman. Allah berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum: 41)
Wahai
saudara-saudaraku kaum muslimin…, wahai ummat Nabi Muhammad…
Bersyukurlah
atas kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kalian. Nikmat yang
telah kalian rasakan dan kalian nikmati. Wahai umat pengikut Nabi Muhammad,
kalian adalah umat yang paling baik daripada umat nabi-nabi yang lain, kalian
telah dimuliakan oleh Allah. Allah tidak menimpakan kebinasaan yang menyeluruh
yang menghancurkan seluruh umat sekaligus sebagaimana yang telah Allah timpakan
kepada kaum ‘Aad tatkala Allah binasakan mereka dengan angin yang sangat
dingin lagi amat kencang. Allah timpakan angin itu kepada mereka selama tujuh
malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu dengar kaum ‘Aad pada
waktu itu mati bergelimpangan.
Allah
juga tidak menimpakan hukuman kepada umat ini sebagaimana hukuman yang Allah
timpakan kepada kaum Tsamud, yang ditimpa suara yang sangat keras dan
mengguntur dan gempa. Sehingga mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan
di tempat tinggal mereka[1], tidak juga sebagaimana hukuman yang Allah timpakan
kepada kaum Nabi Luth yang Allah kirimkan kepada mereka hujan batu dari tanah
yang terbakar dengan bertubi-tubi. Allah membalikkan negeri kaum Luth.[2]
Wahai
saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya
Allah dengan kebijaksanaan-Nya dan rahmat-Nya kepada umat ini, Allah menjadikan
hukuman kepada mereka akibat dosa-dosa
dan kemaksiatan yang dikerjakan mereka berupa penguasaan
sebagian mereka terhadap yang lain sesama kaum muslimin. Allah berfirman,
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah,
‘Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau
dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang
saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu kepada keganasan
sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda
kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). Dan kaummu
mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya.’ Katakanlah,
‘Aku ini bukan orang yang diserahi mengurus urusanmu’. Untuk
tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan
kelak kamu akan mengetahui.”
(QS. Al An’am: 65-67)
Ibnu
Katsir menyabutkan, banyak hadits berkaitan dengan ayat yang pertama. Di
antaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dari Jabir bin
Abdillah radhiallahu
‘anhu, beliau berkata, “Tatkala turun firman Allah
(yang artinya) “Katakanlah,
‘Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu’,
Nabi berkata,
أَعُوْذُ بِوَجْهِكَ
Aku
berlindung dengan wajah-Mu (darinya adzab ini)
(ketika firman Allah, yang artinya) ‘atau dari bawah kaki kalian’,
Nabi berkata,
أَعُوْذُ بِوَجْهِكَ
Aku
berlindung dengan wajah-Mu (darinya adzab ini)
(ketika firman Allah, yang artinya) ‘atau Dia mencampurkan kamu dalam
golongan-golongan (yang saling bertentangan dan merasakan kepada sebahagian)
kamu kepada keganasan sebahagian yang lain’, Nabi bersabda,
هَذِه أَهْوَنُ أَوْ أَيْسَر
Yang
ini lebih ringan atau lebih mudah.” (HR. Bukhari)
Dan
hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqos,
beliau berkata,
أَقْبَلْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله حَتَّى مَرَرْنَا عَلَى مَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَة فَدَخَلَ رَسُوْلُ الله فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ فَنَجَى رَبَّهُ طَوِيْلاً ثُمَّ قَالَ: “سَأَلْتُ رَبِّي ثَلاَثًا سَأَلْتُهُ أَلاَّ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرْقِ فَأَعْطَانِيْهَا وَسَأَلْتُهُ أَلاَّ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ بِالْغَرْقِ فَأَعْطَانِيْهَا وَسَأَلْتُهُ أَلاَّ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيْهَا
“Kami
pergi bersama Rasulullah hingga kami melewati sebuah mesjid bani
Mu’awiyah maka Rasulullahpun masuk dalam masjid tersebut kemudian beliau
shalat dua rakaat, maka kamipun sholat bersama beliau. Beliaupun lama
bermunajat kepada Allah, setelah itu beliau berkata (kepada kami), “Aku
meminta kepada Rabb-ku tiga perkara. Aku meminta kepada-Nya agar Dia tidak
membinasakan umatku dengan menenggelamkan mereka maka Dia mengabulkan
permintaanku. Dan aku meminta kepada-Nya agar Dia tidak membinasakan umatku
dengan musim kemarau yang berkepanjangan (yaitu sebagaimana yang menimpa kaum
Fir’aun) maka Dia mengabulkan permintaanku. Dan aku meminta kepadaNya
agar tidak menjadikan mereka saling betentangan (berperang satu dengan yang
lainnya) maka Dia tidak mengabulkan permintaanku”
Wahai
saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya
kalian beriman dan mempercayai kebenaran ayat-ayat ini dan kalian beriman dan
membenarkan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah, namun kenapakah kalian
tidak merenungkannya …?? Kenapa kalian tidak merenungkan
kandungannya….?? Kenapa kalian tidak mengembalikan sebab musibah dan
malapetaka yang menimpa kalian kepada kekurangan dan kelemahan agama kalian
hingga kalian kembali kepada Rabb kalian, sehingga kalian menyelamatkan jiwa kalian dari
sebab-sebab kebinasaan dan kehancuran??
Bertakwalah
kepada Allah, takutlah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, lihatlah kepada
kondisi kalian, bertaubatlah kepada Allah dan luruskanlah jalan kalian menuju
kepadaNya.
Wahai
umat Muhammad, ketahuilah bahwa seluruh
musibah dan
fitnah yang menimpa kalian akibat dari diri perbuatan kalian, akibat dari
dosa-dosa kalian. Maka hendaklah kalian bertaubat dari setiap dosa yang kalian
lakukan, kembalilah kepada jalan Allah dan berlindunglah kalian kepada Allah
dari fitnah, ujian, dan bencana, baik bencana dunia maupun bencana yang
berkaitan dengan agama, berupa syubhat-syubhat dan syahwat (hawa nafsu) yang
telah merintangi umat ini dari agama Allah dan menjauhkannya dari jalan salaf.
Sehingga umat ini terjerumus ke jurang api neraka.
Sesungguhnya
fitnah (bencana) yang menimpa hati lebih besar dan lebih bahaya dan lebih buruk
akibatnya daripada bencana dunia, karena bencana dunia bagaimanapun juga akan
musnah cepat atau lambat. Sedangkan bencana yang menimpa agama seseorang, maka
akibatnya adalah kerugian di dunia dan akhirat. Allah berfirman (yang artinya),
“Katakanlah,
‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri
mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”.Ingatlah yang demikian
itu adalah kerugian yang nyata’”. (QS. Az-Zumar/39:15)
Ya
Allah, jadikanlah termasuk orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari
ayat-ayat-Mu dan termasuk yang sadar dan bisa mengambil pejalaran tatkala turun
hukuman-Mu.
Ya
Allah, jadikanlah kami termasuk mukmin yang sebenar-benarnya, yang mereka
mengembalikan sebab
musibah yang melanda mereka kepada sebab yang hakiki yaitu
sebab syar’i
yang telah Engkau jelaskan dalam Kitab-Mu dan melalui lisan Rasul-Mu Muhammad.
Ya
Allah, karuniakanlah bagi umat ini dan bagi para pemimpin-pemimpin mereka agar
kembali taubat kepada Engkau dengan taubat yang sebenar-benarnya, karena
kebaikan para pemimpin merupakan kebaikan bagi umat yaitu kebaikan mereka
merupakan sebab kebaikan bagi umat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Wahai
hamba-hamba Allah bertakwalah dan takutlah kalian kepada Allah, waspadalah
kalian dari sikap melalaikan syariat Allah….hati-hatilah kalian dari
sikap lalai terhadap ayat-ayat Allah….hati-hatilah kalian dari sikap
lalai dari mentadabburi Kitabullah
(Alquran)…hati-hatilah kalian terhadap sikap lalai dari mengenal
sunnah-sunnah Rasuluullah. Sesungguhnya pada Alquran dan sunnah-sunnah Nabi
terdapat sumber kebahagiaan kalian di dunia dan di akhirat jika kalian memegang
teguh kepada sunnah-sunnah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan membenarkan segala pengabaran
Rasulullah dan melaksanakan perintah-perintah Rasulullah.
Wahai
hamba-hamba Allah…
Mungkin
ada sebagian orang ragu dan menanamkan keraguan pada orang lain tentang masalah
maksiat-maksiat
merupakan sebab timbulnya musibah dan bencana. Hal ini karena kelemahan iman
dan kurang mereka merenungkan kandungan isi Alquran. Saya akan bacakan kepada
mereka dan yang sejenis mereka firman Allah,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَائِمُونَ)أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحىً وَهُمْ يَلْعَبُونَأَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang
tidur?Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan
siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka
sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang
yang merugi. (QS. Al
A’raf : 96-99)
Sebagian
salaf mengatakan, “Jika engkau melihat Allah memberikan kenikmatan kepada
seseorang sedangkan engkau melihat orang ini terus melakukan kemaksiatan maka
ketahuilah bahwa ini adalah tipuan Allah kepadanya, dan orang tersebut masuk
dalam kategori firman Allah,
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
Nanti
Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah
yang tidak mereka ketahui. dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya
rencana-Ku amat teguh. (QS.
Al Qalam: 44-45)
Wahai
kaum muslimin…, wahai hamba-hamba Allah…
Sesungguhnya
kemaksiatan sangat
mempengaruhi keamanan negara, sangat berpengaruh terhadap ketenteraman bangsa
dan perekonomiannya, serta mempengaruhi hati-hati rakyat.
Meskipun
berbagai kemaksiatan
terpampang di depan mata dengan berbagai macam can ragam, jika kita
bahu-membahu mencegahnya sesuai dengan kemampuan kita, insya Allah semuanya akan
sirna dan barakah akan diturunkan ke muka bumi
Saya
mengajak diri saya sendiri dan kalian wahai saudara-saudaraku untuk bersatu di
jalan Allah dan saling bergandengan tangan dalam menegakkan syariat Allah,
saling menasihati satu dengan yang lainnya, berdialog dengan siapa saja yang
memang butuh untuk diajak dialog namun dengan metode yang terbaik dan dengan hujjah (argumentasi) dari
Alquran dan As-Sunnah serta dengan argumentasi akal, tidak membiarkan para
pelaku kebatilan tetap dalam kebatilan mereka karena mereka berhak untuk kita
jelaskan kepada mereka kebenaran yang hakiki kemudian kita memotivasi mereka
untuk melaksanakannya serta kita jelaskan juga kepada mereka kebatilan mereka
dan kita memperingatkan mereka dari kebatilan tersebut.
Kita
mohon kepada Allah agar mengembalikan orang yang sesat dari umat ini kepada
jalan yang benar, agar menjadikan kita saling bergandengan tangan dalam
melaksanakan kebenaran, saling tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan
ketakwaan hingga kita mengembalikan apa-apa yang telah sirna berupa kemuliaan
dan ketinggiannya, sesungguhnya Allah yang menguasai hal itu dan maha mampu
mewujudkannya.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ وبارك
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
وَالَّذِينَ
جَآءُو مِن
بَعْدِهِمْ
يَقُولُونَ
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِاْلإِيمَانِ
وَلاَتَجْعَلْ
فِي
قُلُوبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِينَ
ءَامَنُوا
رَبَّنَآ
إِنَّكَ
رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَآ
ءَاتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وَصَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَىمُحَمَّدٍ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا وَ
آخِرُ
دَعْوَانَا
الْحَمْدُِ
للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Diangkat
dari khutbah Jumat yang
disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin pada tanggal 12
Muharram 1411 Hijriah.
Disalin dari naskah khotbah
Jumat Majalah As-Sunnah dengan penyuntingan bahasa oleh redaksi
www.KhotbahJumat.com.
Artikel www.khotbahjumat.com