
November
20, 2013
Khutbah
Pertama:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
…
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Kaum
muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Khatib
wasiatkan diri khatib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa
kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, mengamalkan perintahnya dan menjauhi
segala larangannya. Takwa inilah yang akan bermanfaat bagi setiap hamba di
akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Berbekallah
kalian, dan sebaik-baik bekal itu adalah takwa.” (QS. Al Baqarah: 195)
Seorang penyair mengatakan,
تـَزَوَّدْ مِـنَ التَـقْوَى فَإِنَّكَ لَا تَدْرِيْ إِذَا جَنَّ اللَيْلُ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الفَجْــرِ
فَكَمْ
مِنْ فَتىً
أَمْسَى
وَأَصْبَحَ
ضَاحِكـاً
وَقَدْ
نُسِــجَتْ
أَكْفَانُهُ
وَهُوَ لَا
يَدْرِيْ
وَكَمْ
مِنْ صِغَارٍ
يُرْتَجَى
طُوْلَ عُمْرِهِمْ
وَقَـْد
أَدْخَلَتْ
أَجْسَـادَهُمْ
ظَلَمَةَ
القَبْرِ
وَكَمْ
مِـنْ
عَـرُوْسٍ
زُيِّنُوْهَا
لِزَوْجِهَا
وَقَـدْ
قَبِضَـتْ
أَرْوَاحَهُـمْ
لَيْلَةَ
القَدْرِ
Berbekallah
dengan ketakwaan, apabila malam telah gelap engkau tidak tahu apakah tetap
hidup esok hari.
Betapa
banyak pemuda, pagi dan sore hari mereka tertawa, padahal kafannya telah
dipotong sedang dia tidak mengetahui.
Ada
anak kecil yang diharapkan panjang usia, namun ternyata jasadnya telah masuk ke
dalam gelapnya kubur.
Ada
pula pengantin yang dirias untuk suaminya, sedang ajalnya telah tercatat di
malam penentuan takdir.
Oleh
karena itu jamaah sekalian, ketakwaan sangat kita butuhkan setiap saat, karena
kematian tidak menunggu kapan kita bertakwa.
Segala
puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita
nikmat yang banyak, dan sebesar-besarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita
adalah nikmat Islam dan iman.
Shalawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, imam kita, penyejuk hati
kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada
keluarganya, sahabatnya, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Saat
ini adalah musim hujan, dimana hujan turun hampir setiap hari. Ada yang
menyukai turunnya hujan ini, karena suaranya memberikan kedamaian dan
ketenangan, ada juga yang mengatakan tanah mengeluarkan aroma yang menenangkan,
petani bergembira dengan diarinya tanaman-tanaman mereka, dll. Di sisi lain,
ada orang-orang mencela hujan karena aktivitas mereka terhambat, janji-janji
mereka harus dibatalkan, kepergian mereka tertunda, dll.
Ketahuilah
kaum muslimin, mencela hujan adalah sebuah dosa besar, karena mencela hujan
adalah mencela pencipta hujan itu sendiri. Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Manusia
menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan
pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih
berganti.” (HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah)
Hadis
ini menerangkan kepada kita bahwa seorang anak Adam telah berbuat zalim kepada
Allah jika anak Adam mencela siang dan malam, mecela waktu, termasuk juga di
dalamnya mencela cuaca karena dengan takdir Allah-lah terjadinya siang dan
malam juga terjadinya panas dan hujan.
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah
Saya
yakin, masih segar diingatan Anda bagaimana susahnya hidup dalam kondisi
kekeringan. Tanah berdebu, tanaman menjadi kering, sumber-sumber air susut, dan
cuaca pun terasa panas menyengat. Namun kini, semuanya telah berubah, tanah
menjadi becek, pemandangan hijau nan indah di mana-mana, genangan air dengan
mudah Anda temui, dan suhu udara pun terasa sejuk atau dingin. Tahukah Anda,
apa penyebab terjadinya perubahan tersebut? Semua itu terjadi berkat hujan yang
Allah Ta’ala turunkan untuk hamba-hamba-Nya.
Melalui
mimbar ini, saya mengajak Anda untuk merenungkan fungsi hujan secara utuh,
sehingga Anda dapat mensikapi hujan dengan baik. Dengan demikian, Anda semakin
merasakan nikmatnya setiap tetesan air yang menyirami negeri Anda. Dan
selanjutnya hujan yang menyirami negeri Anda senantiasa membawa berkah.
Fungsi
Pertama: Menghidupkan Tumbuhan
Sehebat
apapun Anda dalam memelihara tumbuhan, namun bila tanpa air, mustahil
rasanya tumbuhan Anda bisa hidup, terlebih membuahkan hasil. Karenanya, tidak
dapat Anda pungkiri setelah turunnya hujan, berbagai tumbuhan yang sebelumnya
telah mati dan tertimbun dalam perut bumi, sekejap menjadi hidup dan tumbuh
dengan subur.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ.
فصلت: 31
“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) ya bahwa kamu
melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya,
niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu
dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu.” (QS. Fusshilat: 39).
Semasa
kemarau, banyak dari tumbuhan yang mati, dan hanya menyisakan biji-bijiannya
yang tertanam jauh dalam perut bumi. Dan bahkan banyak tumbuhan berbatang besar
pun seakan mati, sehingga tidak sehelai daun pun menghiasi dahan dan
rantingnya. Ketika Anda melihat kondisi semacam ini, sebagaimana yang terjadi
beberapa waktu silam, mungkin Anda mengatakan bahwa tumbuh-tumbuhan itu telah
mati, dan mungkin tidak akan hidup kembali. Namun kini praduga Anda tersebut
terbukti tidak benar.
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan
Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami
halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka
Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti
itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu
mengambil pelajaran.” (QS. Al A’araf: 57)
Fungsi
Kedua: Sumber Minuman Makhluk Hidup
Semua
makhluk yang hidup di muka bumi ini terlebih yang bernyawa tidak mungkin dapat
mempertahankan hidupnya tanpa air minum. Karenanya air minum adalah kebutuhan primer
setiap makhluk. Karena demikian ini perihal makhluk hidup, maka ketika awal
menciptakan bumi, Allah Ta’ala menyiapkan segalanya, air minum dan
tumbuh-tumbuhan. Ini semua demi menjaga kelangsungan hidup manusia secara
khusus dan seluruh makhluk bernyawa secara umum.
وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا {30} أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءهَا وَمَرْعَاهَا {31} وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا {32} مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
“Dan
bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan
(menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan
teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang
ternakmu.” (QS. An Naziaat: 30-33)
Maha
Suci Allah yang telah menyiapkan segala yang mejadi kebutuhan makhluk-Nya,
sebelum mereka memintanya. Tidak diragukan fakta ini bukti kuat akan kemurahan
Allah Ta’ala yang banyak dilupakan oleh manusia.
Fungsi
Ketiga: Ilustrasi Nyata Tentang Metode Turunnya Rezeki Anda
Dan
diantara hikmah yang dapat Anda petik dari siklus hujan, seperti yang telah
Anda pelajari, adalah sebagai ilustrasi nyata bahwa Allah menurunkan rezeki-Nya
kepada Anda sedikit demi sedikit. Allah Subhanahu wa Ta’ala
melakukan ini semua bukan karena Dia pelit atau kawatir kehabisan stok rezeki,
namun sepenuhnya demi menjaga kemaslahatan Anda. Andai Allah Ta’ala
meurunkan rezeki-Nya kepada Anda sekonyong-konyong bagaikan turunnya air
terjun, niscaya Anda celaka dan binasa. Sebagaimana Anda pasti binasa bila
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan air hujan bagai turunnnya air
terjun. Karenanya nikmatilah hidup Anda, karena sejatinya Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menyiapkan rezeki yang cukup untuk Anda.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan hal ini melalui firman-Nya,
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاء إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ {27} وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ – الشورى: 27-28
“Dan
jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan
melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya
dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi
Maha Melihat. Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan
menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha
Terpuji.” (QS. As Syuura 27-28)
Cermatilah
saudarakku, setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa
Allah menurunkan rezekinya secara bertahap, Allah Ta’ala menyebut
hujan sebagai bukti dan sekaligus ilustrasi nyata tentang turunnya rezeki.
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui lagi Maha Melihat
kondisi hamba-hamba-Nya, maka Allah menurunkan hujan dan demikian pula
rezekinya secara bertahap, agar manusia tidak celaka.
Bagaimana
rasanya bila Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan hujan bagaikan air
terun? Atau Allah menyatukan jatah hujan untuk satu bulan lalu diturunkan
pada satu hari saja?
Demikian
pula halnya dengan jatah rezeki Anda. Anda pasti akan ditimpa celaka bila Allah
Subhanahu wa Ta’ala menurunkan rezekinya tidak tepat waktu. Anda
pasti kesusahan bila Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan seluruh
jatah rezeki Anda sekali seumur hidup. Bila hal itu terjadi, pasti Anda
kesusahan mencari almari guna menyimpan jatah baju, dan bingung mencari lumbung
guna menyimpan jatah beras, dan kesulitan membangun waduk guna menampung jatah
air Anda.
Menyadari
akan hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan
kepada umatnya dengan bersabda:
لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام )رواه ابن ماجة وعبد الرزاق والحاكم، وصححه الألباني
“Janganlah
kamu merasa bahwa rezekimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah
seorang hamba akan mati, hingga ia mengenyam rezeki terakhirnya. Tempuhlah
jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan
meninggalkan yang haram.” (Riwayat Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu
Hibban, dan Al Hakim, serta dishahihkan oleh Al Albani)
Fungsi
Keempat: Hujan Adalah Tentara Allah
Akhir-akhir
ini berbagai penjuru negeri kita sering dilanda bencana dan petaka. Salah satu
penyebab datangnya bencana ialah air hujan. Fenomena yang sering terjadi di
depan mata kita ini adalah bukti nyata bahwa hujan yang sedia kala adalah wujud
dari rahmat Allah, namun bisa saja berubah menjadi tentara Allah yang
membinasakan orang-orang yang durhaka kepada-Nya. Dengan demikian, hujan
bagaikan pisau bermata dua, bisa menguntungkan dan bisa mencelakakan.
Di
antara bukti sejarah akan fungsi hujan yang kelima ini ialah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam.
Bagaimana dengan hujan yang turun dari langit, Allah Subhanahu wa
Ta’ala membalas keangkuhan kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam .
فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاء بِمَاء مُّنْهَمِرٍ {11} وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاء عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ – القمر: 11-12
“Maka
Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami
jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk
satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al Qamar: 11-12)
Dan
seperti yang Anda saksikan dan mungkin juga pernah rasakan, bila hujan telah
berubah menjadi tentara Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada
kekuatan yang dapat membendungnya.
وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ {42} قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
“Dan
Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil:
“Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh
berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah
(saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara
keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang
ditenggelamkan.” (QS. Hud: 42-43)
Memahami
fungsi hujan yang bagaikan pisau bermata dua, dahulu Nabi e bila menyaksikan
mendung beliau begitu kawatir dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan berkata,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا
“Ya
Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan mendung ini.”
Dan
bila hujan telah turun beliau berdoa,
اللهُم صَيباً نَافعاً
“Ya
Allah jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.” (HR. Bukhari, Abu
Daud, dan lainnya.
Saudaraku,
fenomena yang sekarang terjadi di negeri kita sudah sepantasnya mengetuk pintu
hati kita. Betapa negeri kita yang dahulu gemah ripah loh jinawi namun sekarang
semua seakan tinggal kenangan. Di musim kemarau, sawah-sawah puso dan banyak
dari saudara kita yang kekeringan sehingga kesulitan mendapatkan air, walau
hanya sekedar untuk minum. Namun di musim hujan kondisi ternyata tidak berubah,
sawah-sawah tetap saja banyak yang puso dan banyak dari saudara kita yang
menderita, bukan karena kekeringan namun karena kebanjiran, tanah longsor atau
lainnya.
Mungkinkah
ini sebagai bukti nyata bahwa air hujan yang sedianya membawa keberkahan, kini
tidak lagi membawanya, namun sebaliknya membawa murka Allah Azza wa Jalla.
Tentu semua ini terjadi karena ulah tangan kita, kekufuran, kemunafikan, dan
kemaksiatan yang kian hari semakin meraja lela.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar
Ruum: 41)
Saat
ini, kita sebagai penduduk dunia tengah merasakan dampak dari ulah tangan kita
sendiri, kekeringan, banjir, dan tanah longsor, terjadi di mana-mana. Walau
demikian, kita tidak segera menyadari kesalahan, dan bahkan terus mencari
kambing hitam atas petaka yang menghimpit. Bukannya mengakui bahwa kerusakan
iman, akhlak, dan mentalitas kita adalah biang segalanya. Namun kita malah
mengkambing hitamkan alam, sehingga dengan hati yang dingin kita berkata,
“Pemanasan global atau ungkapan serupa.”
Keserakahan
telah mendorong kita untuk bersikap membabi buta, menghalalkan segala macam
cara dan memanfaatkan kekayaan alam dengan cara-cara yang tidak bertanggung
jawab. Keserakahan ini terjadi karena adanya kepanikan dalam urusan rezeki.
Kita menduga bahwa bila tidak membabi buta maka tidak mungkin bisa menikmati
kekayaan, atau akan digilas oleh roda kehidupan yang terus berputar.
Andai
kita dapat menangkap berbagai pelajaran yang telah Allah Ta’ala
sisipkan pada berbagai kejadian di sekitar kita niscaya petaka tidak akan
mengimpit kehidupan kita. Rezeki Anda hanya Anda yang dapat menikmatinya, dan
tidak mungkin ada kekuatan yang dapat merampasnya dari mulut Anda. Sebagaimana
Anda pun tidak akan kuasa merampas rezeki saudara Anda, atau mendatangkan
rezeki yang bukan milik Anda.
Kerakusan
yang telah menyelimuti jiwa kita ini bukannya menyegerakan datangnya rezeki
atau melipatgandakannya. Namun keserakahan jiwa malah menjadi awal dari
datangnya bencana dan petaka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Sesungguhnya
harta ini bak buah yang segar lagi manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan
tanpa ambisi (tanpa serakah atau atas kerelaan pemiliknya), niscaya hartanya
tersebut diberkahi. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan penuh rasa ambisi
(rakus), niscaya hartanya tersebut tidak diberkahi, dan permisalannya bagaikan
orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang..” (Muttafaqun
‘alaih)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْد
Fungsi
Kelima: Hujan Adalah Ilustrasi Nyata Tentang Proses Kebangkitan Manusia Pada
Hari Kiamat
Tidakkah
Anda mencermati berbagai ayat yang telah saya ketengahkan ke hadapan Anda
di atas? Berbagai ayat yang berbicara tentang hujan senantiasa di akhiri dengan
kata-kata “Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah
mati.” Misalnya pada ayat berikut,
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan
Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami
halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka
Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti
itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu
mengambil pelajaran.” (QS. Al A’araf: 57)
Tidakkah
Anda amati, betapa biji-bijian yang semasa musim kemarau telah tertanam dalam
perut bumi. Sesaat setelah turun hujan, semua bijian tersebut muncul ke muka
bumi dan tumbuh subur. Demikian pula yang akan Anda alami kelak pada hari
kiamat. Sahabat Abu Hurairah mengisahkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam,
مَا بَيْنَ النَفَخَتَيْنِ أَرْبَعُوْنَ قَالُوْا يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا؟ قَالَ أَبَيْتُ قَالُوْا أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا؟ قَالَ أَبَيْتُ قَالُوْا أَرْبَعُوْنَ سَنَةً؟ قَالَ أَبَيْتُ ثُمَّ يَنْزِلُ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبِتُوْنَ كَمَا يَنْبِتُ البَقْلُ قَالَ وَلَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَيْءٌ إِلَّا يَبْلَى إِلَّا عَظَمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الخَلْقُ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Antara
dua tiupan sangkakala berjarak selama empat puluh.” Sepontan murid-murid
Abu Hurairah bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah empat puluh
hari?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak mau menjawab.”
Mereka pun kembali bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah empat puluh
bulan?” Kembali sahabat Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak mau
menjawab.” Karena ingin tahu, mereka pun kembali bertanya, “Apakah
yang dimaksud adalah empat puluh tahun?” Kembali Abu Hurairah berkata,
“Aku tidak mau menjawab. Selanjutnya Allah menurunkan hujan dari langit,
sehingga mannusia akan tumbuh bagaikan rerumputan tumbuh ketika terkena air
hujan. Tidaklah ada organ manusia kecuali akan hancur lebur, kecuali satu
tulang saja, yaitu pangkal tulang ekornya. Dariyalah kelak pada hari qiyamat
seluruh manusia akan dihidupkan kembali.” (Muttafaqun alaih)
Dalam
riwayat lain dinyatakan,
ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ مَاءً مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ يُمْنِي كَمَنِيِّ الرَّجُلِ، فَتَنْبُتُ جُسْمَانُهُمْ، وَلُحْمَانُهُمْ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ ك
“Selanjutnya
Allah menurunkan air dari bawah ‘Arsy yang memancar bagaikan air mani
kaum lelaki, sehingga tubuh dan daging manusia tumbuh kembali berkat siraman
air itu.” (Riwayat Al Hakim dan lainnya)
Semoga
tulisan ini menggugah iman Anda dan menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan
Anda. Harapan saya, dengan memahami berbagai fungsi hujan ini, kita dapat
mensyukurinya dengan baik, sehingga Allah senantiasa melimpat gandakan
nikmat-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْـمُسْلِمَاتِ، وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْـمُرْسَلِينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَـمِينَ
Disadur
dari tulisan Ustad Arifin Baderi dengan perubahan oleh Tim KhotbahJumat.com
Artikel KhotbahJumat.com