
October
4, 2011
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ,
نَحْمَدُهُ,
وَنَسْتَعِينُهُ,
وَنَسْتَغْفِرُهُ,
وَنَعُوذُ
بِاللَّهِ
مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا,
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا.
مَنْ
يَهْدِهِ
اللَّهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ,
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللَّهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ, وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالأََرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللَّهِ,
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ
الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا,
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ,
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ,
وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ
Ikhwani
fiddin a’azzaniyallahu waiyyakum,
Bertakwalah
kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Ilmuilah yang telah diwajibkan
Allah terhadap diri kita. Yaitu berupa hukum-hukum agama. Dengan begitu, kita
akan selalu beribadah sesuai dengan yang telah disyariatkan Allah, dan kita
akan semakin mampu berpegang teguh dengan agama-Nya. Sehingga kita akan
mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak.
Jama’ah
Jum’at yang dimuliakan Allah,
Pada
kesempatan kali ini, kami ingin menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Muslim dari jalan sahabat Abu Hurairah, bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
Sesungguhnya
Allah itu Mahabaik dan tidak menerima, kecuali sesuatu yang baik. Dan
sesungguhnya Allah telah memerintahkan kaum Mukminin dengan perintah yang
Allah gunakan untuk memerintahkan para rasul. Maka Allah berfirman,
“Wahai para rasul, makanlah segala sesuatu yang baik dan beramal
shalihlah (Al Mukminun : 41).” Dan Allah juga berfirman, “Wahai
orang-orang yang beriman, makanlah segala sesuatu yang baik, yang telah kami
berikan kepada kalian (Al Baqarah : 172).” Kemudian Rasulullah
menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan panjang, kusut
rambutnya, kemudian mengangkat tangannya dan mengatakan, “Wahai Rabb-ku,
Wahai Rabb-ku, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, perutnya diisi
dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana Kami mengabulkan doanya”? (H.r. Muslim).
Ikhwani
fiddin arsyadaniyallahu waiyyakum,
Di
dalam hadits mulia ini terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil.
Pertama. Di antara nama Allah adalah Thayyib. Maksudnya, Allah
memiliki sifat-sifat yang baik, suci dari segala kekurangan dan kejelekan.
Allah Mahabaik di dalam dzat-Nya, Mahabaik di dalam sifat-sifat-Nya, nama-nama
Nya, hukum-hukum-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan dalam segala apa yang
bersumber dari-Nya.
Sehingga
apabila melihat nama-nama Allah yang kita ketahui, maka kita mengetahui bahwa
semua nama-nama itu indah. Di dalamnya terkandung sifat-sifat yang indah.
Sedikitpun tidak kita dapatkan kekurangan di dalam nama-nama Allah tersebut.
Allah berfirman,
وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى
Dan
hanya milik Allah-lah nama-nama yang baik. (Q.s. Al A’raf: 180).
Demikian
pula di dalam sifat-sifat Allah, maka Allah memiliki sifat-sifat yang baik,
Allah Mahamampu, Maha Mendengar, Maha Melihat dan sifat-sifat baik lainnya yang
dimiliki oleh Allah. Dan dalam segala perbuatan Allah, selalu tersimpan
hikmah-hikmah yang agung.
Kedua. Karena Allah Mahabaik, maka Dia tidak
menerima kecuali sesuatu yang baik. Allah tidak menerima amalan-amalan yang
tercampur dengan berbuatan syirik, karena amalan syirik bukanlah amalan yang
baik. Demikian pula Allah tidak menerima amalan yang tercampur dengan perbuatan
bid’ah.
Perlu
kita ketahui, ikhwani fiddin
… Amalan yang baik, bukanlah amalan yang banyak atau amalan
yang dipuji oleh manusia, akan tetapi amalan yang baik ialah amalan yang
dilakukan dengan ikhlas, sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana dikatakan Fudhail bin Iyad ketika ia menafsirkan firman Allah,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
dan
Dia-lah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kalian,
siapa di antara kalian yang paling baik amalannya (QS Al Mulk ayat 2), ia mengatakan,
bahwa yang paling baik amalnya ialah, yang paling benar dan yang paling ikhlas.
Benar apabila sesuai dengan yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan
ikhlas, apabila hanya dilakukan karena mengharap wajah Allah.
Kemudian
hadits ini juga menjelaskan adanya amalan yang diterima dan yang ditolak oleh
Allah.
Ketiga. Para rasul juga diperintahkan dan
dilarang oleh Allah, sebagaimana pula kaum Mukminin.
Walaupun
mereka adalah orang yang telah diampuni Allah, mereka tetap beribadah kepada
Allah, sebagaimana kita lihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menegakkan qiyamullail sehingga
kedua kakinya bengkak. Ditanyakan kepada beliau,
أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
“Apakah
engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah
lalu dan dosa yang akan datang?”
Ditanya
seperti ini, bagaimanakah jawab beliau? Rasulullan shallallahu ‘alaihi wa sallam
memberikan jawaban yang menakjubkan,
أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Tidak
bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur? (Muttafaqun
‘alaih).
Begitulah
pribadi Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai suri teladan bagi kita sampai hari
Kiamat. Demikian pula dengan para sahabat Rasulullah. Mereka selalu bersemangat
dalam beribadah kepada Allah. Bahkan di antara mereka ada yang telah dijamin
oleh Allah masuk ke dalam Surga, akan tetapi, jaminan tersebut tidak menjadikan
mereka malas beribadah kepada Allah, tetapi justru membuat mereka lebih
bersungguh-sungguh menjalankan syariat-Nya. Keadaan ini berbeda dengan yang
terjadi pada manusia zaman sekarang ini.
Kemudian
Allah memerintahkan agar beramal shalih, karena amal shalih merupakan wujud
rasa syukur seseorang kepada Allah. Artinya, setelah seseorang diberi karunia
dengan mendapatkan makanan yang halal dan didapatkannya dengan cara yang halal,
maka sudah sepantasnya ia bersyukur kepada Allah. Yaitu dengan menyandarkan
kenikmatan tersebut kepada Allah dan beramal shalih.
Jama’ah
Jum’ah yang dimuliakan Allah,
Oleh
karena itu, ikhwani fiddin,
ini merupakan sebuah peringatan keras serta ancaman yang berat bagi orang yang
tidak mau memperdulikan darimana ia mendapatkan rezekinya. Patut disesalkan,
ternyata masih banyak orang yang bermuamalah dengan muamalah yang haram, dan
tidak jarang hanya demi sedikit harta, kemudian rela mencarinya dengan
melanggar batasan-batasan Allah. Waliyadzu
billahi min dzalik. Benarlah yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
Akan
datang kepada manusia suatu zaman, yaitu seseorang tidak lagi memperdulikan
dari mana ia mengambil hartanya, apakah dari jalan yang halal ataukah dari
jalan yang haram.
(H.r. Bukhari).
Kita
lihat saat ini, berapa banyak di antara kaum Muslimin yang berjual beli dengan
sistim riba, ataupun utang-piutang dengan sistim riba? Ingatlah wahai, kaum
Muslimin! Apabila kita masih melakukan perbuatan tersebut, sesungguhnya hanya
dosa serta kehinaan yang akan kita dapatkan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Jama’ah
Jum’ah yang dimuliakan Allah,
Ikhwani
fiddin, karena harta
merupakan amanah dari Allah dan kita akan dimintai pertanggung jawabannya kelak
di hadapan Allah, maka marilah kita renungan, dari manakah harta yang kita
dapatkan? Apakah kita dapatkan dengan cara yang halal, ataukah sebaliknya
dengan cara yang haram?
Dengan
begitu, kita berharap semoga terhindar dari harta yang haram, sehingga doa yang
kita panjatkan, dikabulkan oleh Allah.
Disamping
itu, karena doa merupakan ibadah yang agung, maka marilah kita lakukan dengan
penuh keikhlasan, sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah, dan kita penuhi
syarat-syaratnya. Insya Allah, doa kita akan diterima dan dikabulkan Allah Ta’ala.
Demikianlah
beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits yang mulia ini.
Mudah-mudahan bermanfaat. Kebenaran hanya datang dari Allah, dan kesalahan
datang dari kami dan dari setan. Dan Allah berlepas diri dari kesalahan
tersebut.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ وبارك
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِالْإِيْمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ
فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلًّا لِلَّذِيْنَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ رَءُوفٌ
رَحِيمٌ
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْهُمْ
لِمَا فِيْهِ
صَلَاحُهُمْ
وَصَلَاحُ
اْلإِسْلَامِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِنْهُمْ
عَلَى
الْقِيَامِ
بِمَهَامِهِمْ
كَمَا أَمَرْتَهُمْ
يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَبْعِدْ
عَنْهُمْ
بِطَانَةَ السُّوْءِ
وَالْمُفْسِدِيْنَ
وَقَرِّبْ
إِلَيْهِمْ
أَهْلَ الْخَيْرِ
وَالنَّاصِحِيْنَ
يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
وُلَاةَ أُمُوْرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
فِيْ كُلِّ
مَكَانٍ
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِيْنَ
إِمَامًا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
*)
Diangkat dari Syarah Hadits
Arbain, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin oleh Ustadz
Adiy Abdul Jabbar. Disalin dari kumpulan naskah khutbah Jumat Majalah As-Sunnah dengan
beberapa penyuntingan oleh redaksi www.KhotbahJumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com