
June
12, 2015
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ ومُبلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اَتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى؛
فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرِ
أُمُوْرِ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ.
وَتَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا
عَمَلٌ بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
رَجَاءَ ثَوَابِ
اللهِ،
وَتَرْكٌ
لِمَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
خِيْفَةَ
عَذَابِ
اللهِ .
Ibadallah,
Sungguh,
Allah ‘Azza wa Jalla
menciptakan manusia untuk suatu tujuan yang mulia, yaitu untuk beribadah kepada
Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
“Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat/51:56).
Dalam
ayat ini, Allah ‘Azza
wa Jalla menuntut dua perkara dari kita. Pertama, beribadah kepada
Allah ‘Azza wa Jalla
dengan cara yang sesuai syariat-Nya. Kedua, tidak menyerahkan ibadah itu kepada
selain-Nya.
Artinya,
seorang mukmin harus menjadi hamba Allah ‘Azza
wa Jalla selama hayatnya. Statusnya sebagai hamba Allah ‘Azza wa Jalla ini
tidak boleh lepas darinya walaupun sesaat. Itulah tujuan kita diciptakan.
Itulah status dan gelar tertinggi yang diraih seorang insan, yaitu menjadi
hamba Allah ‘Azza wa
Jalla yang sejati. Allah ‘Azza
wa Jalla telah menyematkan gelar ini kepada hamba-Nya yang paling
mulia, yaitu Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha
suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari
al-Masjidil Haram ke al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS.
al-Isra’/17:1)
Umur
yang Allah Subhanahu wa
Ta’ala berikan kepada kita ini adalah sebuah karunia dan
anugerah yang tiada ternilai. Satu hari Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita 24
jam. Itulah waktu yang harus kita pergunakan sebaik-baiknya agar menjadi hamba
Allah yang sejati.
Oleh
karena itu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menyampaikan sebuah wasiat yang sangat
agung bagi kita, beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ, وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ, وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ, وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ, وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Pergunakanlah
yang lima sebelum datang yang lima (yaitu) masa mudamu sebelum datang masa tua;
masa sehatmu sebelum datang masa sakit; masa kayamu sebelum datang masa miskin;
masa luangmu sebelum datang masa sibuk; masa hidupmu sebelum datang
kematian.” (HR. al-Hakim dan selainnya).
Ibadallah,
Sesungguhnya
hidup adalah kumpulan hari-hari. Alangkah ruginya kita, bila terus dibuai
angan-angan sehingga lupa memperbaiki diri. Mestinya, kita berpindah dari satu
bentuk ibadah kepada bentuk ibadah lainnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu
berharap.” (al-Insyirah/94:7-8)
Syaikh
Ibnu Utsaimin rahimahullah
mengatakan, “Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu tugas maka
bersiap-siaplah mengerjakan tugas yang lainnya, janganlah menyia-nyiakan
kesempatan. Oleh karena itu, kehidupan orang yang cerdas adalah kehidupan yang
penuh semangat. Setiap kali selesai mengerjakan satu tugas, ia bersiap
mengerjakan tugas yang lain. Karena waktu akan terus berlalu, baik kita dalam
keadaan terjaga maupun tidur, sibuk maupun lowong. Waktu terus berjalan, tidak
ada seorang pun yang mampu menahannya. Sekiranya semua manusia bersatu padu
untuk menahan matahari supaya waktu siang bertambah panjang niscaya mereka
tidak akan bisa melakukannya. Tidak ada seorang pun yang dapat menahan waktu.
Karena itu, jadikanlah hidupmu hidup yang penuh semangat. Jika engkau selesai
mengerjakan sebuah pekerjaan, lanjutkanlah dengan pekerjaan yang lainnya. Jika
engkau selesai mengerjakan urusan dunia, hendaklah engkau melanjutkannya dengan
mengerjakan urusan akhirat. Sebaliknya, jika engkau selesai mengerjakan urusan
akhirat lanjutkanlah dengan urusan dunia. Apabila engkau telah selesai
mengerjakan shalat Jumat, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalat Jumat diapit oleh dua urusan dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴿٩﴾فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai
orang-orang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jumat,
(padahal engkau dalam keadaan sibuk mengurus urusan dunia) maka bersegeralah
kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah ditunaikan, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah kepada
Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (Al-Jumu’ah/62:9-10)
Jika
ada yang mengatakan, ‘Jika aku terus-menerus serius dan sungguh-sungguh
setiap waktu, aku pasti letih dan bosan.” Jawabannya adalah istirahatmu
untuk menyegarkan dirimu dan mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan
amalan. Maksudnya pekerjaan dan amalan itu tidak harus bergerak. Waktu
istirahatmu untuk mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan amalan.
Yang paling penting adalah jadikanlah seluruh hidupmu dalam kesungguh-sungguhan
dan amal. Firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala :
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“dan
hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. al-Insyirah/94:8).
Maksudnya,
apabila Anda selesai mengerjakan tugas-tugas lalu diikuti dengan pekerjaan yang
lainnya maka berharaplah kepada Allah agar engkau mendapatkan pahala. Tetaplah
memohon pertolongan kepada Allah, sebelum dan sesudah beramal. Sebelum beramal
mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala . Dan setelah beramal, berharaplah pahala dari
Allah ‘Azza wa Jalla.
Ibnul
Qayyim rahimahullah
mengatakan, “Memanfaatkan waktu lebih berat daripada memperbaiki masa
lalu dan masa depan. Memanfaatkan waktu berarti melakukan amal-amal paling
utama, paling berguna bagi diri dan paling banyak membawa kebahagiaan. Dalam
hal ini manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan. Demi Allah, itulah
kesempatanmu mengumpulkan bekal untuk menyongsong akhirat, ke surga ataukah ke
neraka….”
Ibadallah,
Waktu
terus berjalan, usia kita terus bertambah. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita
mengisi waktu itu sebaik-baiknya. Hari demi hari yang berlalu dan yang akan
kita jalani ini, apakah sudah kita manfaatkan sebaik-baiknya seperti yang
diwasiatkan oleh Nabi kita shallallahu
‘alaihi wa sallam?
Sungguh
merugi, orang yang tidak mengisi harinya untuk menjadi hamba Allah yang sejati.
Manusia seperti ini laksana mayat hidup yang berjalan, mati sebelum waktunya.
Hidupnya tidak bermakna sama sekali!
Ibnul
Qayyim rahimahullah
mengatakan, “Merupakan hak Allah atas hamba-Nya di setiap waktu yang
berlalu dalam hidupnya untuk menunaikan kewajiban ubudiyah yang ia persembahkan
kepada Allah dan untuk mendekatkan dirinya kepada-Nya. Jika seorang hamba
mengisi waktunya dengan ibadah yang wajib ia lakukan, maka ia akan maju menuju
Allah. Sebaliknya, jika ia isi dengan mengikuti hawa nafsu, bersantai ria atau
menganggur, ia akan mundur. Seorang hamba kalau tidak melangkah maju, ia pasti
bergerak mundur. Tidak ada yang berhenti di tengah jalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
“(yaitu)
bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur.” (QS.
al-Mudattsir/74:37).
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
“Setiap
hari semua orang melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan
dirinya! Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakanya!”
(HR. Muslim).
Setiap
insan melanjutkan perjalanannya, ada yang menjual dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan jannah untuk mereka.” (QS. at-Taubah/9:111).
Dan
ada pula yang menjualnya kepada setan yang senantiasa mengintai.
Ibnul
Qayyim rahimahullah
melanjutkan, “Barangsiapa tidak mengisi waktunya untuk Allah dan dengan
petunjuk Allah maka baginya mati lebih baik daripada hidup ! Apabila seorang
hamba sedang mengerjakan shalat, maka ia hanya memperoleh bagian shalat yang ia
lakukan dengan khusyuk. Ia tidak memperoleh bagian apapun dari hidupnya kecuali
yang dijalaninya dengan petunjuk Allah dan ditujukannya semata-mata untuk
Allah.”
Ibadallah,
Lalu,
mampukah kita mengisi 24 jam yang Allah berikan ini untuk beribadah kepada
Allah ‘Azza wa Jalla?
Jawabnya, kita mampu mengisinya dengan ibadah. Hal itu bila kita memaknai
ibadah dengan maknanya yang luas. Yaitu segala sesuatu yang dicintai dan
diridhai oleh Allah ‘Azza
wa Jalla berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.
Sesungguhnya
Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah membuka pintu-pintu kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah menjelaskan kepada kita amal-amal kebaikan yang bisa mendekatkan diri
kita kepada-Nya. Bukankah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الجَنَّةِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ وَ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
“Tidak
satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku
memerintahkannya kepada kalian. Dan tidak satupun amal yang bisa mendekatkan
kalian ke neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya.”(HR.
al-Hakim).
Seandainya
kita menerapkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, niscaya separuh hari kita terpakai untuk
mengamalkannya. Dan hanya tersisa sedikit kesempatan saja untuk menganggur
tanpa amal kebaikan.
Hanya
saja, manusia sering ditimpa dua penyakit yang menghalanginya dari semua itu.
Yaitu penyakit malas dan taswif
(menunda-nunda amal). Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
senantiasa berlindung dari sifat malas ini. Salah satu doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
“Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur.” (HR.
Muslim).
Ibadallah,
Beberapa
bentuk amal yang dapat kita lakukan sehari semalam diantaranya:
Pertama:
Shalat fardhu lima kali sehari semalam. Ini merupakan rukun Islam yang kedua
dan wajib dilakukan oleh setiap muslim yang baligh dan berakal. Kewajiban ini
tidak gugur bagaimanapun keadaannya, kecuali wanita yang sedang haidh dan
nifas.
Shalat
wajib dikerjakan dengan berdiri, jika tidak bisa dengan berdiri, maka dilakukan
sambil duduk, kalau tidak bisa duduk dikerjakan sambil berbaring, kalau tidak
bisa juga maka dengan isyarat.
Kedua:
Shalat-shalat sunnat rawatib yang mengiringi shalat fardhu.
Abdullah
bin Syaqiq radhiyallahu anhu
bercerita, “Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu
anha tentang shalat sunnat yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Aisyah radhiyallahu anha
menjawab, ‘Beliau shalat empat rakaat di rumahnya sebelum shalat zuhur.
Kemudian beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam keluar mengerjakan shalat berjamaah.
Setelah itu beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam pulang ke rumah dan shalat empat rakaat.
Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam shalat maghrib berjamaah kemudian beliau
pulang dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau shalat isya berjamaah lalu pulang
ke rumahku dan shalat dua rakaat. Beliau mengerjakan shalat malam sembilan
rakaat termasuk shalat witir. Beliau mengerjakan shalat malam panjang sekali
dengan berdiri dan kadang-kadang beliau kerjakan sambil duduk. Apabila beliau
membaca surat dengan berdiri, maka beliau sebagaimana biasa. Namun bila beliau
membaca surat sambil duduk, maka beliau rukuk dan sujud menyesuaikannya.
Apabila fajar sudah menyingsing maka beliau shalat dua rakaat (shalat sunnat
fajar).” (HR. Muslim).
Ketiga:.
Shalat dhuha, termasuk di dalamnya shalat awwabiin yaitu shalat yang dilakukan
di akhir waktu dhuha dan shalat isyraq yang dilakukan di awal waktu dhuha, yakni
begitu matahari muncul.
Abu
Dzar al-Ghifari radhiyallahu
anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada
setiap pagi, setiap sendi tubuh bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa
menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi
sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar makruf nahi munkar
juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan dua rakaat yang dilakukan
pada waktu dhuha.” (HR. Muslim).
Keempat:
Shalat malam. Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan
shalat malam, seperti hadits Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu anhu berkata,
“Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةً يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا أَعَدَّهَا اللَّهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَلَانَ الْكَلَامَ وَتَابَعَ الصِّيَامَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Sesungguhnya
di dalam surga tersedia kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan
bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Allah sediakan untuk
orang-orang yang suka memberi makan, melembutkan tutur bicara, memperbanyak
puasa, menebarkan salam dan mengerjakan shalat malam di kala manusia tertidur
pulas.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan at-Tirmidzi).
Shalat
malam ini dikerjakan dua rakaat-dua rakaat. Waktunya dari isya hingga terbit
fajar.
Kelima:
Shalat sunnat sesudah berwudhu.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa
berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat dan tidak berkata-kata
dalam hati (yakni dikerjakan dengan khusyuk) selama mengerjakannya niscaya
Allah akan mengampuni dosanya.” (HR. Bukhar dan Muslim).
Abu
Hurairah radhiyallahu anhu
meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal radhiyallahu anhu setelah shalat
fajar, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalanmu dalam Islam yang
paling engkau harapkan kebaikannya. Karena sesungguhnya aku mendengar suara
sandalmu di hadapanku dalam surga.” Bilal berkata, “Tidaklah aku
mengamalkan suatu amalan yang lebih aku harapkan kebaikannya melainkan setiap
kali aku wudhu pada malam atau siang hari aku selalu mengerjakan shalat (dua
rakaat setelah wudhu) yang bisa aku lakukan.” (HR. Bukhar dan Muslim).
Keenam:
Shalat taubat.
Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu
anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَا مِنْ رَجُلٍٍ يُذْنِبُ ذَنْباً ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهُ، إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ
“Tidaklah
seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian dia berdiri, lalu berwudhu dan
mengerjakan shalat, kemudian memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan
mengampuninya.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
Ketujuh:
Shalat witir sebelum idur.
Abu
Hurairah radhiyallahu anhu
berkata, “Kekasihku (Rasululla) telah mewasiatkan kepadaku tiga perkara,
aku tidak akan meninggalkannya sampai aku mati: Puasa tiga hari setiap bulan,
shalat dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum pergi tidur.” (HR.
Bukhari).
Kesembilan:
Menjaga wudhu.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
لاَ يُحَافِظُ عَلَى الوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah
seseorang yang menjaga wudhu kecuali dia orang mukmin.” (HR. Ibnu Majah).
Kesepuluh:
Dzikir-dzikir sesudah shalat fardhu.
Kesebelas:
Dzikir-dzikir mutlak.
Maksudnya
adalah dzikir-dzikir yang boleh dibaca tanpa terikat tempat maupun waktu
tertentu. Misalnya yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثِرُوْا مِنْ شَهَادَةِ أَن لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ، قَبْلَ أَنْ يُحَالَ بَيْنَكُمْ وَ بَيْنَهَا
“Perbanyaklah
membaca syahadat la ilaha illallah sebelum sebelum kalian terhalang
darinya.” (HR. Abu Ya’la).
Dan
hadits:
لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Aku
mengucapkan SUBHANALLAH WAL HAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR,
lebih aku sukai daripada terbitnya matahari.” (HR. Muslim).
Dan
masih banyak lagi amal-amal lain yang dapat kita kerjakan sehari semalam.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الجُوْدِ وَالفَضْلِ وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اَتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى.
Ibadallah,
Merutinkan
amalan-amalan yang telah khotib sebutkan pada khotbah pertama pasti akan
mendatangkan keutamaan. Di antaranya, apabila kita jatuh sakit atau terhalang
dari perbuatan tersebut karena bersafar misalnya, maka akan tetap ditulis
pahala amal yang rutin kita kerjakan itu. Seperti yang disebutkan dalam sebuah
hadits.
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Apabila
seorang hamba jatuh sakit atau tengah bersafar, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla tetap
menuliskan pahala baginya sebagaimana yang biasa dilakukannya pada waktu sehat
dan mukim (tidak bersafar).” (HR. Bukhari).
Disamping
itu, apabila kita berniat sungguh-sungguh untuk mengamalkannya akan tetapi
terhalang dengan sesuatu yang tidak bisa kita hindari, maka niat ini akan tetap
menghasilkan pahala. Misalnya, seseorang yang berniat sungguh-sungguh akan
bangun malam untuk mengerjakan shalat tahajjud, lalu ia terkalahkan oleh
tidurnya, maka ia tetap terhitung pahala baginya. Aisyah radhiyallahu anha
meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنِ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلَاةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلَاتِهِ وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ
“Tidaklah
seseorang yang meniatkan shalat malam lalu terkalahkan oleh tidurnya (tertidur)
melainkan Allah akan menuliskan baginya pahala shalat malam dan tidurnya itu
menjadi sedekah atasnya.” (HR. an-Nasai dan Abu Dawud).
Abu
Darda radhiyallahu anhu
mengatakan, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Barangsiapa
mendatangi pembaringannya dengan meniatkan bangun malam untuk mengerjakan
shalat malam akan tetapi ia dikalahkan oleh kedua matanya (tertidur) hingga
shubuh maka dituliskan baginya apa yang telah ia niatkan dan tidurnya menjadi
sedekah baginya dari Rabbnya ‘Azza
wa Jalla.” (HR. an-Nasai).
Oleh
karena itu, tidur dan istirahat seorang mukmin juga bisa bernilai ibadah dan
berpahala, apabila beristirahat dengan niat agar lebih bergairah dalam ibadah.
Mu’adz
bin Jabal radhiyallahu anhu
dan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu
anhu bermudzakarah tentang amal-amal shalih.
Mu’adz
radhiyallahu anhu
berkata, “Hai Abdullah, bagaimanakah cara engkau membaca Alquran?”
Abu
Musa radhiyallahu anhu
menjawab, “Aku secara rutin membacanya setiap waktu.”
Abu
Musa bertanya, “Lalu bagaimana cara engkau membacanya hai
Mu’adz?”
Mu’adz
menjawab, “Aku membacanya di awal malam lalu aku bangun sesudah aku
menuntaskan bagian waktuku untuk tidur. Aku membaca apa yang Allah mudahkan
bagiku. Aku mengharap pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharap pahala dari
saat aku terjaga.”
Maknanya,
ia memohon pahala pada saat-saat senggang seperti ia memohon pahala pada
saat-saat lelah beramal. Karena waktu senggang apabila digunakan untuk membantu
meningkatkan gairah beribadah juga akan menghasilkan pahala.
Demikian
pula amal-amal duniawi lainnya seperti makan dan minum, bisa bernilai ibadah
dan pahala apabila diniatkan untuk membantu meningkatkan gairah beribadah.
Intinya,
kesempatan untuk menjadi hamba Allah 24 jam sebenarnya terbuka lebar bagi
setiap mukmin yang dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Mudah-mudahan
Allah memberi kita taufik untuk mengisi hari-hari kita dengan cara yang
terbaik. Dengan cara yang Dia cintai dan ridhai.
هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرٍ
الصِدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
بِأَسْمَائِكَ
الحُسْنَى
وَصِفَاتِكَ
العُلْيَا
أَنْ
تَنْصُرَ
إِخْوَانَنَا
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنَ
فَإِنَّهُمْ
لَا يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِي مَنْ
خَافَكَ وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ،
وَأَعِنْهُ
عَلَى طَاعَتِكَ
وَسَدِدْهُ
فِي
أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ
يَا ذَا الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أُمُوْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
رَبَّنَا إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا ذُنُبَنَا
كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ،
وَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
وَبَارَكَ
وَأَنْعَمَ
عَلَى عَبْدِ
اللهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
www.KhotbahJumat.com