
July
4, 2011
***
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
خَلَقَ
الْإِنْسَانَ
فِي أَحْسَنِ
تَقْوِيْمٍ،
وَفَضَّلَهُ
عَلَى كَثِيْرٍ
مِمَّنْ
خَلَقَ
بِالْإِنْعَامِ
وَالتَّكْرِيْمِ،
فَإِنِ
اسْتَقَامَ
عَلى طَاعَةِ
اللهِ
اسْتَمَرَّ
لَهُ هذَا
التَّفْضِيْلُ
فِي جَنَّاتِ
النَّعِيْمِ،
وَإِلاَّ
رُدَّ فِي
الْهَوَانِ
وَالْعَذَابِ
الْأَلِيْمِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَهُوَ
الْخَلاَّقُ
الْعَلِيْمِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
شَهِدَ لَهُ
رَبُّهُ بِقَوْلِهِ:
{وَإِنَّكَ
لَعَلى
خُلُقٍ عَظِيْمِ}
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
الَّذِيْنَ
سَارُوْا
عَلَى
النَّهْجِ
القَوِيْمِ
وَالصِّرَاطِ
المُسْتَقِيْمِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا،
أَمَّ بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوْا
اللهَ تَعَالىَ
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
سُبْحَانَهُ
لاَ يَنْظُرُ إِلَى
صُوَرِكُمْ،
وَإِنَّمَا
يَنْظُرُ إِلَى
قُلُوْبِكُمْ
وَأَعْمَالِكُمْ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-sebaik
bentuk dan melebihkannya dengan berbagai keutamaan dari makhluk lainnya. Saya
bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali
hanya Allah Subhanahu wa
Ta’ala, serta saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala
curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya,para sahabatnya, dan seluruh
kaum muslimin yang senantiasa berjalan di atas petunjuknya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan senantiasa memperbaiki qalbu
kita masing-masing. Ketahuilah rahimakumullah,
bahwa Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidak melihat bentuk dan postur tubuh serta paras
wajah seseorang, tetapi yang dilihat tidak lain adalah qalbu dan amalannya. Oleh
karena itu, sebagaimana seseorang senantiasa membersihkan badan dan pakaiannya
dari kotoran yang mengenainya, seharusnya dia juga memperbaiki amalan dan
membersihkan qalbu-nya.
Bahkan, memerhatikan qalbu
harus lebih diutamakan, karena rusaknya qalbu
lebih berbahaya daripada rusaknya anggota badan. Rusaknya qalbu akan dirasakan
akibatnya oleh si pemiliknya, baik ketika di dunia, apalagi saat di akhirat
nanti. Akan tetapi, rusaknya anggota badan hanya dirasakan saat di dunia dan
akan berakhir dengan datangnya kematian. Begitu pula baik dan tidaknya amalan
anggota badan, sangat dipengaruhi oleh keadaan qalbu seseorang. Hal ini sebagaimana sabda
Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam,
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada
segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun,
apabila dia rusak, maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah,
bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)
Pada hadits tersebut kita memahami bahwa perbuatan anggota badan
dipengaruhi oleh keadaan qalbu
seseorang. Apabila qalbu-nya
dipenuhi dengan cinta kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya, anggota badannya juga akan digunakan
untuk menaati Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Sebaliknya, apabila qalbu-nya dipenuhi oleh
cinta kepada syahwat dan mengikuti hawa nafsu, anggota badannya pun akan tunduk
mengikuti keinginan syahwat dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, kedudukan qalbu terhadap anggota
badan lainnya adalah ibarat seorang raja terhadap para bawahannya yang selalu
siap mengikuti perintahnya dan tidak menyelisihinya. Karena itu, bisa dibayangkan
apa yang akan terjadi pada anggota badan apabila qalbu-nya itu baik, dan sebaliknya, apa yang
akan terjadi apabila qalbu-nya
itu rusak.
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Dengan demikian, qalbu
adalah bagian yang paling mulia pada diri manusia. Di sanalah tempat ma’rifatullah, yaitu
ilmu seseorang tentang Rabb-Nya.
Di sana pula tempatnya cinta, rasa takut, harapan, dan tawakkal-nya seseorang
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala, serta amalan qalbu
lainnya. Bahkan, di sanalah tempatnya niat yang menjadi timbangan sah atau
tidaknya dan diterima atau ditolaknya amal ibadah seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Bahwa amalan itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapatkan
apa yang dia niatkan.” (Muttafaqun
‘alaih)
Jika demikian, tidak cukup bagi seseorang untuk hanya memperbaiki
amalan yang lahiriah saja tanpa memerhatikan keadaan qalbu-nya. Akan tetapi,
memerhatikan dan memperbaiki qalbu
seharusnya lebih didahulukan daripada memerhatikan amalan lahiriah. Bahkan,
amalan anggota badan yang nampak, tidak akan sah atau diterima apabila tidak
ada amalan qalbu
yang disebut ikhlas. Oleh karen itu, setiap orang harus memiliki amalan qalbu yang disebut ikhlas
ini, untuk seluruh amalan ibadah yang dilakukan oleh anggota badannya.
Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya, qalbu
ada yang bisa mengeras seperti kerasnya batu atau bahkan lebih keras dari batu.
Qalbu yang
paling keras adalah yang paling jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari ketaatan
kepada-Nya. Qalbu
jenis ini tidak mau menerima nasihat dan tidak berkeinginan untuk mencari
petunjuk serta kebenaran, sehingga pemiliknya tidak memperoleh manfaat kebaikan
dari qalbu-nya,
bahkan tidak ada yang keluar dari qalbu-nya
kecuali kejelekan.
Di sisi lain, ada pula qalbu
yang lembut dan baik, yaitu qalbu
yang selalu tunduk dan patuh kepada Penciptanya. Qalbu jenis ini adalah qalbu yang siap menerima
kebenaran dari nasihat yang datang kepadanya.
Lembut dan kerasnya qalbu
seseorang dipengaruhi oleh beberapa sebab yang dilakukan oleh
pemiliknya. Hal-hal yang bisa menjadi sebab baik dan lembutnya qalbu di antaranya adalah
membaca dan mendengarkan Alquran. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Kalau
sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan
melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan ketakutannya kepada Allah dan
perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.”
(Al-Hasyr: 21)
Hadirin rahimakumullah,
Kalau gunung yang begitu keras saja bisa hancur, tentunya qalbu yang keras pun akan
menjadi lembut apabila si pemiliknya senantiasa memperbaikinya dengan membaca
dan mendengarkan, serta mempelajari Alquran. Di dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman
untuk tunduk qalbu mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang
telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang
sebelumnya yang telah diturunkan kepada mereka Al-Kitab, kemudian berlalulah
masa yang panjang atas mereka lalu qalbu mereka menjadi keras dan kebanyakan di
antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)
Karena itu, kaum muslimin wajib senantiasa membaca dan mempelajari
kandungan Alquran, agar tidak seperti ahlul
kitab yang menjadi keras qalbu-nya
karena berpaling dari kitab Taurat dan Injil.
Hadirin rahimakumullah,
Di antara perkara yang juga akan membuat lembutnya qalbu adalah mengingat
kematian, serta mengingat bahwa dunia ini adalah kehidupan yang sesaat,
sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya
pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan
dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)
Hadirin rahimakumullah,
Di antara perkara yang menjadi sebab lembutnya qalbu adalah memperbanyak
mengingat Allah Subhanahu wa
Ta’ala atau berzikir dengan zikir-zikir yang ditetapkan oleh
syariat. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Sesungguhnya,
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
qalbu mereka.” (Al-Anfal: 2)
Dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang qalbu-nya telah
Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan dia dalam
keadaan melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
Selanjutnya, di antara hal yang akan melembutkan qalbu adalah menerima apa
yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan mengamalkan ilmu yang telah sampai
kepadanya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
di dalam Alquran tentang keadaan orang-orang musyrikin yang menjadi keras qalbu-nya akibat perbuatan
mereka berupa menolak dakwah atau ajakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
firman-Nya,
وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan qalbu dan penglihatan
mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Alquran) sejak awal
pertama datang dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang
sangat.” (Al-An’am: 110)
Demikianlah keadaan orang-orang musyrikin yang menjadi keras qalbu mereka sehingga
tetap di atas kekafirannya akibat tidak menerima ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Begitu pula halnya dengan memerhatikan keadaan orang-orang yang
sakit, fakir miskin, dan orang-orang yang tertimpa musibah, termasuk sebab
lembutnya qalbu. Dengan memerhatikan keadaan mereka, seseorang akan mengetahui
betapa banyak dan besarnya nikmat Allah Subhanahu
wa Ta’ala kepadanya sehingga menjadi lembut qalbu-nya. Hal ini berbeda
dengan orang yang justru selalu melihat keadaan orang-orang yang kaya apalagi
yang bermewah-mewah, maka dia akan jauh dari bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan menjadi keras qalbu-nya.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah memerintahkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
agar bersabar untuk berkumpul, serta tidak meninggalkan orang-orang yang miskin
dan orang-orang yang lemah dari kalangan kaum muslimin karena ingin bersama
orang-orang yang mendapatkan kemewahan dunia yang membuat mereka lalai kepada
Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Bersabarlah
kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja
hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (Al-Kahfi:
28)
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ مُقَلِّبِ القُلُوْبِ وَعَلاَّمِ الغُيُوْبِ، وَقَابِلِ التَّوْبَةِ مِمَّنْ يَتُوْبُ، شَدِيْدِ الْعِقَابِ عِنْدَ قَسْوَةِ القُلُوْبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ سَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa hal-hal yang akan menyebabkan keras dan rusaknya
qalbu sangat
banyak di masa kita sekarang ini. Oleh karena itu, kita semuanya harus
senantiasa waspada dan berhati-hati agar tidak terjatuh pada hal-hal yang
mengeraskan qalbu
tersebut.
Di antaranya adalah tersibukkan dan tertipu dengan gemerlapnya
dunia serta kurang berhubungan dengan masjid, sehingga menjadikan sebagian
besar waktunya hanyalah untuk urusan dunia. Kedua hal ini menyebabkan kerasnya qalbu, karena akan
melupakan seseorang dari akhirat dan mengingat Yang Mahakuasa. Berbeda dengan
seseorang yang banyak berhubungan dengan masjid yang merupakan sebaik-baik
tempat di muka bumi ini, maka dia pun akan senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadirin rahimakumullah,
Termasuk sebab yang membuat kerasnya qalbu adalah tidak menundukkan pandangan dari
melihat hal-hal yang diharamkan. Baik secara langsung, maupun melalui layar
televisi, internet, majalah, dan VCD, yang menampilkan gambar-gambar yang
terlarang dan sebagainya. Begitu pula mendengarkan lagu-lagu dan musik dengan
berbagai jenisnya. Kedua hal ini juga akan mengeraskan qalbu, karena akan
menjauhkan seseorang dari perkara yang bisa melembutkan qalbu yaitu berzikir dan
membaca Alquran. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah,
dengan mengingat Allah-lah qalbu menjadi tenang.”
(Ar-Ra’d: 28)
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Termasuk perkara yang akan membuat kerasnya qalbu adalah mengonsumsi
makanan dan minuman yang haram. Makanan dan minuman yang haram akan sangat
berpengaruh terhadap akhlak dan ibadah orang yang mengonsumsinya, sehingga akan
membuat orang tersebut menjadi rusak akhlaknya dan malas dalam beribadah kepada
Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Begitu pula seluruh jenis kemaksiatan, adalah sebab
kerasnya qalbu
seseorang. Sebagaimana hal ini tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّاكَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali
tidak (demikian), bahkan sebenarnya apa yang mereka lakukan (dari perbuatan
kemaksiatan) itu menutupi qalbu mereka.” (Al-Muthaffifin:14)
Oleh karena itu, seseorang harus menjauhi segala jenis kemaksiatan
apabila dirinya menginginkan hati yang lembut.
Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu
wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا
لاَ
تُؤَاخِذْنَآإِن
نَّسِينَآ أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ
عَلَيْنَآإِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلَى
الَّذِينَ
مِن
قَبْلِنَا
رَبَّنَا
وَلاَ
تُحَمِّلْنَا
مَالاَطَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنَّا وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَآ
أَنتَ مَوْلاَنَا
فَانصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
أَقِمِ
الصَّلاَةَ
Penulis: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
Disalin dari kumpulan Khutbah Jumat Majalah
Asy-Syariah Edisi 60 disertai penyuntingan bahasa dan penambahan teks ayat oleh
Tim Redaksi KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com