
July
4, 2011
***
KHUTBAH
PERTAMA
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى
وَقُوْمُوْا
بِمَا
أَوْجَبَ
اللهُ عَلَيْكُمْ
مِنْ حَقِّهِ
وَحُقُوْقِ
عِبَادِهِ
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Mengawali
khutbah ini, kami berwasiat kepada diri kami pribadi dan seluruh hadirin untuk
bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Yaitu dengan menjaga diri-diri kita dari murka
Allah Subhanahu wa
Ta’ala, serta azab-Nya. Dan hal ini tentu saja tidak akan
terwujud kecuali dengan kita menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi
larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu untuk melaksanakan perintah bertakwa
ini, kita harus memulainya dengan menuntut ilmu. Yaitu dengan bersemangat dalam
mempelajari ajaran Islam, agar kita mengetahui perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan kemudian berusaha sekuat kemampuan kita untuk mengamalkannya. Begitu pula
agar kita mengetahui larangan-larangan-Nya untuk kemudian kita menjauhi
semuanya. Sesungguhnya dengan bertakwa kepada-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan memberikan pertolongan pada musibah yang menimpa kita dan akan memberikan
jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang ada di hadapan kita.
Hadirin
rahimakumullah,
Di
antara nikmat Allah Subhanahu
wa Ta’ala paling besar yang telah dikaruniakan kepada kita
adalah nikmat Islam. Maka, sudah semestinya bagi kita untuk mensyukuri nikmat
ini. Yaitu dengan senantiasa berpegang teguh dengan ajaran yang ada di dalam
agama ini. Tidaklah bermanfaat pengakuan seseorang yang mengaku dirinya sebagai
muslim sementara akidahnya adalah akidah jahiliyah. Begitu pula tidak
semestinya bagi seorang yang mengaku dirinya muslim, namun dia mengada-adakan
amalan ibadah baru atau menambah-nambahi tata cara ibadah yang tidak ada
contohnya dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, wajib bagi kaum muslimin
untuk benar-benar mengenal agamanya. Yaitu dengan mempelajarinya dari ahlinya,
dan tidak menjadikan mayoritas orang, terlebih mereka adalah orang-orang awam,
sebagai tolok ukur untuk menilai benar dan tidaknya Islam seseorang. Akan
tetapi kita harus memahami agama Islam sebagaimana yang telah disampaikan oleh
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Bukan memahami
Islam dengan pemahaman-pemahaman baru yang menyimpang dari pemahaman para
sahabat.
Jama’ah
Jum’ah rahimakumullah,
Telah
begitu banyak ayat Alquran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
sampai kepada kita. Baik dengan kita membacanya maupun mendengarkan dari bacaan
saudara kita. Ini berarti telah banyak perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan larangan-larangan-Nya yang telah sampai kepada kita. Namun, sudahkah kalam
Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang telah sampai kepada kita itu
berpengaruh pada kepribadian kita? Sudahkah hal itu mengubah dan memperbaiki
diri-diri kita?
Hadirin
rahimakumullah,
Sudah
semestinya kita membaca dan mempelajari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan hadits-hadits Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena agama Islam adalah
wahyu dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang disampaikan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
melalui malaikat Jibril. Maka, tidak mungkin kita akan mengetahui ajaran Islam
kecuali dengan mempelajari wahyu tersebut. Dan wahyu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
turunkan tersebut adalah berupa Alquran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, tidak boleh bagi kita untuk berpaling dari keduanya dan tidak
mempelajarinya. Karena kalau demikian, sungguh di akhirat kelak dia akan
menjadi orang yang menyesal. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan tentang
penyesalan orang-orang kafir kelak di akhirat di dalam firman-Nya,
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَاكُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Dan
mereka (orang-orang kafir) berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau
memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni
neraka Sa’ir.”
(Al-Mulk: 10)
Begitu
pula sudah seharusnya, ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang telah sampai kepada kita dan telah kita pelajari tersebut bisa mengubah
keadaan kita. Sehingga menjadikan kita menjadi orang yang senantiasa ikhlas dan
mencontoh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Menjadikan kita sebagai orang yang menjalankan shalat lima waktu, puasa
Ramadan, dan rukun Islam lainnya. Juga menjadikan kita sebagai orang yang
berakhlak mulia seperti berbakti kepada orang tua, menghormati tetangga, dan
yang lainnya. Begitu pula mengubah diri kita sehingga menjadi orang yang
menjauhi riba, judi, dan perbuatan maksiat lainnya. Karena kalau tidak
demikian, maka justru ayat dan hadits yang kita dengar dan pelajari akan
menjadi hujjah bagi
Allah Subhanahu wa
Ta’ala untuk mengazab kita –wal ‘iyadzubilllah.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
أَلَمْ تَكُنْ ءَايَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ
Bukankah
telah dibacakan kepada kamu sekalian ayat-ayat-Ku, akan tetapi kalian selalu
mendustakannya? (Al-Mukminun:
105)
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Dan Alquran itu
adalah hujjah bagimu atau hujjah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk
(mengazab) kamu.” (H.R. Muslim)
Hadirin
rahimakumullah,
Sebagaimana
bumi ini akan tandus dan tidak bisa ditanami jika tidak tersirami air, maka
begitu pula hati kita akan sakit atau bahkan mati –wal ’iyadzubillah
(kita berlindung kepada Allah)- apabila tidak ditundukkan untuk menerima dan
menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, semestinya kita harus
berusaha untuk memenuhi setiap panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang sampai kepada kita melalui ayat-ayat-Nya dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena yang demikian itu akan menjadikan hidupnya hati kita sehingga akan
senantiasa mendapat petunjuk dan kemudahan dalam mengamalkan syariat-Nya. Dan
yang demikian ini akan mengantarkan kita pada kehidupan yang bahagia di dunia
dan akhirat. Hal ini sebagaimana firman-Nya,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا للهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul
menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. (Al-Anfal: 24)
Dan
sebaliknya, janganlah kita menyerupai orang-orang kafir yang tidak mau
mendengarkan panggilan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam atau menyerupai orang-orang munafik yang
mendengarkan dengan telinganya, namun hatinya tidak mau menerima. Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyatakan mereka adalah sejelek-jelek orang di muka
bumi ini, dalam firman-Nya,
وَلاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَيَسْمَعُونَ {21} إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَيَعْقِلُونَ
Dan
janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata, “Kami
mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” Sesungguhnya,
sejelek-jelek makhluk di sisi Allah ialah orang-orang memiliki pendengaran
namun seperti orang yang tuli, yang memiliki lisan namun seperti orang yang
bisu, yang tidak mengerti apa-apa.
(Al-Anfal: 21-22)
Saudara-saudaraku
kaum muslimin, rahimakumullah,
Di
hadapan kita ada ajaran yang sempurna dan mulia. Yaitu ajaran Islam yang berisi
aturan-aturan yang akan mengantarkan kita pada kehidupan yang penuh kebahagiaan
di dunia dan di akhirat. Maka, karena alasan apa seseorang berpaling darinya?
Sungguh,
barang siapa ingin mencari aturan lainnya maka dia tidak akan dapatkan, kecuali
aturan yang hina dan penuh kekurangan. Oleh karena itu, marilah kita menjadi
orang-orang yang senantiasa menerima dan mengamalkan setiap kebenaran yang
sampai kepada kita. Karena, orang yang menolak kebenaran yang telah sampai
kepadanya akan terkena ancaman Allah Subhanahu
wa Ta’ala, yaitu akan dipalingkan hatinya dari menerima
kebenaran berikutnya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللهُ قُلُوبَهُمْ
Maka,
tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (Ash-Shaf: 5)
KHUTBAH
KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْد
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada
khutbah yang kedua ini kembali kami mengingatkan untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan marilah kita berusaha menghindari hal-hal yang akan menjauhkan dan mencegah
kita dari menerima ajaran-ajaran Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Ada
beberapa hal yang bisa mencegah seseorang dari mendapatkan hidayah, serta
petunjuk Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Di antaranya adalah kesombongan. Hal ini sebagaimana
terjadi pada Iblis ketika diperintah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk sujud kepada
Nabi Adam
‘alaihissalam, namun karena kesombongannya dia menolak seraya
mengatakan, “Aku lebih
baik dari Adam.” Oleh karena itu, semestinya kita berusaha
menghilangkan sifat ini, yaitu dengan berupaya melembutkan hati agar tunduk
kepada kebenaran. Sungguh terkadang seseorang sangat lembut sikapnya ketika
bergaul dengan orang lain namun sangat keras hatinya untuk menerima kebenaran.
Hadirin
rahimakumullah,
Di
antara perkara yang akan mencegah seseorang dari menerima ajaran Islam adalah
mengikuti hawa nafsu. Yaitu lebih mendahulukan hawa nafsu dari mengikuti
perintah-perintah Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan
di dalam firman-Nya,
فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan
tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya, Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Qashash: 50)
Hadirin
rahimakumullah…..
Di
antara perkara yang juga menghalangi seseorang dari menerima kebenaran adalah
taklid atau fanatik buta terhadap pendapat seseorang ataupun mazhab tertentu
meskipun dia tahu bahwa pendapat tersebut bertentangan dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan Rasul-Nya. Begitu pula fanatik buta terhadap kebiasaan nenek moyangnya, sehingga
dia tidak mau menerima petunjuk Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya karena menyelisihi kebiasaan
masyarakatnya. Yang demikian ini sesungguhnya merupakan sifat dan perbuatan
orang-orang musyirikin dahulu.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَآأَنزَلَ اللهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَآأَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ أَوَلَوْكَانَ ءَابَآؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ
Dan
apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa
yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah
mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
sesuatupun dan tidak mendapat petunjuk? (Al-Baqarah: 170)
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ
إِنَّكَ
حَمِيدٌ
مَجِيدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ
فِي الْعَالَمِينَ
إِنَّكَ
حَمِيدٌ
مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ.
اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمينَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ. اللَّهُمَّ
اجْعَلْ
هَذَا
الْبَلَدَ
آمِنًا مُطْمَئِنًّا
وَسَائِرَ
بِلاَدِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً،
يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ
آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلاَةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلاَيَتَنَا
فِيْ مَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُونَ
وَسَلَامٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ
Penulis:
Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.
Disalin dari kumpulan Khutbah Jumat Majalah Asy-Syariah Edisi 32 disertai
penyuntingan bahasa dan tambahan teks ayat oleh Tim Redaksi KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com