
November
16, 2015
Khutbah
Pertama:
لْحَمْدُ لِلَّهِ؛ أَحْمَدُهُ بِمَحَامِدِهِ الَّتِيْ هُوَ لَهَا أَهْلٌ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ الخَيْرَ كُلَّهُ، لَا أُحْصِي ثَنَاءَ عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ؛ إِلَهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ وَقُيُوْمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ؛ بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ, فَمَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَرَاقِبُوْهُ
فِي السِّرِّ
وَالعَلَانِيَةِ
وَالغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ
مُرَاقَبَةً
مَنْ يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
Kaum
muslimin,
Allah
Ta’ala
mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan.
Nama-nama-Nya sungguh indah dan sifat-sifat-Nya tinggi dan mulia. Dia
menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaan-Nya.
Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya adalah Dia ciptakan segala
sesuatu berpasang-pasangan; diciptakan-Nya sesuatu dengan lawannya, siang
dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.
Seorang
hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepada-Nya dalam kondisi apapun, ia
memohon kepada-Nya kebaikan dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan. Firman
Allah:
يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ [ فاطر / 15 ]
“Hai
manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya
[tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15).
Dialah
Allah Yang dimohon pertolongan-Nya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda.
Firman Allah:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ [ النمل / 62 ]
“Atau
siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS. An-Naml: 62).
Dia-lah
yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]
“Dan
jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang
menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” (QS. Al-An’am: 17).
Allah
memerintahkan para hamba-Nya menyampaikan permohonan hanya kepada-Nya, dan
berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang
tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuri-Nya. Salah satu permohonan/doa
kepada Allah adalah berlindung kepada-Nya dari apapun yang engkau takuti. Itu
merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya
terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati dengan-Nya serta
memurnikan-Nya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepada-Nya. Maka
terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah,
datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ . رواه البخاري
“Barangsiapa
yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku
mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang
telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri
kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah
mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan
pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh
dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta
kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku
niscaya akan Kulindungi.” (HR. Bukhari).
Barangsiapa
yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula
permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepada-Nya. Para
Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kesulitan dan
untuk menolak bala’ dan malapetaka.
Allah
Ta’ala
melarang Nabi Nuh ‘alaihissalam
mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah:
رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]
Nuh
berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari
memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya.”
(QS. Hud: 47).
Nabi
Yusuf ‘alaihissalam
berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya). Firman Allah:
قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ [ يوسف / 23 ]
Yusuf
berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan
aku dengan baik.” (QS. Yusuf: 23).
Saudara-saudara
Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di
antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf, maka ia-pun berdoa:
قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ [ يوسف / 79 ]
Berkata
Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang,
kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat
demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim”. (QS. Yusuf:
79).
Nabi
Musa ‘alaihissalam
ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus
perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah:
قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ [ البقرة / 67 ]
Musa
menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang
dari orang-orang yang jahil”. (QS. Al-Baqarah: 67).
Fir’aun
dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa ‘alaihissalam, maka
Musa-pun berdoa:
إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ]
“Sesungguhnya
aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan
diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.” (QS. Ghafir: 27).
Musa
berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata:
وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ [ الدخان / 20 ]
“Dan
sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu
merajamku.” (QS. Ad-Dukhan: 20).
Istri
Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa:
وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ [ آل عمران / 36 ]
“Dan
aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau
dari gangguan syaitan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran: 36).
Ibnu
Jarir rahimahullah
berkata: “Maka, Allah Ta’ala
mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya
dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk
menggodanya.”
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )
“Tidak
ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir],
maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan
putranya.”
Maryam
‘alaihassalam
ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu
sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung
kepada Allah:
إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً [ مريم / 18 ]
Maryam
berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha
pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam: 18).
Ketika
rahim (ikatan kekerabatan) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari
pemutusan ikatannya seraya berkata:
هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ
“Di
sinilah posisi orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan tali
kekerabatan”. Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah
kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia
terkena murka-Mu dan kemarahan-Mu.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam
segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu
petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang
ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika
masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan,
dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon
perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat
sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah,
beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada
Allah Ta’ala
dari keburukannya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam berlindung kepada Allah Ta’ala
dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya.
Doa beliau:
وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ
“Aku
berlindung kepada-Mu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan
kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri.” (HR.
Ibnu Hibban).
Doa
perlindungan itu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan
mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon
perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen radhiallahu ‘anhuma
seraya berkata :
إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
“Sesungguhnya
leluhur kalian (yaitu Nabi Ibrahim) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan
Ishaq dengan doa ini; Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari
kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa
musibah.” (HR. Bukhari).
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada
Allah Ta’ala,
beliau katakan :
مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ
“Barangsiapa
yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia.” (HR. Abu Dawud).
Kebijakan
Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan
dalam sosok manusia dan jin :
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ]
“Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari
jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian
yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS.
Al-An’am: 112).
Setan
adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala
kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan
dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan
para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa
yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta
bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan
menyesatkannya. Firman Allah :
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ [ النحل / 99 ]
“Sesungguhnya
syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan
bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS. An-Nahl: 99).
Seorang
muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan.
Allah berfirman :
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ [ المؤمنون / 97 ]
Dan
katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan
setan”. (QS. Al-Mukminun : 97).
Allah
perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat
hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang
makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya,
dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan
setan. Firman Allah :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [ الأعراف / 199 ]
“Jadilah
engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta
berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu
godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar
dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 199).
Setan
merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai
amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin
dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat,
setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam :
ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا
“Itu
adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka
berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga
kali.” (HR. Muslim).
Ketika
hendak membaca Alquran, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari
gangguan setan :
فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ [ النحل / 98 ]
“Apabila
kamu membaca Alquran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari
syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98).
Tempat-tempat
buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri
dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ
“Ya
Allah! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para
syaitan.” (Muttafaq ‘alaihi).
Di
waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan
setan.
Abu
Bakar radhiallahu
‘anhu berkata :
يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ
“Ya
Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan
aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda:
“Katakanlah”: “Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha
Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya,
aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung
dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata :
“Ucapkanlah [doa ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak
tidur”. (HR. Abu Dawud).
Setan
mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi
buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ ) رواه مسلم
“Jika
salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah
kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan
setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula.”
(HR. Muslim).
Kemarahan
adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong
seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang
berlindung kepada Allah.
Sulaiman
Bin Shurod berkata :
كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ ”
Pada
suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sedang dua orang lelaki sedang saling
menghujat di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah
mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca
tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim”
niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR. Bukhari).
Setan
tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami
menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya
dapat ditangkis.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
“Apabila
seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah
kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada
kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak
akan terkena bahaya setan selamanya.” (Muttafaq Alaih).
Sampai
binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه
“Apabila
kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah,
sesungguhnya ia sedang melihat setan.” (Muttafaq ‘alaih)
Tujuan
utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :
قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ [ ص / 82 ]
Iblis
berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka
semuanya.” (QS. Shad: 82).
Setan
akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada
keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ ) رواه البخاري
“Setan
mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang
menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia
bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika
telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah
dia menghentikan was-was situ.” (HR. Bukhari).
Menyekutukan
Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka
terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa :
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ [إبراهيم / 35 ]
“Dan
jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”
(QS. Ibrahim : 35).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ
“Ya
Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran, dari kemiskinan, dan dari siksa
kubur.” (HR. Ahmad).
Hati
para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha
Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri
petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam
petunjuk. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي
“Aku
berlindung kepada kemuliaan-Mu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali
Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku.” (HR. Muslim).
Dan
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam juga berlindung dari perpindahan dari
sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.
Kehidupan
manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya
adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk,
maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :
أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ
“Aku
berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang
memegang ubun-ubunnya.” (HR. Muslim).
Nafsu
manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan.
Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan
selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa :
اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي
“Ya
Allah, aku memohon petunjuk kepada-Mu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku
berlindung kepada-Mu dari kejahatan nafsuku.” (HR. Ahmad).
Ibnul-Qayim
rahimahullah
berkata :
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu
secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak
perkara yang buruk dan tercela yang ditimbulkannya”.
Maka,
merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Kami
berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan
kami.” (HR. Turmuzi)
Permohonan
ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan
konsekuensi logisnya.
Kemiskinan
dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang
terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda.
Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan
keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam doanya :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ
“Ya
Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari
kejahatan kekayaan dan kemiskinan.” (HR. Abu Dawud).
Organ-organ
tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah
memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan
disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang
membahayakan.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ
“Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan
pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan
fajiku.” (HR. Turmuzi).
Amal
kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka
hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya
amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah
perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam selalu memohon perlindungan :
أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ
“Aku
berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang aku perbuat.” (Muttafaq
‘alaih).
Barangsiapa
yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ
“Aku
berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang
Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan
tempat itu.” (HR. Muslim).
Dan
al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan
perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu
‘anhu,
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟
“Maukah
aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon
oleh para pemohon perlindungan?”
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ
“Katakanlah
: Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS. Al-Falak : 1)
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ
“Katakanlah
; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS. An-Naas : 1) (HR.
Ahmad).
Dan
kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah)
dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan,
dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain
serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur
terkena.
Terkadang
keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang
mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»
“Ya
Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya
serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari
keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim
dengannya.” (HR. Muslim).
Dan
Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
jika melihat awan datang beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ
“Ya
Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan
ini.” (HR. Muslim).
Barang
siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada
Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau
berdoa ;
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
“Ya
Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku
memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku
berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya.”
(HR. At-Tirmidzi).
Dan
kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada
perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon
perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ
“Ya
Allah aku memohon kepada-Mu dari hilangnya karunia-Mu.” (HR. Muslim).
Dan
Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan
takdir yang buruk.
Dan
jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka
hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah
kebaikan dan kesembuhan.
Utsman
bin Abi al-‘Ash radhiallahu
‘anhu mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata kepadanya :
“Letakkanlah
tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah
“Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :
أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
“Aku
berlindung kepada Allah dan kekusaan-Nya dari keburukan yang aku dapati
sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian.” (HR.
Muslim).
Dan
kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada
Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya
seorang musafir berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ
السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ
الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan)
dan سُوْءِ
الْمُنْقَلَبِ
فِي الْمَالِ
وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan).
(HR. Muslim).
Rasa
aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada
Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap
ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan
dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.
إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Sesungguhnya
orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang
sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan
akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah
perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS. Ghofir : 56).
Allah
menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan
akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan
dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan
amal. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa :
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Ya
Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan
amal yang buruk serta hafwa nafsu.” (HR. At-Tirmidzi).
Dan
beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah
مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا
“dari
ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang
tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim).
Seorang
mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang
menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib
dan membuka sitar. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ
“Berlindunglah
kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena
tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain).” (HR.
An-Nasaai).
Islam
adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana
karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan
dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
“Ya
Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan
kesedihan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dan
fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak
ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata kepada para sahabat :
تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
“Berlindunglah
kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi.”
(HR. Muslim).
Ibnu
Hajar rahimahullah
berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada
Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh
dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja
menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya.”
Dan
fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah
yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum
beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :
مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ
“dari
fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dunia
adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa :
وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا
“Dan
aku berlindung dari fitnah dunia.” (HR. al-Bukhari).
Dan
kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak
tertolak. Dan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam telah berlindung dari buruknya doa orang
yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang
terzolimi. (HR. Muslim).
Barangsiapa
yang mengenal Allah maka ia akan mencintai-Nya dan takut akan siksaan-Nya. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam berdoa dalam sujudnya :
اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Ya
Allah aku berlindung dengan keridoan-Mu dari kemarahan-Mu, dengan
penyelamatan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu, aku
tidak mampu untuk menyanjung-Mu, sesungguhnya hakikat-Mu adalah sebagaimana
Engkau memuji diri-Mu.” (HR. Muslim).
Seorang
mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh
berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut
kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Jika
salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan
dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka
Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan
fitnahnya Dajjal.” (HR. Muslim).
Auf
bin Malik radhiallahu
‘anhu berkata :
قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ
“Aku
sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari
surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti
dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti
dan berlindung kepada Allah.” (HR. An-Nasaai).
Beliau
berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :
تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
“Berlindunglah
kalian kepada Allah dari adzab neraka.” (HR. Muslim).
Barangsiapa
yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah
akan melindunginya dari neraka.
Dan
selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan
hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selain-Nya, tiada yang disembah
selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dari-Nya
kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan
hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah
akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang
sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan
berlindung kepada-Nya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon
perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka
ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan
dan kemuliaannya.
Aku
berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Maka
segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi
peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan
yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang
nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzaariyaat : 50-51).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ البَيَانِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَ أَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
النَّاسُ،
Kaum
muslimin sekalian,
Barangsiapa
yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya,
bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia
bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia
bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan
dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah.
Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan
dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ
“Mereka
mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.
Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu
menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.” (QS. Yaasiin:
74-75).
Allah
berfirman :
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا
“Dan
mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan
itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka
(sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya)
terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi
mereka.” (QS. Maryam: 81-82).
Barangsiapa
yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak
akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya
melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan
bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka
dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jinn : 6).
Orang
yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha
agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَعَاكُمُ
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ فَقَالَ:
﴿ إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ صَلاةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ
عَلِيٍّ,
وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ
فِي أَرْضِ
الشَامِ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
كُنْ لَنَا
وَلَهُمْ
حَافِظاً
وَمُعِيْنًا
وَمُسَدِّداً
وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
حُبَّكَ، وَحُبَّ
مَنْ
يُحِبُّكَ،
وَحُبَّ
العَمَلَ الَّذِيْ
يُقَرِّبُنَا
إِلَى
حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ
زَيِّنَّا
بِزِيْنَةِ
الإِيْمَانِ
وَاجْعَلْنَا
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ ذَاتَ
بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا،
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عباد
الله، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ*
وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)
[النحل:90-91]،
فاذكروا
اللهَ
يذكرْكم،
واشكُروه على
نعمِه
يزِدْكم،
ولذِكْرُ
اللهِ أكبرُ، واللهُ
يعلمُ ما
تصنعون.
Oleh
: Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-Qasim
Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatim
http://firanda.com/
www.KhotbahJumat.com