
July
19, 2014
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِيْ
وَفَّقَ بِرَحْمَتِهِ
مَنْ شَاءَ
مِنْ
عِبَادِهِ،
فَعَرَفُوْا
أَقْدَارَ
مَوَاسِمِ
الْخَيْرَاتِ،
وَعَمَرُوْهَا
بِالْإِكْثَارِ
مِنَ الطَّاعَاتِ،
وَخَذَلَ
مَنَ شَاءَ
بِحِكْمَتِهِ،
فَعُمِيَتْ
مِنْهُمْ
القُلُوْبُ وَالْبَصَائِرُ،
وَفَرَطُوْا
فِي تِلْكَ المَوَاسِمِ،
فَبَاءُوْا
بِالْخَسَائِرِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ اللهَ
لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
اَلْعَزِيْزُ
الْحَكِيْمُ
اَلْقَاهَّرُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَقْوَمَ
النَّاسِ بِطَاعَةِ
رَبِّهِ فِي
البَوَاطِنِ
وَالظَّوَاهِرِ،
فَصَلَّى
اللهُ
وَبَارَكَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْراً.
أَمَّا
بَعْدُ،
أَيُّهَا
النَّاسُ:
Kaumu
muslimin rahimakumullah,
Bertakwalah
kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala,
Dialah Yang Maha Pengampun. Allah Jalla
wa ‘Ala menjadikan siang dan malam beriringan saling berganti
bagi mereka yang mau mengingat dan bersyukur. Di kedua waktu itulah terdapat
perbendaharaan beramal dan perjalanan ajal. Manusia mengisinya dengan
amalan-amalan mereka di waktu-waktu tersebut. Mereka akan mendapati hasil dari
amalan mereka kebaikan atau kejelekan.
يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ
“Pada
hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang
dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun
dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 13-15).
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Kita
telah melewati sebagian besar dari hari-hari Ramadhan kita. sekarang kita telah
memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa di antara kita yang mampu
menunaikan hari-hari tersebut sesuai dengan keagungannya, maka tunaikanlah
dengan sempurna. Pujilah Allah karena bertemu dengannya. Mintalah kepada-Nya
agar menerima amalan di dalamnya.
Adapun
bagi mereka yang menyia-nyiakannya, maka bertaubatlah kepada Allah. Karena
pintu taubat itu terbuka. Hindarilah bermalas-malasan dan kemaksiatan sebelum
datang dimana betis-betis terhimpit, ruh telah sampai di tenggorokan, dan
sebelum jasad berserah menuju kubur. Allah Ta’ala
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَار
“Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
(taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai..” (QS. At-Tahrim: 8).
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Kita
telah sampai pada 10 hari terakhir Ramadhan. Hari-hari yang begitu baik, penuh
keberkahan, dan keutamaan. Isilah dengan ketaatan kepada Allah, Tuhan Yang Maha
Agung. Berpuasalah dengan sebaik-baik puasa di hari-hari tersebut. Binarkan
malam-malamnya dengan cahaya shalat. Makmurkan siang dan malamnya dengan
membaca Alquran, istighfar, dzikir, dan doa. Betapa banyak orang yang
dianugerahi menjumpai 10 hari terakhir, namun mereka tidak mendapati apapun.
Tidak ada tambahan amal ketaatan dan taubat, yang ada hanya kesia-siaan dan
kemalasan. Dan kita sekaranga telah mendapatkannya dalam keadaan sehat, kuat,
dan memiliki kemampuan.
Kaum
muslimin rahimakumllah,
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam sangat memuliakan 10 hari terakhir Ramadhan. Beliau
benar-benar member perhatian yang mendalam apabila masa itu tiba dengan
bersungguh-sungguh dan memperbanyak ibadah di dalamnya. Beliau khususkan
saat-saat tersebut untuk beri’tikaf di masjid, menyendiri beribadah dan
bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beliau bersemangat mengisi malam lailatul qadr yang sanga agung kedudukannya.
Allah Ta’ala
berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Malam
kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS.
Al-Qadr: 3-5).
Maknya
adalah malam tersebut lebih baik dari pada kurang lebih 30.000 malam. Lebih
baik dalam keberkahan, ganjaran pahala, rahmat, ampunan, pengkabulan doa, dan
diterimanya amal.
Oleh
karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam mengisinya, bersemangat di
kesepuluh hari tersebut. Hidupkan malamnya dengan shalat, dzikir, dan doa. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa
yang shalat di malam lailatul qadr karena keimanan dan berharap pahala, maka
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Apabila
masuk sepuluh hari terakhir, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh. Beliau hidupkan
malam-malamnya dengan ibadah kepada Rabbnya. Beliau melakukan kesungguhan yang
sangat tersebut padahal telah diampuni segala dosa dan kesalahannya yang lalu
maupun yang akan datang. Beliau melakukan hal itu, dan beliau lah orang yang
paling bertakwa dan takut kepada Allah. Lalu bagaimana keadaannya dengan kita?
yang banyak kekurangan dan banyak berdosa.
Karena
itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam menjemput malam yang penuh
kemuliaan tersebut. Mengisi malam-malam tersebut, menjemput keberkahan dan
kebaikannya dengan menjaga shalat-shalat yang diwajibkan, memperbanyak shalat,
bersedekah, menjaga puasa dari hal-hal yang mengurangi pahalanya, mengerjakan
banyak ketaatan, menjauhi perbuatan dosa, menjauhi permusuhan, saling benci,
dan dendam. Karena dendam adalah salah satu sebab seseorang diharamkan dari
mendapatkan keutamaan lailatul qadr.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam suatu hari keluar dari rumahnya untuk mengabarkan kepada
sahabatnya tentang lailatul qadr. Lalu ada dua orang laki-laki muslim yang
terlibat cekcok dan perselisihan, lalu keberkahan tersebut terangkat (sirna).
Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ
“Aku
keluar untuk mengabarkan kepada kalian (kapan terjadinya) lailatul qadr lalu si
Fulan dan Fulan berselisih? Sudah diangkat, dan mudah-mudahan hal itu lebih
baik untuk kalian.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ مِنَ الآيَاتِ وَالأَحَادِيْثِ وَالوَعْظِ وَالتَذْكِيْرِ، وَنَفَعْنَا بِهِ، وَأَسْتَغْفِرُهُ تَعَالَى لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِيْ
جَعَلَ مَوَاسِمَ
الْخَيْرَاتِ
نَزَلاً
لِعِبَادِهِ
الأَبْرَارِ،
وَهَيَّأَ
لَهُمْ مِنْ
أَصْنَافِ
نِعَمِهِ
وَكَرِمِهِ
كُلِّ خَيْرٍ
غَزِيْرٍ
مِدْرَارٍ،
وَجَعَلَهَا
تَتَكَرَّرَ
كُلَّ عَامٍ
لِيُوَالِي
عَلَى
عِبَادِهِ
اَلْفَضْلُ
وَيُحِطُ
عَنْهُمْ
اَلذُّنُوْبَ
وَالأَوْزَارَ،
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى
عَبْدِهِ
وَرَسُوْلِهِ
مُحَمَّدٍ
المُصْطَفَى
المُخْتَارِ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
البَرَرَةِ الأَطْهَارِ.
أَمَّا
بَعْدُ،:
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman,
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.
At-Tahrim: 6).
Amalkanlah
apa yang telah diajarkan Allah kepada kita. bersungguh-sungguhlah dalam menjaga
diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Ketahui dan kajilah jalan-jalan
yang bisa melindungi kita dari neraka. Pelajari hal-hal yang bisa mengangkat
derajat kita di surga. Bersemangatlah dalam mengisi musim-musim kebaikan ini.
Perbanyak amalan ketaatan di dalamnya, terutama di sepuluh terakhir bulan
Ramadhan ini.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam memperhatikan keluarganya agar menghidupkan sepuluh hari
terakhir Ramadhan. Dari Aishyah radhiallahu
‘anha, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam, apabila masuk sepuluh terakhir ramadhan, beliau
menghidupkan malamnya dengan ibadah, beliau membangunkan para istrinya,
bersungguh-sungguh ibadah dan mengencangkan ikatan sarungnya. (HR. Muslim).
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Mari
kita tekadkan untuk menepikan semua kesibukan di waktu yang penuh berkah ini,
terutama di malam-malam ganjil, yang kita harapkan malam itu adalah malam
lailatul qadr. Kita sibukkan diri kita dengan menghadapkannya dengan ketaatan
kepada Rabb kita Yang Maha Agung. Kita perbanyak doa, istighfar, meminta
ampunan dan keridhaan-Nya dengan ikhlas, tertunduk, dan penuh dengan
penghayatan. Mudah-mudahan Allah memberkahi waktu kita, memperbaiki keadaan
kita, menambah ketaatan kita, menjadikan kita orang yang berbahagia di akhirat,
orang yang tidak ada ketakutan dan kesedihan.
هذا وقد ثبت عن أم المؤمنين عائشة – رضي الله عنها – أنها قالت: (( يَا نَبِيَّ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ؟ قَالَ: تَقُولِينَ: اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي )).
Dari
Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu
‘anha, ia bertanya kepada Nabi,
يَا نَبِيَّ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ؟ قَالَ: تَقُولِينَ: اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي
“Wahai
Nabi Allah, doa apakah yang harus aku baca jika aku mendapati lailatul
qadr?” Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Engkau
mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Allahumma
innaka ‘Afuwwun tuhibbul’afwa fa’fu anni.”
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi mencintai
pemaafan, maka maafkanlah aku”.”
Ya
Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi mencintai pemaafan, maka maafkanlah
kami. Ya Allah, berilah kami taufik untuk berdoa kepa-Mu di siang dan malam
hari, kemudian karuniakanlah ijabah dari doa-doa tersebut.
Ya
Allah, kabulkanlah doa kami dan terimalah ibadah kami. Maafkanlah kekurangan
dan kesalahan kami. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan juga kedua orang tua
kami, serta seluruh kaum muslimin, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
Ya Allah,
terimalah puasa kami. Jadikanlah puasa tersebut amalan yang penuh keimanan dan
berharap pahala dari-Mu sehingga Kami termasuk orang-orang yang Engkau ampuni
kesalahan-kesalahan yang telah lalu.
Ya,
Allah berkahilah umur kami. Amalan kami, waktu kami, dan keluarga kami.
Ya
Allah, angkatlah musibah yang menimpa kaum muslimin, baik berupa bala’,
bencana, kemiskinan, terusir dari kampungnya, kelemahan dan kekurangan,
membunuh atau terbunuh, serta ketakutan.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Qadir al-Junaid
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com