
October
17, 2011
KHUTBAH
PERTAMA
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيباً
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً
أَمَّا
بَعْدُ،
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللَّهِ،
وَخَيْرُ
الْهُدَى
هُدَى
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرُّ
الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ
Jamaah
Jumat rahimakumullah…
Mari
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ta’ala
dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang
diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu
’alaihi wa sallam, serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya
dan Rasul-Nya shallallahu
’alaihi wa sallam.
Jamaah
Jumat yang semoga dimuliakan Allah…
Beberapa
pekan lagi kita akan merayakan Idhul Adha. Banyak di antara kaum muslimin yang
mampu berlomba-lomba untuk berkurban. Di sisi lain orang-orang miskin
bersukacita karena akan menyantap daging yang mungkin hanya sekali dalam
setahun hal itu mereka alami.
Fenomena
tumbuh suburnya kesadaran dalam diri kaum muslimin untuk berkurban tentunya
merupakan suatu hal yang membahagiakan kita semua. Namun akan lebih
menggembirakan lagi apabila jiwa pengorbanan
tersebut dimaknai dengan benar dan ditumbuhkembangkan di setiap lini kehidupan.
Sebab,
“pengorbanan
di masa sekarang dipraktikkan dengan amat memilukan. Setiap lima tahunan, dalam
suasana hajat politik bernama pemilu, hampir niscaya kita disuguhi drama
berdarah berupa pertikaian fisik antarpendukung partai. Di luar itu juga ada
tradisi perang antarsuporter sepakbola, masih lestarinya tawuran antarsiswa
atau antargeng dan lain-lain. Masih segar pula dalam ingatan kita, pernah ada
pasukan berani mati yang dibentuk untuk membela tokoh tertentu. Juga ada cap
jempol darah hanya sekadar demi unjuk kesetiaan terhadap tokoh politik. Mereka
yang tersebut di atas benar-benar siap mengorbankan apa saja termasuk menyabung
nyawa demi membela harga diri partai, klub sepakbola, sekolah dan figur
tertentu”.
Pertanyaan
sederhana yang perlu dilontarkan, benarkah itu makna pengorbanan yang dinginkan
Islam? Apakah itu tidak menyimpang dari rel pengorbanan yang telah digariskan
Alquran dan Sunnah. Kemudian, menempati urutan nomor ke berapakah pengorbanan
untuk agama?
Kaum
muslimin dan muslimat yang kami hormati
Tidak
ada salahnya kita membuka lembaran sejarah untuk melihat bagaimana para sahabat
Rasul shallallahu
’alaihi wa sallam memaknai pengorbanan dan mengejawantahkan
hal itu dalam kehidupan riil mereka.
Pada
suatu siang di awal bulan Syawal tahun 3 Hijriyah di sekitar Gunung Uhud,
manakala pasukan kaum muslimin terdesak dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam
terperosok ke dalam lubang perangkap yang digali musuh, kaum musyrikin
berbondong-bondong menyerbu beliau shallallahu
’alaihi wa sallam. Para sahabat yang bersama beliau, yang
jumlah mereka saat itu amat sedikit, sadar betul bahaya besar yang sedang
mengancam nyawa Rasul shallallahu
’alaihi wa sallam. Mereka pun segera menjadikan tubuh benteng
hidup untuk melindungi jiwa sang kekasih shallallahu
’alaihi wa sallam dari serbuan ganas kaum musyrikin. Tujuan
utama satu-satunya adalah bagaimana cara menyelamatkan kehidupan sang Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam
yang saat itu amat terancam. Dan tidak ada di dalam lembaran sejarah peperangan
beliau shallallahu
’alaihi wa sallam manapun kondisi sebahaya saat itu.
Pasukan
berkuda dan tentara kaum musyrikin dengan beringasnya dan dengan penuh nafsu
berusaha merangsek maju ke depan untuk menghabisi nyawa musuh terbesar mereka
Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam.
Di
saat itulah panglima besar kaum muslimin Muhammad bin Abdullah shallallahu ’alaihi wa sallam
menunjukkan kekuatan dan kehebatannya. Dengan penuh keberanian bagaikan singa
beliau shallallahu
’alaihi wa sallam menghadang serbuan buas kaum musyrikin.
Beliau dibantu beberapa orang sahabatnya yang melindungi beliau bagaikan
tegarnya karang yang amat keras dan kokoh di tengah benturan badai ombak
lautan.
Mereka
sudah tidak memperdulikan lagi keselamatan jiwa sendiri. Yang ada di benak
adalah: bagaimana caranya agar tangan-tangan kotor musuh-musuh Allah tidak lagi
menyentuh tubuh Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam.
Saat
itu para sahabat habis-habisan menunjukkan pembelaan dan pengorbanan mereka,
yang hal itu tidak pernah terjadi di dalam sejarah peperangan manapun di dunia
ini.
Mereka
semakin rapat membuat benteng hidup dengan tubuh, setiap ada celah di benteng
itu karena gugurnya salah seorang dari mereka, yang dihujani sabetan pedang
atau tikaman tombak orang kafir, saat itu juga celah tersebut segera ditutup
oleh sahabat yang lain. Demikian kejadian tersebut berulang kali, dengan penuh
ketegaran, mereka menjadikan tubuh sebagai pagar hidup yang melindungi sang
kekasih; Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam. Hingga saat itu tidak ada seorangpun di
antara kaum musyrikin yang bisa menyentuh jasad Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
sedikitpun!.
Jamaah
Jumat yang dirahmati Allah…
Mungkin
ada di antara kita yang bertanya dan berujar, “Para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengorbankan
diri mereka untuk melindungi nyawa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Bagaimana
dengan kita yang hidup sekian belas abad sesudah wafatnya Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam, dengan
apakah kita mengapresiasikan pengorbanan untuk agama?”
Allah
ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ، وَاللهُ رَؤُوْفٌ بِالْعِبَادِ
Artinya:
“Di antara manusia ada
orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha
Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. QS. Al-Baqarah: 207.
Pengorbanan
yang hakiki adalah pengorbanan yang tulus untuk mencari ridha Allah. Dan itu
tentunya amat beragam, salah satu bentuk terbesarnya: berkorban untuk membela akidah dan
sunnah yang diwariskan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Adalah
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah,
seorang ulama besar Islam di abad ketiga hijriah, mencontohkan pada kita
ketegaran pengorbanan dalam membela akidah Islam.
Dikisahkan
bahwa semasa hidupnya, selama kurang lebih 34 tahun, beliau mengalami masa
muncul dan tersebarnya doktrin Alquran adalah makhluk; sebuah ideologi kufur
yang diusung oleh sekte Mu’tazilah dan diamini secara berturut-turut oleh
tiga penguasa saat itu; al-Ma’mûn, al-Mu’tashim dan
al-Wâtsiq.
Selama
puluhan tahun beliau tetap tegar mempertahankan akidah yang benar yang
menyatakan bahwa Alquran adalah Kalamullah
bukan makhluk. Selama itu pula beliau diintimidasi, diancam, bahkan dipenjara
akibat membela akidah yang benar.
Puncaknya,
setelah gagal memaksa beliau untuk menganut doktrin sesat tersebut, dan
berkali-kali mereka dipermalukan akibat kalah beradu argumentasi dengan beliau,
akhirnya mereka menempuh jalan kekerasan fisik.
Imam
Ahmad diseret ke bawah teriknya sinar matahari, lalu dihadirkan para algojo
ahli cambuk. Tatkala penguasa melihat cambuk-cambuk yang akan digunakan sudah
lama, diapun memerintahkan untuk didatangkan cambuk-cambuk yang masih baru.
Dimulailah
deraan cambuk pertama, lisan Imam Ahmad menimpalinya dengan dzikrullah. Cambukan
kedua, ketiga, keempat, tetap beliau balas dengan lantunan Asma’-asma’
Allah. Ketika sampai pada cambukan yang kesembilan belas, al-Mu’tashim
bangkit dari tempat duduknya berjalan mendekati Imam Ahmad dan berkata,
“Wahai Ahmad, apakah rasa sakit telah mematikan jwamu? Harus dengan apa
kamu ingin mengakhiri hidupmu? Apakah engkau ingin mengalahkan mereka
semua?”
Sementara
suara ahlul bid’ah sahut-menyahut mengompori penguasa, “Wahai
khalifah, bunuh saja dia, bunuh saja dia!”
Al-Mu’tashim
melanjutkan, “Kasihanilah dirimu dan ikutlah denganku! Sesungguhnya
manakala kau mengikutiku, gelar imam akan tetap kau sandang!?”
Imam
Ahmad menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, berikanlah padaku dalil dari
Alquran dan hadits Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam yang membenarkan ideologi yang paduka anut,
saat itulah aku akan mengatakan apa yang paduka katakan!”
Al-Mu’tashim
pun kembali lagi ke singgasananya dan memerintahkan untuk memperkeras cambukan,
sementara darah turus mengucur deras dari tubuhnya, hingga akhirnya Imam Ahmad
tidak sadarkan diri.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
KHUTBAH
KEDUA
الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار
Jamaah
Jumat rahimakumullah…
Itulah
potret pengorbanan yang hakiki; pengorbanan untuk membela akidah Islam dan
sunnah Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam.
Jika
di zaman ini, manakala akidah Islam dinodai dengan doktrin-doktrin kekufuran
serta kesyirikan dan sunnah Rasul shallallahu
’alaihi wa sallam dikotori dengan bid’ah juga khurafat,
lalu masih banyak di antara kaum muslimin yang adem ayem saja tanpa merasa terusik
sedikitpun, itu menunjukkan bahwa jiwa pengorbanan mereka perlu dipertanyakan
dan ketajaman iman mereka masih perlu diasah.
Wajib
hukumnya bagi kita semua untuk membela agama Allah sesuai dengan kapasitas dan
kemampuan masing-masing dengan cara yang bijak, hikmah dan elegan, sesuai
dengan norma-norma yang digariskan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam.
Semoga
khutbah singkat ini bisa menginspirasi kita semua dan kaum muslimin untuk
meluruskan pemahaman akan makna pengorbanan, serta membumikannya dalam
kehidupan kita sehari-hari. Amin
ya rabbal ‘alamin.
ألا
وصلوا وسلموا
-رحمكم الله-
على الهادي
البشير،
والسراج
المنير، كما
أمركم بذلك
اللطيف
الخبير؛ فقال
في محكم
التنـزيل:
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اللهم صل على
محمد وعلى آل
محمد كما صليت
على إبراهيم
وعلى آل
إبراهيم إنك
حميد مجيد,
اللهم بارك
على محمد وعلى
آل محمد كما
باركت على إبراهيم
وعلى آل
إبراهيم إنك
حميد مجيد
ربنا ظلمنا أنفسنا
وإن لم تغفر
لنا وترحمنا
لنكونن من
الخاسرين
ربنا اغفر لنا
ولإخواننا
الذين سبقونا
بالإيمان ولا
تجعل في
قلوبنا غلا
للذين آمنوا
ربنا إنك رؤوف
رحيم
ربنا لا تزغ
قلوبنا بعد إذ
هديتنا وهب
لنا من لدنك
رحمة إنك أنت
الوهاب
ربنا آتنا في
الدنيا حسنة
وفي الآخرة
حسنة وقنا
عذاب النار
وصلى الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه ومن تبعهم
بإحسان إلى
يوم الدين
وآخر دعوانا
أن الحمد لله
رب العالمين.
أقيموا
الصلاة
Penulis:
Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.
Khutbah Jumat di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 16 Dzulqa’dah
1432 / 14 Oktober 2011Ditulis di Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh
Purbalingga, 13 Dzulhijjah 1431 / 19 November 2010. Khutbah ini pernah kami
sampaikan di Masjid Agung Purbalingga pada tanggal 13 Dzulhijjah 1431 / 19
November 2010
Daftar Pustaka: