
March
27, 2016
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ تَعَالَى
وَمُرَاقَبَتِهِ
فِي السِّرِّ
وَالعَلَانِيَةِ.
Ibadallah,
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
telah menyempurnakan ajaran Islam dan menjadikan umat Islam sebagai umat
terbaik yang akan menjadi saksi atas umat yang lain, seperti dijelaskan dalam
firman Allah Azza wa Jalla.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
“Dan
demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil
(terbaik) dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar
Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”
(Al-Baqarah/2:143).
Dari
kalimat ummatan wasathan (umat yang adil atau pertengahan) tampak jelas bahwa
umat Islam dilarang melampaui batasan yang telah ditetapkan syariat, baik dalam
keyakinan maupun amalan. Sikap melampaui batas tidak akan membuahkan hasil yang
baik dalam semua urusan, apalagi dalam urusan agama. Bahkan syariat melarang
sikap ini dalam beberapa ayat Alquran, diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
“Wahai
ahli Kitab, janganlah kalian bertindak melewati batas (ghuluw) dalam agama
kalian.” (An-Nisa’/4: 171)
Al-Hafidz
Ibnu Katsir rahimahullah
mengatakan dalam kitab Tafsirnya, “Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ahlul
kitab melampaui batas dalam beragama. Ini banyak dilakukan oleh kaum Nashara
karena mereka melampaui batas dalam kewajiban mengimani Nabi Isa ‘alaihissalam
sampai-sampai mereka mengangkatnya melebihi kedudukan yang berikan kepadanya ‘alaihissalam. Mereka
memindahkannya dari derajat kenabian menjadi tuhan selain Allah Azza wa Jalla. Mereka
menyembahnya sebagaimana mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan mereka juga
melampaui batas dalam menyikapi para pengikut Nabi Isa ‘alalihissallam yang
dianggap masih berada di atas ajaran Nabi Isa ‘alaihissalam. Mereka meyakini para
pengikut beliau ‘alaihissallam
itu ma’sum dan lalu mereka mengikuti setiap apa yang mereka katakan, baik
perkataan mereka itu haq maupun batil, sesat maupun petunjuk, benar maupun
dusta. Oleh karena itu, Allah Azza
wa Jalla berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ
“Mereka
menjadikan orang-orang alimnya dan para rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah
dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam,
(At-Taubah/9:31)”.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّيْنِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِى الدِّيْنِ
“Hindarilah
oleh kalian tindakan melampaui batas (ghuluw)
dalam beragama sebab sungguh ghuluw dalam beragama telah menghancurkan orang
sebelum kalian.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).
Diantara
bentuk sikap melampaui batas adalah bersikap radikal dengan segala bentuknya
yang menyelisihi syariat. Dalam bahasa Arab kata (الْغُلُوّ) yang berarti radikal, kekerasan dan
kekakuan kembali kepada sebuah kalimat yang bermakna sesuatu yang
berlebih-lebihan dan melampaui batas dan ukuran. Sebagaimana yang dikatakan
ibnu Faris rahimahullah
dalam kitabnya Mu’jam maqayis Lughah.
Berlebih-lebihan
dalam agama adalah dengan melakukan sesuatu yang melampaui batas dengan
kekerasan dan kekakuan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Manzhur rahimahullah dalam kitab
Lisanul Arab.
Dengan
demikian kita tidak bisa menyempitkan makna radikalisme hanya sebatas tindakan
yang terkait aksi terorisme. Radikalisme juga adalah orang-orang yang melakukan
amalan berlebihan yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
رَزَقَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ التَأَدُّبَ بِآدَابِ الإِسْلَامِ وَالتَمَسَّكَ بِآدَابِ الشَرِيْعَةِ، وَنَسْأَلُهُ جَلَّتْ قُدْرَتُهُ أَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمْ أَحْسَنَ الأَخْلَاقِ وَالآدَابِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا هُوَ، وَأَنْ يَصْرِفَ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا هُوَ، وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
فَوَصِيَتِي
لِنَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا،
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى
اللهُ
وَقَاهُ
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Radikalisme
dalam sejarah terjadi tidak hanya pada umat Islam, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
memperingatkan ahli kitab akan sikap melampaui batas ini, sebelum umat Islam.
Sejarahpun mencatat banyak tindakan-tindakan radikal dilakukan selain umat
Islam baik dizaman dahulu hingga sekarang. Namun mengapa hanya umat Islam saja
yang disudutkan?
Ironisnya
banyak orang Islam ikut-ikutan bicara radikalisme tanpa dasar dan ilmu yang
membuat semakin keruh dan rusak serta tidak memberikan solusi sama sekali.
Tidak
dipungkiri, radikalisme memiliki multi sebab, mulai dari pemahaman yang
parsial, salah memahami ajaran Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tanpa merujuk kepada pemahaman yang benar
yang telah difahami oleh as-salaf ash-shalih termasuk juga masalah politik
berupa penindasan dan penjajahan menjadi pemicu tindakan radikal. Semua
sebab-sebab ini membuahkan hasil yang sangat berbahaya bagi kemajuan peradaban
manusia dan kesejahteraan mereka di dunia.
Tentunya
hal ini menuntut setiap kita untuk berusaha mencegah dan menghilangkannya. Oleh
karena itu sangat diperlukan upaya yang maksimal untuk merujuk pemahaman
as-salaf ash-shalih dalam memahami agama dan menjalankan metode pemahaman
mereka dalam mengamalkan ajaran-ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Semoga
Allah Subhanahu wa
Ta’ala memberikan petunjuk dan taufiqNya kepada kaum Muslimin
seluruhnya agar berjalan dan beramal dengan dasar Alquran dan Sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan benar.
وَصَلُّوْا رَحِمَكُمُ اللهُ عَلَى إِمَامِ المُتَّقِيْنَ وَخَيْرِ عِبَادِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ : ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) ، وَجَاءَ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ اَلحَثُّ مِنَ الإِكْثَارِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ فِي لَيْلَةِ الجُمْعَةِ وَيَوْمِهَا .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَعِبَادَكَ
المُؤْمِنِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُجَاهِدِيْنَ
فِي سَبِيْلِكَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْهُمْ
نَصْراً
مُؤْزِرًا،
اَللَّهُمَّ
أَيِّدْهُمْ
بَتَأْيِيْدِكَ
وَاحْفَظْهُمْ
بِحِفْظِكَ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ
يَا ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
عَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
مَزِّقْهُمْ
شَرَّ مُمَزَّقٍ،
اَللَّهُمَّ
خَالِفْ
بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ
وَشَتِّتْ
شَمْلَهُمْ
وَأَلِّقِ الرُعْبِ
فِي
قُلُوْبِهِمْ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ
يَا ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
وَاجْعَلْ
عَلَيْهِمْ
دَائِرَةَ
السُوْءِ يَا
ذَا
الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى،
وَأَعِنْهُ
عَلَى
البِرِّ
وَالتَّقْوَى،
وَسَدِدْهُ
فِي
أَعْمَالِهِ
وَأَقْوَالِهِ
وَأَلْبِسْهُ
ثَوْبَ
الصِحَّةَ
وَالعَافِيَةَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّي اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَاجْعَلْهُمْ
رَحْمَةً
عَلَى
عِبَادِكَ
المُؤْمِنِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذَنْبَنَا
كُلَّهُ
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا مَا قَدَّمْنَا
وَمَا
أَخَّرْنَا
وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا
أَعْلَنَّا
وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ
بِهِ مِنَّا،
أَنْتَ
المُقَدِّمُ
وَأَنْتَ
المُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ،
وَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
وَبَارِكْ
وَأَنْعِمْ
عَلَى
عَبْدِهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com