
July
15, 2014
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
أَرْسَلَهُ
بَيْنَ
يَدَيَّ
السَّاعَةِ
بِالْحَقِّ
لِيَكُوْنَ
رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ،
وَهِدَايَةً
لِلْغَاوِيْنَ،
وَحُجَّةً
عَلَى
المُعَانِدِيْنَ،
فَصَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
وَبَارَكَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِ
بَيْتِهِ
وَأَصْحَابِهِ
المَيَامِيْنِ،
وَعَلى
المُقْتَدِيْنَ
بِهِ وَبِهِمْ
إِلَى يَوْمِ
الجَزَاءِ
وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا
بَعْدُ،:
Bertakwalah
kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, karena
takwa kepada Allah adalah jalan menuju petunjuk, sedangkan menyelisihinya
adalah jalan kesengsaraan.
Kaum
muslimin sekalian :
Waktu
adalah kesempatan untuk memakmurkan akhirat dan membangun kebahagiaan, atau sebaliknya
waktu dapat digunakan untuk menghancurkan akhirat dan kesengsaraan yang
panjang, karena mulianya waktu maka Allah bersumpah dengan bagian-bagiannya,
bahkan Allah bersumpah dengan waktu semuanya; malam juga siangnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :
(وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (1) وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى)
“Demi
malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang
benderang.” (QS.Al-lail: 1-2).
Dan
dengan berlalunya siang dan malam terdapat peringatan dan pelajaran bagi
orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala
berfirman :
(وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا)
“Dan
Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin
mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan:
62).
Nabi
kita Muhammad sallallahu
‘alaihi wa sallam seluruh hidupnya adalah untuk Allah, Allah
berkata kepadanya :
(قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)
Katakanlah
wahai Muhammad: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-An’am: 162).
Allah
juga memuji para sahabat dengan firman-Nya :
(تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ)
“Kamu
lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya,
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS.
Al-Fath: 29).
Diantara
wasiat Abu bakar kepada Umar -semoga Allah meridhoi keduanya- : sesungguhnya
Allah mempunyai amalan siang yang tidak Dia terima pada malam hari, dan amalan
malam yang tidak Dia terima pada siang hari. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu
berkata : saya tidak lebih menyesal dari sesuatu melebihi penyesalanku atas
satu hari, tenggelamnya matahari, yang berkurang dengannya ajalku dan
tidak bertambah padanya amalanku. Dahulu para salaf radhiallahu ‘anhum sangat memanfaatkan
detik-detik umur mereka, mereka memenuhi waktu dengan hal-hal yang membuat Rabb
mereka ridho, berkata Hasan al-Basri rahimahullah,
“Saya mendapati kaum yang mereka lebih perhatian menjaga waktu mereka
dari pada perhatian kalian menjaga dirham dan dinar kalian”.
Dan
tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya
tentang empat perkara, diantaranya : tentang umurnya untuk apa ia habiskan.
(HR.Tirmidzi). dan panjangnya umur yang disertai dengan amal yang baik
merupakan nikmat Allah yang agung, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
sebaik-baik manusia adalah : yang panjang umurnya dan baik amalannya.
(HR.tirmidzi).
Hari-hari
sangatlah terbatas, jika telah berlalu satu hari maka berkuranglah umurmu, dan
berlalunya sebagian merupakan tanda akan berlalunya semuanya, dan seorang hamba
sejak tertancap kakinya di atas muka bumi ini berarti ia sedang berjalan menuju
Rabbnya, dan jarak perjalanannya ialah umurnya yang telah ditulis untuknya.
Dan
yang beruntung dari hamba-hamba Allah adalah yang memanfaatkan waktunya dengan
sesuatu yang bermanfaat, dan yang tertipu adalah yang menyia-nyiakan waktunya,
Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua nikmat yang orang
banyak tertipu pada keduanya –yaitu : lalai pada keduanya-: kesehatan dan
waktu luang. (HR.Bukhari). Ibnu Batthol rahimahullah
berkata: “Yang diberi taufik untuknya. Yaitu untuk memanfaatkan nikmat
kesehatan dan waktu luang sangat sedikit”. Ibnu Qayyim berkata,
“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian; karena
menyia-nyiakan waktu memutuskan seseorang dari Allah dan hari akhirat,
sedangkan kematian hanyalah memutuskan sesorang dari dunia dan
penduduknya”. Dan barang siapa yang menyia-nyiakan waktunya maka ia akan
menyesali setiap detik darinya, dan siapa yang berlalu darinya sehari dari
umurnya tanpa ada hak yang ia tunaikan, dan kewajiban yang ia laksanakan, atau
ilmu yang ia dapatkan berarti ia telah durhaka terhadap harinya dan ia telah
menyia-nyiakan umurnya .
Orang
yang cerdas adalah orang yang menyibukkan waktunya dengan hal yang diridhoi
oleh Rabbnya, dan jika ia telah selesai melakukan suatu amalan ia segera
mengerjakan amalan yang lain, Allah Ta’ala
berfirman:
(فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ)
“Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS.As-Syarh : 7).
Ibnu
katsir mengatakan, maksudnya : jika kamu telah selesai dari urusan dunia dan
kesibukannya dan engkau telah memutuskan segala hal yang berkaitan dengannya,
maka bersungguh-sungguhlah menuju ibadah kepada Allah dan berdirilah kepadanya
dalam keadaan bersemangat, dan pikiran yang kosong dari hal dunia dan
ikhlaskanlah niat dan harapanmu kepada Tuhanmu.
Dan
diantara cara yang paling baik untuk mengisi waktu dan mengangkat derajat
seseorang adalah dengan menghafal Alquran, mengulanginya, serta
mentadabburinya, karena ia adalah perbendaharaan yang mahal dan perniagaan yang
menguntungkan, Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
أفلا يغدو أحدكم إلى المسجد فيعلم، أو يقرأ آيتين من كتاب الله عز وجل، خير له من ناقتين، وثلاث خير له من ثلاث، وأربع خير له من أربع، ومن أعدادهن من الإبل
“Tidakkah
pergi seseorang diantara kalian ke mesjid sehingga ia mempelajari, atau membaca
dua ayat dari kitabullah ‘Azza
wa Jalla, lebih baik baginya dari dua ekor unta betina, dan tiga
ayat lebih baik baginya dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik baginya
dari empat ekor unta, dan lebih dari empat ayat lebih baik dari jumlahnya dari
unta. (HR.Muslim).
Maka
barang siapa yang dapat menghafal Alquran maka ia akan mulia, siapa yang
membacanya akan terangkat, siapa yang dekat dengannya akan agung kedudukannya ,
dan kedudukan seorang hamba di surga adalah pada ayat terakhir yang ia baca,
dan di zaman fitnah dan terbukanya pintu syubhat dan syahwat maka
berpegang teguh dengan kitabullah menjadi lebih harus dan mendekat dengannya
semakin wajib.
Juga
membekali diri dengan ilmu syar’i dengan cara menghadiri majlis-majlis
dzikir dan hafalan hadit-hadits Nabi serta matan-matan ilmu syariah
merupakan ketinggian derajat bagi seorang muslim Allah Ta’ala berfirman :
(يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ)
“Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara Kalian dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS.
Al-Mujadilah: 11).
Imam
Malik rahimahullah
berkata, “Sebaik-baik amalan sunnah adalah menuntut ilmu dan
mengajarkannya”, dan dengan ilmu akan bersinar martabat seseorang
sekalipun ia telah meninggal.
Juga
mendakwahkan agama adalah jalannya para Rasul dan orang-orang saleh, Allah Ta’ala berfirman:
(قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ)
Katakanlah:
“Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik. (QS.Yusuf : 108).
Ia
adalah pintu kebaikan dan keberkahan karena “Jika Allah memberi petunjuk
disebabkan olehmu seorang laki-laki itu lebih baik dari onta merah”
(Muttafaq ‘alaihi).
Juga
berbakti kepada kedua orang tua, dan menemaninya merupakan kebahagiaan, serta
dekat dengan keduanya merupakan ketenangan dan taufik, Allah berfirman tentang
Nabi Isa ‘alaihissalam
:
(وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا )
“Dan
berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi
celaka.” (QS. Maryam: 32).
Ibnu
Katsir berkata, “Siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya berarti ia
adalah seorang yang tawadhu dan bahagia”. Anak yang pandai akan bahagia
dengan masa liburan dengan menambah bakti kepada kedua orang tuanya,
membahagiakan keduanya, dan menemani keduanya, dan diantara yang dapat membuat
kedua orang tua bahagia adalah : istiqamahnya seorang anak diatas agamanya, dan
termasuk berbakti kepada orang tua adalah : dengan mengunjungi temannya,
dan memuliakannya sepeninggal mereka berdua. Rasulullah sallallhu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Bakti yang paling baik adalah seseorang menyambung cinta
bapaknya.” (HR. Muslim).
Juga
bersilaturrahmi akan mendatangkan ridho Sang Rahman, memanjangkan umur,
menambah harta, memberkahi waktu, mendekatkan hati, menampakkan akhlak yang
mulia, serta memunculkan indahnya perangai, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan
umurnya ; maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi.” (Muttafaqun
‘alaihi).
Juga
mengunjungi para ulama dan orang-orang saleh akan mendidik jiwa, meninggikan
ruh, mengangkat semangat, memperbaiki keadaan, dan mengingatkan akhirat, juga
yang mengunjungi mereka akan memperoleh ilmu dan wawasan ; karena mereka adalah
pewaris para Nabi, dan penyeru kepada hidayah, serta berlomba-lomba dalam
kebaikan dan takwa adalah ciri orang-orang saleh Allah Ta’ala berfirman:
(وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ)
“Dan
untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.
Al-Muthaffifin: 26).
Hasan
Al-Basri mengatakan, “Jika Engkau melihat manusia dalam kebaikan, maka
saingilah mereka”.
Juga
teman yang baik adalah sebaik-baik penolong dalam amal saleh, dia mengajak
kepada kebaikan, menganjurkan kepada keta’atan, dan orang-orang yang
saling mencintai karena Allah mereka berada diatas minbar-minbar dari cahaya,
para Nabi dan para syuhada iri kepada mereka. Adapun teman yang buruk, ia
mengajak kepada kejelekan, dan menghalangi dari kebaikan, berteman dengan
mereka akan melahirkan kesedihan dan penyesalan, Allah Ta’ala berfirman :
(وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا)
“Dan
(ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya
berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama
Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan
si fulan itu teman akrab (ku).(QS. Al-Furqan : 27-28).
Ibnu
Mas’ud berkata, “Nilailah seseorang dengan siapa dia berteman,
karena seseorang tidaklah menemani kecuali yang seperti dengannya”.
Dan
melihat-lihat ke tempat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya –dari
tontonan-tontonan tv dan selainnya- membuat seseorang mengingkari nikmat dan
menyebabkan gelapnya hati.
Masa
liburan adalah kesempatan bagi seorang ayah untuk dekat dengan anaknya, untuk
mengisi kekosongan hati, mendidik akhlak, serta meluruskan kebengkokan mereka,
karena kewajiban seorang ayah terhadap anaknya sangatlah besar, juga ibu punya
kewajiban terhadap anak-anak perempuannya seperti itu; dengan memperhatikan dan
menjaga mereka dengan nasihat dan wejangan, memerintahkan mereka untuk
berhijab, menutup aurat dan menjaga diri, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu
berkata, “Didiklah anakmu! Karena engkau akan ditanya apa yang engkau
didikkan dan apa yang engkau ajarkan kepadanya”. Dan ia sebaliknya akan
ditanya tentang baktinya dan taatnya kepadamu.
Anak-anak
akan senang dan terhibur jika mereka ditemani oleh ayah mereka, mereka juga
dapat mencontoh akhlak seorang ayah serta mereka mengambil sifat-sifat mulia
darinya, berkata Ibnu ‘Aqil –rahimahullah- : “seorang yang
berakal akan memberi kepada istri dan dirinya hak keduanya, dan jika ia bersama
anak-anak kecilnya dia akan nampak dalam bentuk anak kecil, serta ia menjauhi
keseriusan sebagian waktu”. Dan memotivasi anak-anak untuk kebaikan
termasuk cara pendidikan yang baik, berkata Ibrahim bin Adham : ayahku berkata
kepadaku : “wahai anakku pelajarilah hadits, karena setiap engkau
mendengar satu hadits dan engkau menghafalnya maka untukmu satu dirham”,
berkata Ibrahim : “saya pun mempelajari hadits disebabkan hal ini”.
Adapun sikap acuh tak acuh seorang ayah terhadap anak-anaknya dan jauhnya ia
dari mereka merupakan bentuk kelalaian terhadap pendidikan mereka, juga akan
memudahkan sampainya orang jahat kepada mereka, yang akan menimbulkan kesedihan
dan penyesalan seorang ayah. Juga bepergian yang dibolehkan dengan anak-anak
akan mendekatkan antara orang tua dan anak-anak mereka, serta menutup celah
diantara mereka.
Umrah
adalah perjalanan ibadah yang dapat menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat
derajat, juga sholat di masjid Nabi sallallahu
‘alaihi wa sallam lebih baik dari seribu sholat di mesjid
lain. adapun bepergian yang diharamkan akan membuang-buang harta, juga potensi
bagi seseorang untuk terkena fitnah, dan sebab banyaknya syubhat dan syahwat,
dan dengannya seorang kembali dari perjalanannya dalam keadaan lebih jelek dari
sebelumnya. Juga dalam masa liburan dibangun keluarga-keluarga dengan
pernikahan, maka dalam rangka mensyukuri nikmat tersebut : jangan sampai
prosesi walimah dicampuri dengan sesuatu yang diharamkan, dari sikap
berlebih-lebihan, membuka aurat, nyanyian, atau pemotretan, dan hendaklah
pernikahan tersebut tidak ada maksiat di dalamnya.
Allah
memberkahi umat ini di pagi hari, menjadikan malam untuk istirahat, siang untuk
mencari penghidupan, dan diantara ajaran Nabi sallallahu ‘alahi wasallam,
adalah tidur diawal malam, dan sholat diakhirnya, berkata Abu Barzah Al-Aslami
-radiyallahu ‘anhu- : “Nabi sallallahu
‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum isya dan
berbincang-bincang setelahnya”(Muttafaqun ‘alaih). Dan jika
begadang menjadi sebab seseorang meninggalkan sholat subuh berjama’ah,
maka begadang tersebut menjadi haram.
Seorang
muslim hendaklah selalu merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu dan
keadaannya, dan ia harus yakin bahwa Allah melihat apa yang ia kerjakan dan
mendengar semua perkataannya, serta mengetahui apa yang ia sembunyikan di dalam
hatinya, Allah Ta’ala
berfirman :
(وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ)
Artinya
: dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi
atasmu di waktu kamu melakukannya. (QS.Yunus : 61). Dan derajat iman yang
paling afdhal adalah engkau mengetahui bahwasanya Allah bersamamu dimanapun
engkau berada, dan diantara wasiat Nabi sallallahu
‘alaihi wa sallam kepada ummatnya : “bertakwalah kepada
Allah dimanapun engkau berada”(HR.Tirmidzi). dan Allah Subhanahu wa Ta’ala
cemburu apabila dilampaui batasan-batasannya ketika seorang sedang safar atau
tinggal di negrinya, bersabda Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa sallam : “sesungguhnya Allah cemburu, dan
cemburunya Allah : apabila seseorang mendatangi apa yang Allah
haramkan”(Muttafaqun ‘alaih).
Maka
jadilah seorang yang menjauh dari dosa-dosa, dan berbekallah dengan
amalan-amalan saleh, karena walaupun beramal saleh itu berat sesungguhnya
kekosongan itu merusak, dan dirimu jika engkau tidak sibukkan dengan sesuatu
yang benar maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan, dan seseorang terus
diuji dalam keadaan lapang dan senangnya, dalam keadaan sehat ataupun terkena
musibah, juga dalam keadaan diam ataupun bepergian, dan orang yang diberi
taufiq adalah yang menjadikan takwa sebagai kendaraannya, dan bersegera menuju
surga Tuhannya.
(وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)
Dan
katakanlah: “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang beriman akan melihat amalan kalian, dan kalian akan dikembalikan
kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”.
Semoga
Allah memberkahi aku dan kalian dalam Alquranul adzhim…
نَفَعْنِيَ اللهَ وَإِيَّاكُمْ بِمَا سَمِعْتُمْ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ محمد الأَمِيْنِ المَأْمُوْنِ.
Khutbah
Kedua :
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
العَظِيْمِ
الجَلِيْلِ،
اَلْغَفُوْرِ
الرَّحِيْمِ،
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى
خَاتَمِ
رُسُلِهِ
وَأَفْضَلِهِمْ،
وَآلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَتَمَمِ
بِالتَّابِعِيْنَ
لَهُ
بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ،
أَيُّهَا
المُسْلِمُوْنَ:
Segala
puji bagi Allah atas anugrah kebaikanNya, dan rasa syukur terpanjatkan
kepadaNya atas taufik dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada
sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya
sebagai bentuk pengagungan kepadaNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad
adalah hamba dan RasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan
kepada beliau, keluarganya dan para sahabatnya.
Kaum
muslimin sekalian :
Dunia
ini umurnya pendek, dan kenikmatannya akan hilang, maka janganlah engkau
bergantung darinya kecuali dengan apa yang dibutuhkan oleh orang asing di
selain negrinya, dan janganlah sibukkan dirimu padanya kecuali seperti sibuknya
seorang asing yang mempersiapkan bekal untuk kembali kepada keluarganya, dan
orang yang beriman, ia berada diantara dua ketakutan : antara dosa yang telah
lalu yang ia tidak tahu apa yang Allah perbuat dengannya, dan ajal yang telah
dekat yang ia tidak tahu kemana ia akan kembali, dan bagi seorang yang berakal
baik, hendaklah ia tidak menyibukkan dirinya dari empat waktu : pertama : waktu
ia bermunajat kepada Tuhannya, kedua : waktu ia menginstrospeksi dirinya,
ketiga : waktu ia berkumpul bersama saudara-saudaranya yang menasehatinya dan
memberitahukan aib-aibnya, keempat : waktu ia menyendiri antara dirinya dan
kelezatan-kelezatannya pada hal yang halal dan terpuji.
Dan
ketahuilah bahwasanya Allah memerintahkan kalian bershalawat dan bersalam
kepada NabiNya…
اَللَّهُمَّ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ المُتَقَبَّلَةِ أَعْمَالِهِمْ، وَقِنَا شَرَّ أَنْفُسِنَا وَالشَّيْطَانَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَأَجْدَادِنَا وَسَائِرِ أَهْلِيْنَا وَقَرَابَاتِنَا، اَللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانْ، وَأَعِذْهُمْ مِنَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَجَنِّبْهُمْ القَتْلَ وَالاِقْتَتَالَ، وَأَزِلْ عَنْهُمْ اَلْخَوْفَ وَالْجُوْعَ وَالدِّمَارَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ مَا يُرْضِيْكَ، وَاجْعَلْهُمْ عَامِلِيْنَ بِشَرِيْعَتِكَ، مُعْظِمِيْنَ لَهَا وَمُدَافِعِيْنَ وَنَاصِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ دِيْنَنَا وَبِلَادِنَا وَأَمْنَنَا وَأَمْوَالِنَا بِشَرٍّ وَمَكَرٍ وَضَرَرٍ فَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْراً لَهُ، وَإِضْرَارَهُ سُوْءًا عَلَيْهِ، وَلَا تُمَكِّنْ لَهُ عَلَى أَحَدٍ، يَا سَمِيْعُ الدُّعَاءِ.
وَسُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوْبُ
إِلَيْكَ.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
Penerjemah:
Ust. Iqbal Gunawan, Lc