
August
24, 2015
Khutbah
Pertama :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الوَلِيِ الحَمِيْدِ، اَلْعَظِيْمِ المَجِيْدِ، الفَعَّالِ لِمَا يُرِيْدُ، ذِيْ العَرْشِ المَجِيْدِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةُ مُقِرٍّ لَهُ بِالتَّوْحِيْدِ، مُنَـزِّهٌ لَهُ عَنِ الشَرِيْكِ وَالنَّدِيْدِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أُوْلِي الفَضَائِلِ وَالمَكَارِمِ وَكُلُّ خُلُقٍ حَمِيْدٍ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
وَرَاقِبُوْهُ
فِي السِرِّ
وَالْعَلَانِيَةِ
وَالْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ
مُرَاقَبَةً
مَنْ يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمُعُهُ
وَيَرَاهُ،
وَتَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَ عَلَا:
عَمَلٌ
بِطَاعَةِ اللهِ
عَلَى نُوْرٍ
مِنَ اللهِ
رَجَاءَ ثَوَابَ
اللهِ،
وَتَرْكٌ
لِمَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
خِيْفَةَ
عَذَابِ اللهِ.
Ibadallah,
Sesungguhnya
kenikmatan yang sangat besar dan agung yang diraih oleh seorang hamba adalah
pemahaman yang benar terhadap Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
disertai dengan mengamalkannya sesuai dengan manhaj as-salaf as-shalih yang
merupakan generasi terbaik. Maka tidak bermanfaat pemahaman dan ilmu jika tanpa
disertai dengan amal shalih. Dan tidak bermanfaat amal shalih jika tanpa
sunnah, teladan, cahaya, dan petunjuk dari wahyu. Maka orang yang selamat dari
kebinasaan dan menang meraih kebaikan-kebaikan adalah orang yang berusaha
meraih ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Allah berfirman:
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (١٩)الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ (٢٠)وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ (٢١)وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ (٢٢)جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (٢٣)سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (٢٤)
“Adakah
orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu
benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang
dapat mengambil pelajaran. (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan
tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah
perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut
kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan
Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan
kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan
dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan
orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya,
sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.
(sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”
(keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian). Maka Alangkah baiknya tempat
kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du 19-24).
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ (١٨)
“Yang
mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka
Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah
orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar: 18).
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (٩)
“(apakah
kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di
waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS.
Az-Zumar: 9).
Nabi
shallallahu ‘alaihi
wasallam berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْاَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya
Allah aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang
diterima.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا طائفة طيبة قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَاستقى النَّاسُ وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وكان مِنْهَا طَائِفَةٌ إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وقبل مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ
“Permisalan
petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah seperti hujan yang
mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada
tanah yang ajadib
(tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya),
sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini, lalu memberi minum
untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis
tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan
tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah,
menerima ajaran yang Allah mengutusku untuk dengannya. Dan perumpamaan orang
yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk
yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan
ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh maka Allah mengumpulkan seluruh kebaikan
bagi hamba dan menjaganya dari seluruh keburukan, dan Allah menegarkan
kaki-kaki di atas jalan yang lurus.
Merupakan
kesesatan terbesar adalah berpaling dari Alquran dan as-Sunnah, Allah
berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ (٢٢)
“Dan
siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan
ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan
memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah:
22).
Berpaling
adalah kerugian yang nyata. Dan takwil (tafsir) yang salah terhadap Alquran dan
as-Sunnah merupakan bentuk berpaling dari apa yang diturunkan oleh Allah. Dan
takwil batil seperti inilah yang telah merusak akal, yang memecah umat dan
melemahkan kaum muslimin. Merubah hati, memasukan bid’ah dalam Islam,
menumbuhkan permusuhan dan kebencian diantara penganut agama yang rahmat ini.
Dengan
takwil yang batil maka pelakunya menghalalkan darah yang terlindungi dan
menghalalkan harta yang haram diambil, dengannya mereka mengkafirkan siapa saja
yang mereka kehendaki dan loyal kepada yang mereka kehendaki serta memusuhi
siapa saja yang mereka kehendaki. Dan ini merupakan pintu keburukan yang
terbuka di hadapan umat. Pemikiran yang menyimpang, bid’ah yang
diada-adakan semuanya dibangun di atas takwil yang rusak dan tafsir yang batil
terhadap Alquran dan hadits.
Sekte-sekte
Islam yang menyelisihi para sahabat dan tabi’in, mereka tersesat dalam
permasalahan takwil padahal mereka tidak berselisih secara umum tentang
Alquran. Maka takwil batil merupakan pondasi bid’ah-bid’ah dan
kesesatan. Bukankah Utsman radhiallahu
‘anhu dibunuh kecuali dikarenakan takwil rusak?. Dan bukankah
Ali radhiallahu ‘anhu
dibunuh juga tidak lain dikarenakan takwil yang rusak?. Dan bukankah Khawarij
menghalalkan darah dan harta para sahabat melainkan dikarenakan takwil yang
rusak. Dan bukankah Dzulkhuwaishiroh mengingkari pembagian Nabi –tatkala
membagi ghonimah- melainkan dikarenakan takwil yang rusak?
Dan
semenjak muncul takwil dan tafsir yang batil terhadap nas Alquran dan hadits di
akhir-akhir zaman para sahabat, maka para sahabat maju menghadapi bid’ah
ini maka mereka membantah Khawarij dan memerangi mereka. Dan setiap kali muncul
bid’ah karena takwil yang rusak dan tafsir yang keliru maka para ulama
dari kalangan tabi’in dan yang setelah mereka menghadapinya dan
memadamkannya dengan hujjah dan penjelasan.
Demikian
juga para penguasa menolak dan menghukum para pemilik takwil tersebut, demi
melindungi akidah umat dan menjaga kemaslahatan dunia mereka, serta menjaga
keamanan dan ketenteramannya, juga menjaga darah kaum muslimin, menjaga harta
benda mereka, dan untuk mengamankan jalan-jalan dan ibadah. Allah berfirman:
وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (٤٠)
“Dan
sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang
lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah
ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama
Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS.
Al-Hajj: 40).
Dan
setiap bid’ah dan pelaku bid’ah ada pewarisnya. Dan para pewaris
bid’ah di zaman ini lebih buruk dari pada pendahulu mereka karena semakin
jauh dari zaman kenabian. Dan demi menyanggah mereka, para ulama menasehatkan
untuk memboikot mereka dan tidak duduk di majelis taklim mereka. Serta tidak
menimba ilmu dari mereka di sekolah-sekolah dan universitas-universitas.
Demikian juga untuk tidak menjadikan mereka sebagai kepala-kepala yang bodoh
dan sesat yang berfatwa tanpa ilmu, maka mereka akan menyesatkan dari jalan
yang benar. Pendahulu mereka dari kalangan Khawarij mereka dahulu tidaklah
berkhianat dan tidak berdusta. Mereka mengagungkan masjid-masjid. Adapun
Khawarij zaman sekarang, mereka berkhianat dan mereka membunuh orang-orang yang
sedang rukuk dan sujud di masjid-masjid di rumah-rumah Allah. Mereka
menumpahkan darah-darah tentara dan penjaga keamanan dan selainnya. Dan karena
begitu besar kejahatan mereka dan begitu bahayanya kejahatan mereka maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
الْخَوَارِجُ كِلاَبُ النَّارِ
“Khawarij
adalah anjing-anjing neraka.” (HR Ahmad dan Al-Hakim dari hadits Abu Aufa
dan ada syahidnya dari hadits Abu Umamah radhiallahu
‘anhuma).
Dan
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa mereka muncul silih
berganti akan tetapi mereka terkalahkan setiap kali mereka muncul.
Dari
Abu Barzah radhiallahu
‘anhu dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لاَ يَزَالُوْنَ يَخْرُجُوْنَ حَتَّى يَخْرُجَ آخِرُهُمْ مَعَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Mereka
senantiasa muncul sehingga yang terakhir dari mereka muncul bersama al-Masih
Ad-Dajjal.” (HR. An-Nasai).
Dan
ini menunjukan bahwasanya mereka menghendaki dunia karena Dajjal memfitnah
manusia dengan dunia.
Sebagian
ulama menyatakan bahwa Khawarij mereka mengambil ayat-ayat dari Alquran yang
turun berkaitan dengan kaum musyrikin lalu mereka menerapkannya kepada kaum
muslimin.
Nabi
shallallahu ‘alaihi
wasallam mensifati mereka –sebagaimana dalam hadits Ali radiallahu ‘anhu–
dengan sabda beliau:
يقرؤون القرآنَ يحسَبُون أنه لهم وهو عليهم، لا تُجاوزُ صلاتُهم تراقيَهم، يَمرُقونَ من الإِسلام كما يَمرُقُ السَّهمُ من الرَّميّة، لو يعلَم الجيشُ الذين يُصيبونَهم ما قُضِيَ لهم على لسانِ نبيِّهم – صلى الله عليه وسلم – لاتكَلوا عن العمل
“Mereka
membaca Alquran, mereka sangka Alquran membela mereka, namun sebenarnya Alquran
menyerang mereka. Sholat mereka tidak akan melampaui tenggorokan mereka. Mereka
keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar tembus dari hewan buruan. Jika
seandainya para pasukan yang menyerang mereka mengetahui pahala yang ditetapkan
untuk mereka melalui lisan Nabi mereka, maka mereka akan mencukupkan dan tidak
beramal.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Maka
al-Bara’ (berlepas diri) adalah dari kesyirikan dan pelakunya, dan
al-wala (loyalitas dan pembelaan) adalah untuk tauhid dan pelakunya. Allah
berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ (٢٦)إِلا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (٢٧)
“Dan
ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:
“Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah,
tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan
memberi hidayah kepadaku”. (QS. Az-Zukhruf: 26-27).
Adapun
mereka (Khawarij) maka mereka mengusung al-baroo’ (berlepas diri) dari
orang-orang yang ruku’ dan sujud, bahkan mereka membunuhi mereka di
masjid-masjid atau di mana saja. Dan mereka mengusung al-walaa’ kepada
kelompok mereka yang sedikit dan nyeleneh yang tersesat dalam menafsirkan
Alquran dan as-Sunnah serta tersesat dalam fatwa. Dan fatwa merupakan perkara
yang berbahaya dalam agama, maka tidak berfatwa kecuali dengan dalil yang jelas
penunjukannya berdasarkan pemahaman para as-salaf as-shalih. Dari Khalid bin
Khidasy ia berkata:
Aku
mendatangi Imam Malik bin Anas –yang merupakan mufti zamannya- dengan
membawa 40 permasalahan, dan beliau tidak menjawab kecuali hanya 5 pertanyaan.
Demikian juga sebagian ulama meninggal dalam kondisi tawaqquf (berdiam dari
menjawab) dalam beberapa permasalahan padahal mereka telah menghabiskan umur
mereka dalam ilmu. Maka sungguh besar dosa orang yang berfatwa akan halalnya
darah yang haram dan harta yang terjaga.
Maka
tersesatnya sekte-sekte Islam adalah pada penafsiran nash-nash dengan
penafsiran yang menyelisihi penafsiran para as-Salaf as-Shalih. Para salaf
menafsirkan Alquran dan as-Sunnah dengan penafsiran Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam
dan dengan Alquran dan dengan perkataan para sahabat, kemudian dengan perkataan
para tabi’in dan penunjukan bahasa Arab –baik dengan muthobaqoh
(makna secara langsung) atau tadommun (makna kandungan)- serta apa yang
diriwayatkan dari orang-orang yang kokoh dalam ilmu mereka. Maka para salaf
adalah muttabi’ (mengikuti pendahulu mereka) dan bukan mubtadi’.
Allah berfirman :
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ (٣)
“Ikutilah
apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti
pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran
(daripadanya).” (QS. Al-A’raf: 3).
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى.
Bertakwalah
kepada Allah dan taatlah kepadaNya, bertaubatlah kepadaNya dan bersyukurlah
kepadaNya. Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah nikmat Allah kepada kalian baik
yang nampak maupun yang batin. Beramalah demi menghadapi apa yang di hadapan
kalian berupa kesulitan dan hal-hal yang menakutkan. Waspadalah dari
fitnah-fitnah yang menyesatkan dan para da’inya. Ketahuilah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
telah mengabarkan bahwasanya umat ini akan berselisih, dan beliau memotivasi
untuk berpegang teguh kepada petunjuk beliau. Beliau bersabda:
“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan kaum Nashoro
terpecah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan,
semuanya di neraka kecuali satu”
Maka
dikatakan, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?”. Nabi berkata,
“Yaitu siapa yang ada di atas ajaran yang aku dan para sahabatku berada
di atasnya pada hari ini”
Allah
telah memperingatkan kita dari perpecahan dan perselisihan, Allah berfirman:
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٥)
“Dan
janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang
yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imran: 105).
Allah
berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (١٥٩)
“Sesungguhnya
orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak
ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka
hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada
mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’aam: 159).
Hendaknya
kalian bersama jamaah kaum muslimin, karena tangan Allah bersama jamaah, dan
barangsiapa yang menyempal maka ia akan menyempal ke neraka. Hendaknya para
pemuda waspada dari para da’i yang menyeru kepada neraka dan
bid’ah. Dan yang membentengi dari para dai fitnah tersebut adalah dengan
berpegang teguh kepada Alquran dan as-Sunnah dan mengetahui maksud dari
keduanya melalui tafsiran para ulama. Allah berfirman :
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٤٣)
“Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ. وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا- رَعَاكُمُ الله- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَّ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ الرَاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدْيْق،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِيٍّ، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَ
كَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الْأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنَ
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ يَخَافُكَ
وَيَخْشَاكَ
يَا ذَا
الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا، أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
وَلَا تُعِنْ
عَلَيْنَا،
وَانْصُرْنَا
وَلَا
تَنْصُرْ
عَلَيْنَا،
وَامْكُرْ
لَنَا وَلَا
تُمْكِرْ
عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا
وَيَسِّرْ
الهُدَى
لَنَا،
وَانْصُرْنَا
عَلَى مَنْ
بَغَى
عَلَيْنَا.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
Penerjemah:
Abu Abdil Muhsin Firanda