
August
25, 2015
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، أَمَرَ بِالصِّدْقِ وَالْإِخْلَاصِ وَنَهَى عَنِ الشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحّمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلصَّادِقُ الأَمِيْنُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا النَّاسُ:
فَاتَّقُوا
اللَّهَ
عِبَادَ
اللَّهِ، وَاسْتَغْفِرُوهُ
وَتُوبُوا
إلَيْهِ.
Ibadallah,
Marilah
kita bertakwa kepada Allah. Kita laksanakan kewajiban yang telah diperintahkan
Allah Subhanahu wa
Ta’ala, yaitu berupa hak-hak-Nya dan hak para hamba-Nya. Dan
ketahuilah, hak manusia yang paling besar atas diri kita ialah hak kedua orang
tua dan karib kerabat. Allah menyebutkan hak tersebut berada pada tingkatan
setelah hak-Nya.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa … ” (QS. an-Nisa`/4:36).
Begitu
pula Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah berfirman dalam surat Luqman/31 ayat 14:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
“(Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya,
…)”
Selanjutnya
Allah menyebutkan alasan perintah ini, yaitu:
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ
“(ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah)”.
Yakni
keadaan lemah dan berat ketika mengandung, melahirkan, mengasuh dan menyusuinya
sebelum kemudian menyapihnya.
Kemudian
Allah berfirman:
وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“(dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu)”.
Nabi
telah menjadikan bakti kepada orang tua lebih diutamakan daripada berjihad di
jalan Allah. Disebutkan dalam shahihaian
dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Aku
bertanya kepada Nabi; “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau
menjawab,”Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian
apa lagi?” Beliau menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.”
Aku bertanya lagi: ”Kemudian apa lagi?” Beliau
menjawab,”Berjihad di jalan Allah.”
Dikisahkan
dalam kitab Shahih Muslim,
bahwa ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Aku berbaiat
kepadamu untuk berhijrah dan berjihad di jalan Allah. Aku mengharap pahala dari
Allah.” Beliau bertanya,”Apakah salah satu dari kedua orang tuamu
masih hidup?” Ia menjawab,”Ya, bahkan keduanya masih hidup,”
beliau bersabda,”Engkau mencari pahala dari Allah?” Ia menjawab,”Ya.”
beliau bersabda,”Pulanglah kepada kedua orang tuamu, kemudian perbaikilah
pergaulanmu dengan mereka.”
Disebutkan
dalam sebuah hadits dengan sanad jayyid (bagus), ada seseorang berkata kepada
Nabi: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad namun aku tidak
mampu melakukannya”. Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah salah satu dari
kedua orang tuamu masih ada?” Ia menjawab,”Ya, ibuku,” beliau
bersabda: “Temuilah Allah dalam keadaan berbakti kepada kedua orang
tuamu. Apabila engkau melakukannya, maka berarti engkau telah berhaji, berumrah
dan berjihad”.
Allah
Subhanhu wa Ta’ala
juga telah berwasiat supaya berbuat baik kepada kedua orang tua di dunia
walaupun keduanya kafir. Akan tetapi, apabila keduanya menyuruh untuk berbuat
kufur maka sang anak tidak boleh menaati perintah kufur ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.(QS. Luqman/31:15).
Disebutkan
dalam kitab shahihain, dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha,
ia menceritakan ketika ibunya datang menyambung silaturrahmi dengannya padahal
si ibu masih dalam keadaan musyrik.
Asma’
radhiyallahu ‘anha
bertanya kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ
“Wahai
Rasulullah, ibuku datang kepadaku ingin (menyambung hubungan dengan putrinya,
Asma’), apakah aku boleh menyambung hubungan kembali dengan ibuku”.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya, sambunglah.”
Cara
berbakti kepada kedua orang tua, ialah dengan mencurahkan kebaikan, baik dengan
perkataan, perbuatan, ataupun harta.
Berbuat
baik dengan perkataan, yaitu kita bertutur kata kepada keduanya dengan lemah
lembut, menggunakan kata-kata yang baik dan menunjukan kelembutan serta
penghormatan.
Berbuat
baik dengan perbuatan, yaitu melayani keduanya dengan tenaga yang mampu kita
lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, membantu dan mempermudah
urusan-urusan keduanya. Tentu, tanpa membahayakan agama ataupun dunia kita. Allah
Mahamengetahui segala hal yang sekiranya membahayakan. Sehingga kita jangan
berpura-pura mengatakan sesuatu itu berbahaya bagi diri kita padahal tidak,
sehingga kitapun berbuat durhaka kepada keduanya dalam hal itu.
Berbuat
baik dengan harta, yaitu dengan memberikan setiap yang kita miliki untuk
memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh keduanya, berbuat baik, berlapang dada
dan tidak mengungkit-ungkit pemberian sehingga menyakiti perasaan ibu bapak.
Berbakti
kepada kedua orang tua tidak hanya dilakukan tatkala keduanya masih hidup.
Namun tetap dilakukan manakala keduanya telah meninggal dunia. Ada sebuah
kisah, yaitu seseorang dari Bani Salamah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ia bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا
“Wahai
Rasulullah, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku setelah
keduanya meninggal?” Beliau menjawab,”Ya, dengan mendoakannya,
memintakan ampun untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung
silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan
memuliakan teman-temannya”. (HR Abu Dawud).
Allahu
Akbar! betapa luas cakupan berbakti kepada kedua orang tua, bahkan termasuk di
dalamnya keharusan memuliakan dan menyambung silaturahmi kepada teman kerabat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ البَيَانِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى
Ibadallah,
Disebutkan
dalam kitab Shahih Muslim, dari Abdullah bin Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu:
“Suatu hari beliau radhiyallahu
‘anhu berjalan di kota Makkah dengan mengendarai keledai yang
biasa beliau radhiyallahu
‘anhu gunakan bersantai jika bosan mengendarai unta. Lalu di
dekat beliau lewatlah seorang Arab Badui. Lantas Abdullah bin Umar pun bertanya
kepadanya:”Benarkah engkau Fulan bin Fulan?” Ia
menjawab,”Ya,” kemudian Abdullah bin Umar memberikan keledainya
kepada orang itu sambil berkata,”Naikilah keledai ini.” Beliau juga
memberikan sorban yang mengikat di kepalanya seraya berkata,”Ikatlah
kepalamu dengan sorban ini,” maka sebagian sahabatnya
berkata,”Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau memberikan keledai
kendaraan santaimu dan sorban ikat kepalamu kepada orang itu?” Maka
‘Ibnu Umar menjawab: ”Orang ini, dahulu adalah teman Umar
(bapakku), dan aku pernah mendengar Rasulullah berkata,’Sesungguhnya
bakti yang terbaik, ialah tetap menyambung hubungan keluarga ayahnya”.
Adapun
balasan berbakti ini ialah pahala yang besar saat di dunia maupun akhirat.
Barang siapa yang berbakti kepada orangtuanya, maka kelak anak-anaknya juga
akan berbakti kepadanya, serta memberikan jalan keluar dari kesusahannya.
Dalam
kitab Shahih al-Bukhari
dan Shahih Muslim,
dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhu disebutkan tentang kisah tiga orang yang ingin bermalam
di gua, lalu merekapun masuk ke dalamnya. Begitu sampai di dalam gua, tiba-tiba
sebongkah batu besar jatuh dan menutup mulut gua tersebut.
Merekapun
kemudian bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah dikerjakan
supaya mereka bisa keluar. Salah seorang dari mereka berkata:
Ya
Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku
tidak pernah memberikan susu kepada keluarga maupun budakku sebelum mereka
berdua.
Suatu
hari, aku pergi jauh untuk mencari pohon dan belum kembali kepada mereka hingga
mereka pun tertidur. Akupun memerah susu untuk mereka. Setelah selesai,
ternyata aku mendapatkan mereka berdua telah tertidur. Aku tidak ingin
membangunkannya dan tidak memberikan susu kepada keluarga maupun untukku
sendiri. Aku terus menunggu mereka sambil membawa mangkuk susu di tanganku
hingga terbit fajar. Mereka pun bangun dan meminum susu perahanku.
Ya
Allah, sekiranya aku melakukan itu semua karena-Mu, maka bukakanlah batu yang
telah menutupi kami ini.
Maka
batu itupun bergeser sedikit. Kemudian demikian pula yang lainnya berdoa,
bertawasul dengan amalan shalih yang pernah mereka kerjakan. Akhirnya, batu
itupun bergeser sehingga gua terbuka dan mereka dapat keluar, kemudian kembali
melanjutkan perjalanan.
Ketahuilah,
berbakti kepada orang tua juga akan mendatangkan keluasan rizki, panjang umur
dan khusnul khatimah.
Diriwayatkan
dari Sahabat Ali bin Abi Thalib bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Barang siapa yang senang apabila dipanjangkan umurnya,
diluaskan rizkinya dan dihindarkan dari su`ul khatimah, maka hendaklah ia
bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” Dan sesungguhnya,
berbakti kepada orang tua merupakan wujud silaturahmi yang paling mulia, karena
orang tua memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan kita.
Seorang
mukmin yang berakal, sungguh sangat tidak pantas berbuat durhaka dan memutuskan
hubungan dengan kedua orang tua, padahal ia mengetahui keutamaan berbakti
kepadanya, dan balasannya yang mulia di dunia maupun di akhirat. Larangan ini
sangat besar.
Apabila
telah mencapai usia lanjut, kedua orang tua akan mengalami kelemahan badan
maupun pikiran. Bahkan keduanya bisa mengalami kondisi yang serba menyusahkan,
sehingga menyebabkan seseorang mudah menggertak atau bersikap malas untuk
melayaninya. Dalam keadaan demikian, Allah melarang setiap anak membentak,
meskipun dengan ungkapan yang paling ringan. Tetapi Allah memerintahkan si anak
supaya bertutur kata yang baik, merendahkan diri dalam perkataan maupun
perbuatan di hadapan keduanya. Sebagaimana sikap seorang pembantu di hadapan
majikannya. Demikian pula, Allah memerintahkan si anak supaya mendoakan
keduanya, semoga Allah mengasihi keduanya sebagaimana keduanya telah mengasihi
dan merawat si anak tatkala masih kecil.
Sang
ibu rela berjaga saat malam hari demi menidurkan anaknya. Iapun rela menahan
rasa letih supaya si anak bisa beristirahat dengan cukup. Adapun bapaknya, ia
berusaha sekuat tenaga mencari nafkah. Letih pikirannya, letih pula badannya.
Semua itu, tidak lain ialah untuk memberi makan dan mencukupi kebutuhan si
anak. Sehingga sepantasnya bagi si anak untuk berbakti kepada keduanya sebagai
balasan atas kebaikannya.
Dalam
kitab shahihain disebutkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki
bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang
paling berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab,”Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “Ibumu.” Orang itu mengulangi pertanyaannya:
“Kemudian siapa lagi?” Nabi pun kembali mengulangi jawabanya:
“Ibumu.” Iapun kemudian mengulangi pertanyaanya untuk yang ke empat
kalinya: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab:
“Bapakmu.”
Semoga
Allah memberikan taufik-Nya, sehingga memudahkan kita untuk berbakti kepada ibu
bapak. Dan semoga Allah memberi karunia kepada kita keikhlasan dalam
melaksanakannya. Sesunggunya Dia-lah Dzat yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِّ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ.
(إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا)،
اللَّهُمَّ
صلِّ وسلِّم
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّدٍ،
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلفَائِهِ
الرَاشِدِيْنَ،
اَلْأَئِمَّةِ
اَلْمَهْدِيِيْنَ،
أَبِي
بَكْرٍ،
وَعُمَرَ،
وَعُثْمَانَ،
وَعَلِيٍّ،
وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ،
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ.
اللَّهُمَّ
أعِزَّ
الإسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاجْعَلْ
هَذَا
البَلَدُ
آمِناً
مُسْتَقِرًّا
وَسَائِرَ
بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
عَامَةً يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
احْفَظْ
عَلَيْنَا
أَمْنَنَا
وَإِيْمَانَنَا
وَاسْتِقْرَارَنَا
فِي
أَوْطَانِنَا،
وَآمِّنَا
فِي
دُوَرِنَا
وَأَصْلِحْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
لَا تُسَلِّطْ
عَلَيْنَا
بِذُنُوْبِنَا
مَنْ لَا يَخَافُكَ
وَلَا
يَرْحَمُنَا
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
كُفْ عَنَّا
بَأْسَ
الَّذِيْنَ
كَفَرُوْا
فَأَنْتَ
أَشَدُّ
بَأْسًا
وَأَشَدُّ
تَنْكِيْلًا،
اَللَّهُمَّ
احْفَظْ هَذِهِ
البِلَادَ،
اَللَّهُمَّ
احْفَظْ هَذِهِ
البِلَادَ،
اَللَّهُمَّ
احْفَظْ هَذِهِ
البِلَادَ،
آمِنَةً
مُسْتَقِرَّةً
وَاحْفَظْ
بِلَادَ
المُسْلِمِيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
اصْلِحْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْهُمْ
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ
غَيْرَ
ضَالِّيْنَ
وَلَا
مُضِلِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
بِطَانَتَهُمْ
وَابْعِدْ
عَنْهُمْ
بِطَانَةَ
السُّوْءِ
وَالمُفْسِدِيْنَ
(رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنْ
الْخَاسِرِينَ).
عِبَادَ
اللهِ، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ)،
(وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)،
فَاذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرَ، وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
(Diadaptasi dari majalah As-Sunnah Edisi 109/Tahun
XI/1428H/2008).