
June
10, 2015
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ غَرَسَ شَجَرَةَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِ مَنِ اخْتَارَهُمْ لِعُبُوْدِيَتِهِ، وَخَصَّهُمْ بِوَافِرِ رَحْمَتِهِ وَجَزِيْلِ نِعْمَتِهِ، وَفَضَّلَهُمْ بِجُوْدِهِ وَكَرَمِهِ عَلَى سَائِرِ خَلِيْقَتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ النِّعْمَةِ وَمُسَدِّيُ المِنَّةِ؛ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، أَرْسَلَهُ لِلْخَلَائِقِ رَحْمَةً، وَجَعَلَهُ لِلْصَالِحِيْنَ إِمَاماً وَقُدْوَةً، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهَ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى.
Ibadallah,
Sebentar
lagi kita akan bertemu kembali –insya Allah- dengan bulan Ramadhan, bulan
yang mulia dan penuh keberkahan. Tentu semangat dan kecintaan kita perlu
disegarkan kembali dengan membaca hadits-hadits tentang keutamaan bulan
tersebut. Agar kita semakin berharap segera bertemu. Semakin cinta. Dan semakin
sadar akan agungnya bulan itu. saat Ramadhan tiba, hati kita pun telah memiliki
bekal dan persiapan untuk mengisinya dengan banyak amalan taat.
Terdapat
sebuah hadits yang mulia dari Nabi ﷺ tentang keutamaan bulan Ramadhan.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :((قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ ,وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ صَوْمِهِ))مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذََا لَفْظُ رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لَهُ: يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أجْلِيْ، اَلصِّيَامُ لِيْ وَأنَا أجْزِيْ بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أمْثَالِهَا وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، اَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : (إِلاَّ الصَّوْمَ فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أجْزِيْ بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أجْلِي). لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ . وَلَخُلُوْفُ فِيْهِ أطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ المِسْكِ.
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ‘Allah
‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Semua amal perbuatan anak
Adam untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah
yang akan membalasnya’. Puasa adalah perisai. Apabila seseorang di antara
kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji (cabul) dan berteriak-teriak.
Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah,
‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Demi Allah yang jiwa Muhammad
berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih
harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi. Bagi orang yang berpuasa ada
dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika
bertemu dengan Rabb-nya’.” (Muttafaq ‘alaihi, dan ini lafazh
al-Bukhari).
Ibadallah,
Betapa
agungnya hadits ini karena didalamnya disebutkan amalan secara umum, kemudian
disebutkan puasa secara khusus, keutamaannya, kekhususannya, pahala yang akan
diperoleh dengan segera maupun yang akan datang, penjelasan hikmahnya,
tujuannya, dan segala yang harus diperhatikan seperti adab-adab yang mulia.
Semua hal tersebut tercakup dalam hadits ini.
Ibadallah,
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjelaskan pokok yang menyeluruh, bahwa semua amal shalih,
dilipatgandakan (amal shalih tersebut) sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus
kali lipat, bahkan hingga berkali-kali lipat lebih dari itu.
Ini
menunjukkan keagungan dan luasnya rahmat Allah dan kebaikan-Nya kepada para
hamba-Nya yang beriman, karena Allah ‘Azza
wa Jalla membalas satu perbuatan buruk dan menyelisihi syariat
dengan satu balasan.
Adapun
balasan kebajikan, maka pelipatgandaan minimal sepuluh kali, dan bisa lebih
dari itu dengan sebab-sebab lain. Di antaranya yaitu kuatnya iman seorang hamba
dan kesempurnaan ikhlasnya. Jika iman dan ikhlas semakin bertambah kuat, maka
pahala amal shalih pun akan berlipat ganda.
Di
antaranya juga yaitu amalan yang memiliki porsi besar, seperti berinfak dalam
rangka jihad di jalan Allah dan menuntut ilmu syar’i, serta berinfak
untuk proyek-proyek agama Islam secara umum. Dan juga seperti amalan yang
semakin kuat karena kebaikannya dan kekuatannya dalam menolak hal-hal yang
bertentangan dengan syariat. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam kisah orang yang tertahan dalam gua. Dan kisah pezina yang memberi minum
seekor anjing lalu Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengampuninya. Dan juga seperti suatu amalan yang
dapat menumbuhkan amalan lain dan diikuti oleh orang lain. Dan juga seperti
menolak bahaya-bahaya yang besar atau menghasilkan kebaikan-kebaikan yang
besar. Dan juga seperti amalan-amalan yang berlipat ganda karena keutamaan
waktu dan tempat, serta keutamaan seorang hamba di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Semua pelipatgandaan ini mencakup semua amalan.
Kemudian
Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengecualikan puasa dan menyandarkannya kepada-Nya.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang akan membalasnya dengan keutamaan dan
kemuliaan-Nya, dengan tidak melipatgandakannya seperti amalan yang lain. Ini
adalah suatu hal yang tidak dapat diungkapkan, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
membalasnya dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak didengar
oleh telinga, dan tidak terlintas dalam benak manusia.
Ulama
berbeda pendapat tentang makna :
فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أجْزِيْ بِهِ
“Puasa
itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”
Padahal
semua amal perbuatan adalah untuk Allah ‘Azza
wa Jalla dan Dia-lah yang akan membalasnya, sebagai berikut:
Pertama: Di dalam puasa tidak terdapat unsur
riya’ sebagaimana yang terjadi pada ibadah lainnya.
Kedua: Bahwa yang dimaksud dengan
“dan Aku-lah yang akan membalasnya,” adalah “Hanya Aku-lah
yang mengetahui besarnya balasan orang tersebut dan berapa banyak kebaikannya
dilipatgandakan. Adapun ibadah lainnya, karena ia dapat dilihat orang.”
Ketiga: Yang dimaksud dengan “dan
Aku-lah yang akan membalasnya,” yaitu bahwa puasa adalah ibadah yang
paling Aku cintai dan yang akan didahulukan di sisi-Ku.
Keempat: Idhafah (penyandaran) dalam redaksi
ini merupakan idhafah tasyrif (kemuliaan) dan ta’zhim (keagungan), sebagaimana
misalnya “Baitullah (rumah Allah), meskipun seluruh masjid sebenarnya
adalah milik Allah”.
Kelima: Tidak membutuhkan makan dan
syahwat-syahwat lainnya merupakan salah satu sifat Allah ‘Azza wa Jalla. Dan
karena orang yang berpuasa mendekatkan dirinya dengan salah satu sifat-Nya,
maka Dia pun menyandarkan ibadah tersebut kepada diri-Nya.
Keenam: Maksudnya sama seperti di atas;
hanya saja hal tersebut sesuai dengan sifat malaikat. Karena tidak membutuhkan
makan dan tidak memiliki syahwat merupakan salah satu sifat mereka.
Ketujuh: Maksudnya bahwa puasa tersebut murni
hanya untuk Allah ‘Azza
wa Jalla, dan tidak satu bagian pun dari ibadah tersebut yang
ditujukan kepada sesama hamba.
al-Baidhawi
rahimahullah berkata, “Ada dua hal yang menjadi alasan mengapa ibadah
puasa diistimewakan dengan kelebihan seperti ini. Pertama, karena ibadah-ibadah
lainnya dapat dilihat oleh manusia, berbeda dengan puasa karena ia merupakan
rahasia antara hamba dan Allah ‘Azza
wa Jalla. Ia melakukannya dengan ikhlas dan mengerjakannya karena
mengharap ridha-Nya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam
sabda beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, (hadits qudsi, yang artinya),
‘Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku.’
Kedua,
karena seluruh perbuatan baik dilakukan dengan cara mengeluarkan harta atau
mempergunakan fisik. Sementara puasa mencakup pengekangan hawa nafsu dan
membuat fisik menjadi lemah. Dalam ibadah puasa terdapat unsur kesabaran
menahan rasa lapar, haus, dan meninggalkan syahwat. Hal ini ditunjukkan oleh
firman Allah ‘Azza wa
Jalla dalam sabda beliau n (hadits qudsi, yang artinya), ‘Dia
meninggalkan syahwatnya karena-Ku.’”
Para
Ulama berkata, “Puasa dikecualikan karena ia mencakup tiga macam sabar,
yaitu (1) sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, (2) sabar (menjauh)
dari maksiat kepada Allah, dan (3) sabar terhadap takdir Allah.”
Ibadallah,
Adapun
sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, yaitu seorang hamba membebani
dirinya untuk berpuasa walaupun terkadang ia tidak menyukainya karena ada
kesulitannya, bukan karena Allah telah mewajibkannya. Jika seseorang membenci
puasa karena Allah mewajibkannya, maka akan semua amalnya akan terhapus.
Seseorang yang tidak menyukai puasa karena sulit, namun ia tetap memaksa
dirinya untuk berpuasa, ia bersabar (menahan diri) dari makan, minum, dan
jima’ karena Allah ‘Azza
wa Jalla. Oleh karena itu, disebutkan dalam hadits qudsi di atas,
Allah berfirman:
يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أجْلِيْ
“Dia
meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku.”
Sedangkan
sabar (menahan diri) dari maksiat kepada Allah, ini didapat dari orang yang
berpuasa, karena ia menyabarkan dirinya dan menjauhkan dirinya dari berbuat
maksiat kepada Allah. Ia menjauhi hal yang sia-sia, berkata kotor, bodoh,
dusta, dan selainnya dari apa-apa yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala haramkan.
Adapun
sabar terhadap takdir Allah, yaitu seseorang diuji ketika ia berpuasa -apalagi
jika pada musim panas yang panjang- dengan rasa malas, bosan, dan haus, tetapi
ia tetap bersabar karena mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala .Ketika puasa
mencakup tiga macam sabar tersebut, maka ganjarannya tidak terbatas. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
مَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Hanya
orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. az-Zumar/39:10).
Hikmah
dari pengkhususan tersebut yaitu bahwa orang yang berpuasa ketika dia
meninggalkan hal-hal yang dicintai oleh hawa nafsunya karena Allah, maka itu
artinya ia telah mendahulukan kecintaannya kepada Allah dari segala kecintaan
jiwanya, ia lebih mengharap ridha-Nya dan ganjaran-Nya daripada meraih
keinginan hawa nafsu. Oleh karena itu, Allah ‘Azza
wa Jalla mengkhususkan puasa untuk diri-Nya dan menjadikan pahala
orang yang berpuasa di sisi-Nya.
Kaum
muslimin ibadallah,
Coba
Anda renungkan, bagaimana dengan ganjaran dan balasan yang diberikan oleh Allah
‘Azza wa Jalla,
Yang Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahadermawan, Mahapemberi, yang pemberian-Nya
menyeluruh kepada semua makhluk yang ada, lalu Allah mengkhususkan untuk para
wali-Nya bagian yang banyak dan sempurna, dan Allah mentakdirkan buat mereka
sarana yang dengannya mereka bisa meraih apa-apa yang ada di sisi Allah berupa
perkara-perkara yang tidak pernah terlintas dalam benak dan dalam khayalan?!
Bagaimana dengan apa yang akan Allah ‘Azza
wa Jalla lakukan kepada mereka, orang-orang yang berpuasa dengan
ikhlas?!
Itulah
karunia yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki
Hadits
ini juga menunjukkan bahwa puasa yang sempurna yaitu jika seorang hamba
meninggalkan dua perkara:
Pertama: pembata-pembatal puasa seperti
makan, minum, jima’ (bersetubuh) dan lainnya.
Kedua: hal-hal yang mengurangi (kesempurnaan)
amalan, seperti berkata kotor, jorok, cabul dan berteriak-teriak, mengerjakan
perbuatan haram dan pembicaraan haram. Jauhkanlah semua maksiat, pertengkaran,
dan perdebatan yang menyebabkan dendam. Karena inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, yang artinya, “Janganlah berkata kotor/keji (cabul).”
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda, yang artinya, “Janganlah
berteriak-teriak!” Yaitu perkataan yang menyebabkan fitnah dan
permusuhan. Sebagaimana Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa
tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, maka Allah tidak butuh
kepada (puasanya) yang hanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR.
Bukhari).
Barangsiapa
menerapkan dua perkara tersebut di atas maka sempurnalah pahala puasanya. Siapa
yang tidak menerapkannya, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya.
Kemudian
ibadallah,
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menunjuki orang yang puasa bahwa apabila ada yang mengajak
untuk bertengkar dan mencelanya, hendaklah ia mengatakan:
إِنِّي صَائِمٌ
“Sesungguhnya
aku sedang berpuasa.”
Faidahnya
yaitu bahwa seakan-akan ia berkata, “Ketahuilah bahwa aku bukannya tidak
bisa membalas apa yang engkau katakan, tapi sesungguhnya aku sedang berpuasa.
Aku menghormati puasaku dan menjaga kesempurnaannya, serta perintah Allah dan
rasul-Nya. Dan ketahuilah bahwa puasa mengajakku untuk tidak membalas semua itu
dan memerintahkanku untuk bersabar. Maka apa yang aku lakukan ini lebih baik
dan lebih mulia dari apa yang engkau perbuat kepadaku, wahai orang yang
mengajak bertengkar!”
Sabda
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa
adalah perisai.”
Yaitu
penjaga yang menjaga seorang hamba dari dosa-dosa di dunia, membiasakannya
untuk mengerjakan kebajikan, dan menjaga dari siksa neraka.
Ini
adalah hikmah syariat yang paling agung dari faidah puasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. al-Baqarah/2:183).
Jadi,
puasa menjadi perisai dan sebab untuk mendapat ketakwaan. Karena puasa mencegah
dari perbuatan haram dan apa-apa yang dilarang serta memerintahkan untuk
memperbanyak amal ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam,
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Orang
yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa
dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.”
Kedua
ganjaran ini, ganjaran pertama, segera didapat dan ganjaran kedua, ganjaran
yang didapatkan di akhirat. Yang langsung didapat yaitu ketika orang yang
berpuasa itu berbuka, ia gembira karena nikmat Allah yang diberikan kepadanya
sehingga bisa menyempurnakan ibadah puasanya.
Sedangkan
ganjaran yang akan datang yaitu kegembiraannya ketika bertemu Rabb-nya dengan
keridhaan-Nya dan kemuliaan-Nya.
Kegembiraan
yang didapat langsung di dunia ini adalah contoh dari kegembiraan yang akan
datang, dan Allah akan mengumpulkan keduanya bagi orang yang berpuasa.
Dalam
sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa orang yang
berpuasa jika sudah mendekati waktu berbuka, maka ia mendapat kegembiraan. Itu
merupakan balasan dari apa yang telah ia lalui pada siang hari berupa kesulitan
menahan nafsu.
Ini
untuk menumbuhkan semangat dan berlomba dalam berbuat kebaikan.
Ibadallah,
Kemudian
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ
“Sungguh,
bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak
kesturi.”
al-Khuluf
yaitu pengaruh bau dalam mulut ketika kosong dari makanan dan naiknya uap.
Walaupun ini tidak disukai oleh orang, tapi janganlah engkau bersedih, wahai
orang yang berpuasa! Karena sesungguhnya ia lebih wangi di sisi Allah daripada
minyak kesturi dan berpengaruh pada ibadah dan pendekatan diri kepada-Nya. Dan
semua yang meninggalkan pengaruh dalam ibadah berupa kesulitan dan
ketidaksukaan, maka itu dicintai oleh Allah ‘Azza
wa Jalla. Dan kecintaan Allah bagi orang Mukmin lebih didahulukan
dari segala sesuatu.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ، وَنَفَعْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ .
Ibdallah,
Poin-poin
pelajaran yang dapat kita petik dari hadits Nabi ﷺ ini adalah:
Pertama:
Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjamin balasan puasa seseorang dengan balasan yang
istimewa
Kedua:
Apapun yang berhubungan dengan ibadah puasa, baik kadar keikhlasan hamba,
diterima atau tidak, maupun kadar jerih payah dalam melaksanakannya, hanya
Allah yang mengetahuinya.
Ketiga:
Semua amalan memiliki pahala tertentu, yang kemudian dilipatgandakan sampai
tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Karena pahala puasa tidak terbatas
hitungannya.
Keempat:
Puasa adalah benteng, sebagai pelindung dari api neraka dan dosa-dosa yang bisa
menjerumuskan ke neraka, serta penghalang dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan
syariat. Oleh karena itu orang yang berpuasa wajib menjaga dirinya dari
perbuatan dosa dan maksiat serta menjauhkan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Kelima:
Orang yang berpuasa tidak boleh berkata kotor, jorok, keji, cabul, perkataan
yang membawa kepada persetubuhan, dan lainnya.
Keenam:
Orang yang berpuasa tidak boleh berteriak-teriak, tidak boleh bertengkar, dan
tidak boleh mengganggu orang lain.
Ketujuh:
Orang yang berpuasa tidak boleh berkata bohong, dusta, membohongi dan menipu
orang, dan lainnya.
Kedelapan:
Orang yang terus menerus berbohong dan berlaku bodoh, ghibah, fitnah dan
mengadu domba, maka Allah ‘Azza
wa Jalla tidak butuh kepada puasanya.
Kesembilan:
Orang yang berpuasa wajib menjaga lisannya dan anggota tubuh lainnya dari yang
terlarang. Dia harus selalu taat, berdzikir, membaca Alquran, berdoa, sedekah,
dan ibadah lainnya.
Kesepuluh:
Puasa melatih dan mendidik diri untuk taat, membiasakan diri bersabar terhadap
penyakit dan gangguan karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla .
Kesebelas:
Boleh memberitahukan amal ketaatan kepada orang lain apabila dapat membuahkan
maslahat dan menolak keburukan. Misalnya ucapan orang yang berpuasa,
“Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Ucapan ini digunakan untuk
menghindari kata-kata makian seseorang atau ajakan untuk bertengkar.
Kedua
belas: Bau mulut orang yang berpuasa kelak di hari kiamat lebih harum aromanya
dari aroma minyak kesturi.
Ketiga
belas: Orang yang berpuasa pasti bergembira dengan puasanya. Apalagi menjelang
buka puasa, maka semua orang yang berpuasa bergembira karena makan, minum,
jima’ yang halal yang tadinya tidak boleh dilakukan selama siang hari,
menjadi boleh dengan terbenamnya matahari.
Keempat
belas: Kegembiraan orang yang berpuasa di saat berbuka jangan sampai berlebihan
sehingga melanggar syariat.
Kelima
belas: Orang yang berpuasa atau orang yang beribadah dengan ikhlas, jika ia
gembira karena ibadahnya, maka kegembiraannya itu tidak mengurangi pahalanya
sedikit pun di akhirat kelak.
Keenam
belas: Kegembiraan yang sempurna didapatkan ketika bertemu Allah ‘Azza wa Jalla,
yakni ketika orang-orang yang sabar dan yang berpuasa diberikan pahalanya
secara utuh tanpa dibatasi oleh hitungan.
Mudah-mudahan
Allah menganugerahkan kita usia yang sampai ke bulan Ramadhan. Kemudian memberi
taufik kepada kita untuk mengisinya dengan sebaik-baiknya.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرٍ
الصِدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَى
وَأَعِنْهُ
عَلَى
البِرِّ وَالتَّقْوَى
وَسَدِدْهُ
فِي
أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ،
اَللَّهُمَّ
وَمُنَّ
عَلَيْهِ
بِالصِّحَّةِ
وَالعَافِيَةِ،
اَللَّهُمَّ
أَلْبِسْهُ
ثَوْبَ
الصِّحَّةِ
وَالعَافِيَةِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ ﷺ
وَاجْعَلْهُمْ
رَحْمَةً
وَرَأْفَةً
عَلَى
عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ
دِقَّهُ وَجِلَّهُ
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ
سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا تَصْنَعُونَ
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذُكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
Diadaptasi
dari tulisan Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas
www.KhotbahJumat.com