
August
21, 2014
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ
تَقْوَاهُ
عَزَّ وَجَلَّ
أَسَاسُ
الْفَلَاحِ
وَالسَّعَادَةِ
وَالْفَوْزُ
فِي
الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ
. عِبَادَ
اللهِ :
وَتَقْوَى
اللهَ جَلَّ وَعَلَا
عَمَلٌ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
رَجَاءَ
ثَوَابَ
اللهِ ، وَتَرْكُ
مَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
خِيْفَةَ عَذَابِ
اللهِ .
Ibadallah,
Suatu
hari, al-Khalifah al-Rasyid, Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu keluar di hari yang
diliputi kemarau yang panjang. Umar keluar untuk melaksanakan shalat istisqa
(meminta hujan) berjamaah bersama kaum muslimin dan saat itu ia senantiasa
beristighfar kepada Allah. Ia berkata,
لقد طلبتُ الغيثَ بمجاديح السماء التي يُستنزَل بها المطر
Aku
telah meminta hujan dengan “Majaadiihus Samaa’” yang
dengannya hujan diturunkan.
Kemudian
Umar membaca firman Allah Ta’ala,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“maka
aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya
Dia adalah Maha Pengampun- niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
(QS. Nuh: 10-12).
Ma’asyiral
mukminin,
Istighfar
memiliki kedudukan yang agung dan posisi yang utama dalam agama Allah. Ia
adalah pondasi untuk memperoleh kebaikan dan keberkahan, mendapatkan
kenikmatan, dan menghilangkan hukuman. Istighfar meninggikan derajat seseorang
dari derajat yang rendah ke derajat yang lebih mulia, dari derajat yang penuh
kekurang menjadi sempurna.
Istighfar
menyucikan dosa dan menghapus menghapus catatan kesalahan, mengangkat derajat
dan meninggikan kedudukan di sisi Allah Tabaraka
wa Ta’ala. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Sungguh
beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang
banyak.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam
hadits yang lain, beliau bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرُّهُ صَحِيفَتُهُ فَلْيُكْثِرْ فِيهَا مِنَ الِاسْتِغْفَار
“Siapa
yang ingin buku catatan amalnya membuatnya senang (tatkala melihatnya), maka
perbanyaklah catatan istighfar di dalamnya.”
Dan
Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah orang yang paling banyak istighfarnya, padahal
beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya
hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah. Sesungguhnya aku
beristighfar seratus kali dalam sehari.”
Dan
dalam hadits lainnya, dari Abdullah bin Umar radhiallahu
‘anhuma, ia berkata,
كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ : رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kami
pernah menghitung bacaan dzikir Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam satu majelis. Beliau ucapkan,
‘Robbighfirlii wa tub ‘alayya innaka anta tawwaabul ghofuur”
(Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha
Penerima taubat dan ampunan)’, sebanyak 100 kali.”
Bahkan
lebih dari itu, ada sebuah riwayat yang membuat kita lebih merasa
terheran-heran. Dari Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu, ia berkata,
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ أَنْ يَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ الله وَأتوبُ إِلَيْهِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
“Aku
tidak pernah melihat seseorang yang mengucapkan ‘Astaghfirullah wa atubu
ilaih’ (Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepadanya) lebih
banyak dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.”
Abu
Hurairah melihat sahabat-sahabat yang sangat rajin beribadah, sebaik-baik orang
yang beriman, dan sahabat-sahabat yang banyak beristighfar, tapi ia tidak
menjumpai satu pun dari mereka yang beristighfar dan bertaubat kepada Allah Jalla wa ‘Ala lebih
banyak dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Kehidupan
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam penuh dengan istighfar setiap waktunya,
sampai di akhir hayatnya beliau tutup dengan bertaubat dan memohon ampun kepada
Allah. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu
‘anha, ia mengisahkan akhir hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَيَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ
“Aku
mendengar Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang saat (menjelang wafat) bersandar
kepadaku, beliau berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, dan
kumpulkanlah aku bersama orang-orang shaleh’.”
Sebagaimana
kehidupan beliau dipenuhi dengan istighfar dan ketaatan, akhir hayatnya pun
ditutup dengan istighfar. Hal ini sekaligus memberikan pelajaran kepada kita
tentang kedudukan istighfar yang begitu agung di dalam agama Islam, dan betapa
kita sangat membutuhkan istighfar.
Wajib
bagi kita untuk memperbanyak istighfar di sepanjang waktu kita dan aktifitas
kita. terlebih lagi di waktu-waktu yang memang ditekankan untuk beristighfar,
seperti: selesai shalat fardhu, di sepertiga malam terakhir, dll. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
juga memohon ampun kepada Allah ketika sujud dan juga mencontohkan doa iftitah
yang mengandung kalimat-kalimat taubat. Beliau juga melakukan hal yang sama
ketika hendak salam selesai dari shalatnya. Dan setelah salam pun beliau
mengucapkan dzikir berupa kalimat istighfar. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِلاِقْتِدَاءِ
بِنَبِيِّكَ
وَحُسْنِ
الْاِتِّبَاعِ
لَهُ
وَاجْعَلْنَا
مِنْ
عِبَادِكَ
التَّوَابِيْنَ
الْمُسْتَغْفِرِيْنَ
يَا ذَا الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
.
أَقُوْلُ هَذَا
القَوْلِ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ,
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا
أما بعد عباد
الله :
Banyak
orang mengeluhkan akan keringnya bumi karena kemarau panjang, kekurangan hujan,
dan mendapatkan banyak kemudharatan lantaran kemarau yang berkepanjangan.
Mengapa keadaan ini terjadi dan apa solusinya. Tidak lain dan tidak bukan
karena sedikitnya taubat kita dan kurangnya kita beristighfar kepada Allah.
Alangkah butuhnya kita akan istighfar dan senantiasa memperbanyaknya.
Suatu
hari ada seseorang yang datang kepada Hasan al-Bashri rahimahullah. Ia
mengadukan akan kemarau yang panjang. Hasan al-Bashri berkata kepadanya,
“Memohon ampunlah kepada Allah”. Kemudian datang laki-laki lainnya
mengadukan tentang kemiskinannya. Hasan al-Bashri member saran yang sama,
“Memohon ampunlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang
ketiga mengeluhkan bahwa ia belum juga dikaruniai anak. Hasan al-Bashri tetap
pada jawabannya, “Memohon ampunlah kepada Allah”.
Lalu
orang-orang pun bertanya kepadanya tentang hal itu. Beliau menjawab, “Aku
tidak menambahkan suatu saran kecuali seperti yang terdapat dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“maka
aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya
Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.
Nuh: 10-12).
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا كُلَّهَا دِقَّهَا وَجُلَّهَا أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا سِرَّهَا وَعَلَّنَهَا . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنت المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا جِدَّنَا وَهَزلَنَا وَخَطَأَنَا وَعَمَدَنَا . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .
اَللَّهُمَّ
ارْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَا وَالْوَبَا
وَالْزَلَازِلَ
وَالْمِحَنَ
وَالْفِتَنَ
كُلَّهَا مَا
ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ .
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا شَأْنَنَا
كُلَّهُ
وَلَا
تَكِلْنَا
إِلَى أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ
عَيْنٍ .
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا
، زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
. اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا اَلَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا ،
وَأَصْلِحْ
لَنَا دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَاشُنَا ، وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
اَلَّتِي فِيْهَا
مَعَادُنَا ،
وَاجْعَلْ
الْحَيَاةَ زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَالْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
، وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
، وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِّيَ
أَمْرِنَا
لِهُدَاك ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْهُ
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى
مِنْ
سَدِيْدِ
الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
. اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
محمد وَعَلَى
آلِ محمد
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ,
وَبَارِكْ
عَلَى محمد وَعَلَى
آلِ محمد
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ .
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com