
December
18, 2013
Khutbah
Pertama:
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
…
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Melalui
khutbah ini, kami berwasiat kepada diri kami dan seluruh kaum muslimin,
hendaklah kita senantiasa menjaga dan berusaha meningkatkan ketakwaan kita
kepada Allah sambil terus berdoa agar diberi keistiqamahan dan diwafatkan dalam
keadaan Islam.
Kaum muslimin rahimakumullah
Semua
orang pasti ingin selalu bahagia dan tidak pernah menginginkan kesengsaraan
walau sejenak. Semua orang ingin senantiasa beruntung dan berusaha maksimal
menghindari kerugian, namun apa hendak dikata, fakta berbicara lain. Tidak semua
yang diinginkan manusia di dunia terwujud, terkadang apa yang justru dihindari
menjadi fakta yang harus diterima, meski terasa pahit. Kerugian terus mendera.
Kenyataan pahit ini disikapi dengan sikap yang berbeda-beda, mulai dari sikap
ekstrim sampai yang biasa-biasa saja. Terkadang sikap itu justru mendatangkan
kerugian atau penderitaan baru, seperti bunuh diri –na’udzu
billah-, merusak harta-benda, mencederai diri sendiri atau mencederai orang
lain. Tapi ada juga yang menyikapi dengan santai, tenang dan penuh kesabaran.
Dia menyadari bahwa kerugian yang dialami di dunia ini bukanlah kerugian
hakiki, bukan kerugian yang akan mendatangkan penderitaan abadi; itu bukanlah
kerugian yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
fiman-Nya:
قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلاَّ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah,
“Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri
mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah yang demikian
itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15)
Kaum
muslimin rahimakumullah
Karugian
yang disebutkan dalam ayat di atas itulah kerugian yang hakiki, yang akan
menyebabkan penyesalan yang kekal. Kerugian pada Hari Kiamat; kerugian di saat
kebaikan dan keburukan manusia ditimbang dengan timbangan teradil yang tidak
mengandung kecurangan sama sekali. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyelamatkan kita semua dari kerugian tersebut.
Kerugian
pada Hari Kiamat merupakan akibat dari perbuatan kita selama hidup di dunia.
Jika kesempatan hidup ini bisa kita manfaatkan dengan baik dan maksimal,
sebagaimana seorang pebisnis memanfaatkan modal usahanya yang sangat terbatas
untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, maka insya Allah kita akan
terselamatkan dari kerugian tersebut.
Kaum
muslimin rahimakumullah
Kerugian
terburuk yang menimpa seseorang adalah kerugian yang menimpa agamanya, karena
kerugian ini akan menyebabkan penderitaan abadi di akhirat. Kerugian yang
menimpa agama seseorang merupakan musibah terparah bagi seseorang. Oleh karena
itu, diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
… ولا تجعل مصيبتنا في ديننا
Janganlah
Engkau menjadikan musibah pada agama kami
Apalagi
jika musibah pada agama ini sampai menyeretnya ke lembah kemurtadan
–na’udzubillah-
Kaum
muslimin rahimakumullah
Diantara
ciri orang yang menderita kerugian dengan kerugian hakiki adalah ia melalaikan
kesempatan beramal shaleh dalam kehidupannya. Dia membiarkan kesempatan itu
lewat begitu saja, sehingga akhirnya saat kematian tiba, amal kebaikan yang
pernah dilakukannya masih sedikit, sementara keburukannya menggunung. Padahal
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَن خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ بِمَاكَانُوا بِئَايَاتِنَا يَظْلِمُونَ
“Timbangan
pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan
kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan
timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri
disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS.
Al-A’raf: 8-9)
Kaum
muslimin rahimakumullah
Tanda-tanda
orang merugi lainnya adalah sering mengingkari janji, membuat kerusakan di muka
bumi dengan menyebarkan syubhat dan membangkitkan nafsu syahwat. Orang yang
tunduk dan taat kepada orang-orang kafir serta memberikan loyalitas kepada
mereka, juga diantara ciri orang yang rugi. Alquran dengan tegas telah
mengingatkan perbuatan yang menyebabkan akibat buruk ini. Karena orang-orang
kafir itu akan berusaha membuat kita seperti mereka. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu,
niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu
jadikanlah kamu orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 149)
Kaum
muslimin rahimakumullah
Termasuk
orang-orang yang merugi pada Hari Kiamat adalah orang yang hanya beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat dia mendapatkan anugerah
kebaikan, di saat hidupnya nyaman, enak dan makmur atau dia beribadah kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala disaat apa yang dilakukan itu bisa
mendatangkan keuntungan atau kebaikan duniawi. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Dan
di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;maka
jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa
oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di
akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)
Termasuk
merugi juga yaitu orang yang dilalaikan oleh harta dan keluarga sehingga tidak
bisa beribadah kepada Allah.
Dan
masih banyak lagi ayat-ayat Alquran yang menyebutkan kata merugi dan hal-hal
yang menyebabkan kerugian. Ini semua dalam rangka mengingatkan manusia agar
tidak tertimpa kerugian yang mengakibatkan penderitaan yang tidak terperikan
akibatnya dalam kehidupan akhirat.
Akhirnya,
kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjaga dan
menyelamatkan kita dari kerugian-kerugian tersebut.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
أَحْمَدُ رَبِّيْ وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيِّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Kaum
muslimin rahimakumullah
Setelah
mendengarkan pemaparan pada khutbah pertama, tentu kita terus bertanya-tanya;
Bagaimanakah cara kita menghindari kerugian tersebut? Manakah usaha yang bisa
mendatangkan keuntungan hakiki?
Jawabannya
telah dijelaskan dalam Alquran dengan penjelasan gamblang dalam Alquran surat
al-A’ahr.
Dalam
ayat lain dijelaskan rambu-rambu bisnis yang mendatangkan keuntungan serta
dijamin tidak akan tersentuh kerugian.. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ . تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah
yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.” (QS. Ash-Shaff: 10-11)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan
menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan
diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak
akan merugi.” (QS. Fathir: 29)
Kaum
muslimin rahimakumullah
Itulah
jawabannya, itulah cara dan langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk menghidari
kerugian dan meraih keuntungan. Barangsiapa melalaikan dan mengabaikan cara
yang diberikan oleh Allah tersebut, kerugian pasti tidak akan terelakkan dan
dia akan merasakan penyesalan yang tiada tara. Semoga kita semau senantiasa
berada dalam hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa
mendapatkan taufiq dari Allah untuk beramal sesuai dengan atauran Allah Subhanahu
wa Ta’ala
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
اللهم
افتح بيننا
وبين قومنا
بالحق وأنت
خير الفاتحين.
اللهم
إنا نسألك
علما نافعا
ورزقا طيبا
وعملا متقبلا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وصلى
الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه و َمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Sumber:
Majalah As-Sunnah, Edisi 06/Thn XVII/Dzulqa’dah 1434 H/Oktober 2013 M