
May
2, 2016
Khotbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ؛
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Bertakwalah
kepada Allah Ta’ala
dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh
ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai
bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian
takuti dan kalian kawatirkan.
Ketakwaan
merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan
ketakwaan Allah –Subhanahu
wa Ta’ala– menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya).
Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk
memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat
hidupnya.
Di
antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya.
Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di
akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada
pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah
akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya
bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi
tempat tinggal mereka.
Setiap
keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.
Firman
Allah :
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]
“dan
bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42
Maha
suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan
menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan
pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak
maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi
melakukan tekad tersebut).
Sedangkan
kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan.
Firman Allah :
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]
“Dan
kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki
Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29
Maka
apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak
dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.
Kematian
adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi
setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk
semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam-
bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.
Firman
Allah :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]
“Semua
yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan
kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27
Kematian
adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal
kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan
dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang
agung atau siksaan yang pedih.
Kematian
merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan
keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]
“Dan
Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian
malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah
seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka
tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61
Kematian
mencerminkan keadilan Allah –Subhanahu
wa Ta’ala– tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian
ini. Firman Allah :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]
“Setiap
yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian
dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57
Kematian
akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan,
menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang
(semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan
kehidupan. Firman Allah :
وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]
“Dialah
yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam
dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80
Kematian
tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh
bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman.
Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si
miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]
“Di
mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di
dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78
Firman
Allah :
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]
“Katakanlah:
“Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan
menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang
mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang
telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8
Kematian
datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]
“Dan
Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah
datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu
kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11
Kedatangan
kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi
–alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah
–Subhanahu wa
Ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap
para nabi.
Dalam
sebuah hadis disebutkan :
” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ”
Tidak
ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara
kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih
kematian”.
Sudah
menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui
kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga
sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.
Anas
–radhiyallahu
‘anhu– berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam
bersabda :
“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم
“Tidak
seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun
demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia,
kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia
kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat
keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.
Kematian
merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun
yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut
dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat
parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.
Dari
Aisyah –radhiyallahu
anha– berkata :
“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى
”Aku
melihat Rasulullah –shallallahu
alaihi wa sallam– ketika maut menjelang, sedangkan di
dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke
dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a:
”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. Tirmizi
Dalam
sebagian riwayat :
إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ
“Sesungguhnya
pada kematian itu ada rasa sakitnya”
Salah
seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut,
“Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”.
Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang
digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang
jarum”.
Dikatakan
kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati
dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana
kemari di dalam tubuhku”
Seorang
lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan
sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam
perutku”.
Barangsiapa
yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan
perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak
melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu
berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.
Dan siapa
yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk
amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat
yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia
berkata, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ
“Perbanyaklah
mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan
An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
Dan
makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang
menjadikannya sirna.
Dari
Ubay bin Ka’ab radhiyallahu
anhu, beliau berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ
“Jika
telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia
sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan
sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua,
telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan
ia berkata, “Hadits hasan”).
Dan
dari Abu Ad-Darda ia berkata :
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ
“Cukuplah
kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari
ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu
‘Assakir)
Dan
seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada
persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju
surga atau pintu pertama menuju neraka.
Dan
persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada
Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat
kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.
Dari
Anas radhiyallahu anhu
ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Allah
berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan
dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali
tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan
ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits
hasan)
Persiapan
datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan
kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :
وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan
mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada
orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)
Demikian
juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar.
Allah berfirman :
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika
kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil)
dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)
Persiapan
akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak
melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah
memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak
memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas
diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.
Persiapan
akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.
Persiapan
akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja.
Tatkala turun firman Allah Ta’ala
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ
“Barangsiapa
yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk
Islam” (QS Al-An’aam : 125)
Maka
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ
“Cahaya
yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa
hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,
الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ
“Bersikap
selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu
serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”
Dan
kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :
الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ
“Amalan
tergantung akhirnya”
Dari
Mu’adz radhiyallahu
anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa
yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk
surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”
Diantara
perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam
sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya
adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak
memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu
Sa’id Al-Khudri radhiyallahu
anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
“Talqinkanlah
La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian”
(HR Muslim)
Kecelakaan
adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan
datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa.
Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah Ta’ala.
Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk
ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta
tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian.
Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda.
Allah berfirman :
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang
dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar
aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali
tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun :
99-100)
Dan
pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;
وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)
Dan
ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum
datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya
jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas
kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku
sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau
supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk
kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya
jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat
kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´.
(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu
kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk
orang-orang yang kafir” (QS Az-Zumar : 55-59)
هَدَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِأَقُرِّبُ مِنْ هَذَا رُشْدًا، وَوَفِّقْنَا لِكُلِّ خَيْرٍ، وَهَدَانَا سَوَاءَ السَبْيْلِ. أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ وَعَلَا
عَمَلٌ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
رَجَاءَ
ثَوَابِ
اللهِ، وَتَرْكَ
مَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ اللهِ
خِيْفَةَ
عَذَابِ
اللهِ .
Kaum
muslimin sekalian,
Jagalah
sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima
rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab
tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa
memohon husnul khotimah. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan
hina dina” (QS Ghofir : 60)
Maka
doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiyallahu anhuma ia
berkata : Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa
merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata :
Hadits hasan shahih)
Dan
dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ
“Ya
Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari
kehinaan dunia dan adzab akhirat”
Maka
niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.
Dan
sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan
hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat,
serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan
akhirat.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٌ ضَلَالَةٍ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَارِ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
رَحِمَكُمُ
اللهُ عَلَى
إِمَامِ
المُتَّقِيْنَ
وَخَيْرِ
عِبَادِ
اللهِ أَجْمَعِيْنَ
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ : ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنَ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ،
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ،
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَالِحَةَ
النَاصِحَةَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ جَمِيْعَ
وُلَاةَ أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكَتَابِكَ
وَتَحْكِيْمِ
شَرْعِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ .
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا اَلَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ الحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ،
وَالمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ
اهْدِنَا
لِأَحْسَنِ
الأَخْلَاقِ
لَا
يَهْدِيْناَ
لِأَحْسَنِهَا
إِلَّا
أَنْتَ، وَاصْرِفْ
عَنَّا
سَيِّئَهَا
لَا يَصْرِفُ
عَنَّا
سَيِّئَهاَ
إِلَّا
أَنْتَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا
زَكِّهَا أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ،
اَللَّهُمَّ
وَارْفَعْ
عَنَّا
الغَلَاءَ وَالوَبَاءَ
وَالمِحَنَ
كُلَّهَا
وَالزَلَازِلَ
وَالفِتَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ عَنْ
بَلَدِنَا
هَذَا
خَاصَةً وَعَنْ
سَائِرِ
بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ
عَامَةً يَا
ذَا
الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُنْيَا حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
Khotbah
Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H oleh Syekh Ali Bin Abdurrahman
Al-Hudzaifi
Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja
Artikel firanda.com
Diposting
ulang oleh www.KhotbahJumat.com