
November
3, 2015
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ ثَنَاءَ الذَاكِرِيْنَ، أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِمَحَامِدِهِ اَلَّتِيْ هُوَ لَهَا أَهْلُ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ الخَيْرَ كُلَّهُ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ تَعْظِيْمٍ لِجَنَابِهِ وَإِيْمَانٍ بِعَظَمَتِهِ وَجَلَالِهِ وَكِبْرِيَائِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى صِرَاطِ اللهِ المُسْتَقِيْمُ وَدِيْنِهِ القَوِيْمُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ :
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
Ibadallah,
Bertakwalah
kepada Allah, karena takwaadalah sumber kebahagian di dunia dan kunci
kesuksesan di akhirat. Takwa adalah amalan yang berdasarkan petunjuk Allah.
Dilakukan dengan berharap pahala dari-Nya. Atau meninggalkan perbuatan dosa
dengan bimbingan wahyu Allah karena takut akan adzab-Nya.
Ayyuhal
mukminun,
Agama
Islam adalah agama yang agung dan dibangun berasaskan kepada pengagungan pula.
Pengagungan terhadap Allah dan terhadap Rasul-Nya ﷺ. Allah ﷻ berfirman,
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah
(perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi´ar-syi´ar Allah,
maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS:Al-Hajj | Ayat:
32).
Sebuah
kalimat yang kuat, yang menghujamkan pesan ke benak dan hati manusia bahwasanya
wajib bagi mereka untuk tunduk dan mengagungkan syariat Allah. apabila
seseorang telah kehilangan pengagungan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan
syariat-Nya, maka ia akan terjatuh ke dalam berbangga diri dan menghinakan
syariat. Inilah kenyataan yang terjadi pada sebagian manusia bahkan sebagian
orang-orang yang menisbatkan diri mereka kepada Islam.
Ibadallah,
Kita
mungkin sulit membayangkan perkataan-perkataan yang melcehkan Allah, syariat,
dan Rasul, ada pada lisan-lisan orang-orang yang menyebut diri mereka seorang
muslim. Namun realiatanya hal itu terjadi. Yang demikian karena hati-hati
mereka telah kehilangan rasa pengagungan kepada Allah ﷻ. Hati yang demikian akan mengeluarkan
ucapan-ucapan yang ajaib dan tindakan-tindakan yang aneh. Oleh karena itu,
timbangan kebaikan dan kesuksesan seseorang adalah kebaikan dan kesucian
hatinya. Nabi ﷺ bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ ؛ أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
“Ingatlah
bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula
seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa
ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ayyuhal
mukminun,
Sesungguhnya
menghina Allah atau menghina Rasulullah ﷺ atau satu bagian dari syariat Islam dan
hokum-hukum agama adalah perbuatan murtad yang mengeluarkan seseorang dari
Islam. Ini adalah tindak kejahatan yang besar dan musibah yang besar pula. Hal
ini tidak akan terjadi pada hati seorang yang beriman.
Adanya
tindakan penghinaan dan pelecehan ini menunjukkan akan hilangnya keimanan dari
hatinya. Oleh karena itu, dalam surat At-Taubah Allah ﷻ membongkar kejelekan orang-orang munafik,
menampakkan jati diri mereka yang sebenarnya, Allah ﷻ berfirman,
يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ (64) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)
“Orang-orang
yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang
menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka:
“Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)”.
Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu
tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka
akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan
bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya
dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf,
karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran
mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan
mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS:At-Taubah |
Ayat: 64-66).
Ini
adalah kejahatan yang besar dan bentuk permusuhan yang nyata, manusia yang
telah Allah ﷻ berikan kepadanya pendengaran, penglihatan, hati, dan anggota
badan lainnya, namun ia berucap dengan lisannya suatu perkataan yang menghina
Allah ﷻ. Atau menghina syariat-Nya. Atau menghina Rasul-Nya ﷺ.
Atau mengkritik dan membenci sebagian dari syariat-Nya. Apakah yang demikian
dikatakan seseorang yang berakal? Orang yang bijak? Seorang cendekiawan?
Wal’iyadzubillah..
Ketika
Nabi ﷺ dalam perjalanan bersama pasukan Perang Tabuk, para sahabat
ditimpa berbagai macam kesulitan. Lalu seorang munafik di tengah orang-orang
berkata, “Kita tidak pernah melihat orang semisal para pembaca Alquran
(Rasulullah dan para sahabat) itu, yang buncit perutnya (rakus dalam hal
makanan), paling dusta kalau berbicara, dan paling penakut ketika berjumpa
dengan musuh”. Salah seorang di majlis tersebut berkata, “Engkau
dusta. Engkaulah yang munafik. Sungguh akan kukabarkan (apa yang kau ucapkan)
kepada Rasulullah ﷺ.
Allah
ﷻ
menurunkan ayat Alquran kepada Rasulullah ﷺ berkaitan dengan apa yang mereka ucapkan.
Kemudian orang yang mengucapkan kalimat tadi meminta maaf kepada Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ sama sekali tidak menoleh kepadanya dan tidak peduli kepadanya.
Beliau ﷺ hanya menanggapinya dengan terus-menerus membaca firman Allah ﷻ,
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Katakanlah:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.”
Firman
Allah,
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Tidak
usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.”
Menunjukkan
bahwa orang yang menghina dan melecehkan syariat sebelumnya beriman kepada
Allah, namun setelah mereka mengucapkan perkataan tersebut mereka jatuh dalam
kekufuran dan keluar dari Islam. Sebagai penjelas ayat ini, Nabi ﷺ
juga pernah bersabda,
وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya
seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa,
padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan
karenanya.” (HR. Tirmidzi).
Ibadallah,
Perkataan-perkataan
buruk demikian telah terjadi di lingkungan kaum muslimin. mereka yang
mengucapkan itu bisa jadi adalah saudara-saudara kita, anak-anak dari kaum
muslimin, dan di rumah-rumah kaum muslimin. Oleh karena itu, hendaknya para orang
tua peduli dan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga anak-anak mereka dan
memperhatikan tumbuh kembangnya. Allah ﷻ berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka…” (QS:At-Tahriim | Ayat: 6).
Ini
adalah bahaya yang besar. Seorang anak dapat menerima pengaruh pemikiran
demikian melalui berbagai macam fasilitas yang ada di rumah. Seorang anak di
rumah, ia menyaksikan televisi. Ia saksikan seseorang yang lemah agamanya,
pendek pemahamannya, dan memiliki pemikiran yang buruk berbicara tentang Islam.
Kemudian ia mengucapkan kalimat yang hakikatnya merendahkan Allah, syariat, dan
Rasulullah. Atau anak-anak juga terpengaruh lewat internet. Ia membaca,
mendengar, damelihat hal-hal yang buruk sehingga berpengaruh dalam benaknya
lalu hilanglah pengagungan terhadap Allah, syariat, dan Rasulullah ﷺ.
Semoga
Allah menganugerahkan kita taufik untuk menjaga diri kita dan keluarga kita
dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Semoga Allah ﷻ memberikan semangat kepada kita untuk
mengkaji agamanya sehingga kita bisa membimbing diri dan keluarga kita ke jalan
kebenaran dan membantah penyimpangan dan kesesatan.
Dan
hendaknya para orang tua juga mewaspadai sarana-sarana seperti televisi,
internet, buku-buku, dan majalah yang buruk, agar dijauhkan dari keluarga.
اَللَّهُمَّ يَا رَبَّنَا وَيَا خَالِقَنَا وَمَوْلَانَا سَلِّمْنَا يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ وَنَجِّنَا مِنْ هَذِهِ الفِتَنِ وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، اَللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا وَجَنِّبْهُمْ الفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اَللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ لَنَا نِيَّـاتَنَا وَذُرِّيَاتَنَا وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى.
يَقُوْلُ
اللهُ
سُبْحَانَهُ:
{ إِنَّ
السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَئِكَ
كَانَ عَنْهُ
مَسْئُولًا }
[الإسراء:36] .
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS:Al-Israa’ | Ayat:
36).
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Barangsiapa
yang menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapa Allah ﷻ dan Dia akan meminta pertanggung-jawan
dari apa yang ia dengar, lihat, dan pikirkan, maka yang demikian akan
bermanfaat besar untuknya. Pendengar, penglihatan, dan anggota badan yang lain
semua memiliki kejelekan. Dan cara menyelamatkan darinya adalah dengan
mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Dengan cara menempuh jalan-jalan yang
telah Dia tuntunkan.
Ibadallah,
Orang
yang cerdas adalah mereka yang menundukkan hawa nafsunya untuk mengerjakan
amalan demi kebaikan akhiratnya. Sedangkan orang yang lemah adalah mereka yang
mengikuti dan tunduk kepada hawa nafsunya kemudian tertipu dengan
angan-angannya.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَعَاكُمُ
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ فَقَالَ:
﴿ إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ صَلاةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ
عَلِيٍّ,
وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ
فِي أَرْضِ
الشَامِ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
كُنْ لَنَا
وَلَهُمْ
حَافِظاً
وَمُعِيْنًا
وَمُسَدِّداً
وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ
كُنْ لَنَا
وَلَهُمْ
وَلَا تَكُنْ
عَلَيْنَا،
وَانْصُرْنَا
وَلَا
تَنْصُرْ عَلَيْنَا،
وَامْكُرْ
لَنَا وَلَا
تُمْكِرْ
عَلَيْنَا،
وَاهْدِنَا
وَيَسِّرْ
الهُدَى
لَنَا،
وَانْصُرْنَا
عَلَى مَنْ
بَغَى عَلَيْنَا،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْنَا
عَلَى مَنْ
بَغَى
عَلَيْنَا،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْنَا
عَلَى مَنْ
بَغَى
عَلَيْنَا.
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا
لَكَ ذَاكِرِيْنَ،
لَكَ
شَاكِرِيْنَ،
إِلَيْكَ
أَوَّاهِيْنَ،
لَكَ
مُخْبِتِيْنَ،
لَكَ مُطِيْعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
تَقَبَّلْ
تَوْبَتَنَا،
وَاغْسِلْ
حَوْبَتَنَا،
وَثَبِّتْ
حُجَّتَنَا،
وَاهْدِ
قُلُوْبَنَا،
وَسَدِّدْ
أَلْسِنَتَنَا،
وَاسْلُلْ
سَخِيْمَةَ
صُدُوْرِنَا.
اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
حُبَّكَ،
وَحُبَّ مَنْ
يُحِبُّكَ،
وَحُبَّ العَمَلَ
الَّذِيْ
يُقَرِّبُنَا
إِلَى حُبِّكَ.
اَللَّهُمَّ
زَيِّنَّا
بِزِيْنَةِ
الإِيْمَانِ
وَاجْعَلْنَا
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُلُمَاتِ
إِلَى النُّوْرِ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا،
أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ:
أُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
{ وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ }
.
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com