
December
7, 2015
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ؛ أَحْمَدُهُ بِمَحَامِدِهِ الَّتِيْ هُوَ لَهَا أَهْلٌ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ الخَيْرَ كُلَّهُ، لَا أُحْصِي ثَنَاءَ عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ؛ إِلَهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ وَقُيُوْمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ؛ بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ, فَمَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَرَاقِبُوْهُ
فِي السِّرِّ
وَالعَلَانِيَةِ
وَالغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
Ibadallah,
Tak
ada sedikit pun perjalanan kehidupan dunia ini yang terhenti, sampai Allah ‘Azza wa Jalla kelak
menetapkan hari yang menjadi akhir bagi segalanya. Waktu demi waktu adalah
ujian bagi setiap manusia. Hanyalah seorang Mukmin yang dapat menghadapinya
dengan baik. Ia selalu mengharap taufik Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap langkah di
segala keadaannya. Ia meneladani Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam setiap ucapan dan amalannya. Ia
mempelajari dengan seksama contoh para Salafus shalih dalam setiap hal yang
menghampiri kehidupannya. Seorang Mukmin selalu berhati-hati dalam menentukan
sikap dan tindakannya agar dapat selaras dengan petunjuk syariat. Saat ia
mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan, maka ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
tidak lantas terbuai sehingga lupa bahwa itu hanyalah bersifat sementara.
Tatkala ia ditimpa kesulitan atau musibah, maka ia segera menyadari bahwa itu
adalah ujian. Ia meyakini bahwa semua yang terjadi merupakan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla
sehingga ia bersabar dan tidak hanyut dalam kesedihan yang berkepanjangan.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
عَنْ صُهَيْبٍ الرُّوْمِيِّ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكاَنَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Dari
Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu
‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
: “Betapa menakjubkan perkara seorang Mukmin. Sungguh semua perkaranya
adalah baik. Apabila ia mendapatkan kebahagiaan maka ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan
itu adalah yang terbaik baginya. Manakala ia mendapatkan musibah maka ia
bersabar dan itu adalah yang terbaik baginya.”(HR. Muslim dan selainnya).
Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Menakjubkan seorang
Mukmin, karena tidaklah Allah ‘Azza
wa Jalla menentukan satu perkara bagi dirinya melainkan itu menjadi
yang terbaik baginya”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Di
antara titipan Allah ‘Azza
wa Jalla yang menjadi ujian kehidupan bagi seorang Mukmin dan
Mukminah adalah anak, “Si buah hati”. Ia hadir sebagai penyejuk
mata yang mendatangkan kebahagiaan. Setiap gerak dan tingkahnya adalah
kebanggaan. Setiap keceriaan celoteh beriring senyum dan kemanjaannya adalah
penghibur hati dan pengisi kehampaan. Tak ada kata lelah ataupun bosan bagi ibu
atau ayah untuk melayaninya dan mencurahkan kasih sayang kepadanya. Tak perlu
diminta untuk memberikan yang terbaik baginya. Tak habis cara dan usaha mencari
jalan keluar terhadap segala kesulitannya. Semua itu dilalui sebagai
kebahagiaan bagi kedua orang tua. Namun pada saat Allah ‘Azza wa Jalla
memanggil kembali si buah hati karena ajal telah menjemputnya, tak jarang
sebagian orang tua dirundung kesedihan yang begitu mendalam dan berkepanjangan,
seakan kurang dapat menerima kenyataan. Di antara mereka ada yang bingung
“Apa yang harus dilakukan??”, rasa “Belum siap”, dan
pertanyaan “Mengapa ini terjadi?” bergelayut dalam hati dan pikiran.
Mari kita merenung sejenak, sambil mencermati kembali tuntunan ajaran Islam
yang sudah pasti memberikan kemudahan dan mendatangkan kebahagiaan. Sehingga
langkah setiap Mukmin dan Mukminah saat menghadapi kepergian “Si buah
hati” yang takkan kunjung kembali adalah langkah yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla.
Ibadallah,
Sebagai
contoh terbaik bagi umat ini, kita dapatkan dari keteladanan kisah nyata
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam saat puteranya Ibrahim meninggal dunia pada
usia yang sangat dini. Namun demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tegar
dalam menjalani ujian kehidupan tersebut. Ketika Ibrahim telah dekat dengan
ajalnya, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mendekapnya dalam pangkuan, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
menciumnya dan beberapa saat kemudian Ibrahim menghembuskan nafasnya yang
terakhir. Maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam meletakkannya dan beliau pun n menangis.
`Abdurrahman bin `Auf bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
, apakah engkau menangis padahal engkau telah melarang (kami) menangis (yakni
tangis ratapan atau niyahah)?” Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: “Wahai Ibnu `Auf,
sesungguhnya aku tidak melarang (kalian) menangis, hanya saja aku melarang dua
jenis suara bodoh lagi jahat; yakni suara alunan (musik) yang melalaikan dan
seruling-seruling setan, serta suara tamparan wajah dan mengoyak pakaian ketika
musibah. Adapun (tangisan) ini adalah kasih sayang, dan barangsiapa yang tidak
menyayangi maka ia tidak disayangi. Jikalah ini bukan janji (Allah ‘Azza wa Jalla )
yang pasti terjadi dan ucapan yang benar, serta yang telah wafat mendahului
kita pastilah akan kita susul, maka kita akan lebih bersedih dari ini. Sungguh
kami bersedih dengan (kepergianmu) wahai Ibrahim. Air mata berlinang…,
hati bersedih…, kita tidak mengucapkan (sesuatu) yang akan mendatangkan
murka Allah ‘Azza wa
Jalla.” (HR. al-Bukhari dan selainnya).
Lihatlah
ketegaran dan ketabahan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam , sekalipun hati beliau bersedih dan air
mata berlinang namun beliau menjauhkan diri dari segala sesuatu yang akan
mendatangkan murka Allah ‘Azza
wa Jalla. Karena Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam meyakini bahwa semua yang terjadi adalah
kehendak dan kuasa Allah ‘Azza
wa Jalla yang sarat kebaikan serta hikmah. Tidak sedikitpun Allah ‘Azza wa Jalla
menzhalimi hamba-Nya. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
“Dan
Dialah yang berkuasa atas seluruh hamba-Nya. Dan Dialah yang maha bijaksana
lagi maha mengetahui”.(QS:Al-An’am | Ayat: 18)
وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Dan
Aku sekali-kali tidak menzhalimi hamba-hamba-Ku”.(QS:Qaaf | Ayat: 29).
Dengan
meyakini hal ini maka seorang Mukmin akan mudah berlapang dada terhadap segala
yang terjadi karena Allah ‘Azza
wa Jalla pasti memberikan yang terbaik. Menyadari bahwa semua yang
kita miliki hanyalah ujian serta titipan sementara yang suatu saat akan kembali
kepada-Nya. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ
“Kepunyaan
Allah ‘Azza wa Jalla
sajalah segala yang ada di langit dan di bumi; dan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla
segala urusan dikembalikan”. (QS:Ali Imran | Ayat: 109).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
“Apabila
Allah ‘Azza wa Jalla
mencintai suatu kaum maka Allah ‘Azza
wa Jalla akan menguji mereka. Barangsiapa ridha maka ia akan
mendapatkan ridha (Allah ‘Azza
wa Jalla ), dan barangsiapa marah (benci) maka baginya kebencian
dan kemurkaan (Allah ‘Azza
wa Jalla )”.(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Ibadallah,
Al-kisah
seorang Sahabat bernama Abu Thalhah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu memiliki seorang
istri bernama Ummu Sulaim radhiyallahu
‘anhuma serta seorang putera yang ia sayangi. Ketika Abu
Thalhah radhiyallahu
‘anhu keluar dari rumah (untuk suatu kepentingan), anaknya
sedang jatuh sakit yang kemudian meninggal dunia. Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anhuma
mempersiapkan (diri) seraya berkata kepada kerabatnya: “Jangan kalian memberitahu
suamiku Abu Thalhah radhiyallahu
‘anhu tentang puteranya, biarkanlah aku sendiri yang akan
menyampaikan berita duka ini”. Saat Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu
sampai di rumah bersama beberapa Sahabatnya beliau bertanya kepada Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anhuma
: “Bagaimana keadaan anak kita?”. Ummu Sulaim menjawab:
“Semenjak ia sakit, malam ini sungguh ia lebih tenang dari
sebelumnya”. Ummu Sulaim mempersiapkan makan malam, kemudian ia berhias
diri dan bersolek untuk suaminya. Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memuji Allah ‘Azza wa Jalla dan
merasa senang, ia menyelesaikan makan malam kemudian menggauli istrinya.
Setelahnya, Ummu Sulaim radhiyallahu
‘anhuma berkata: “Wahai Abu Thalhah, bagaimana
pendapatmu apabila seseorang meminjam suatu pinjaman dan memanfaatkannya,
kemudian ketika pinjaman itu diminta kembali dia enggan untuk
mengembalikannya?” Abu Thalhah radhiyallahu
‘anhu menjawab: “Dia tidak berlaku adil”. Ummu
Sulaim radhiyallahu
‘anhuma berkata lagi: “Sesungguhnya puteramu adalah
pinjaman Allah ‘Azza
wa Jalla bagimu, dan sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah mengambilnya
kembali”. (Ternyata) Abu Thalhah radhiyallahu
‘anhu bersabar serta memuji Allah ‘Azza wa Jalla … Keesokan harinya
ia hendak menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melihatnya Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa: “Semoga Allah ‘Azza wa Jalla
memberkahi kalian berdua di malam yang kalian lalui”. Maka tidak berapa
lama kemudian Ummu Sulaim radhiyallahu
‘anhuma mengandung…(HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Ibnu
Hajar rahimahullah berkata: “Sesungguhnya seorang Mukmin manakala ia
menyerahkan diri kepada Allah ‘Azza
wa Jalla (saat musibah) dan melakukan istirja` maka ia akan
mendapatkan tiga kebaikan sekaligus; keberkahan dan maghfirah (ampunan), rahmat
serta kemudahan jalan petunjuk”.
Demikian
contoh mulia dari para Salafus shalih yang diuji oleh Allah ‘Azza wa Jalla ,
bukan bersikap murung atau putus asa, namun bersikap tegar, tenang, sabar dan
tabah menghadapi ujian itu.
Kaum
muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Berprasangka
buruk kepada Allah ‘Azza
wa Jalla adalah sifat kaum munafikin dan musyrikin. Allah ‘Azza wa Jalla yang
maha mengetahui lagi maha bijaksana berfirman:
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan
Allah ‘Azza wa Jalla
mengadzab kaum munafik laki-laki dan perempuan, juga kaum musyrik laki-laki dan
perempuan karena mereka berprasangka buruk kepada Allah ‘Azza wa Jalla .
Mereka akan mendapatkan giliran (kebinasaan) yang amat buruk. Allah ‘Azza wa Jalla
memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahanam. Dan
neraka jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali”. ( QS:Al-Fat-h |
Ayat: 6).
Sesungguhnya
sebagian manusia menjadi rendah lagi hina karena prasangka buruk mereka
terhadap Allah ‘Azza
wa Jalla . Adapun makna berprasangka baik terhadap Allah ‘Azza wa Jalla ialah
seorang hamba berprasangka bahwa Allah ‘Azza
wa Jalla menyayanginya, ia memahami hal tersebut dengan merenungi
ayat-ayat, hadits-hadits yang menjelaskan tentang kebaikan dan kemuliaan Allah ‘Azza wa Jalla serta
ampunan-Nya, apapun yang telah Allah ‘Azza
wa Jalla janjikan bagi ahli tauhid sebagai pengganti dan balasan
kebaikan bagi mereka di hari kiamat kelak. Sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla
firmankan: “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku terhadap-Ku”. Inilah
makna hadits yang benar yang dijelaskan oleh jumhur Ulama.”
Hanyalah
orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla . Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Sesungguhnya
tiada berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza
wa Jalla melainkan kaum yang kafir.” (QS:Yusuf | Ayat: 87).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
الْكَبَائِرُ : الشِّرْكُ بِاللهِ وَ اْلإِياَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ وَ اْلقُنُوْطِ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ
“Dosa
besar adalah berbuat syirik kepada Allah ‘Azza
wa Jalla , pesimis dari kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla serta
berputus asa dari (mendapatkan) rahmat-Nya”.(14)
نَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ العُلَا أَنْ يُبَارِكَ لَنَا أَجْمَعِيْنَ فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَنْ يَجْعَلَنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا، وَأَنْ يُعِيْذَنَا سُبْحَانَهُ مِنْ أَسْبَابِ مُحِقِ البَرَكَةِ إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَهُوَ أَهْلُ الرَجَاءِ وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ فَإِنَّ
مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ.
Ibadallah,
Kesabaran
adalah kondisi hati yang menerima pada saat pertama kali peristiwa yang tidak
kita ridhai terjadi. Ini adalah hal yang sering kali luput atau bahkan
dilalaikan sebagian orang yang menghadapi musibah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ اْلأُوْلَى
“Sesungguhnya
kesabaran adalah pada saat awal kejadian (musibah).” (HR. al-Bukhari dan
Muslim).
Yakni
apabila bersikap tegar dan tabah pada saat hati terguncang akibat suatu musibah
maka itulah sabar yang sempurna yang akan mendatangkan pahala. Al-Khaththabi
rahimahullah berkata: “Sesungguhnya sabar yang terpuji adalah ketika
musibah baru saja terjadi, adapun setelah itu beberapa hari maka dia akan lupa
kemudian merelakan kepergiannya”.
Imam
Nawawi rahimahullah berkata: “Sungguh makna hadits tersebut adalah
kesabaran yang sempurna dan akan mendatangkan pahala yang agung, karena ujian
kesulitan yang berat di dalamnya…”
Dan
jika ia berjuang untuk dapat bersabar maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memberikan
kemudahan baginya untuk tegar dan bersabar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Barangsiapa berusaha untuk bersabar maka Allah ‘Azza wa Jalla akan
membuatnya bersabar, tidaklah seseorang diberikan kebaikan yang menyeluruh dan
lebih luas dari kesabaran”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Tentang
definisi kesabaran Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sabar adalah
menahan diri dari sikap kesal dan marah, menahan lisan dari keluh kesah serta
menahan anggota badan dari melakukan kekacauan atau kebodohan”.
Ibadallah,
Berharaplah
pahala kebaikan dari Allah ﷻ sebagai gantinya. Hal ini pernah
dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam , dalam sabdanya: “Senantiasa ujian
(cobaan) menghampiri seorang Mukmin atau Mukminah dalam dirinya, hartanya,
serta anaknya sampai ia berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla sehingga tiada lagi
tersisa dosa-dosanya”. (HR. at-Tirmidzi).
Suatu
saat seorang pria mendatangi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sambil membawa puteranya, kemudian
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah engkau mencintai
puteramu?” Pria tersebut menjawab: “Allah ‘Azza wa Jalla telah
mencintai engkau (wahai Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam ) sebagaimana aku mencintai
puteraku”. Tak lama setelah itu puteranya wafat, ia merasa sangat
kehilangan dan bertanya (kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam ) tentang (nasib) puteranya itu. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Tidakkah engkau merasa bahagia tatkala
engkau mendatangi pintu manapun di antara pintu-pintu jannah dan puteramu
berdiri di hadapannya berusaha untuk membukakannya bagimu?”(HR.
an-Nasai).
Maka
hendaknya ia mengharap agar dipertemukan kembali dengan seluruh keluarganya
dalam kebahagiaan dan kenikmatan jannah Allah ‘Azza wa Jalla serta dijauhkan dari
adzab Allah ‘Azza wa
Jalla. Kesempatan itu pernah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam sebuah hadits:
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوْتُ بَيْنَهُمَا ثَلاَثَةُ أَوْلاَدٍ لَمْ يَبْلُغُواْ الْحِنْثَ إِلاَّ أَدْخَلَهُمَا اللهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ. يُقَالُ لَهُمْ: “اُدْخُلُواْ الْجَنَّةَ”، فَيَقُوْلُوْنَ: حَتَّى يَدْخُلَ آباَؤُنَا، فَيُقَالُ:” اُدْخُلُوْا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآباَؤُكُمْ
“Tidaklah
dua Muslim (suami-isteri) yang tiga anak kandung mereka yang belum berdosa
telah meninggal dunia, melainkan Allah ‘Azza
wa Jalla akan masukkan keduanya ke dalam jannah dengan kebaikan dan
rahmat Allah ‘Azza wa Jalla
bagi mereka. Dikatakan kepada anak-anak itu “Masuklah kalian ke dalam
jannah”. Maka mereka menjawab “(kami menanti) sehingga kedua orang
tua kami memasukinya”. Kemudian dikatakan: “Masuklah kalian beserta
kedua orang tua kalian ke dalam jannah”. (HR. an-Nasai)
“أَيُّمَا امْرَأَةٌ مَاتَ لَهَا ثَلاَثَةٌ مِنَ اْلوَلَدِ كَانُوْا لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ”. قاَلَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَانِ ؟ قَالَ: “وَاثْنَانِ”
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Seorang wanita (Muslimah) manapun yang telah
(didahului) wafat ketiga anaknya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya
dari api neraka”. Seorang wanita bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bagaimana jika hanya dua (anak saja)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “Ya, (walaupun) dua.”(HR. al-Bukhari).
Dalam
sabda Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam yang lain: “Demi Yang jiwaku ada di
tangan-Nya. Sesungguhnya (janin yang) gugur akan menarik ibundanya dengan
ari-arinya (masuk) ke dalam jannah manakala ibunya itu (bersabar) mengharap
pahala”. (HR. Ibnu Majah).
Semoga
Allah ‘Azza wa Jalla
menjadikan kita dapat bersabar tatkala mendapatkan musibah khususnya pada saat
kepergian buah hati yang mendahului kita, meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla
senantiasa memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya, melimpahkan pahala dan
menghapuskan dosa serta mempertemukan kita dengan semua keluarga yang telah
mendahului kita di dalam jannah-Nya ‘Azza
wa Jalla yang mulia. Amin
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِيٍّ, وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ,
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاحْمِ حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
مُبَارَكاً
يَا ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
بَارِكْ لَهُ
فِي أَعْمَالِهِ
وَأَقْوَالِهِ
وَآرَائِهِ يَا
حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ بَيْنَ
قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ السَّلَامِ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَأَوْقَاتِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ
سِرَّهُ
وَعَلَنَهُ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا مَا
قَدَّمْنَا
وَمَا أَخَّرْنَا
وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا
أَعْلَنَّا
وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ
بِهِ مِنَّا
أَنْتَ
المُقَدَّمُ
وَأَنْتَ
المُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا
أَنْتَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ,
وَصَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
وَبَارِكْ
وَأَنْعِمْ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
(Diadaptasi dari tulisan majalah Ustadz Rizal Yuliar di
As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIII/1430/2009M).
www.KhotbahJumat.com