
January
10, 2016
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
حَقَّ
تَقْوَاهُ
فِي السِّرِّ
وَالْعَلَنِيَةِ
وَالغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ
فَإِنَّ
تَقْوَى اللهِ
جَلَّ
وَعَلَا هِيَ
خَيْرُ زَادٍ
يُبلِّغُ
إِلَى
رِضْوَانِ
اللهِ.
Ibadallah,
Allah
telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat
sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang
mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan
duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan
kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan
yang Maha Pemurah. Firman Allah :
( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ) [ الرحمن / 60 ]
“Tidak
ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (Qs Ar-Rahman : 60).
Orang
yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa
hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :
( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]
“Bukanlah
menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli
Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan
dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong
baginya selain dari Allah.” (Qs An-Nisa : 123).
Camkanlah,
di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih
bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga
pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus
ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-Subhanahu wa Ta’ala–
suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab
permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi
maupun yang akan terjadi. Firman Allah :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60]
Dan
Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Qs Ghafir : 60).
Doa
merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin
Bashir bahwa Nabi –shallallahu
alaihi wa sallam– bersabda :
( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى
“Doa
adalah ibadah.” (HR. Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis
hasan shahih).
Abu
Hurairah –radhiyallahu
‘anhu– berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam–
bersabda :
( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى
“Tidak
ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada
doa.” (HR. Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim).
Dikatakannya
sebagai hadis yang shahih sanadnya.
Doa
sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa
dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama,
ketika hidup dan setelah mati.
Mengingat
manfaat doa yang demikian besar, maka Allah –Subhanahu wa Ta’ala–
mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib
dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang,
penghargaan dan anugerah dari Allah-Subhanahu
wa Ta’ala– agar kita ikuti jalan yang telah Dia
diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa,
tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :
( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم ) [ الأنعام/91]
“padahal
telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak
mengetahui(nya).” (Qs Al-An’am : 91).
Puji
syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya
dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai
oleh-Nya.
Kebutuhan
akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah
menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya
petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku
bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah
dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para
pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.
Di
zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap
kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum
muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap
individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena
sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi
genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang
terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.
Allah
–Subhanahu wa
Ta’ala– memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan
hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman
Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :
( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ) [ الأعراف/23]
Keduanya
berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan
jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya
pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs Al-A’raf :
23).
Firman
Allah :
( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ) [ البقرة/155-157]
“Dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,
mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun”
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan
mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs
Al-Baqarah : 155-157).
Firman
Allah tentang Nabi Yunus :
( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ) [الأنبياء/87]
“maka
ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain
Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang
zalim”. (Qs Al-Anbiya : 87).
Sa’ad
Bin Abi Waqash –radhiyallahu
‘anhu– berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam– bersabda
:
( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم
“Doa
Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:
( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )
‘Tidak
ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya
aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya’.
Sesungguhnya
tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan
melainkan Allah kabulkan doanya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim,
dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih).
Ketika
Rasulullah – shallallahu
alaihi wa sallam– mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka
menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa
kepada Allah –Subhanahu
wa Ta’ala– :
( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)
“Ya
Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku
pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang
yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan
diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh
yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak
pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan
Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala
urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya
murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau
ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjuk-Mu jua.”
Maka
hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat
diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.
Tsauban
meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu
alaihi wa sallam– bersabda :
(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم
“Sungguh
doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum
terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah.” (HR. Tirmizi
dan Alhakim).
Abu
Hurairah –radhiyallahu
‘anhu– meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam–
bersabda, sesungguhnya Allah –Subhanahu
wa Ta’ala– berfirman :
( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم
“Aku
sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon
kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cukuplah
besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–Subhanahu wa Ta’ala–
mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa
malapetaka. Firman Allah :
( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76]
“Sesungguhnya
Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk
kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan
diri.” (Qs Almukminun : 76).
Firman
Allah :
(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) [ الأنعام/42 ]
“Sesungguhnya
Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian
Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya
mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka
tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang
siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan
syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka
kerjakan.” (Qs Al-An’am : 42).
Firman
Allah :
( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ]
“Kami
tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya
mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan
dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (Qs
Al-A’raf : 94).
Meninggalkan
doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat
dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :
( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]
“Sesungguhnya
azab Tuhanmu benar-benar keras.” (Qs Al-Buruj : 12).
Doa
merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta
tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula
sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi
dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :
( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ]
Dan
(ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku),
sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha
Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu,
lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya
kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari
sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”
(Qs Al-Anbiya : 83-84).
Firman
Allah :
( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ ) [ النمل / 62 ]
“Atau
siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (Qs An-Naml : 62).
Tentu
tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –Subhanahu wa Ta’ala–
.
Firman
Allah :
( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63]
Katakanlah:
“Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di
laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut
(dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari
bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. (Qs
Al-An’am : 63).
Seorang
muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan
perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada
Allah –Subhanahu wa
Ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang
dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan
terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :
( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم
“Wahai
hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka
mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku,
kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan
kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah
telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku
niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan
kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka
mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni.” (HR. Muslim
dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu
‘anhu).
Artinya,
mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku
penuhi permintaan kalian.
Hadits
ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai
dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun
diperintahkan untuk dimohonkan kepada-Nya.
Betapa
banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi
baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah –Subhanahu wa Ta’ala–
tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam- :
(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129]
“Ya
Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al
Kitab (Alquran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs Al-Baqarah : 129).
Abu
Umamah – radhiyallahu
‘anhu– berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!
( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد
Apa
sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi menjawab, “Doa ayahku Ibrahim,
berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah
keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri
Syam.” (HR. Ahmad).
Kaum
muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan
dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh –alaihissalam–
membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah,
dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula
doa Nabi Isa –alaihissalam–
dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan
kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa
laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk
dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.
Disebutkan
dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu
‘anhu– sesudah Nabi Isa-alaihissalam– selesai membunuh Almasih
Dajal :
( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلم
Ketika
Allah –Subhanahu wa
Ta’ala– mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-:
Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi
seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju
Tursina. Lalu Allah –Subhanahu
wa Ta’ala– keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka
mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau
Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan
paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh
dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam– dan
para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih
berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya
berharap [berdoa] kepada Allah –Subhanahu
wa Ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang
menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi
bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam– [dari
gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu
jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi
Isa –alaihissalam–
pun berharap (berdoa) kepada Allah –Subhanahu
wa Ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang
lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan
di tempat yang Allah kehendaki).” (HR. Muslim).
Doa
Nabi kita Muhammad –shallallahu
alaihi wa sallam– pemimpin umat manusia bersama
sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan
kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :
( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9]
Ingatlah,
ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu
malaikat yang datang berturut-turut. (Qs Al-Anfal : 9).
Nabi-shallallahu alaihi wa sallam–
berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu
Bakar- radhiyallahu
‘anhu– mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah
Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh
memenuhi janjiNya kepada engkau.
Doa
memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan
kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para
pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu,
tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib
mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam
dan sesama muslim.
Di
sebutkan dalam hadis :
” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ”
“Barangsiapa
yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan
mereka.”
Jika
kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak
positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di
sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.
Berdoa
tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang
berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah
–shallallhu alaihi wa
sallam– berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash :
“Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu
terkabulkan”.
Di
antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti
ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :
(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186]
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah],
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala
perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.” (Qs Albaqarah : 186).
Firman
Allah :
( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26]
“Dan
Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang
saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya.” (Qs As-Syura :
26).
Perlu
diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang
kafir atau pelaku bid’ah.
Di
antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam
memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala-. Firman Allah :
( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14]
“Maka
sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir
tidak menyukai.” (Qs Ghafir : 14).
Disebutkan
dalam hadis :
“Allah
tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.
Di
antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat
dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang
melampaui batas-batas kewajaran.
Di
antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya
yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada
Nabi-shallallahu alaihi wa
sallam-.
Dalam
suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu
alaihi wa sallam– mendengar seorang lelaki berdoa :
( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى
“Ya
Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah
Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak
membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak
diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam–
berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui
asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi,
dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.” HR.
Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).
Fudhalah
Bin Ubaid-radhiyallahu
‘anhu– berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam–
sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :
( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )
“Ya
Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam–
menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang
sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya
dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada
Allah”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis
hasan).
Dalam
hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara
langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi
–shallallahu alaihi wa
sallam-.
Di
antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak
tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi
doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam,
“aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari
dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu
‘anhu-.
Bersamaan
dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam
hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah
memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang
setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau
pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata,
“Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu ‘alaihi wa sallam–
bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi,
dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui
jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :
” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا ”
“Atau
Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya.”
Maka
seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa.
Rasulullah- sallallahu
‘alaihi wa sallam– pernah ditanya, “Ya
Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau
menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat
fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu
Umamah.
Dalam
hadis disebutkan :
( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم
“Tuhan
kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada
sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku,
akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang
minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim dari hadis
Abu Hurairah- radhiyallahu
‘anhu-).
Doa
di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat
bersujud. Disebutkan dalam hadis,
( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم
“Keadaan
paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam
keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa.” (HR. Muslim dari hadis Abu
Hurairah).
Ketika
melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan
darurat, setelah mengkhatamkan Alquran dan setelah bersedekah pun doa seseorang
terkabulkan.
Betapa
besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu
tersambung dengan Allah –Subhanahu
wa Ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan
meminta pertolonganNya.
Sungguh
celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada
pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau
nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon
kepada Allah –Subhanahu
wa Ta’ala– semata, dan memurnikan permohonan hanya
kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti
apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap
dan memohon kepada mereka. Firman Allah :
( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا ) [ الجن / 18 ]
“an
sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu
menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah.” (Qs
Al-Jin : 18).
Firman
Allah :
( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ]
Katakanlah:
“Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan
sesuatupun dengan-Nya.” (Qs Al-Jin : 20).
Seseorang
yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka
yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa
memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah –Subhanahu wa Ta’ala-.
Firman
Allah :
( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14]
“Hanya
bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang
mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka,
melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air
supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan
doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Qs
Ar-Ra’d : 14).
Firman
Allah :
( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6]
“Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan
selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan
mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan
(pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan
mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (Qs Al-Ahqaf : 5-6).
Allah
pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaan-Nya :
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ]
“Dia
memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan
menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang
ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah
kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai
apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada
mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat
memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari
kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai
yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Qs Fathir : 13-14).
Allah
–Subhanahu wa
Ta’ala– tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada
selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.
Allah
–Subhanahu wa
Ta’ala– berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam
–alaihissalam–
:
( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]
Al
Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan
Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun)”. (Qs
Al-Maidah : 72).
( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ) رواه البخاري
“Barangsiapa
yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia
kedalam neraka.” (HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud).
Saudaraku
kaum muslim!
Itulah
pesan Kitab Allah dan Sunnah rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam– yang
menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya
boleh ditujukan kepada Allah –Subhanahu
wa Ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain
Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan
dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab
tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat
sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.
Firman
Allah :
( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ، إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70]
“Makanan
surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami
menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.
Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang
menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka
benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya
dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti
mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian
sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim. Karena
sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu
mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.”
(Qs. Ashshafat : 62-70).
Firman
Allah :
( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55]
“Berdoalah
kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs Al-A’raf :
55).
Semoga
Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan
Alquran yang agung !
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ؛ وَأَسْتَغْفُرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
Bertakwalah
kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan
menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat
kelak.
Hamba-hamba
Allah!
Tetaplah
kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak
akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari
anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.
Kebutuhan
hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul
setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja
yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari
apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.
Puncak
dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang
paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya
setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang
mendesak baginya, karena Allah –Subhanahu
wa Ta’ala– Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha
Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.
Firman
Allah dalam hadis Qudsi :
( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم
“Wahai
hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir,
dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di
antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.
Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang
terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka
di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu
sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian
sampai orang terakhir semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta
kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak
mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di
tengah lautan.” (HR. Muslim).
Dianjurkan
bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam–
sebagaimana dalam ayat Alquran :
( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ) [ البقرة / 201 ]
Dan
di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka”. (Qs Albaqarah : 201).
Dan
doa ma’tsur lainnya seperti :
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
“Ya
Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun
perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu
dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat
mendekatkan kami kepadanya.”
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَعَاكُمُ
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿ إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِيٍّ,
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْهُمْ
فِي أَرْضِ
الشَامِ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ
كُنْ لَنَا
وَلَهُمْ
حَافِظاً
وَمُعِيْنًا
وَمُسَدِّداً
وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛
دِقَّهُ وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ حُبَّكَ،
وَحُبَّ مَنْ
يُحِبُّكَ،
وَحُبَّ
العَمَلَ
الَّذِيْ
يُقَرِّبُنَا
إِلَى
حُبِّكَ.
اَللَّهُمَّ
زَيِّنَّا
بِزِيْنَةِ
الإِيْمَانِ
وَاجْعَلْنَا
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا،
أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عباد
الله، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ*
وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)
[النحل:90-91]،
فاذكروا
اللهَ
يذكرْكم،
واشكُروه على
نعمِه
يزِدْكم،
ولذِكْرُ
اللهِ أكبرُ،
واللهُ يعلمُ
ما تصنعون.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syekh Ali bin Abdurrahman Al Hudzaifi
Penerjemah: Usman Hatim
Artikel Firand.com
Diposting
ulang oleh www.KhotbahJumat.com