
September
12, 2011
***
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَـهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah…
Marilah
kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala di manapun kita berada. Baik ketika kita sedang
bersama orang banyak, maupun ketika sendirian. Dan marilah kita senantiasa
takut akan terkena azab-Nya, kapan dan di mana pun kita berada. Karena,
kewajiban menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya
bukan hanya pada waktu dan saat-saat tertentu saja. Bahkan, beribadah
kepada-Nya adalah kewajiban yang harus dilakukan hingga ajal mendatangi kita.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai
kematian mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)
Hadirin
rahimakumullah,
Belum
lama berlalu, kaum muslimin berada di bulan yang penuh barakah. Bulan yang kaum
muslimin berpuasa di siang harinya dan shalat tarawih di malam harinya. Bulan
yang kaum muslimin mengisinya dengan berbagai amal ketaatan. Kini, bulan itu
telah berlalu. Dan akan menjadi saksi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas
segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang di bulan tersebut. Baik yang
berupa amalan ketaatan, maupun perbuatan maksiat. Maka, sekarang tidak ada lagi
yang tersisa dari bulan tersebut, kecuali apa yang telah disimpan pada catatan
amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhir nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَاعَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَاللهُ رَءُوفُُ بِالْعِبَادِ
“Pada hari ketika tiap-tiap diri
mendapati (pada catatan amalan) segala kebajikan dihadapkan (di mukanya),
begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara
ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap
siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”
(Ali ‘Imran: 30)
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Ibarat
seorang pedagang yang baru selesai dari perniagaannya, tentu dia akan
menghitung berapa keuntungan atau kerugiannya. Begitu pula yang semestinya
dilakukan oleh orang yang beriman dengan hari akhir ketika keluar dari bulan
Ramadhan. Bulan yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah
lalu bagi orang yang berpuasa dan shalat tarawih karena iman dan mengharapkan
balasan dari-Nya. Dan pada bulan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala bebaskan
orang-orang yang berhak mendapatkan siksa neraka, sehingga benar-benar bebas
darinya. Yaitu bagi mereka yang memanfaatkan bulan tersebut untuk bertobat
kepada-Nya dengan tobat yang sebenar-benarnya.
Saudara-saudaraku
seiman yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Oleh
karena itu, orang yang mau berpikir tentu akan melihat pada dirinya. Apa yang
telah dilakukan selama bulan Ramadhan? Sudahkah dia memanfaatkannya untuk
bertobat dengan sebenar-benarnya? Ataukah kemaksiatan yang dilakukan sebelum
Ramadhan masih berlanjut meskipun bertemu dengan bulan yang penuh ampunan
tersebut? Jika demikian halnya, dia terancam dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Dan rugilah orang yang bertemu dengan
bulan Ramadhan, namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.”
(H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib)
Namun
demikian, bukan berarti sudah tidak ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk
memperbaiki diri. Karena kesempatan bertobat tidaklah hanya di bulan Ramadhan.
Bahkan selama ajal belum sampai ke tenggorokan, kesempatan masih terbuka lebar.
Meskipun, bukan berarti pula seseorang boleh menunda-nundanya. Bahkan,
semestinya dia segera melakukannya. Karena, kematian bisa datang dengan
tiba-tiba dalam waktu yang tidak disangka-sangka. Dan seandainya seseorang
mengetahui kapan datangnya kematian, maka harus dipahami pula bahwa tobat
adalah pertolongan dan taufiq dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Sehingga, tidak bisa seseorang memastikan bahwa
dirinya pasti akan bertobat sebelum ajal mendatanginya. Bahkan Abu Thalib,
paman Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sendiri, pada akhir hayatnya tidak bisa
bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, yang mengingatkannya
adalah orang terbaik dari kalangan manusia, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, ketika Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan taufiq dan
pertolongan-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu memberikannya. Oleh
karena itu, sudah seharusnya setiap orang segera bertobat dari seluruh dosanya.
Sehingga dia akan mendapat ampunan dan menjadi orang yang tidak lagi memiliki
dosa. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلاَئِكَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {17} وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْئَانَ وَلاَالَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلاَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا {18}
“Sesungguhnya Allah hanyalah akan
menerima tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan, karena ketidakhati-hatiannya
dan kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang Allah
terima tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah
tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan, sehingga
apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan,
‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima
tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi mereka itu
telah Kami siapkan siksa yang pedih.” (An-Nisa`: 17-18)
Saudara-saudaraku
kaum muslimin rahimakumullah,
Adapun
orang yang telah memanfaatkan pertemuannya dengan Ramadhan untuk bertobat dan
mengisinya dengan berbagai amal shalih, maka seharusnya dia bersyukur kepada
Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan memohon agar amalannya diterima serta memohon agar
bisa istiqamah di atas amalan tersebut. Dan janganlah dirinya tertipu dengan
banyaknya amalannya. Sehingga, dia menyangka bahwa dirinya termasuk orang-orang
yang paling baik dan paling hebat. Bahkan, dia harus senantiasa memohon ampun
dan beristigfar kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Karena seseorang tidak bisa memastikan apakah
amalan yang sudah dia lakukan diterima atau tidak. Seandainya diterima pun,
sesungguhnya belum bisa untuk membalas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ia
terima. Karena, amalan yang dia lakukan benar-benar tidak bisa lepas dari
pertolongan Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Maka, sudah sepantasnya bagi dirinya untuk
senantiasa tawadhu’ dan tidak merasa paling baik. Bahkan, semestinya dia
memperbanyak menutup amalannya dengan beristigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena, begitulah sifat-sifat orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang sudah
beramal dengan sebaik-baiknya, namun masih merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan kekurangan dirinya dalam beramal. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa
yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (tidak akan diterima).
(Mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”
(Al-Mu`minun: 60)
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah,
bahwa Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita
ibadahi pula di luar bulan tersebut. Begitu pula rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah
terputus dan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan. Maka, doa yang
senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu
wa Ta’ala di bulan tersebut janganlah kemudian kita
tinggalkan di bulan berikutnya. Begitu pula membaca Alquran yang senantiasa
kita lakukan di bulan Ramadhan, janganlah kita tinggalkan setelah berlalunya
bulan tersebut. Bahkan, ibadah puasa pun semestinya tetap kita lakukan meskipun
di luar bulan tersebut. Karena, masih sangat banyak puasa-puasa sunnah yang
memiliki keutamaan yang besar bagi orang-orang yang menjalankannya. Begitu pula
shalat malam, adalah amalan ibadah yang semestinya tidak berhenti dengan
berlalunya bulan Ramadhan, meskipun dilakukan hanya dengan beberapa rakaat
saja. Karena, menjaganya adalah salah satu sifat wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya,
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya (untuk mengerjakan shalat malam) dan mereka selalu berdoa kepada
Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan dari
sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah:
16)
Saudara-saudaraku
kaum muslimin rahimakumullah,
Di
antara tanda yang menunjukkan diterimanya amalan kita adalah berlanjutnya
amalan tersebut pada waktu berikutnya. Karena, amalan yang baik akan menarik
amalan baik berikutnya. Maka, marilah kita senantiasa menjaga amalan-amalan
kita dan janganlah kita kembali kepada perbuatan maksiat setelah kita bertobat
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Ingatlah wahai saudara-saudaraku, bahwa di depan kita
ada timbangan amalan yang akan menimbang amalan-amalan kita yang baik dan
amalan kita yang jelek. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {102} وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ
“Barang siapa yang berat timbangan
(kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan
barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang
merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.”
(Al-Mu`minun: 102-103)
Hadirin rahimakumullah,
Orang
yang mengetahui betapa besarnya rahmat Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan betapa butuhnya dia terhadap rahmat tersebut
tentu akan terus berusaha untuk beramal shalih sampai ajal mendatanginya,
sekecil apapun bentuknya. Selama dirinya mampu untuk melakukannya, maka dia
tidak akan meremehkannya. Sebagaimana perbuatan maksiat, maka diapun akan
meninggalkannya dan tidak menyepelekannya, sekecil apapun bentuknya. Karena
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّالَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ
“Dan kalian ucapkan dengan mulut-mulut
kalian apa yang kalian tidak berilmu tentangnya dan kalian menganggapnya
sebagai suatu yang sepele saja. Padahal, hal itu di sisi Allah adalah sesuatu yang
besar.” (An-Nur: 15)
Akhirnya,
kita memohon kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala agar menerima amalan-amalan kita dan memberikan
kekuatan kepada kita agar senantiasa mampu untuk menjalankannya. Dan
mudah-mudahan Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengampuni seluruh kesalahan kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَنَا وَعَمَلَكُمْ وَجَعَلَهَا فِي مِيْزَانِ حَسَنَاتِنَا، إِنَّهُ وَلِيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ
الحَمْدُ لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ الْأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ، وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Marilah
kita senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan marilah kita
senantiasa memikirkan betapa cepatnya berlalunya malam dan siang. Karena, hal
ini akan mengingatkan kita akan semakin dekatnya waktu perpindahan kita dari
tempat beramal di alam dunia ini menuju saat pembalasan di akhirat nanti.
Sehingga, akan mendorong kita untuk segera memanfaatkan kesempatan yang ada
untuk beramal shalih. Karena, kesempatan hidup di dunia kalau tidak digunakan
untuk ketaatan, maka kesempatan itu akan pergi dengan segera dan akan berakhir
dengan penyesalan, serta kerugian pada hari kiamat. Adapun apabila digunakan
kesempatan hidup kita di dunia dengan ketaatan, niscaya akan kita rasakan
hasilnya. Karena, amal shalihlah sesungguhnya kekayaan yang akan kita bawa
untuk hari akhir nanti. Adapun kekayaan yang berupa harta benda di dunia
tidaklah bermanfaat, kecuali kalau digunakan untuk beramal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka, apalah artinya kekayaan di dunia ini kalau akhirnya berujung dengan tidak
memiliki apa-apa, bahkan mendapat siksa di akhirat nanti. Sementara kalau kita
gunakan kesempatan ini untuk beramal shalih, maka kita akan mendapatkan
kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Bahkan, berlanjut dari mulai di
dunia ataupun setelah kita berpindah ke alam kubur sampai ketika saat hari
kebangkitan dan berikutnya akan mendapatkan kenikmatan yang selamanya di surga.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang mengerjakan amal
shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang sangat membahagiakan
dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Saudara-saudaraku
kaum muslimin
rahimakumullah,
Waktu
yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Namun, akan datang waktu-waktu
berikutnya yang akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan kita. Maka, bagi
seorang muslim, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Bahkan, lebih
berharga dari harta yang dimilikinya. Karena, harta apabila hilang dari
dirinya, maka masih ada kesempatan untuk dicari. Adapun waktu apabila telah
berlalu, maka tidak akan bisa untuk didapatkan lagi. Oleh karena itu, marilah
kita manfaatkan kesempatan hidup yang sangat sebentar ini dengan
sebaik-baiknya. Janganlah amalan yang telah kita bangun pada bulan-bulan yang
lalu, kemudian kita robohkan lagi pada bulan berikutnya. Bahkan, semestinya
kita kokohkan dengan melanjutkan amalan tersebut pada bulan-bulan berikutnya.
Dan janganlah kita mendekati setan setelah kita menjauhinya pada bulan Ramadhan
yang lalu.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Di antara amal shalih yang sangat besar keutamaannya untuk dilakukan setelah
bulan Ramadhan, yaitu pada bulan Syawwal, adalah puasa sunnah selama enam hari
pada bulan tersebut. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang telah berpuasa
Ramadhan dan kemudian dia mengikutkannya dengan puasa enam hari dari bulan
Syawwal, maka dia seperti orang yang berpuasa selama satu tahun.”
(H.R. Muslim)
Hadits
ini menunjukkan betapa besarnya rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepada hamba-hamba-Nya. Yaitu barang siapa yang puasa selama enam hari baik
secara berurutan ataupun berselang-seling, mulai hari kedua di bulan Syawwal,
maka dia akan mendapat pahala orang yang puasa selama satu tahun. Tentu saja,
ini adalah keutamaan yang tidak akan dilewatkan begitu saja oleh setiap muslim.
Maka, dia akan segera menunaikannya. Karena semakin cepat dilakukan, maka akan
semakin baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala,
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka, berlomba-lombalah kalian (dalam
berbuat) kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)
Namun,
keutamaan ini didapat bagi orang yang melakukannya setelah dia selesai
menjalankan puasa Ramadhan baik dilakukan pada waktunya, maupun di luar
waktunya bagi yang memiliki utang puasa. Untuk itu, semestinya orang yang
memiliki utang puasa segera membayarnya setelah hari raya Idul Fithri.
Kemudian, segera mengikutinya dengan puasa selama enam hari pada bulan
tersebut.
Mudah-mudahan
Allah Subhanahu wa
Ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita untuk
selalu mendapatkan curahan rahmat-Nya.
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَ
أَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ
وَعَنْ
جَمِيْعِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلىَ يَوْمَ
الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ.
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّينِ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
المُوَحِّدِينَ.
اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ
في كُلِّ
مَكَانٍ.
رَبَّنَا لاَ
تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا
وَهَبْلَنَا
مِنْ
لَّدُنْكَ
رَحْمَةً
إِنَّكَ
أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ …
اذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
الْجَلِيْلَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ
وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ
Materi
Khutbah Jumat
ini disalin dari kumpulan Khutbah
Jumat Majalah Asy-Syariah Edisi 35 disertai penyuntingan bahasa
dan penambahan teks ayat oleh Tim Redaksi KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com