
July
4, 2011
***
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَـهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Terlebih, nikmat paling besar yang tidak
didapatkan oleh setiap orang, bahkan oleh kebanyakan manusia, yaitu nikmat
dikaruniai agama Islam. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَمَآأَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
“Dan
sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun engkau sangat
menginginkannya.” (Yusuf: 103)
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga karunia yang
paling besar ini, dengan bersungguh-sungguh dalam berpegang teguh dengan
ajarannya. Bukan menjadi orang yang sekadar mengaku beragama Islam, namun tidak
mau membuktikan keislamannya.
Hadirin rahimakumullah,
Islam adalah agama yang menuntut pemeluknya untuk menyerahkan diri
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan meninggalkan seluruh jenis perbuatan syirik
sekaligus orang-orang yang melakukannya. Islam juga agama yang dibangun di atas
pondasi dan penopang yang disebut rukun Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ البَيْتِ
“Agama
Islam dibangun di atas lima hal: Persaksian bahwasanya tidak ada sesembahan
yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan
shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, serta haji ke Baitullah.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Pada hakikatnya, merupakan kesalahan besar bila ada yang
menganggap bahwa seseorang akan tetap di atas keislamannya selama dirinya
mengaku muslim dan mengakui kebaikan ajaran Islam, meskipun dirinya di atas
akidahnya orang-orang jahiliyah,
sehingga masih terjatuh pada syirik besar dan tidak mewujudkan dua kalimat
syahadat yang merupakan pondasi Islam. Di samping itu, merupakan suatu
kebodohan yang nyata bila ada yang menyangka bahwa seorang muslim tidak mungkin
akan keluar dari agamanya meskipun dirinya terjatuh dalam perbuatan
memperolok-olok ajaran Islam, seperti memperolok-olok disyariatkannya memakai
cadar, memelihara jenggot, mengangkat kain di atas mata kaki, dan yang
semisalnya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala memperingatkan perbuatan memperolok-olok agama,
meskipun hanya dengan maksud bersenda-gurau dalam firman-Nya,
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ {65} لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang perbuatan
memperolok-olok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya),
tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau
dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah terhadap Allah,
ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, kamu selalu berolok-olok? Tidak ada udzur bagi
kalian. Kalian telah kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65—66)
Oleh karena itu, setiap muslim wajib mengenal agamanya dengan
sebenar-benarnya, serta mengamalkan ajarannya. Sebab, ketidaktahuannya terhadap
ajaran Islam bisa menyebabkan dirinya terjatuh pada perbuatan syirik dan
pembatal-pembatal keislaman lainnya.
Hadirin rahimakumullah,
Barang siapa memerhatikan keadaan umat yang tidak mendapatkan
hidayah Islam atau tidak menjalankan aturan-aturan Islam dalam kehidupannya,
baik di masa lampau, maupun di masa kini, dia akan mendapatkan keadaan yang
penuh ketidakteraturan. Mereka hidup dalam keadaan tidak tenteram dan diliputi
rasa khawatir, serta saling menyakiti satu sama lain. Hal ini sebagaimana
terjadi di masa jahiliyah,
misalnya, yaitu zaman sebelum diutusnya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam di Jazirah Arab. Di masa itu, manusia hidup
dalam keadaan diliputi kebodohan, kegelapan, dan kerusakan. Karena
kebodohannya, mereka tidak mengenal Rabb-nya dan terjatuh pada peribadatan
kepada selain Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Di antaranya, mereka berdoa kepada orang yang
telah meninggal dunia dengan persangkaan bahwa orang-orang yang telah mati
tersebut bisa dijadikan sebagai perantara untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyebutkan keadaan orang-orang musyrikin di zaman dahulu ini dalam firman-Nya,
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَانَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata),
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)
Begitu pula keadaan orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah
Islam di masa kini. Mereka terjatuh pada perbuatan syirik dengan berbagai
ragamnya, hingga melakukan perbuatan-perbuatan yang menutupi akal mereka,
seperti berebut kotoran kerbau atau air comberan untuk mengambil berkah
darinya. Mereka juga dipenuhi rasa takut dan saling bermusuhan, sebagaimana
yang terjadi di tempat yang masih banyak praktik-praktik sihir dan perdukunan.
Begitu pula yang terjadi pada masyarakat yang masih mengeramatkan pohon atau
tempat-tempat tertentu.
Adapun orang-orang yang mendapatkan hidayah Islam dan memahaminya
dengan sebenar-benarnya, mereka hidup di atas kemuliaan dan kebahagiaan. Mereka
menjalani kehidupan dunia ini di atas aturan-aturan hidup yang lengkap,
sempurna, penuh dengan keindahan dan kemudahan.
Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu, di hadapan kita ada jalan menuju kebahagiaan dan
jalan menuju surga, serta keridhaan Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Di hadapan kita ada jalan yang terang dan jelas
dalam mengatur seluruh urusan kita. Namun, mengapa ada yang tidak
bersungguh-sungguh mengikuti ajarannya? Bahkan, ada kaum muslimin yang justru
meninggalkan akidah, prinsip, dan aturan Islam, serta lebih memilih akidah
orang-orang musyrikin dan ajaran orang-orang kafir? Tidakkah mereka
menginginkan ajaran yang akan membuat ketenteraman dan kebahagiaan, serta jauh
dari kekhawatiran dan ketidakteraturan? Lebih dari itu, tidakkah mereka
menginginkan keselamatan dari siksa api neraka dan merasakan nikmatnya surga?
Namun, mengapa ada kaum muslimin yang justru meninggalkan ajaran agamanya?
Mengapa sebagian kaum muslimin lebih bangga ketika bisa berpenampilan dengan
model orang Barat? Mengapa pula sebagian wanita muslimah lebih memilih
berpenampilan dengan busana orang kafir yang menampakkan auratnya, berpakaian
tetapi telanjang, serta meninggalkan busana muslimah yang menjaga kehormatan
dan kesuciannya? Tidakkah ajaran Islam adalah ajaran yang indah dan mulia,
sedangkan yang menyelisihinya adalah ajaran yang hina dan rendah?
Hadirin rahimakumullah,
Apa pun sikap seseorang terhadap ajaran Islam, kerugiannya akan
kembali pada dirinya sendiri. Orang-orang yang berpegang teguh di atas ajaran
Islam dengan sebenar-benarnya akan terus ada, dengan kehendak dan pertolongan
Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لاَيَكُونُوا أَمْثَالَكُم
“Dan jika
kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain; dan
mereka tidak akan seperti kalian.” (Muhammad: 38)
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita bersungguh-sungguh mewujudkan keislaman kita dan
berhati-hati dengan tipudaya musuh-musuh Islam yang ingin mengeluarkan
pemeluknya dari ajarannya yang mulia. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرُُ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan mereka (orang-orang kafir) tidak henti-hentinya memerangi
kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada
kekafiran), jika mereka mampu. Barang siapa yang murtad di antara kalian dari
agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia
amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka
kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)
Upaya memerangi kaum muslimin yang dilakukan oleh orang-orang
kafir tidaklah selalu menggunakan cara fisik. Akan tetapi, mereka memerangi
melalui pemikiran dan keyakinan, serta akhlak yang akan merusak agama kaum
muslimin. Mereka akan menawarkan akidah dan prinsip yang akan merusak, serta
menghilangkan akidah seorang. Mereka juga menawarkan akhlak yang dipenuhi
keinginan untuk memuaskan syahwat. Mereka akan memanfaatkan berbagai kesempatan
dan sarana yang beraneka ragam: media cetak, elektronik, dan lainnya. Oleh
karena itu, kaum muslimin harus senantiasa waspada dari makar dan tipudaya,
serta upaya pemurtadan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Mudah-mudahan Allah
Subhanahu wa Ta’ala
senantiasa menjaga dan menolong kita untuk bisa mengamalkan ajaran Islam yang
sebenarnya serta menjauhkan kita dari mengikuti ajaran-ajaran orang kafir yang
menyesatkan.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإسْلاَمِ، وَامْتَنَّ عَلَيْنَا بِبِعْثَةِ خَيْرِ الأَنَامِ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ صّلَّى اللهُ عَلَيءهِ وَ سَلَّمَ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى وَأَشْكُرُهُ حَيْثُ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَرَضِيَ لَنَا الْإِسْلاَمَ ديناً، وَأَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيْمِ، وَحَذَّرَنَا مِنْ طُرُقِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ، وَالضَّالِّيْنَ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْمُنْحَرِفِيْنَ عَنِ اْلهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِيْنَ، وَتَرَكَ النَّاسَ عَلَى المَنْهَجِ القَوِيْمِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَالسَّائِرِيْنَ عَلَى نَهْجِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan bersyukur atas karunia-Nya yang sangat besar, yaitu agama yang sempurna dan
diutusnya Rasul yang mulia. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang rasul dari golongan mereka
sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa)
mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah dan sesungguhnya
sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang
nyata.” (Ali Imran: 164)
Hadirin rahimakumullah,
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berwasiat kepada orang-orang yang beriman untuk
tetap kokoh di atas agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
hingga ajal menjemputnya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kalian mati
melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)
Allah Subhanahu
wa Ta’ala juga telah meridhai Islam sebagai satu-satunya
agama bagi kita, sebagaimana dalam firman-Nya,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama
kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu sebagai agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3)
Oleh karena itu, selain Islam adalah agama yang batil dan tidak
akan diterima oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)
Dengan demikian, adalah suatu kesalahan yang sangat besar dan
nyata bila menganggap semua agama itu benar. Mungkin mereka beralasan bahwa
semua agama diturunkan dari langit, atau bahwa semuanya mengajak kepada Tuhan
yang sama.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, agama selain Islam yang saat ini dianut oleh sebagian
orang adalah bukanlah agama yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala turunkan melalui para nabi-Nya. Agama Nasrani yang
sekarang dianut oleh sebagian orang, misalnya, bukanlah agama yang dahulu
diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Akan tetapi, agama
tersebut telah diubah oleh pemeluknya, sehingga tidak lagi seperti yang dibawa
oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Hal ini terbukti dengan keyakinan
mereka yang mengatakan, bahwa Nabi ‘Isa adalah anak Tuhan, bahkan
meyakininya sebagai salah satu Tuhan yang diibadahi. Keyakinan yang salah ini
telah dibantah oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala di dalam firman-Nya,
وَإِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّىَ إِلاَهَيْنِ مِن دُونِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَايَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَالَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلآَأَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah mengatakan (di akhirat), “Wahai
Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah
aku dan ibuku dua orang sesembahan selain Allah?’” (Nabi) Isa
menjawab, “Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan
hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau
mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang
gaib.” (Al-Maidah: 116)
Bila demikian keadaannya, agama Nasrani dan yang selain Islam
sudah tidak lagi sama dengan yang dibawa oleh para nabi, apakah kemudian akan
dikatakan bahwa semua agama itu benar, karena datangnya dari langit dan
mengajak kepada Tuhan yang sama? Oleh karena itu, janganlah kita tertipu dengan
pernyataan yang akan merusak akidah kita ini, siapa pun yang mengatakannya.
Hadirin
rahimakumullah,
Ketahuilah, sesungguhnya agama seluruh para nabi memiliki tujuan
yang sama, yaitu mengajak manusia untuk berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan beribadah hanya kepada-Nya dan berlepas diri dari peribadatan kepada
selain-Nya. Oleh karena itu, seluruh agama para nabi—meskipun berbeda
syariatnya—disebut agama Islam, dan para pengikutnya disebut kaum
muslimin, karena memiliki prinsip dan tujuan yang sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
وَوَصَّى بِهَآإِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبَ يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Dan (Nabi) Ibrahim telah berwasiat dengan wasiat tersebut kepada
anak-anaknya, demikian pula (Nabi) Ya’qub. (Nabi Ibrahim berkata),
“Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi
kalian, maka janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan memeluk agama
Islam.” (Al-Baqarah: 132)
Oleh karena itu, kita membenarkan ajaran seluruh para nabi dan
kitab suci yang diturunkan kepada mereka. Namun demikian, dengan diutusnya
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, syariat agama yang terdahulu telah dihapus
kecuali prinsip dan tujuannya, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Artinya, agama Islam yang dibawa oleh penutup para nabi—Nabi kita
Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam— itulah yang harus kita ikuti.
Bahkan, dengan diutusnya beliau, seluruh manusia dan jin yang ada di muka bumi
ini tidak memiliki pilihan lain, kecuali harus mengikuti ajarannya. Barang
siapa tidak mau mengikuti agama yang dibawanya, maka dia adalah orang kafir
yang akan menjadi penghuni neraka. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersaba,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Zat
yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini yang
telah mendengar diutusnya aku, baik dia Yahudi maupun Nasrani, kemudian mati
dalam keadaan tidak beriman terhadap agama yang aku diutus dengannya (Islam),
melainkan dia termasuk penghuni neraka.” (H.R. Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Akhirnya, mudah-mudahan Allah Ta’ala
senantiasa mengaruniakan kepada kita semua istiqamah
di atas satu-satunya agama yang diridhai-Nya.
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الْـخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ
وَعَنْ
جَمِيْعِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لـَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلىَ يَوْمَ
الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَالْـمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْـمُشْرِكِيْنَ.
اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْـمُسْلِمينَ
في كُلِّ
مَكانٍ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
وَالْـحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ
Penulis: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
Disalin dari kumpulan Khutbah Jumat Majalah
Asy-Syariah Edisi 61 disertai penyuntingan bahasa dan penambahan teks ayat oleh
Tim Redaksi KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com