
June
6, 2015
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ.. اِتَّقُوْا
اللهَ
رَبَّكُمْ وَأَطِيْعُوْهُ
لِتَنَالُوْا
بِتَقْوَاهُ وَطَاعَتِهِ
سَعَادَةَ
الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ،
وَسَلُوْهُ
جَلَّ
وَعَلَا
التَوْفِيْقَ
وَالهِدَايَةَ
وَالمَعُوْنَةَ
عَلَى
التَقْوَى
وَالطَاعَةِ؛
فَإِنَّ الأَمْرَ
كُلَّهُ
بِيَدِهِ
جَلَّ فِي
عُلَاهُ.
Ibadallah,
Dalam
permasalahan ekonomi, manusia memiliki tujuan dan cara yang berbeda-beda,
tergantung tujuan masing-masing individu, bukan tergantung pada kebenaran yang
ingin mereka ikuti dan kemaslahatan umum yang ingin mereka realisasikan.
Akibatnya, mereka menyimpang dari jalan yang bermanfaat bersama. Karena tidak
mau terikat dengan petunjuk-petunjuk agama Islam, sementara cara berfikir
manusia itu berbeda-beda, dan amalan pun sesuai dengan cara berfikir itu, maka
yang timbul adalah bencana yang merata dan fitnah (perselisihan) sengit antara
orang yang mengaku sebagai pembela kaum miskin dan buruh dengan orang-orang
yang memiliki harta dan kekayaan. Masing-masing memiliki banyak argumen, akan
tetapi semua argumen mereka tidak benar bahkan cendrung menyesatkan.
Ini
sangat berbeda dengan kaum Mukminin, alhamdulillah, Allah ‘Azza wa Jalla telah
memberikan petunjuk jalan yang lurus kepada mereka dalam segala urusan mereka
secara umum, dan dalam permasalahan ini secara khusus.
Allah
‘Azza wa Jalla
menakdirkan bahwa manusia itu berbeda-beda derajat dan status sosial mereka,
diantara mereka ada yang kaya ada juga yang miskin, ada yang mulia adapula yang
rendahan. Itu semua mengadung hikmah dan rahasia ilahi yang sangat agung yang
tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tatkala Allah ‘Azza wa Jalla telah
menakdirkan seperti itu, maka Allah ‘Azza
wa Jalla mengikat satu individu dengan individu yang lainnya dengan
ikatan kuat. Allah ‘Azza
wa Jalla tundukkan sebagian mereka untuk sebagian yang lain,
sehingga masing-masing bisa memberikan manfaat kepada yang lain dan merasa
saling membutuhkan. Begitulah, alhamdulillah, syariat Allah ‘Azza wa Jalla
mendatangkan kebaikan bagi si kaya dan si miskin.
Allah
‘Azza wa Jalla
yang maha bijaksana mensyariatkan kepada mereka agar bersaudara dan tidak saling
mengeksploitasi. Allah ‘Azza
wa Jalla membimbing kaum Muslimin tatkala berintraksi dengan yang
lain agar memperhatikan apa yang menjadi kewajibannya terhadap pihak lain
sesuai syariat. Jika kewajiban-kewajiban itu terlaksana, persatuan akan
terwujud dan kehidupan akan nyaman.
Allah
‘Azza wa Jalla
memerintahkan kepada semua pihak (si kaya dan si miskin) untuk serius
memperhatikan kemaslahatan umum yang akan mendatangkan manfaat bagi kedua belah
pihak.
Ibadallah,
Kemudian
Allah ‘Azza wa Jalla
mewajibkan zakat pada harta orang-orang kaya, sesuai dengan perincian yang
telah ditentukan syariat. Allah ‘Azza
wa Jalla menetapkan bahwa diantara tujuan penunaian zakat adalah
menutupi hajat orang-orang yang membutuhkan serta guna merealisasikan
kemashlahatan agama yang menjadi tonggak baiknya urusan-uruan dunia dan agama.
Allah
‘Azza wa Jalla
juga memotivasi mereka untuk terus berbuat baik disetiap waktu dan kesempatan.
Allah ‘Azza wa Jalla
mewajibkan membatu orang yang tertimpa kesusahan, memberi makan yang kelaparan
dan memberikan pakain kepada orang yang membutuhkannya.
Allah
‘Azza wa Jalla
juga mewajibkan kepada orang-orang kaya untuk memberikan nafkah secara khusus
kepada anggota keluarga mereka, melakukan semua kewajiban mereka
ditengah-tengah masyarakat. Diantara hal penting yang harus diperhatikan oleh
orang yang bergelimang kekayaan adalah dalam urusan mencari harta Allah ‘Azza wa Jalla
memerintahkan mereka untuk tidak hanya bersandar dan bentumpu pada kemampuan
mereka saja serta tidak merasa tenang dengan apa yang mereka miliki sekarang.
Mereka harus selalu menyadari dan ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
iangat akan karunia yang Allah k berikan kepada mereka dan berbagai kemudahan
serta tidak lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
bersyukur kepada-Nya atas limpahan karuni yang telah diberikan.
Orang-orang
kaya juga diwajibkan untuk memperhatikan dan mentaati rambu-rambu syariat.
Mereka tidak diperbolehkan tenggelam dalam perbuatan berpoya-poya yang akan
mencederai akhlak, harta benda dan seluruh keadaan mereka, akan tetapi mereka
hendaknya menjadi seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan
orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian.” (QS. al-Furqan/25:67).
Allah
‘Azza wa Jalla
juga memerintahkan kepada mereka dalam mencari kekayaan, hendaknya mencari
dengan cara yang baik, bersih dan jalan yang halal. Mereka tidak boleh
mengotori usaha mereka dengan cara haram , seperti riba, judi, bermain curang
atau menipu. Hendaklah mereka selalu mengikat diri-diri mereka dengan
rambu-rambu syariat dalam bermuamalah, sebagaimana mereka mengikat diri-diri
mereka dengan aturan syariat dalam beribadah.
Kekayaan
sering membuat orang lupa diri lalu sombong dan menganggap orang lain yang
miskin hina dan rendah. Cara pandang seperti ini sangat tidak dibenarkan dalam
Islam. Orang-orang yang diberikan kekayaan oleh Allah ‘Azza wa Jalla tidak
diperbolehkan memandang orang miskin dengan pandangan angkuh, sombong karena
menganggap diri lebih mulia. Sebaliknya, mereka mereka memandang kepada fakir
miskin dengan penuh kasih sayang dan kebaikan.
Dengan
semua petunjuk bijak ini kekayaan yang sejalan agama akan menjadi kekayaan yang
sangat agung dan sangat dihargai, sementara orangnya menjadi terpuji dan
terpandang di masyarakat. Karena syariat telah mendiriknya dan menyucikan harta
dan jiwanya.
Kaum
muslimin ibadallah,
Islam
telah memberikan petunjuk kepada orang kaya agar membantu, memperhatikan dan
tidak menghina fakir miskin, lalu bagaimana Islam mengarahkan fakir miskin,
agar kehidupan ini berjalan sesuai dengan harapan bersama? Kepada orang-orang
miskin dan kepada orang yang belum bisa mencapai keinginan pribadinya, agama
Islam memerintahkan mereka untuk bersabar dan ridha dengan taqdir Allah ‘Azza wa Jalla yang
telah ditetapkan, serta menyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla itu maha bijaksana.
Allah k memiliki banyak hikmah dalam itu semua dan banyak maslahat untuk
mereka.
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah/2:216).
Cara
pandang seperti ini minimalnya sudah menghilangkan kesedihan yang ada dalam
hati yang berpotensi menimbulkan rasa malas dan menghilangkan kepercayaan diri.
Islam
juga memerintahkan mereka saat berusaha mengangkat kemiskinan mereka dan
memenuhi kebutuhan mereka untuk tidak melihat dan bergantung kepada para
makhluk, tidak meminta-minta kepada mereka kecuali dalam keadaan darurat.
Islam
mengajarkan mereka untuk meminta hajat mereka hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang
maha esa dengan melakukan usaha-usaha yang bisa menghilangkan kemiskinan dan
meraih kekayaan. Caranya banyak dan masing-masing orang bisa menempuh usaha
yang sesuai dengan keadaannya. Dengan melakukan ini dia akan bisa menghayati
arti kebebasan dari perbudakan makhluk serta terus memacu dan melatih dirinya
agar tetap kuat dan semangat dalam berusaha, tidak kenal malas dan putus asa.
Dengan ini, hati juga akan terhindarkan dari perasaan iri terhadap orang-orang
kaya yang dikarunia harta melimpah oleh Allah ‘Azza wa Jalla . Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Dan
janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian
kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada
bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada
bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla
sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (QS. an-Nisa/4:32).
Islam
juga memerintahkan mereka untuk ikhlas dalam beramal, bekerja dan muamalah
mereka. Mereka juga dilarang terburu-buru dalam mengais rizki denga menekuni
mata pencaharian yang hina dina yang bisa mengikis habis agama dan mendatangkan
celaka dalam kehidupan dunia.
Islam
memerintahkan kepada kaum fakir miskin dua perkara yang bisa membantu mereka
dalam menanggung beban kehidupan : Pertama, sederhana dalam gaya hidup; Kedua,
qana’ah (merasa cukup) dengan nikmat yang Allah ‘Azza wa Jalla
berikan. Rezeki yang sedikit dibarengi dengan kesederhanaan akan terasa banyak,
sementara sifat qana’ah merupakan simpanan yang tidak akan pernah habis
dan kekayaan tanpa wujud materi.
Alangkah
banyak orang miskin yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk sederhana dan
qana’ah sehingga dia tidak cemburu dengan orang-orang kaya yang
berfoya-foya dan tidak merasa sedih dengan harta sedikit yang dia miliki.
Ketika
orang-orang miskin melakukan petunjuk-petunjuk agama dalam menjalani kehidupan
ini berupa: sabar, selalu bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , memelihara dan
menjaga diri agar tidak terjebak dalam perbudakan makhluk, bersungguh-sungguh
dalam bekerja serta qana’ah dengan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla
berikan, niscaya akan terasa ringan kesusahan dan kesulitan akibat
kemiskinannya. Bersamaan dengan itu pula dia hendaknya terus menerus berusaha
dalam meraih harta yang bisa mencukupi kebutuhannya dengan berharap kepada
Allah ‘Azza wa Jalla
dan menunggu janji Allah ‘Azza
wa Jalla serta bertakwa kepada-Nya, karena Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa
bertakwa kepada Allah ‘Azza
wa Jalla niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah ‘Azza
wa Jalla niscaya Allah ‘Azza
wa Jalla akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS.
at-Thalaq/65:2-3).
نَسْأَلُ اللهَ جَلَّ فِيْ عُلَاهُ أَنْ يَهْدِيَنَا أَجْمَعِيْنَ، وَأَنْ يُسَدِّدَنَا، وَأَنْ يُلْهِمَنَا رُشْدَ أَنْفُسِنَا، وَأَنْ لَا يَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَنْ يُصْلِحَ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَمِيْعُ الدُّعَاءِ، وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ، وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ،
عِبَادَ
اللهِ.. اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَاسْتَمْسِكُوْا
بِهُدَاهُ،
وَاعْتَنُوْا
بِسُنَّةِ نَبِيِّهِ
الكَرِيْمِ
عَلَيْهِ
الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ؛
فَإِنَّ مَثَلَ
السُنَّةِ
مَثَلَ
سَفِيْنَةِ
نُوْحٍ مَنْ
رَكِبَهَا
نَجَا وَمَنْ
تَرَكَهَا غَرِقٌ
وَهَلَكٌ.
Ibadallah,
Semua
ini petunjuk-petunjuk dan arahan-arahan buat orang-orang kaya dan miskin datang
dari Allah ‘Azza wa
Jalla dan Rasul-Nya. Tujuannya adalah mendatangkan kebaikan demi
kebaikan dan menghalau semua jenis keburukan dari mereka. Hasil akhir yang
paling indah akan dirasakan oleh kedua belah pihak, si miskin dan si kaya.
Ini
adalah solusi terbaik dari Allah ‘Azza
wa Jalla Yang Maha Mulia dalam mengatasi problematika ekonomi yang
sering mencuat di tengah masyarakat. Teori-teori lain masih sebatas teori yang
belum terbukti dan yang pasti semua yang bertentangan syariat, betapapun indah
mata memandang dan kepala membayangkannya, itu semua hanya akan mengundang
bahaya dan mendatangkan penderitaan, kesusahan serta kebinasaan.
وَاعْلَمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ أَنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾[الأحزاب:56]، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((من صلَّى عليَّ صلاة صلى الله عليه بها عشرا)) اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللّٰهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللّٰهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ
مِنْ سَدِيْدِ
الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ
الأَعْمَالِ
يَا ذَا الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللّٰهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى وَالتُّقَى
وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى.
اَللّٰهُمَّ
اهْدِنَا
وَسَدِّدْنَا.
اَللّٰهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَناَ
اَلَّذِيْ
هُوَ عِصْمَةُ
أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا دُنْيَانَا
اَلَّتِيْ
فِيْهَا
مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَالمَوْتَ رَاحَةً
لَنَا مِنْ كُلِّ
شَرٍّ، يَا
مُقَلِّبَ
القُلُوْبِ
ثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا
عَلَى
دِيْنِكَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ،
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
عَلَانِيَتَهُ
وَسِرَّهُ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ
اللهِ..
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرُ
وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
(Diadaptasi dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun
XVII/1435H/2014).
www.KhotbahJumat.com