
December
5, 2013
Khutbah
Pertama:
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا، أَمّا
بَعْدُ …
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Kaum
muslimin, rahimakumullah
Islam
adalah agama wahyu. Maksudnya, semua ajarannya bersumber dari Alquran dan sunah
yang merupakan wahyu. Allah menurunkannya kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril.
Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah Kalamullah, bukan perkataan Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, ketika orang kafir menentang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mendatangkan Alquran
selain yang sudah ada tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak bisa melakukannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
hanya mengikuti wahyu yang diturunkan kepadanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala
قُلْ مَايَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِن تِلْقَآءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَايُوحَى إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Katakanlah:
“Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak
mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika
mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. (QS Yunus: 15)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan bahwa Muhammad itu manusia
biasa yang menerima wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Katakanlah:
“Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku:”Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Ketika
orang-orang kafir tetap menuduh bahwa Alquran itu buah karya Rasulullah, maka
Allah Subhanahu wa Ta’ala menentang mereka untuk membuat karya
semisal Alquran, namun mereka tidak bisa melakukannya sama sekali.
Ayat-ayat
di atas menunjukkan bahwa Alquran yang merupakan sumber ajaran Islam adalah
wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain Alquran, sumber lain
yang juga merupakan wahyu ialah sunah; yang diberikan kepada Rasul-Nya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
“Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang
nyata.” (QS. Ali-Imran: 164)
Yang
dimaksud dengan al-hikmah adalah sunah
Kaum
muslimin rahimakumullah
Di
depan sudah disampaikan, Islam adalah agama wahyu, maka kewajiban kita sebagai
kaum muslimin adalah melaksanakannya semampu kita sesuai dengan panduan wahyu
yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Ketika
beribadah, kita beribadah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, bukan dengan cara-cara baru yang kita rasa baik.
Karena perasaan bukan landasan agama, apalagi perasaan masing-masing orang itu
berbeda-beda. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun dia tidak dapat
meraihnya.”
Itulah
kewajiban pertama kita terkait keberadaan Islam sebagai agama wahyu. Dan itu
juga merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah yang dilakukan oleh
seseorang; tanpa itu, tertolak sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam ;
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ
“Barangsiapa
melakukan satu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka itu
tertolak.” (HR. Muslim).
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهُ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Kaum
muslimin rahimakumullah
Kewajiban
kedua yang juga merupakan syarat diterima amal ibadah kita adalah ikhlas karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَمَآ أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوْا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوْا الزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama
yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Ikhlas
adalah amalan hati, bukan amalan lisan. Ikhlas tidak perlu disampaikan kepada
orang lain. Dan keikhlasan seseorang dalam beramal pasti diketahui oleh Allah,
meskipun orang tersebut tidak mengucapkannya, karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala Maha Mengetahui niat yang terpendam dalam hati seseorang.
Ikhlas
ini, wahai saudara-saudaraku, meski singkat dan mudah dilafalkan, akan tetapi
sangat susah direalisasikan. Perhatikanlah perkataan Imam ats-Tsauri
rahimahullah yang menjelaskan betapa susahnya menjaga niat ini. Beliau
rahimahullah mengatakan, “Saya tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih
susah bagi saya melebihi susahnya saya mengobati niat”.
Ini
perkataan seorang Ulama yang tidak diragukan keshalihannya, lalu bagaimana
dengan orang seperti kita di tengah banyaknya gempuran godaan dunia?! Hendaklah
kita terus mengintrospeksi diri kita dan terus memohon pertolongan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala agar kita dijadikan termasuk para hamba yang
ikhlas.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Keikhlasan
seseorang dalam beramal mempunyai efek yang luar biasa terhadap nilai amalan
yang dilakukannya, jika ibadah yang dilakukannya itu untuk mencari dunia, maka
sebatas itu yang didapatkan: sementara di akhirat ia tidak akan mendapatkan apa
pun.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia
itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat,
kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).
Dengan
keikhlasan, amalan yang ringan menjadi besar ganjarannya, bahkan dengan niat
yang ikhlas, seseorang bisa mendapatkan pahala, meskipun dia belum sempat
beramal karena terhalang oleh udzur. Simaklah sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَعَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوْك فَدَنَا مِنَ المَدِيْنَةِ فَقَالَ ( إِنَّ بِالمَدِيْنَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيْرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوْا مَعَكُمْ ). قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَهُمْ بِالمَدِيْنَةِ؟ قَالَ ( وَهُمْ بِالمَدِيْنَةِ حَبَسَهُمْ العُذْرُ )
Dari
Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
ketika kembali dari perang Tabuk dan mendekat ke Madinah, beliau bersabda,
“Sesungguhnya di kota Madinah terdapat beberapa kaum yang tidaklah kalian
menempuh satu perjalanan atau menyebrangi lembah kecuali mereka senantiasa
bersama kalian (dalam pahala)”, Para shahabat bertanya (keheranan)
“Wahai Rasulullah, padahal mereka berada di kota Madinah,”
Rasulullah menjawab, “Ya, padahal mereka berada di kota Madinah, mereka
tertahan oleh udzur (HR. al-Bukhari)
Ibnul-Mubarak
rahimahullah mengatakan bahwa betapa banyak amalan yang kecil namun menjadi
besar pahalanya disebabkan oleh niat, dan betapa banyak amalan yang besar namun
karena niat juga ganjarannya menjadi sedikit.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Demikianlah
hal kedua yang perlu kita perhatikan agar amal ibadah yang dilakukan dalam
keislaman kita menjadi bermanfaat. Pertama, melaksanakannya sesuai dengan
tuntutan wahyu; dan yang kedua ikhlas, hanya mengharap balasan dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ. وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا
كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ
Sumber
: Majalah As-sunah Edisi 07/ThnXVII/Dzulhijjah 1434H-Muharram 1435/November
2013