
December
4, 2013
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى
مُحَمدٍ،
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
Amma
ba’du
Kaum
muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Hendaklah
kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
hendaklah kita khawatir dengan suatu hari dimana tidak ada seorang pun yang
bisa menolong orang lain selain amalannya. Kala itu, amallah yang menjadi
penentu kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang, jika dia beruntung maka
kebahagiaan abadi akan menjadi miliknya. Sebaliknya jika merugi, maka
kesengsaraan tak terperikan akan menimpa.
Saudaraku rahimanillahi wa iyyakum.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Rasul-Nya yaitu Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada kita sebagai pembawa kabar gembira, pemberi
peringatan, menyeru ke jalan Allah dan sebagai pelita penerang jalan. Allah Subhanahu
wa Ta’ala juga sudah menurunkan Alquran kepada beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai cahaya penerang, tidak ada kebaikan dan
keutamaan yang tersisa kecualitelah ditunjukkannya, serta tidak ada keburukan
yang terlupakan melainkan semuanya telah diperingatkan. Allah Ta’ala
berfirman,
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
“Tiadalah
Kami alpakan sesuatu pun dalam al-Kitab.” (QS. Al-An’am: 38)
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan
Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah
diri.” (QS. An-Nahl: 89)
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ، اِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Sesungguhnya
yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya terdapat
perkara-perkara syubhat (samar, belum jelas) yang tidak diketahui oleh
kebanyakan orang. Maka barangsiapa yang menjaga (dirinya) dari syubhat, ia
telah berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa
yang terjerumus ke dalam syubhat, ia pun terjerumus ke dalam (hal-hal yang)
haram. Bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di
sekitar kawasan terlarang, maka hampir-hampir (dikhawatirkan) akan memasukinya.
Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa (raja) memiliki kawasan terlarang.
Ketahuilah, sesungguhnya kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang
diharamkanNya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal
daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, (maka) baiklah seluruh tubuhnya.
Dan apabila segumpal daging tersebut buruk, (maka) buruklah seluruh tubuhnya.
Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam
hadis yang lain:
“Sesungguhnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan perkara fardhu, maka
janganlah kalian sia-siakan! Dan telah membuat batas-batas, maka janganlah
kalian langgar! Allah telah mengharamkan beberapa hal, maka janganlah kalian
langgar! Dan Allah diam tentang hukum beberapa hal sebagai bentuk kasih sayang,
maka janganlah kalian bertanya tentangnya.”
Saudaraku
rahimanillahu wa iyyakum
Jika
kita sudah mengetahui hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib
kita tunaikan begitu juga hak-hak lainnya, maka wajiblah bagi kita untuk ekstra
dalam menginstrospeksi diri kita terus-menerus. Dengan harapan hisab pada hari
kiamat akan menjadi ringan. Orang yang senantiasa merasa dalam pengawasan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan merasa takut akan adzab-Nya dalam semua
perbuatan yang dia lakukan ataupun yang dia tinggalkan, maka dia jarang sekali
berbuat salah saat menunaikan kewajiban dan dia kan menahan diri dari hal-hal
yang diharamkan serta berusaha menunaikan kewajibannya kepada orang lain. Allah
berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan
orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, orang-orang yang tidak
mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena
mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka
itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang
segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 57-61)
Orang
yang senantiasa menghadirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
dirinya, mengintrospeksi diri dan menekan nafsu agar melaksanakan amalan-amalan
yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan menghindari dosa, maka hatinya akan
baik serta baik pula hasil akhirnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Dan
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”
(QS. An-Naziat: 40-41)
Dia
juga akan senantiasa bersabar dalam beribadah kepada Allah, sebagai wujud
ketaatan kepada firman Allah Ta’ala,
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
“Tuhan
(yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka
sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu
mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS.
Maryam: 65)
Dan
firman-Nya,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan
perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki
kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS. Thaha: 132)
Dan
dalam rangka meniru salaf ash-shalih (generasi awal Islam) yang
senantiasa menjaga ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Saudaraku
rahimanillahu wa iyyakum.
Orang
yang senantiasa mengoreksi dirinya, dia akan banyak memiliki kebaikan dan
sedikit keburukan. Dia akan datang menemui Rabbnya dalam keadaan ridha dan
diridhai, dia akan dimasukkan ke dalam surga bersama para nabi, shiddiqin, para
syuhada, orang-orang shaleh, dan mereka itulah sebaik-baik teman. Oleh karena itu
wahai saudaraku, hendaklah kita mengoreksi diri, bermuhasabah, dalam setiap
kalimat yang kita ucapkan. Karena Allah berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada
suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas
yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
Hendaklah
kita selalu bermuhasabah dalam segala tindakan kita, karena
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa
yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)
Kita
harus mengoreksi diri kita dalam setiap niatan dan hal-hal yang berkecamuk
dalam dada kita. Karena Allah berfirman,
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ
“Dan
ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah
kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)
Saudaraku,
janganlah kita lancang, hendaklah kita bertanya kepada para ulama tentang hukum
suatu amalan, baru kita tindak lanjuti dengan mengamalkan dan mendakwahkannya.
Allah Ta’ala mengingatkan,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“…maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Jika
setiap muslim saat mendapatkan sesuatu yang belum jelas hukumnya, lalu
dia menanyakan kepada dirinya namun dia tidak mengetahui hukum permasalahan
itu, maka hendaklah ia meninggalkannya, tidak memaksakan untuk mengamalkannya
apalagi mendakwahkannya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam,
الْبِرُّ مَااطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَ اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Kebaikan
itu yaitu sesuatu disenangi jiwa dan hati sedangkan dosa yaitu sesuatu yang
bergolak dalam jiwa, ragu-ragu serta engkau tidak suka dilihat oleh orang (saat
melakukannya).
Yang
dimaksud dengan kata nafsun (jiwa) dalam hadis di atas adalah jiwa yang
muthmainnah. Jiwa yang cinta kepada apa yang dicintai Allah dan benci kepada
apa yang Allah benci. Jiwa yang percaya penuh kepada Allah dan bertawakkal
kepada-Nya dalam segala urusan.
Sedangkan
hati yang dimaksudkan dalah hadis ini adalah hati yang selamat dari hal-hal
syubhat dan syahwat. Inilah hati yang dapat mengidentifikasi kebaikan dan
keburukan saat terjadi kesamaran. Adapun jiwa yang sakit, yang terinfeksi
syubhat dan syahwat, maka tidak ada lagi perkara yang rancu baginya. Jiwa yang
demikian akan membenci apa yang Allah cintai, dan mencintai apa yang Allah
benci. Dengan demikian tidak ada lagi yang membendungnya dari perbuatan haram.
Allah berfirman,
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Adapun
orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti
sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah
untuk mencari-cari ta´wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui
ta´wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:
“Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari
sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)
melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7)
Saudaraku
rahimanillahu wa iyyakum
Bermuhasabah
serta berpegang teguh dengan sunnah merupakan jalan selamat. Adapun orang yang
mengekor kepada hawa nafsunya dan melepaskannya tanpa kendali, maka sungguh
buruk akibat yang akan menimpanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun
orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan
dunia, maka
sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naaziat: 37-39)
Semoga
Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa mengoreksi diri kita,
memuhasabah diri kita.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah
Kedua:
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Saudaraku
rahimanillahu wa iyyakum
Kondisi
kaum muslimin saat ini menuntut kita untuk berpikir dan terus berpikir. Saat
musuh-musuh Allah memporak-porandakan barisan kaum muslimin, pada saat yang
sama mereka dalam susah dan sengsara. Kita pun sudah tahu faktor utamanya yaitu
karena meninggalkan syariat Allah. Maka saudaraku, langkah pertama untuk
memperbaiki kondisi kaum muslimin secara umum adalah memperbaiki individu. Dengan
cara senantiasa mengintrospeksi diri sebelum tiba saat dihisab oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala, Yang Maha Adil. Hendaklah kita mengintrospeksi diri kita,
kita bertanya kepada diri kita masing-masing; amalan shalih apa yang telah kita
perbuat untuk Islam? Sudahkan kita ini termasuk orang-orang yang
senantiasamenghormati dan mengagungkan syariat Allah Ta’ala?
Apakah kita ini termasuk orang-orang yang senantiasa menjauhi larangan-larangan
serta hal yang mendatangkan murka Allah?
وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ
“Dan
barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah
lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Hajj: 30)
Kemudian
juga, sudahkah kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengagungkan
sunnah-sunnah Nabi-Nya dengan cara mengikuti dan mengajarkan sunnahnya? Apakah
hak-hak kedua orang tua kita sudah kita tunaikan atau bagaimana? Adakah kita
ini masuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bertaubat? Sudah kita
senantiasa berusaha menambah ilmu kita dengan terus belajar dan belajar?
Saudaraku
rahimanillahu waiyyakum.
Sesungguhnya
Allah Ta’ala telah mewajibkan kita untuk menjumpainya di akhirat
dengan amal perbuatan, bukan hanya sekedar pengakuan yang hampa dari bukti.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kita untuk mendekatkan diri
kepada-Nya dengan ikhlas serta penuh ketundukan. Dan sesungguhnya akan
memuliakan orang-orang yang memuliakan-Nya dan menghinakan orang yang
menghinakan-Nya.
Saudaraku,
rahimanillahu waiyyakum.
Sungguh
introspeksi diri yang dilakukan oleh seseorang, baik dalam perbuatan yang kecil
ataupun yang besar sambil terus berpegang dengan sunnah merupakan jalan selamat
yang akan menghantarkan kepada keridhaan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. “ (QS. Al-Hasyr: 18)
Dalam
hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكَ الْمُؤْمِنُ
“Siapa
yang kebaikannya menggembirakannya dan kejelekannya menyusahkannya, maka dia
adalah seorang mukmin.” (HR. Thabrani)
Semoga
Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang beriman yang benar-benar
beriman kepada Allah dan hari akhir.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ،
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ،
الأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبٌ
الدَعَوَاتِ.
رَبَّنَا
لَا
تُؤَاخِذْنَا
إِنْ
نَسِينَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
ۚ رَبَّنَا
وَلَا
تَحْمِلْ
عَلَيْنَا إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلَى
الَّذِينَ
مِنْ
قَبْلِنَا ۚ
رَبَّنَا
وَلَا
تُحَمِّلْنَا
مَا لَا
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ ۖ
وَاعْفُ عَنَّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
ۚ أَنْتَ
مَوْلَانَا
فَانْصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
والحمد لله رب
العالمين
Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 05/X/1427 H/2006