
July
20, 2014
Khutbah
Pertama:
إِنَّ
الحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ
، وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
، مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا
هَادِيَ لَهُ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا
بَعْدُ
Ma’asyiral
mukminin, ibadallah,
Bertakwalah
kepada Allah, dekatkanlah diri kepada-Nya sebagaimana orang-orang yang
mengetahui bahwa Dia mendengar dan melihat hamba-hamba-Nya.
Ibadallah,
Hari-hari
di bulan Ramadhan yang mulia ini disemarakkan dengan puasa, dzikir, membaca
Alquran. Sedangkan malam-malamnya diisi dengan menegakkan shalat. Dan telah
berlalu sebagian besar hari-hari tersebut layaknya hanya potangan waktu sesaat
di siang hari. Kita memohon kepada Allah agar mengganti apa yang telah berlalu
dengan keberkahan di masa yang tersisa. Kita juga memohon agar Allah
menyempurnakan Ramadhan kita dengan rahmat, ampunan, dan dibebaskan dari
neraka. Semoga kita senantiasa berada dalam keselamatan dan keislaman.
وفي الصّحيين أيضاً عن أبي سعيد الخدريّ رضي الله عنه قال : (( كُنَّا نُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ . وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ )) ، وقال ابن عباس رضي الله عنهما: (( فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ)).
Ibadallah,
Sesungguhnya
Allah mensyariatkan di akhir bulan ini suatu ibadah yang menambah keimanan
kita, menyempurnakan ibadah kita, dan melengkapi kenikmatan dari Rab kita.
amalan tersebut adalah zakat fitri, gema takbir di akhir puasa, dan shalat Idul
Fitri.
Ibadallah,
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam mewajibkan zakat fitri dengan satu sha’ (satu
sha’ itu sama dengan empat mud. Sedangkan satu mud adalah ukuran takaran
yang sama dengan satu cakupan dua tangan.) makanan pokok. Di dalam Shahih
Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar radhiallahu
‘anhu, ia berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau
satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau
wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan
untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat Id.” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Dalam
Shahihain juga terdapat hadits dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu,
ia berkata,
كُنَّا نُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ . وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ
“Dahulu
kami mengeluarkan zakat fithri di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari
Idul Fithri dengan satu sha’ makanan.” Abu Sa’id berkata,
“Dahulu yang menjadi makanan kami adalah gandum, anggur, keju dan
kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnu
Abbas radhiallahu
‘anhuma mengatakan,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam mewajibkan zakat fitrah, sebagai pembersih bari orang yang
puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi
orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat Id maka zakatnya
diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat Id maka hanya menjadi
sedekah biasa.” (HR. Abu Daud).
Ibadallah,
Wajib
bagi seorang muslim untuk mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang berada
dalam tanggungannya, istri dan anak-anaknya serta orang-orang yang berada dalam
tanggungannya. Tidak wajib mengeluarkan zakat untuk bayi yang berada dalam
kandungan. Namun menzakatinya merupakan sesuatu yang disunnahkan.
Zakat
tersebut ditunaikan di daerah dimana kita menyelesaikan Ramadhan. Walaupun
seorang yang menanggung fitrah berbeda daerah dengan orang yang ditanggungnya,
zakat tersebut tetap ditunaikan di daerah orang yang menanggunya.
Waktu
mengeluarkan zakat fitrah dimulai pada saat terbenamnya matahari di malam Id
hingga ditegakkannya shalat Id. Boleh juga menunaikannya satu atau dua hari
sebelum shalat Id. Atau bahkan di hari ke-28 dan 27 Ramadhan. Adapun sebelum
hari itu, maka tidak diperbolehkan. Mengakhirkannya hingga pagi hari Id adalah
yang paling utama. Barangsiapa yang membayarkannya menjelang shalat Id, tidak
ada dosa baginya. Zakat fitrah tetap wajib dikeluarkan walaupun terlambat dari
hari Id dan hal itu menjadi qadha.
Adapun
orang-orang yang berhak menerima zakat fitra adalah sama dengan mereka yang
berhak menerima zakat mal. Dibayarkan kepada salah seorang dari mereka atau
mereka semuanya.
Kadar
zakat fitrah untuk satu orang adalah sebanyak satu sha’ gandum atau kurma
atau kismis (atau kalau di Indonesia beras pen.).
Hal ini tidak bisa diganti dengan uang, karena yang demikian menyelisihi
tuntunan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga menyelisihi amalannya para sahabat
beliau radhiallahu
‘anhum. Mengganti zakat fitrah dengan uang seharga
barang-barang pokok tersebut tidak dikenal di zaman sahabat, padahal di zaman
itu uang juga beredar di masayarakat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa
yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada bagiannya dari kami, maka
amalan tersebut tertolak.”
Ibadallah,
Mengenai
takbir hari raya, amalan ini disyariatkan ketika terbenamnya matahari di malam
hari raya Id hingga shalat Id ditegakkan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan
hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS.
Al-Baqarah: 185).
Disunnahkan
menggemakan takbir di masjid, tempat-tempat perbelanjaan, rumah-rumah, sebagai
pengagungan kepada Allah, menampakkan ibadah, dan syukur atas karunia dan
kenikmatan dari-Nya. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dahulu di hari Id keluar dari rumahnya
menuju tempat shalat sambil bertakbir hingga tiba di tempat shalat dan sampai
shalat ditegakkan. Apabila shalat telah usai dilaksanakan, beliau pun berhenti
dari takbirnya.
Lafadz
takbir yang diriwayatkan dari para sahabat adalah sebagai berikut:
” الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله ، الله أكبر ولله الحمد”
Hendaknya
setiap muslim mengucapkan takbir demikian secara per orangan. Sedangkan takbir
berjamaah dengan satu suara bersama, mulainya dan berhentinya secara bersamaan,
yang demikian bukan termasuk dari sunnah. Tidak seorang pun pendahulu umat ini
yang melakukan demikian. Setiap kebaikan adalah dengan mencontoh dan mengikuti
mereka. Adapun bagi perempuan, hendaknya bertakbir secara lirih.
Ibadallah,
Di
antara hukum-hukum yang berkaitan dengan hari Id juga adalah seorang muslim
disunnahkan mandi untuk Id dan berhias dengan menggunakan pakaiannya yang
terbaik. Namun tidak diperbolehkan mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra
bagi laki-laki –baik saat Id maupun di luar Id-, tidak juga pakaian yang
membentuk (ketat, tipis, dsb) aurat, dan tidak boleh juga mengenakan pakaian
yang merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Tidak diperkenankan bagi seorang laki-laki
berhias diri –baik saat Id maupun di luar Id- dengan cara mencukur
jenggotnya, karena yang demikian telah jelas keharamannya. Penampilan indah
yang hakiki adalah dengan mencontoh dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bagi
perempuan muslimah wajib untuk keluar menuju tempat shalat dengan menutup
auratnya, tidak berdandan sehingga menarik perhatian, dan tidak juga mengenakan
minyak wangi. Wajib bagi mereka untuk menjaga kehormatan dirinya dan
menundukkan jiwanya untuk taat kepada Allah dengan tidak membuka aurat dan
berwangi-wangian.
Ibadallah,
Disunnahkan
bagi seorang muslim untuk memakan kurma sebelum berangkat menuju tempat shalat,
sebagaimana Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam melakukan hal itu. Disunnahkan juga untuk
menempuh jalan yang berbeda saat pergi dan pulang dari tempat shalat. Perlu
diperhatikan juga, bahwa tidak ada shalat sebelum dan sesudah shalat Id. Dari
Ibnu Abbas radhiallahu
‘anhuma,
أنَّ النبيَّ صلّى الله عليه وسلم صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ ، لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا
“Bahwasanya
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat di hari raya Idul Fitri.
Beliau tidak melakukan shalat baik sebelum maupun sesudahnya.”
Namun,
apabila shalat Id dilakukan di masjid (tidak di lapangan), maka seorang muslim
tetap dianjurkan untuk melakukan shalat tahiyatul masjid.
Hukum
shalat Id adalah fardhu ‘ain, wajib per orangan. Inilah pendapat yang
paling kuat di antara pendapat para ulama. Wajib bagi setiap muslim untuk
bersemangat dalam kebaikan ini dan hendaknya mereka tidak meremehkannya. Bagi
siapa yang terluput dari shalat Id secara berjamaah, maka bagi mereka shalat
dua rakaat sebagai gantinya.
Shalat
Id tidak didahului oleh adzan maupun iqamah. Dari Jabir bin Samrah radhiallahu ‘anhu,
ia berkata,
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ
“Aku
shalat bersama Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam di dua shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha
pen.) tidak
hanya sekali atau dua kali, tidak ada adzan maupun iqomah (mendahului shalat
tersebut).”
Ibnul
Qayyim rahimahullah mengakatan, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
tiba di tempat shalat (tanah lapang), beliau melaksanakan shalat Id tanpa
didahului adzan dan iqomah, tidak juga perkataan ash-shalatu jami’ah.
Sunnahnya adalah tidak melafadzkan apapun.”
Tata
cara shalat Id adalah seseorang shalat dengan dua rakaat dibuka dengan tujuh
kali takbir di rakaat pertama dan lima kali takbir di rakaat kedua.
Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu
‘anha,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُكَبِّرُ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِي الأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ ، وَفِى الثَّانِيَةِ خَمْسَ تَكْبِيْرَاتِ
“Bahwa
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bertakbir tujuh kali di rakaat pertama
shalat Idul Adha dan Idul Fitri, sedangkan di rakaat yang kedua beliau
bertakbir lima kali.”
Perbuatan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang demikian tidak hanya diriwayatkan oleh
seorang sahabat saja.
Ibadallah,
Takbir
dalam shalat Id adalah sunnah bukan wajib, jika tidak dikerjakan maka tidak
membatalkan shalat. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan dzikir-dzikir tertentu
antara takbir. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu
‘anhu mengatakan,
بين كل تكبيرتين حمدٌ لله عز وجل وثناءٌ عليه
“Di
antara dua takbir hanyalah sanjungan dan pujian kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Setelah
itu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan para jamaah. Beliau
menasihati umat dan memberikan arahan kepada umatnya. Dan menghadiri khotbah
ini hukumnya tidak wajib. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ
“Sesungguhnya
kami berkhotbah, siapa yang ingin duduk mendengarkan khotbah, maka silahkan dia
duduk. Dan bagi mereka yang ingin meninggalkannya, maka ia boleh
meninggalkannya.”
Namun
yang utama adalah seorang muslim duduk mendengarkan khotbah, mengambil manfaat
nasihat kebaikan yang disampaikan khotib.
Kita
memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb dari arsy yang agung agar menerima
puasa dan shalat kita demikian juga menerima ketaatan dan dzikir kita. Kita
memohon agar Dia menjadikan Ramadhan ini sebagai musim yang berulang dan peluang
dalam menaatinya dan melakukan yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا . أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى .
Ibadallah,
Hendaknya
di sisa hari yang kita hadapi ini kita menambah ketaatan kepada Allah Jalla wa
‘Ala. Bagi mereka yang bermalas-malasan di awal bulan, maka
bersungguh-sungguhlah di hari yang tersisa. Agar hari tersisa ini menutupi
kemalasannya di awal bulan. Adapun bagi mereka yang bersemangat sejak awal
bulan, maka tambahlah lagi semangat ketaatan tersebut. Karena amalan penutup
itu sangat menenutkan. Upayakanlah kita menutup bulan ini dengan kesempurnaan
amalan.
Ibadallah,
Hal
lainnya yang perlu kita perhatikan adalah kita bersungguh-sungguh mencari dan
mengisi malam lailatul qadr. Karena Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan kita mencarinya di akhir
bulan Ramadhan. Oleh karena itu, kita harus bersemangat di setiap malam yang
tersisa untuk mengisi malam lailatul qadr. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa
yang shalat di malam lailatul qadr dengan keimanan dan berharap pahala, maka
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Inilah
malam lailatul qadr, malam yang penuh keberkahan. Malam dimana Alquran diturunkan
oleh Allah ‘Azza wa
Jalla.
Ibadallah,
Salah
satu yang harus kita perhatikan untuk mengisi malam lailatul qadr adalah
mengisinya dengan banyak berdoa. Terutama doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha, ia bertanya kepada
Rasulullah,
يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ عَلِمْتُ لَيْلَةَ القَدْرِ أَيِّ لَيْلَةٍ هِيَ فَمَاذَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : ((تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي))
“Wahai
Rosulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mendapatkan malam lailatul qadr ? Apa
doa yang aku panjatkan ketika itu?” Beliau bersabda, “Bacalah (اَللَّهُمَّ
إِنَّكَ
عَفُوٌّ
تُحِبُّ اَلْعَفْوَ
فَاعْفُ
عَنِّي) Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemaaf dan
Mencintai Maaf maka ampunilah aku.”
وَاعْلَمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – أَنَّ الْكَيِّسَ مِنْ عِبَادِ اللهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ ، وَالعَاجِزَ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانِي . وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ : ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ . وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
اَلَّذِيْنَ
يُجَاهِدُوْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ ، اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
يَا ذَا الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
،
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ
،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ
اللَّهُمَّ
مِنْ
شُرُوْرِهِمْ
. اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةِ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وُلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا ،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرُ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
. اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الُهدَى وَالتُّقَى
وَالعَفَةَ
وَالغِنَى .
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا ،
وَأَلِّفْ بَيْنَ
قُلُوْبِنَا
، وَاهْدِنَا
سُبُلَ السَّلَامِ
،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَسْمَاعْنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
،
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا .
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
،
وَاشْكُرُوُهْ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
،
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Diterjemahkan
oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com