
November
18, 2013
Khutbah
Pertama:
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Kaum
muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Khatib
mewasiatkan diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa
kepada Allah. Sesungguhnya derajat takwa dicapai dengan mengamalkan perintah
Allah dan menjauhi segala larangannya. Semakin banyak seseorang melakukan
amalan ketaatan dan menjauhi seluruh larangan Allah, maka semakin bertakwa
orang tersebut. Dan orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah,
mengamalkan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya adalah Nabi
kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
أَمَا وَاللهِ إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ
“Ketahuilah,
demi Allah, sesungguhnya aku adalah hamba yang paling bertakwa di antara kalian
dan yang paling takut kepada-Nya.” (HR. Muslim no. 1108)
Oleh karena beliau adalah orang yang paling bertakwa
kepada Allah, maka tidak ada satu pun amalan yang mendekatkan kepada Allah,
yang memasukkan ke surga, dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah beliau
amalkan, dan telah beliau ajarkan kepada umatnya. Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa
yang beramal (dalam agama) dengan sesuatu yang tidak bersumber dari perintah
kami, maka dia tertolak.” (HR. Muslim)
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang-orang yang
melakukan suatu ibadah yang tidak pernah beliau lakukan dengan sabdanya,
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّار
“Sejelek-jelek
perkara adalah perkara yang baru dalam agama, dan setiap yang baru dalam agama
adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan kesesatan
tempatnya di neraka.”
Semoga
Allah Subhanahu wa Ta’ala mencurahkan shalawat dan salam kepada
beliau, keluarga, sahabatnya, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah.
Kita
hidup di zaman modern, zaman dengan teknologi yang begitu canggih, zaman dimana
segala sesuatu terlihat begitu mudah dan begitu praktis. Namun di zaman modern
ini masih ada sifat-sifat jahiliyah yang hidup di hati masyarakat modern.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
“Empat
hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah
untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela
keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4)
meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang
meratapi mayit, apabila ia wafat sebelum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan
pada hari kiamat dan dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga,
serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim no. 934).
Hadis
ini menunjukkan masih ada sifat-sifat jahiliyah yang sulit dihilangkan
masyarakat modern pada saat ini, walaupun tidak boleh kita katakan, ini adalah
zaman jahiliyyah modern. Zaman jahiliyyah telah berlalu dengan datangnya cahaya
Islam, hanya saja sifat-sifat jahiliyah yang masih ada.
Kaum
muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Di
antara sifat-sifat jahiliyah yang masih sering kita temui di masyarakat kita
adalah tathayyur atau dalam bahasa kita disebut dengan anggapan sial. Tathayyur
berasal dari kata tha-ir yang artinya burung. Mengapa demikian? Dahulu,
orang Arab jahiliyah apabila hendak melakukan perjalanan, baik perjalanan
dagang atau perjalanan bersafar secara umum, mereka melihat pergerakan burung.
Apabila ada burung (mungkin burung tertentu) terbang ke arah kanan, maka itu
sebagai pertanda baik atau tidak akan tertimpa bahaya, mereka pun melanjutkan
perjalanan. Namun apabila ada burung terbang ke arah kiri, mereka tidak jadi
bersafar, karena itu akan terjadi tanda buruk atau kesialan.
Beranggapan
sial atau tathayyur termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa
sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Firaun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis
salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara
Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakan itu karena usaha
kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Allah Ta’ala
berfirman,
فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian
apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah
karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan
sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah,
sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131).
Di
lingkungan kita masyarakat Indonesia, anggapan sial itu pun merebak di
masyarakat. Mulai dari bunyi tokek, kalau tokek bunyinya ganjil, maka akan
terjadi demikian-demikian, kalau bunyinya genap, maka akan terjadi demikian.
Seseorang yang kejatuhan cicak, maka dia akan merasa cemas, musibah apa yang
akan dia dapatkan pada hari ini, ia pun lantas mengurungkan niat untuk
berpergian, membatalkan janji dan sebagainya. Ada juga yang mendengar burung
gagak, berkeyakinan akan mendapatkan kesialan atau bahkan kematian. Yang lain
berkeyakinan bahwa angka tiga belas adalah angka sial, sampai-sampai maskapai
penerbangan tidak ada yang memuat tempat duduk bernomor 13 untuk maskapai mereka,
karena takut sial dan celaka. Ini semua adalah perbuatan syirik yang harus kita
jauhi. Ini adalah kebiasaan masyarakat jahiliyah, yang mengaitkan sesuatu bukan
dengan sebabnya.
Masalah
yang lebih besar adalah pemilihan tanggal dan bulan pernikahan, seseorang bisa
menunda pernikahan bahkan pernikahan bisa gagal karena berdebat menentukan
tanggal pernikahan. Ada yang mengatakan, kalau menikah di bulan Syawal maka
rumah tangga tidak langgeng, banyak terjadi cekcok dan sebagainya. Orang-orang
pun menghindari bulan Syawal dengan keyakinan demikian.
Di
masyarakat kita juga ada keyakinan apabila menabrak kucing, walaupun tidak
sengaja, akan mendapatkan musibah, tanda-tanda keburukan yang layak untuk
dikhawatirkan. Ini semua adalah kebiasaan masyarakat jahiliyah, yang menganggap
sial dengan kejadian-kejadian tertentu.
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah
Hal-hal
tersebut di atas adalah bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Kita menafikan bahwa Allah lah yang memberikan manfaat dan
mampu memberi bahaya atau mudharat kepada seorang hamba. Manfaat tidak akan
diperoleh dan bahaya tidak akan didapatkan kecuali atas takdir dan kehendak
Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dengan perantara-perantara hewan
atau tanggal-tanggal tertentu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengajarkan sahabat Ibnu Abbas yang ketika itu masih kecil,
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ
“Ketahuilah,
sesungguhnya jika seluruh makhluk (di langit dan di bumi), mereka berkumpul
untuk mendatangkan suatu manfaat untukmu, niscaya mereka tidak dapat memberikan
manfaat untukmu kecuali apa yang Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka
berkumpul untuk mendatangkan bahaya untukmu, niscaya mereka tidak dapat
mendatangkan suatu pun bahaya untukmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan
untukmu. Pena (penulis takdir) telah diangkat dan catatan (takdir) telah
mengering.” (HR. Tirmizi, no. 2516, dinyatakan shahih oleh al-Albani
dalam Shahih Tirmizi).
Hadirin,
jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah.
Perbuatan
menganggap sial ini, meskipun dianggap ringan oleh sebagian orang, namun
perbuatan ini besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana
tidak, perbuatan ini adalah perbuatan syirik, artinya seorang hamba menzalimi
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin
Mas’ud, ia bertanya pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi
wa sallam-,
أَىُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ « أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ »
“Dosa
apa yang paling besar di sisi Allah?” “Engkau membuat sekutu bagi
Allah padahal Dia telah menciptakanmu”, jawab Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 4477 dan Muslim no. 86).
Oleh
karena itu jamaah sekalian, hendaknya kita tidak meremehkan hal ini. Kita jauhi
hal ini dan kita beritahukan kepada saudara-saudara kita yang masih
mengamalkannya dan memiliki keyakinan-keyakinan demikian.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah
Kedua:
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Kaum
muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Setelah
kita mengetahui bahwasanya anggapan sial yang beredar di masyarakat kita dengan
berbagai macamnya adalah perbuatan dosa, dan hal itu bukanlah dosa yang ringan,
tapi perbuatan dosa yang palign besar, lalu bagaimana cara kita menanamkan
keyakinan kepada diri kita bahwa tidak ada sial dalam Islam, menanamkan pada jiwa
kita bahwa Allah-lah satu-satunya yang mampu memberi manfaat dan menolak
bahaya, caranya adalah dengan bertawakkal kepada Allah.
Anggapan
sial mengurangi tauhid seorang muslim dan dinilai syirik. Penilaian syirik ini
dilihat dari beberapa sisi: (1) bergantung pada sesuatu yang bukan sebab secara
hakiki, (2) memutuskan suatu kejadian seakan-akan menentang takdir Allah, dan
(3) mengurangi tauhid. Untuk menghilangkan persangkaan sial di sini hanyalah
dengan tawakkal. Karena tawakkal terdapat ketergantungan hati pada Allah. Dalam
sebuah hadis disebutkan, “Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan
sial tersebut dengan tawakkal”.
Ingatlah
pelajaran dari firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).
Jangan
menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak.
Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Ta’ala.
Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah:
اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
[Allahumma
laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta.
Wa laa hawla wa laa quwwata illa bik] “Ya Allah, tiada yang dapat
mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya
kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.”
Mudah-mudahan
khutbah yang singkat ini bermanfaat bagi kita semua, bagi khatib dan jamaah
sekalian. Hendaknya kita memperingatkan saudara-saudara kita sesama muslim
tentang bahaya anggapan sial ini.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا تَجْعَلْ
فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا
كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالَمِينَ
Ditulis
oleh Nurfitri Hadi
Artikel KhotbahJumat.com