%20Sesama%20Muslim_files/image001.gif)
November
10, 2011
***
الْحَمْدُ
ِللهِ رَبِّ
اْلعَالَمِيْنَ,
أَحْمَدُهُ
سُبْحَانَهُ
وَأَشْكُرُهُ,
وَأَسْأَلُهُ
الْمَغْفِرَةَ
يَوْمَ
الدِّيْنِ.وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَّ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَ
أَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا
وَنَبِيَّنَامَحَمَّدًاعَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الْمَبْعُوْثُ
بِاالْهُدَى
وَالنُّوْرِالْمُبِيْنِ,صَلَّى
اللهُ وَ
عَلَى أَلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا
بَعْدُ
فَأُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ
تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالأََرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللَّهِ,
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا,
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ,
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
وَكُلُّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ
Segala
puji hanya milik Allah Subhanahu
wa Ta’ala, yang telah menjadikan kaum muslimin bersaudara dan
saling menyayangi, yang memerintahkan mereka agar saling tolong-menolong dalam
kemaslahatan dunia dan agama. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilâh yang haq diibadahi kecuali
Allah Subhanahu wa
Ta’ala, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa
Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga
keselamatan tercurahkan kepadanya, keluarganya, para shahabatnya dan
orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَدِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلَ الْجَسَدِالْوَاحِدِ ,إِذَااشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِوَالْحُمَّى
“Perumpamaan
kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling
menyayangi dan saling berlemah lembut di antara mereka adalah seperti satu
tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga
merasa demam dan tidak bisa tidur.”
Apabila
ini yang menjadi kewajiban kaum muslimin, maka ukhuwah ini mewajibkan mereka saling memenuhi
hak satu dengan lainnya. Di antara hak tersebut adalah:
Yaitu
tanpa membedakan nasab di antara mereka, juga tanpa egoisme yang membawa mereka
kepada sifat tidak baik, akan tetapi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِى
Tidak
(sempurna) iman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya
seperti mencintai dirinya sendiri.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda yang artinya, “Ada 3 hal, barang siapa yang berada
padanya ia akan merasakan manisnya iman, pertama: hendaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dia cintai dari pada
selainnya; kedua: dia mencintai seseorang semata-mata
karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala; ketiga: dia enggan untuk kembali kepada
kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
sebagimana dia juga enggan untuk dilemparkan ke dalam api Neraka.”
Apabila
ada perselisihan dan perpecahan di antara mereka, maka kewajiban seorang muslim
adalah mendamaikannya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
فَاتَّقُوا اللهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنَكُمْ وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Oleh
sebab itu, bertakwalah kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala
dan perbaikilah hubungan antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang
beriman.” (Q.s. Al-Anfal/8: 1)
Islâh
maknanya adalah
meluruskan masalah yang diperselisihkan dan mengembalikannya kepada kaum
muslimin serta memperbaiki kedua pihak yang berselisih.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menganggap perbuatan mendamaikan kaum muslimin sebagai
sedekah, maka kewajiban mereka yaitu jika ada perselisihan atau perpecahan di
antara mereka, hendaknya mereka damaikan dan luruskan perselisihan tersebut
dengan adil, sehingga ukhuwah kembali terjalin di antara mereka.
Hendaknya
mereka bermuamalah dengan jujur, tidak berdusta, tidak berkhianat dan tidak
menipu dalam jual beli. Hendaknya muamalah jual beli tersebut dilakukan
atas dasar niat yang baik, tanpa menutupi aib yang ada pada barang yang dijual
dan tanpa berbohong dalam harganya. Kejujuran adalah keselamatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “ Apabila
dua orang muslim bermuamalah jual beli, maka ada khiyar (hak memilih) bagi keduanya.
Jika keduanya jujur dan berterus terang, maka keduanya akan mendapat barakah
dari jual belinya, dan jika keduanya berdusta dan menyembunyikan, maka barakah
akan dihilangkan dari jual belinya.”
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Dan
mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan.” (Q.s.
Muhammad/47: 19)
Pertama: apabila seorang muslim bertemu dengan
saudaranya, hendaknya dia mendahuluinya dengan salam. Memulai salam hukumnya
sunah, sedangkan menjawab salam hukumnya wajib, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا
“Apabila
kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang serupa).” (Q.s. an-Nisâ`/4: 86)
Hendaknya
kaum muslimin menyebarkan salam di antara mereka. Abdullah bin Salam mendengar
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Wahai manusia, sebarkanlah
salam, berilah makan (orang miskin, red.), sambunglah silaturahmi dan shalatlah
pada malam hari ketika manusia dalam sedang tidur, engkau akan masuk surga
dengan keselamatan.”
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menggabungkan perintah mengucap salam dan memberi makan
(fakir miskin) karena hal itu akan menumbuhkan rasa kecintaan antar kaum
muslimin dan menghilangkan kegelisahan.
Kedua: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Apabila dia
mengundangmu, maka penuhilah.” Maksudnya, apabila dia
mengundangmu untuk walimah atau hadir dalam suatu resepsi, hendaknya engkau
datang, kecuali apabila ada udzur syar`i
yang menyebabkan berhalangan hadir atau memberatkanmu. Akan tetapi jika
pada walimah atau resepsi tersebut ada kemungkaran dan engkau mampu mengubah
kemungkaran tersebut, maka engkau wajib datang dan mengubahnya. Akan tetapi
jika tidak mampu mengubahnya, janganlah engkau menghadirinya. Kehadiranmu yang
tidak bisa mengubah kemungkaran itu, merupakan tanda engkau setuju dengan hal tersebut.
Ketiga: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Apabila dia minta
nasihat, maka nasihatilah.” Maksudnya, apabila dia meminta
nasihat kepadamu dalam suatu perkara dan meminta pendapat kamu yang baik, maka
hendaknya kamu bersungguh-sungguh menasihatinya, baik dalam hal yang dia sukai
maupun tidak.
Keempat: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Apabila dia bersin dan memuji Allah Subhanahu
wa Ta’ala, doakanlah dia.” Bersin merupakan nikmat dari
Allah Subhanahu wa
Ta’ala, karena mengosongkan udara buruk yang ada di tubuh.
Apabila dia bersin, ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang perlu
disyukuri. Sehingga apabila dia memuji Allah Subhanahu
wa Ta’ala, wajib bagi orang yang berada di sisinya untuk
mendoakanya dengan mengucapkan, “Yarhamukallâh”.
Kemudian orang yang bersin mengucapkan, “Yahdîkumullâh
wa yushlih bâlakum.” Ini merupakan perilaku muslimin
yang baik, maka hukumnya wajib untuk menjawab orang yang bersin apabila dia
memuji Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Kelima: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Apabila dia sakit,
maka jenguklah.” Menjenguk orang sakit mengandung kebaikan
yang banyak, di antaranya bisa mengurangi beban orang yang sakit dan
keluarganya. Mengunjunginya, duduk di sampingnya dan mendoakannya, maka akan
membuat dia bahagia dan menguatkan rajâ`-nya
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Di antara adab menjenguk orang sakit, pertama: hendaknya secara
berkala; jangan setiap hari karena hal itu akan memberatkannya, kecuali dia
suka yang demikian. Kedua: mendoakan
kesembuhan baginya, memberi motivasi kepadanya agar segera sembuh, melapangkan
bebannya, dan menghiburnya. Ketiga:
hendaknya jangan berlama-lama duduk di sampingnya agar tidak
membebaninya, kecuali dia menginginkannya.
Keenam: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Apabila dia meninggal
dunia, maka iringilah jenazahnya.” Hal itu karena ada doa,
permohonan ampun kepadanya, menyenangkan wali dan kerabatnya dan ada unsur
memuliakan kedudukan orang yang meninggal. Barang siapa yang menghadiri
jenazah, menyalatkan dan mendoakannya, maka dia akan memperoleh pahala
satu qirâth.
Barang siapa menyalatkan dan mengiringinya sampai pemakaman, dia akan
memperolah 2 qirâth. Ada
yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu dua qirâth?” Beliau menjawab,
“Seperti dua gunung yang besar.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرَانِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ ِمنَ اْلأَياَتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ, أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ,فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
الْحَمْدُ ِللهِ وَكَفَى,وَسَلَّمَ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْ اصْطَفَى,أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ فِيْ اْلأَخِرَةِ وَاْلأُوْلَى ,وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًاكَثِيْرًا
Amma
ba`du,
Wahai
hamba Allah Subhanahu wa
Ta’ala, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa
di antara hak-hak kaum muslimin satu dengan lainnya adalah amar ma`ruf dan nahi munkar. Maka, apabila
engkau melihat saudaramu
berada dalam kemaksiatan dan penyelisihan kepada syariat atau lainnya engkau
tidak boleh mendiamkannya. Akan tetapi, engkau harus menasihatinya secara
sembunyi-sembunyi antara engkau dan dia. Dan hendaknya engkau menunjukkannya
pada kebaikan dan memperingatkannnya dari keburukan. Hendaknya engkau perbaiki
dengan cara yang baik, hingga dia bisa mengetahui bahwa kamu adalah saudaranya
dan engkau sangat memperhatikannya.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ
النَّبِيْ,
يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ
أَمَنُوْا
صَلُّوْاعَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
أَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَآ
ءَاتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
وَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
عَلَىمُحَمَّدٍ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا وَ
آخِرُ
دَعْوَانَا
الْحَمْدُِ
للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Disalin
dari kumpulan naskah khutbah
Jumat Majalah As-Sunnah dengan beberapa penyuntingan oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com