
October
31, 2011
***
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ بلله
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ الله
فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلَا
هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى
مُحَمدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
الله
أَكْبَرُ،
الله
أَكْبَرُ،
الله أَكْبَرُ،
ولله
الْحَمْدُ.
الله
أَكْبَرُ
كَبِيْرًا،
وَالْحَمْدُ
لله
كَثِيْرًا،
وَسُبْحَانَ
الله
بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً.
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Jumat
rahimakumullah
Hari
ini, kaum Muslimin insya
Allah akan mengawali bulan Dzulhijah 1432 H. Di mana di dalamnya terdapat
10 Hari pertama yang terkandung sekian keutamaan. Sepuluh hari yang sarat
dengan kebaikan. Kebaikan padanya bernilai utama di sisi Allah. Dari Ibnu Abbas
radhiallahu ‘anhu,
dia berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي هذَا الْعَشْرِ، قَالُوْا: وَلَا الْجِهَادُ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ.
“Tidak
ada amal pada hari-hari, yang lebih utama daripada amal-amal di sepuluh hari
ini.” Mereka berkata, “Tidak pula jihad?” Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menjawab, “Tidak pula jihad
di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang berangkat menghadapi musuh
dengan jiwa dan hartanya lalu dia tidak pulang dengan sesuatu (dari keduanya
atau mati syahid).”
(HR. al-Bukhari, Shahih
al-Bukhari, no. 969).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Jumat
rahimakumullah
Salah
satu ibadah utama di hari-hari ini adalah ibadah haji di tanah suci yang
merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Begitu identiknya haji dengan hari
dan bulan ini sehingga orang-orang mengatakan hari raya haji dan bulan haji.
Haji adalah ibadah tua seumur bapak para nabi, Ibrahim ‘alaihissalam. Dialah
pembangun Ka’bah Baitullah dan setelah itu dia mengumumkan haji ke
seluruh penjuru bumi.
Firman
Allah Subhanahu
Wata’ala,
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلَ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan
(ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama
Isma’il (seraya berdoa), ‘Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan
kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui’.”
(Al-Baqarah: 127).
Firman
Allah Subhanahu
Wata’ala,
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya
rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah
yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua
manusia.” (Ali
Imran: 96).
Firman
Allah Subhanahu
Wata’ala,
وَأِذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan
berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari
segenap penjuru yang jauh.”
(Al-Hajj: 27).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Jumat
rahimakumullah
Salah
satu hikmah Allah dalam mensyariatkan ibadah adalah Dia menjadikannya beragam,
di mana hal ini bisa dilihat dalam ibadah-ibadah yang merupakan rukun Islam,
syahadat merupakan ibadah hati karena ia merupakan keyakinan dasar yang
kemudian dilafazkan dengan lisan, sementara shalat adalah gerakan jasad, ia
merupakan ibadah badani, lain lagi puasa yang merupakan sikap menahan diri,
lalu zakat yang merupakan ibadah hartawi dan yang kelima adalah haji yang
menggabungkan semua sisi dari empat ibadah sebelumnya. Dari sinilah, maka haji
termasuk ibadah yang terakhir diwajibkan kepada kaum Muslimin yaitu pada tahun
9 Hijriyah. Hal ini karena haji memerlukan segala perkara yang diperlukan oleh
empat rukun sebelumnya. Ia memerlukan landasan iman yang tertanam dalam
syahadat, ia memerlukan tenaga jasmani dan harta yang ada pada shalat dan
zakat, dan ia memerlukan sikap menahan diri yang dikandung oleh puasa.
Maka
dari itu, ibadah haji sarat dengan nilai-nilai luhur, padat dengan jihad dan
pengorbanan, penuh dengan pendidikan dan penempaan diri. Kita menengok kepada
syarat wajib haji, ia adalah istitha’ah.
Firman
Allah Subhanahu
Wata’ala,
وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Mengerjakan
haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji),
maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta
alam.” (Ali
Imran: 97).
Kesanggupan
atau kemampuan di mana dasarnya menurut para ulama adalah kesanggupan
finansial, kesanggupan tenaga dan kesanggupan jalan, untuk mewujudkan semua itu
dibutuhkan usaha yang tidak mudah, lebih tidak mudah lagi manakala harta yang
telah diraih itu, yang merupakan ketergantungan dan kecintaan jiwa, mesti
dirogoh dari kantong untuk membiayai diri, demi rukun Islam yang agung ini,
belum lagi kesiapan jasmani di mana modal utamanya adalah sehat. Dibutuhkan
jihad melawan kecintaan berlebih kepada harta agar jiwa rela dan lapang
mengorbankannya demi kebaikan dan kemaslahatan dirinya sendiri. Dibutuhkan pula
jihad melawan kecintaan berlebih kepada sikap santai dan rehat, sebab haji
memang mengharuskan kelelahan, baik kelelahan perjalanan dan kelelahan pelaksanaan.
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Jumat
rahimakumullah
Kita
menengok lebih dalam kepada aturan dan tatanan manasik haji. Kita bisa
mendapatkan bahwa ia merupakan pendidikan jihad agar jiwa menghormati dan
menghargai batasan-batasan Allah, menahan diri dengan tidak melanggarnya.
Seperti kita ketahui, haji ditunaikan dalam keadaan ihram, dan dalam ihram ini
terdapat pantangan-pantangan yang harus dijaga, seperti pakaian berjahit, topi
atau kopyah, mencukur rambut, memotong kuku, membunuh binatang buruan, memakai
minyak wangi, bersetubuh, menikah dan menikahkan. Semua ini adalah
perkara-perkara yang harus dijauhi semasa ihram, padahal sebagian darinya
adalah perkara yang mungkin dalam pandangan sebagian orang sepele, seperti
menutup kepala dengan penutup atau memotong kuku. Sementara sebagian lagi
merupakan perkara yang disukai oleh jiwa seperti minyak wangi dan bersetubuh.
Akan tetapi semua itu adalah bata-san-batasan Allah yang tidak patut
disepelekan atau dipandang sebelah mata.
Kita
kembali menengok, aturan-aturan di atas mengakibatkan sangsi dan hukuman bagi
pelanggarnya, mulai dari bersedekah dan berpuasa, sampai dengan mengalirkan
darah dengan menyembelih hewan ternak, sebuah pendidikan kedisiplinan dan
tanggung jawab serta kesiapan memikul resiko kelalaian dan kekhilafan, dan itu
pun dalam bentuk perbuatan yang kebaikannya kembali kepada diri sendiri atau
kepada sesama. Firman Allah Subhanahu
Wata’ala,
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَآئِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهَا صَوَآفَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ . لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَدِمَآؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Dan
telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh
kebaikan yang banyak padanya, maka kalian sebutlah nama Allah ketika kamu
menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila
telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela
dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan
kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu
mengagungkan Allah terhadap hidayahNya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira
kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Hajj: 36-37).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Jumat
rahimakumullah
Mari
kita lihat dan cermati tempat di mana haji ini dilaksa-nakan, sebuah tempat
yang berpusat di daerah Haram yang memiliki hukum-hukum khusus yang berbeda
dengan yang lain, salah satunya jika di daerah selainnya keinginan berbuat
keburukan belum diperhitungkan, maka berbeda dengan di daerah Haram, ia
diperhitungkan bahkan diancam siksa yang pedih. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ الله وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَآءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Dan
siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya
akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (Al-Hajj: 25).
Oleh
karena itu, ayat Alquran yang lain mengajarkan orang yang berhaji agar
menghindari perkara-perkara yang dapat mengurangi atau menghapus keutamaan
ibadah haji. Firman Allah Subhanahu
Wata’ala,
فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Barangsiapa
yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh
bersetubuh, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan
haji.”
(Al-Baqarah: 197).
Dan
haji yang demikian melebur dosa-dosa pelakunya sehingga dia pulang dalam
keadaan sama dengan pada saat dilahirkan oleh ibunya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
مَنْ حَجَّ لله، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
“Barangsiapa
berhaji karena Allah, lalu dia tidak melakukan bersetubuh dan tidak melakukan
perbuatan fasik, niscaya dia pulang seperti hari di mana dia dilahirkan oleh
ibunya.” (Muttafaq ‘alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 732; dan Mukhtashar Shahih Muslim,
no. 641).
Juga
sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam kepada Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu
pada saat dia masuk Islam,
أَمَا عَلِمْتَ يَاعَمْرُو! أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهُ.
“Apakah
kamu belum mengetahui wahai Amr, bahwa Islam menghapus apa yang sebelumnya,
hijrah menghapus apa yang sebelumnya, dan haji menghapus apa yang
sebelumnya.” (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim,
no. 64).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Jumat
rahimakumullah
Kita
kembali menengok rangkaian manasik haji: thawaf,
sa’i, wukuf, melempar jumrah
dan lain-lain. Semua ini merupakan ibadah-ibadah yang menuntut aktivitas fisik
yang melelahkan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan ber-talbiyah, ditambah dengan
kepadatan manusia yang memiliki beragam bahasa dan tradisi, berkumpul di satu
tempat, di waktu yang sama, ditambah lagi cuaca yang kadang-kadang berbeda jauh
dengan cuaca di negeri sendiri. Semua itu tidak jarang menimbulkan problem
tersendiri yang menuntut usaha keras dan kesabaran dalam menyikapinya, maka
tidak berlebihan jika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam mendudukkan haji dalam deretan amalan-amalan
utama setelah iman dan jihad di jalan Allah.
Dari
Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu
أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم سُئِلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: إِيْمَانٌ بلله وَرَسُوْلِهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ الله. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُوْرٌ.
“Bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang amal apakah yang
paling utama? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau ditanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan
Allah.” Beliau ditanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab,
“Haji mabrur.” (HR.
al-Bukhari, Mukhtashar
Shahih al-Bukhari, no. 25).
Tantangan
dalam ibadah haji yang dihadapi dan pengorbanan yang diberikan bertujuan
melatih dan mendidik, ia demi kebaikan dan kemaslahatan yang tidak mungkin
diperinci satu demi satu, akan tetapi yang telah kita ketahui sudah cukup
menyadarkan kita akan hikmah mulia dari ibadah haji. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَارَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ
“Supaya
mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama
Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan
kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya, dan
(sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan
fakir.”
(Al-Hajj: 28).
Semoga
saudara-saudara kita yang berangkat haji dikaruniai Haji Mabrur yang memberi
pengaruh baik dalam kehidupan dan perilaku mereka, dan bagi saudara-saudara
kita yang belum berangkat semoga Allah memudahkan jalannya agar mereka juga
bisa menyaksikan keagungan-Nya melalui ibadah yang agung ini.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي لَهُ
مَا فِي
السَّمَاوَاتِ
وَمَا فِي
الْأَرْضِ
وَلَهُ
الْحَمْدُ
فِي
الْآخِرَةِ
وَهُوَ
الْحَكِيمُ
الْخَبِي
اللهم صَلِّ
على
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ ِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
أَعِزَّ
الْإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ.
رَبَّنَا
اصْرِفْ
عَنَّا
عَذَابَ
جَهَنَّمَ
إِنَّ
عَذَابَهَا
كَانَ
غَرَامًا،
إِنَّهَا
سَاءتْ مُسْتَقَرًّا
وَمُقَامًا.
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِالْإِيْمَانِ،
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ
لِلَّذِيْنَ
آمَنُوْا
رَبَّنَا
إِنَّكَ رَؤُوْفٌ
رَحِيْمٌ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنْ خَيْرِ
مَا سَأَلَكَ
مِنْهُ
نَبِيُّكَ
مُحَمَّدٌ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
شَرِّ مَا
اسْتَعَاذَ
مِنْهُ
نَبِيُّكَ
مُحَمَّدٌ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَأَنْتَ
الْمُسْتَعَانُ،
وَعَلَيْكَ
الْبَلَاغُ،
وَلَا حَوْلَ
وَلَا قُوَّةَ
إِلَّا بلله
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
قُوْمُوْا
إِلَى صَلَاتِكُمْ
يَرْحَمُكُمُ
الله.
Penulis:
Ustadz Izzudin Karimi, Lc.
Dikutip dari buku Kumpulan Khutbah
Jum’at Pilihan Setahun, Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta
dengan beberapa penyuntingan oleh redaksi www.khotbahjumat.com. Disalin dari www.alsofwah.or.id
Artikel www.khotbahjumat.com