
November 11, 2011
***
KHUTBAH
PERTAMA
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ يَقْضِيْ بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ وَيَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ ، يُقَدِّرُ اْلأُمُوْرَ بِحِكْمَةٍ ، وَيَحْكُمُ بِالشَّرَائِعِ لِحِكْمَةٍ وَهُوَالْحَكِيْمُ اْلعَلِيْمُ ، أَرْسَلَ الرُّسُلَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ، وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ اْلكِتَابَ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَااخْتَلَفُوْافِيْهِ ، وَلِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَيُؤْتُوْا كُلَّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ مِنْ غَيْرِغُلُوٍّوَلاَتَقْصِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَمَ تَسْليمًا
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah
Marilah
pada hari yang mulia ini, kita senantiasa melakukan introspeksi diri dan
muhasabah terhadap amal-amal yang telah kita lakukan, baik yang kita lakukan
untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, untuk terus kita tingkatkan, atau sebaliknya yang
menjauhkan kita dari Allah, untuk berusaha kita tinggalkan. Oleh karenanya,
marilah kita senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketakwaan kita,
sebab takwa adalah sebaik-baik bekal yang dapat kita siapkan untuk menjemput
akhir hidup kita yang telah ditetapkan Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah memberikan kabar gembira kepada kita dengan
Firman-Nya,
مَنْ
عَمِلَ
صَالِحًا
مِّن ذَكَرٍ
أَوْ أُنثَى
وَهُوَ
مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً
طَيِّبَةً
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ
مَاكَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa
yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah
Tentang
beriman kepada yang ghaib, Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman di awal surat Al-Baqarah,
الــم
{1} ذَلِكَ
الْكِتَابُ
لاَ رَيْبَ
ِفيهِ هُدَى
لِلْمُتَّقِينَ
{2} الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ
بِالْغَيْبِ
وَيُقِيمُونَ
الصَّلاَةَ
وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُونَ
{3}
وَالَّذِينِ
يُؤْمِنُونَ
بِمَا أُنزِلَ
إِلَيْكَ
وَمَا
أُنْزِلَ
مِنْ قَبْلِكَ
وَبِاْلآخِرَةِ
هُمْ
يُوِقنُونَ {4}
أُولَـئِكَ عَلَى
هُدًى مِن
رَبِّهِمْ
وَأُولَـئِكَ
هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
“Alif
lam mim. Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi merek
ayng bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan
salat, dan menafkahkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan
mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang telah diturunkan kepadamu dan
kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunuuk dari Rabb
mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS.
Al-Baqarah: 1-5)
Di
dalam ayat yang mulia ini Allah menegaskan, bahwa salah satu dari sifat seorang
mukmin adalah bagaimana dia dapat mengimani hal yang ghaib, yaitu dengan cara
membenarkan segala yang telah dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya
mengenai hakikat sifat-sifat Allah Subhanahu
wa Ta’ala atau hal-hal yang telah terjadi maupun yang akan
terjadi; keadaan akhirat, hari kebangkitan, surga, nereka, shirat, dan hari
perhitungan, dan lainnya dari hal-hal ghaib. Begitu juga tentang keberadaan
jin; sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Ar-Rabi’ bin
Anas dan juga Ibnu Mas’ud ketika menafsirkan ayat ini.
Dan
termasuk bentuk keimanan terhadap hal yang ghaib, sebagaimana keyakinan dan
manhaj Ahlus Sunnah wal
Jamaah, adalah meyakini bahwa yang mengetahui yang ghaib hanya
Allah Subhanahu wa
Ta’ala, dan ini termasuk sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang paling khusus, yang tidak ada seoarang makhluk pun dapat menyamai-Nya.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
وَعِنْدَهُ
مَفَاتِحُ
الْغَيْبِ
لاَيَعْلَمُهَآ
إِلاَّ هُوَ
وَيَعْلَمُ
مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ
وَمَا
تَسْقُطُ مِن
وَرَقَةٍ
يَعْلَمُهَا
وَلاَحَبَّةٍ
فِي ظُلُمَاتِ
اْلأَرْضِ
وَلاَرَطْبٍ
وَلاَيَابِسٍ
إِلاَّ فِي
كِتَابٍ
مًّبِينٍ
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
juga berfirman,
قُل
لاَّيَعْلَمُ
مَن فِي
السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرْضِ
الْغَيْبَ
إِلاَّ اللهُ
وَمَايَشْعُرُونَ
أَيَّانَ
يُبْعَثُونَ
“Katakanlah
(hai Muhammad), ‘Tiada siapa pun, baik di langit maupun di bumi yang
mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan
mereka dibangkitkan’.” (QS. An-Naml: 65)
Dan
juga Firman-Nya,
قُل
لآأَقُولُ
لَكُمْ
عِندِى
خَزَآئِنُ اللهِ
وَلآأَعْلَمُ
الْغَيْبَ
وَلآأَقُولُ لَكُمْ
إِنِّي
مَلَكٌ إِنْ
أَتَّبِعُ
إِلاَّ
مَايُوحَى
إِلَيَّ قُلْ
هَلْ
يَسْتَوِي الأَعْمَى
وَالْبَصِيرُ
أَفَلاَ
تَتَفَكَّرُونَ
“Katakanlah
(hai Muhammad), ‘Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan
(rahasia) Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib, dan
tidaklah aku mengatakan kepada kalian bahwa aku ini malaikat, akut idak
mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku’.” (QS.
Al-An’am: 50)
Ayat-ayat
ini sangatlah jelas, bahwa tidak ada yang mengetahui hal ghaib kecuali Allah;
tidak para nabi, tidak para malaikat, tidak para wali, dan tidak seorang pun
yang bisa mengetahui yang ghaib. Apabila ada hal-hal ghaib yang dikabarkan oleh
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam maka hal itu karena beliau telah
diberitahukan Allah, bukan berarti beliau mengetahui yang ghaib.
Maka
barangsiapa berkeyakinan bahwa dirinya atau orang lain bisa menguasai hal ghaib
atau mengetahui hal-hal yang ghaib, berarti dia telah kufur, karena hal ini
termasuk hal yang tidak pernah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepada siapa pun; tidak kepada para malaikat yang dekat dengan-Nya dan tidak
juga kepada para rasul yan diutus-Nya.
Bila
ada orang yang mengatakan bahwa hari kiamat akan terjadi tahun 2050 misalnya,
maka dengan sangat yakin kita katakan bahwa dia seorang pendusta. Dan begitu
seterusnya.
Jika
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam saja, yang merupakan hamba Allah yang
paling dicintai-Nya, tidak mengetahui hal-hal yang ghaib selain yang diwahyukan
kepada beliau, maka bagaimana dengan orang-orang selain beliau? Tentu mereka
pasti lebih tidak tahu. Bahkan dengan jelas dan terang beliau menafikan bahwa
beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Perhatikan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
berikut,
قُل لآَّأَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَاشَآءَ اللهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَامَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Aku
tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak (pula kuasa) menolak
kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang
ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan
ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa
berita gembira bagi orang-orang yang berian’.”
(QS. Al-A’raf: 188)
Ma’asyiral
muslimin, rahimakullah
Adapaun
hal-hal ghaib yang dikabarkan oleh para nabi dan rasul, sebagaimana Nabi kita
Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada umatnya tentang
tanda-tanda hari kiamat, tentang adanya surga dan neraka, tentang adanya azab
kubur dan nikmat kubur, dan juga rasulullah pernah memegang leher Jin Ifrit
ketika beliau diganggu oleh jin tersebut di dalam salatnya sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan juga hal-hal yang ghaib lainnya, maka yang
demikian itu tiada lain hanyalah sebagai salah satu tanda kenabian dan
keistimewaan bagi beliau, dan hal ini hanyalah sebagai wahyu Ilahi, sebab
beliau tidak bertutur kata melainkan berdasarkan bimbingan wahyu dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
عَالِمَ
الْغَيْبِ
فَلاَ
يُظْهِرُ
عَلَى غَيْبِهِ
أَحَدًا {26}
إِلاَّمَنِ
ارْتَضَى مِن
رَّسُولٍ
فَإِنَّهُ
يَسْلُكُ مِن
بَيْنِ
يَدَيْهِ
وَمِنْ
خَلْفِهِ رَصَدًا
“(Dia adalah Rabb) Yang
Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang
hal yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya
Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26-27)
Jamaah
salat Jumat rahimakumullah
Namun
sangat disayangkan, masih banyak di antara kaum muslimin yang percaya
cerita-cerita khurafat, tahayul, mistik, dan cerita-cerita syirik jahiliyah.
Misalnya berkeyakinan bahwa ada di antara manusia yang dapat mengetahui hal
yang ghaib, bisa mengetahui nasib seseorang, mengetahui hal yang akan datang,
bisa melakukan penerawangan dan bahkan mengaku bisa melihat makhluk-makhluk
ghaib. Fenomena demikian terjadi di sekitar kita, apalagi dengan adanya sekian
banyak bentuk tayangan media, baik cetak maupun elektronik yang menggambarkan
cerita-cerita demikian, justru semua itu memperparah dan seolah-olah telah
melegitimasi bahwa yang demikian adalah benar, padahal justru sebaliknya,
keyakinan-keyakinan yang demikian adalah penyimpangan yang sangat berbahaya
terhadap akidah dan keyakinan seorang muslim.
Pada
dasarnya yang mereka lakukan itu tiada lain hanyalah tipu daya jin dan propaganda
setan untuk menggiring kaum Muslimin, agar jauh dari tuntunan Alquran dan
sunah, kemudian terjerumus ke lembah kesyirikan dan tenggelam ke dalam lumpur
kekufuran. Karena hal ini meruapakn perbautan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan selain-Nya dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
yaitu mengetahui hal yang ghaib.
Cobalah
perhatikan ancaman Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berikut ini,
Di
antara kita barangkali ada yang bertanya, “Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengafirkan orang yang datang dan membenarkan perkataan seorang dukun atau
seorang tukang ramal, padahal orang tersebut tidak menyembahnya, tidak bersujud
kepadanya, tidak ruku di hadapannya?”
Sebabnya
adalah, karena orang tersebut telah menganggap bahwa sang dukun atau tukang
ramal tersebut mengetahui hal-hal yang ghaib. Sedangkan meyakini bahwa ada yang
mengetahui hal-hal ghaib selain dari Allah adalah kufr, dan itulahs ebabnya
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengafirkan orang yang melakukannya.
Jamaah
Jumat yang dirahmati Allah
Mudah-mudahan
khutbah singkat ini dapat menyadarkan kita kembali akan poin akidah yang haq ini yaitu, seorang
mukmin wajib beriman terhadap hal-hal yang ghaib, bahkan itulah salah satu ciri
orang-orang yang beruntung. Kemudian ingat pula bahwa tidak ada yang mengetahui
hal-hal yang ghaib kecuali Allah. Ini sangat penting untuk kita pegagn teguh,
karena klaim mengetahui yang ghaib telah tersebar luas di tengah kita atas nama
zodiak atau atas nama mencari jodoh, dan lain seabgainya.
Untuk
kesekian kali khatib mengingatkan, tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali
Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHTUBAH
KEDUA
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَ نَسْتَعِيْنُهُ
وَ
نَسْتَغْفِرُهُ
وَ نَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَاِلنَا
مَنْ يَهْدِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَ
مَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ
لَهُ وَ
أَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَ
رَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا
Jama’ah
salat Jumat rahimakumullah
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
فَمَنْ
أَظْلَمُ
مِمَّنِ
افْتَرَى
عَلَى اللهِ
كَذِبًا
لِيُضِلَّ
النَّاسَ
بِغَيْرِ
عِلْمٍ إِنَّ
اللهَ
لاَيَهْدِي
الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ
“Maka
siapakah yang lebih zhalim dariapda orang-orang yang membuat-buat dusta atas
nama Allah untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu? Sesungguhnya Allaht idak
memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.”
(QS. Al-An’am: 144)
Tidak
diragukan bahwa orang yang mengklaim mengetahui hal-hal yang ghaib, adalah termasuk
di antara orang-orang yang membuat dusta atas nama Allah, dan itu jelas
menyesatkan manusia dan tidak berdasarkan ilmu. Orang seperti ini adalah orang
zalim yang tidak akan mendapatkan hidayah dari Allah. Ini merupakan ancaman
yang jelas dan keras bagi orang yang berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Salah
satu bentuk keyakinan yang serupa dengan permasalahan ini adalah apa yang telah
diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan sabdanya dengan sabdanya,
“Bukan
dari golongan kami, orang yang melakukan thiyarah (menentukan nasib sial dan
keberuntungan dengan burung dan lain-lainnya), atau orang yang dilakukan
thiyarah kepadanya, atau yang melakukan perdukunan, atau yang dilakukan
perdukunan kepadanya, atau yang melakukan sihir, atau yang dibantu dengan sihir
kepadanya. Dan barangsiapa yang mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa
yang diucapkannya maka dia telha kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan
oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Disahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah
Ash-Shahihah, no 2195).
Di
dalam hadits yang lain Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang datang kepada seorang
tukang ramal, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak
diterima selama empat puluh malam (dan harinya).”
(Diriwayatkan oleh Muslim no. 2230).
Hadits-hadits
yang mulia ini, menunjukkan larangan mendatangi dukun, peramal, atau
sebangsanya dalam bentuk apa pun, larangan bertanya kepada mereka tentang
hal-hal yang ghaib, larangan mempercayai dan membenarkan apa yang mereka
katakan, serta ancaman bagi mereka yang melanggar larangan ini. Ini semua
mengandung kemungkaran dan bahaya yang sangat besar dan berakibat negatif yang
sangat besar pula. Disebabkan mereka telah melakukan kedustaan dan kezaliman
terhadap Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Hadis-hadis
Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam di atas juga telah membuktikan kekufuran
mereka, karena mereka mengaku mengetahui hal yang ghiab. Mereka tidak akan
sampai kepada maksud yang mereka inginkan melainkan dengan cara yang berbakti,
tunduk, taat dan menyembah setan-setan. Ini merupakan perbuatan kufur dan
syirik kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Sedangkan orang yang membenarkan mereka atas pengakuannya
mengetahui hal-hal yang ghaib dan meyakininya, maka hukumnya sama seperti
mereka. Dan setiap orang yang menerima hal ini dari orang yang melakukannya,
sesungguhnya Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam telah berlepas diri dari mereka.
Oleh
karena itu, seorang muslim tidak dibenarkan pergi kepada mereka, menanyakan
hal-hal yang berkaitan dengan jodoh, hari mujur pernikahan anak atau
saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami isteri dan keluarga, tentang
kecintaan dan kesetiaan, perselisihan dan perpecahan yang terjadi dan lain
sebagainya. Karena ini berhubungan dengan hal-hal yang ghaib yang tidak
diketahui hakikatnya oleh siapa pun kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kita
memohon kepada Allah agar kaum muslimin terpelihara dari tipu daya mereka, dan
semoga Allah Subhanahu wa
Ta’ala senantiasa memberikan pertolongan kepada kaum muslimin
agar senantiasa berhati-hati terhadap para dukun dan tukang ramal, dan semoga
Allah memberikan mereka hidayah, sehingga manusia menjadi aman dari kejahatan
mereka dan segala praktik keji yang mereka lakukan.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ مَقَامِنَا هَذَا وَفِيْ انْتِظَارِفَرِيْضَةٍ مِنْ فَرَائِضِكَ اَّلتِيْ مَنَنْتَ بِفَرْضِهَا عَلَيْنَا نَسْأَلُكَ بِأَنْ نَشْهَدَ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ , يَا مَنَّانُ ياَ بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ, يَا ذَاالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ , يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ, نَسْأَلُكَ أَنْ تُحَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ وَتُزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَتُرَسِّخْهُ فِيْهَا وَأَنْ تُكْرِهْ إِلَيْنَا اْلكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَتُبَاعِدْهَا عَنَّا وَأَنْ تُهَيِّئْ لِْلأَمَّةِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ مِنْ أَمْرِهَا رُشْدًا وُلاَةً صَالِحِيْنَ يَقْضُوْنَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُوْنَ لاَ يَخَافُوْنَ فِيْ اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ لاَ يُحَابُّوْنَ قَرِيْبًا لِقُرْبِهِ وَلاَ قَوِيًّا لِقُوَّتِهِ , وَأَنْ تَحْفَظَ عَلَيْنَا دِيْنَنَا وَتُثْبِتَنَا عَلَيْهِ إِلَى الْمَمَاتِ إِنَّكَ جَوَادٌ كَرِيْمٌ
Penulis:
Ustadz Abu Eifa
Sumber: Naskah Khutbah
Jumat Alsofwah.or.id dengan beberapa penyuntingan oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com