
April 16, 2015
Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ؛
فَإِنْ مَنِ
اتَّقَى اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرِ
أُمُوْرِ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Ketahuilah,
di antara amalan yang paling besar yang dilakukan oleh seorang hamba adalah
cinta kepada Allah Rabbul ‘alamin. Dzat yang menciptakan semua makhluk.
Cinta kepada Allah artinya kita mencintai kepada satu-satunya Tuhan yang berhak
untuk disembah. Artinya kita mencintai penguasa alam semesta Yang Maha Suci.
Maha Pemberi Keselamatan. Maha Perkasa, Penguasa, dan Maha Besar. Artinya kita
mencintai Dzat yang memiliki kemuliaan dan keagungan. Artinya kita mencintai
Rabb Yang Maha Agung. Pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang
sempurna. Kecintaan kepada-Nya adalah pokok agama ini. Asupan gizi bagi ruh.
Asas kebahagiaan. Tempat berpijaknya amal dan agama.
Kecintaan
kepada Allah adalah kehidupan. Kecintaan kepada Allah adalah cahaya yang
menerangi di tengah lautan gelap tak berarah. Kecintaan kepada Allah adalah
obat yang menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ia adalah ketenangan yang
menyingkirikan kegalauan dan kegundahan. Kecintaan kepada Allah adalah pokok
dari kebahagiaan. Ia juga merupakan jalan kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan
amalan yang agung.
Mencintai
Allah dengan realisasi yang sempurna akan meninggikan derajat seorang hamba.
Ini bukanlah permasalahan remeh. Karena begitu tingginya kedudukannya dalam
agama.
Di
antara doa nabi kita Muhammad ﷺ adalah
أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Saya
memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan
mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.”
Dalam
Shahih Bukhrai terdapat satu hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi ﷺ
bersabda,
إِنَّ
اللَّهَ
إِذَا
أَحَبَّ
عَبْدًا دَعَا
جِبْرِيلَ
فَقَالَ
إِنِّي
أُحِبُّ
فُلَانًا
فَأَحِبَّهُ
، قَالَ
فَيُحِبُّهُ
جِبْرِيلُ
ثُمَّ
يُنَادِي فِي
السَّمَاءِ
فَيَقُولُ
إِنَّ
اللَّهَ
يُحِبُّ
فُلَانًا
فَأَحِبُّوهُ
،
فَيُحِبُّهُ
أَهْلُ السَّمَاءِ
قَالَ ثُمَّ
يُوضَعُ لَهُ
الْقَبُولُ
فِي
الْأَرْضِ
“Jika Allah Tabaraka
wa Ta’ala mencintai seorang hamba, maka Allah Ta’ala memanggil
Jibril: “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah
fulan”, maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru penduduk
langit: “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah
kalian fulan”, maka penduduk langit pun mencintainya dan diletakkan
baginya penerimaan di tengah-tengah penduduk bumi”. (HR. Bukhari).
Inilah
makna firman Allah ﷻ:
إِنَّ
الَّذِينَ
آَمَنُوا
وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ
سَيَجْعَلُ
لَهُمُ
الرَّحْمَنُ
وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih
sayang.” (QS. Maryam: 96).
Buah
dari rasa cinta ini akan terasa pada seseorang, baik di dunia maupun di
akhirat. Allah ﷻ akan membela dan menjaga orang-orang yang mencintai-Nya.
Ma’asyiral
mukminin,
Dalam
keadaan dimana perpecahan dan perselisihan terjadi. Kekacauan dan pertumpahan
darah adalah sesuatu yang mudah ditemui setiap hari. Maka kecintaan kepada
Allah pun harus kita tingkatkan. Kita lipat-gandakan di dalam hati kita. Agar
Allah semakin menjaga dan melindungi kita. Kita cintai Allah ﷻ dengan
sepenuh hati dan kejujuran. Menempuh jalan-Nya dengan penuh kesungguhan.
Ibadallah,
Ada
beberapa hal yang bisa menyuburkan rasa cinta kita kepada Allah ﷻ di
hati kita ini:
Pertama: Perhatian terhadap Kitabullah.
Merenungi dan mentadabburi isi kandungannya. Allah Ta’ala berfirman,
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini
adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).
Firman-Nya
yang lain,
أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ
الْقُرْآَنَ
وَلَوْ كَانَ
مِنْ عِنْدِ
غَيْرِ
اللَّهِ لَوَجَدُوا
فِيهِ
اخْتِلَافًا
كَثِيرًا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau
kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat
pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa: 82).
Ketika
Anda membaca Alquran, maka perhatian tersbesar Anda bukanlah untuk mengkhatamkan
surat yang Anda baca. Semestinya perhatiannya adalah merenungi dan
memperhatikan kalimat-kalimat Allah tersebut. Dan ini termasuk hal yang paling
berpengaruh untuk mendatangkan rasa cinta kepada Allah Jalla wa ‘Ala.
Renungkanlah firman-Nya yang agung itu dan kalimat-kalimat-Nya yang hakim.
Karena kalimatnya itulah
لَا
يَأْتِيهِ
الْبَاطِلُ
مِنْ بَيْنِ
يَدَيْهِ
وَلَا مِنْ
خَلْفِهِ
“Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan
maupun dari belakangnya.” (QS. Fushshilat: 42).
Kedua: Memperhatikan amalan-amalan wajib
dan sunnah.
Perhatian
terhadap amalan-amalan sunnah terlebih amalan wajib adalah sesuatu yang sangat
berpengaruh pada hati. Perhatikanlah sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Nabi
ﷺ
dari Rabbnya. Allah Ta’ala
berfirman,
مَنْ
عَادَى لِي
وَلِيًّا
فَقَدْ
آذَنْتُهُ
بِالْحَرْبِ
، وَمَا
تَقَرَّبَ
إِلَيَّ
عَبْدِي بِشَيْءٍ
أَحَبَّ
إِلَيَّ
مِمَّا
افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
، وَمَا
يَزَالُ
عَبْدِي
يَتَقَرَّبُ
إِلَيَّ
بِالنَّوَافِلِ
حَتَّى أُحِبَّهُ
؛ فَإِذَا
أَحْبَبْتُهُ
كُنْتُ سَمْعَهُ
الَّذِي يَسْمَعُ
بِهِ ،
وَبَصَرَهُ
الَّذِي
يُبْصِرُ بِهِ
، وَيَدَهُ
الَّتِي
يَبْطِشُ
بِهَا ، وَرِجْلَهُ
الَّتِي
يَمْشِي
بِهَا ،
وَإِنْ سَأَلَنِي
لَأُعْطِيَنَّهُ
، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي
لَأُعِيذَنَّهُ
“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan
perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu
yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku
tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku
mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia
gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat,
menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia
gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan
jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.” (HR.
Bukhari).
Maksudnya
adalah Allah ﷻ menjaga dan membimbing seorang hamba dalam pendengarannya,
penglihatannya, dalam derap langkahnya, dalam gerak-gerik tangannya, dan dalam
setiap keadaannya.
Ketiga: Mengutamakan kecintaan kepada Allah
terhadap kecintaan pada diri sendiri.
Betapa
pun diri kita mencintai sesuatu dan cenderung kepada sesuatu, kita harus tetap
mendahulukan keicntaan dan keridhaan Allah. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,
Nabi ﷺ bersabda,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ : مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada
tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan
mendapatkan rasa manisnya iman. Yaitu: (1) apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia
cintai daripada yang selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang hanya
karena Allah. (3) Ia membenci kembali kepada kekafiran sesudah Allah
menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia membenci jika
dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keempat: Mengetahui dan memahami nama-nama
dan sifat-sifat Allah.
Semakin
seorang hamba memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka semakin besar pula
kecintaannya kepada Allah ﷻ. Semakin ia memahami keduanya, maka
semakin jauh pula ia dari perbuatan dosa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا
يَخْشَى
اللَّهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir: 28).
Kelima: Mengingat-ingat nikmat Allah dan kebaikan-Nya
kepada kita.
Allah
ﷻ
berfirman,
وَمَا
بِكُمْ مِنْ
نِعْمَةٍ
فَمِنَ
اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari
Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53).
Apabila
Anda mengingat satu nikmat Allah kepadamu atau salah satu anugerahnya atau
pemberiannya, maka akan timbul perasaan cinta dan semakin bertambah cinta
tersebut. Cinta kepada Dzat yang telah berbuat baik dan memberi Anda.
Renungkanlah! Siapa yang telah mencinptakan Anda dengan fisik yang sempurna?
Siapakah yang memberikan pendengaran dan penglihatan kepada Anda? Siapakah yang
memenuhi semua kebutuhan Anda? Siapakah yang memberikan segala yang Anda
butuhkan berupa kesehatan dan kemampuan? Siapakah yang menganugerahkan tempat
tinggal dan anak-anak? Siapakah yang memberikan harta dan keamanan? dll. Dari
bentuk-bentuk pemberian-Nya. Semuanya adalah Allah.
Nabi
kita Muhammad ﷺ, apabila beliau membaringkan tubuh di tempat tidur beliau
setiap malam, beliau mengingat-ingat nikmat Allah ﷻ. Lalu beliau memuji Allah:
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِي
أَطْعَمَنَا
وَسَقَانَا
وَكَفَانَا
وَآوَانَا ،
فَكَمْ مِمَّنْ
لَا كَافِيَ
لَهُ وَلَا
مُؤْوِيَ
“Segala puji bagi Allah yang memberi makan kami, memberi
minum kami, mencukupi kami, dan memberi tempat berteduh. Berapa banyak orang
yang tidak mendapatkan kecukupan dan tempat berteduh.” (HR. Muslim).
Keenam: Berkumpul bersama orang-orang shaleh
dan bertakwa.
Duduk-duduk
dan berkumpul bersama orang-orang shaleh dan bertakwa, perkataan, akhlak, dan
adab mereka akan memberikan pengaruh positif kepada kita. Nabi ﷺ
bersabda,
الْمَرْءُ
عَلَى دِينِ
خَلِيلِهِ
فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ
مَنْ
يُخَالِلْ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh
karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”.
(HR. Abu Daud, dll.).
Ketujuh: Menjauhi setiap perkara yang dapat
memberi jarak pada hubungan dirinya dengan Rabnya.
Betapa
banyak di zaman ini hal-hal yang dibenci. Hal-hal yang bisa memalingkan
seseorang dan hatinya dari cinta kepada Allah. Kita sendiri mengetahui
siaran-siaran televisi yang memberikan musibah bagi seseorang. Website-website
yang merusak. Majalah-majalah rendahan yang mengikis moral. Dan masih banyak
sarana-sarana lain yang menyibukkan hati, memberi penyakit pada jiwa, dan
melemahkan iman. Sehingga hati pun tidak terisi rasa cinta kepada Ar-Rahman.
Barangispa
yang menginginkan hatinya terpenuhi rasa cinta yang suci, hendaknya mereka
memutus jalan-jalan yang bisa menghalangi hal-hal tersebut.
Inilah
beberapa jalan yang bisa mengantarkan seseorang untuk cinta dan ridha kepada
Rabnya secara utuh. Kita memohon kepada Allah ﷻ dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya agar
Dia menganugerahi kita cinta kepada-Nya.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ كُلَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَكُلَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ فِي قُلُوْبِنَا أَحَبُّ إِلَيْنَا مِنْ أَمْوَالِنَا وَأَوْلَادِنَا وَمُلَّذَاتِنَا وَأَحَبُّ إِلَيْنَا مِنَ المَاءِ البَارِدِ فِي شِدَّةِ الظَمْأَ وَالعَطَشِ، إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَأَنْتَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَأَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ :
Ibadallah,
Diriwayatkan
oleh Imam Bukhari dalam shahihnya, sebuah hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhaillahu ‘anha:
أَنَّ
النَّبِيَّ
صلى الله عليه
وسلم بَعَثَ
رَجُلًا
عَلَى
سَرِيَّةٍ
وَكَانَ
يَقْرَأُ
لِأَصْحَابِهِ
فِي
صَلَاتِهِمْ
فَيَخْتِمُ
بِـ ﴿ قُلْ
هُوَ اللَّهُ
أَحَدٌ ﴾ ،
فَلَمَّا
رَجَعُوا
ذَكَرُوا
ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ
صلى الله عليه
وسلم فَقَالَ
: سَلُوهُ
لِأَيِّ
شَيْءٍ
يَصْنَعُ
ذَلِكَ ؟ فَسَأَلُوهُ
فَقَالَ
لِأَنَّهَا
صِفَةُ الرَّحْمَنِ
وَأَنَا
أُحِبُّ أَنْ
أَقْرَأَ
بِهَا –
تأملوا جوابه
رعاكم الله –
فَقَالَ النَّبِيُّ
صلى الله عليه
وسلم
أَخْبِرُوهُ
أَنَّ
اللَّهَ
يُحِبُّهُ )) ،
وفي رواية
((حُبُّكَ إِيَّاهَا
أَدْخَلَكَ
الْجَنَّةَ )) .
“Sesungguhnya Nabi ﷺ mengutus seseorang kepada sekelompok
pasukan, dan ketika orang itu mengimami yang lainnya di dalam shalatnya, ia
membaca, dan mengakhiri (bacaannya) dengan قُلْ
هُوَ اللهُ
أَحَدٌ, maka tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal
itu kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau pun bersabda: “Tanyalah ia, mengapa ia
berbuat demikian?” Lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab:
“Karena surat ini (mengandung) sifat ar Rahman, dan aku mencintai untuk
membaca surat ini,” lalu Nabi ﷺ bersabda: “Beritahu dia,
sesungguhnya Allah pun mencintainya”.
Ayyuhal
mukminun,
Perhatikanlah!
Membaca Alquran dan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah, kemudian
merenungkannya dan mentadabburinya adalah di antara sebab terbesar cinta kepada
Allah. Bahkan memasukkan seseorang ke adalam surga dan terbebas dari neraka.
Semoga
Allah menganugerahi kita semua hal ini. Karena Dia Maha mendengar lagi Maha
mengabulkan doa.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَلَيْسَ فِي عِبَادِ اللهِ عَبْدٌ أَعْظَمُ فِي تَحْقِيْقِ مَحَبَّةِ اللهِ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَهُوَ إِمَامُ المُحِبِّيْنَ، وَقُدْوَةُ المُوَحِّدِيْنَ، وَسَيِّدِ وَلَدِ آدَمَ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةَ
المَهْدِيِيْنَ
؛ أَبِي
بَكْرِ الصِدِّيْقِ
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعِنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا.
اَللَّهُمَّ
وَلِّ
عَلَيْنَا
خِيَارَنَا
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا لِهُدَاكَ،
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ،
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَّالِحَةِ
النَاصِحَةِ
يَا ذَا الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَاجْعَلْهُمْ
رَحْمَةً
وَرَأْفَةً
عَلَى
عِبَادَكَ
المُؤْمِنِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ
وَالغِنَى.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ قُلُوْبِنَا
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى النُّوْرِ.
اَللَّهُمَّ
وَبَارِكْ
لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَأَوْقَاتِنَا،
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
حُبَّكَ، وَحُبَّ
مَنْ
يُحِبُّكَ،
وَحُبَّ
كُلَّ عَمَلٍ
يُقَرِّبُنَا
إِلَى
حُبِّكَ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
رِضْوَانَكَ
وَالجَنَّةَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ رِضْوَانَكَ
وَالجَنَّةَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مُوْجِبَاتِ
رَحْمَتِكَ،
وَعَزَائِمَ
مَغْفِرَتِكَ،
وَشُكْرَ
نِعْمَتِكَ
وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ،
وَقَلْبًا
سَلِيْمًا
وَلِسَانًا
صَادِقًا.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ )عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com