
May 2, 2016
Khotbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ المُتَوَالِيَةِ وَعَطَايَاهُ المُتَتَالِيَةِ وَنِعَمِهِ اَلَّتِي لَا تَعُدَّ وَلَا تُحْصَى, أَحْمَدُهُ جَلَّا وَعَلَا وَأُثْنِي عَلَيْهِ
الخَيْرَ
كُلَّهُ لَا
نُحْصِي
ثَنَاءَ عَلَيْهِ
هُوَ سُبْحَانَهُ
كَمَا
أَثْنَى
عَلَى
نَفْسِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
Kaum
muslimin sekalian!
Siapa
yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan
matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa
kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.
Memakan
harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan
tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu
yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik,
lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat
dari pada karya seni indah nan antik.
Siapa
yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya, buruk isi
hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan
akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati
mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang
lain.
Tidak
akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak
juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat
naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.
Jika
urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika
dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya
adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat
pengelabuan.
وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]
“Dan
sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di
antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang)
berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka
ini.” Qs Shad : 24
Seburuk-buruk
tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah
kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa
tercukupi, bertindak tidak senonoh.
Termasuk
kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli
waris lainnya. Allah –Subhanahu
wa Ta’ala– berfirman :
وَتَأۡكُلُونَ
ٱلتُّرَاثَ
أَكۡلٗا
لَّمّٗا [
الفجر/19]
“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur
adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19
Kata
“At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan
“Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan
pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian
warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah
diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.
Maka
barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan
dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli
waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi
salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan
aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas
bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk
dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan
merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat
Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.
Pada
akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]
“Itulah
ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian
tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan
Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak
pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara
apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan
pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang
mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah
keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam
ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke
dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang
menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14
Pengkhianat
zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan
anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul
pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :
اللَّهُمَّ
إِنِّي
أُحَرِّجُ
حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ
الْيَتِيمِ
وَالْمَرْأَةِ
[ أخرجه ابن
ماجه من حديث
إبى هريرة ]
“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi
siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan
wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.
Wahai
Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !
Wahai
Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi
mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.
Wahai
Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak
yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak
berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.
Sungguh
celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena
kesengsaraan akan terus menghantui Anda…
Bagaimana
jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan
lahan garapan.
Anda
telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam
kemiskinan dan keterlantaran…
Mana
mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah,
hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas
saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian,
pelecehan dan penistaan. ?
Siapakah
yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan
membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…?
Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan
menggunakan sesukanya?
Celakalah
dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di
antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak
dan kewajiban sama seperti mereka.
Maka
takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan
kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada,
dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang
berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan
memperlambat dan jangan bermain-main.
Sesungguhnya
bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba.
Rasulullah –shallallahu
alaihi wa sallam– bersabda :
اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Bagilah
harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian
yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka
berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ إِنَّهُ
هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى
اللهَ وَقَاهُ
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ،
وَتَقْوَى
اللهِ – عَبِادَ
اللهِ – أَنْ
يَعْمَلَ
العَبْدُ بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ يَرْجُوْ
ثَوَابَ
اللهِ،
وَأَنْ
يَتْرُكَ مَعْصِيَةَ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ يَخَافُ
عِقَابَ اللهِ
.
Saudaraku
kaum Muslimin,
Wahai
Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya. Wahai Anda yang
mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta
yang lain!
Wahai
Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut
tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah
Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?
Distribusikanlah
harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya
jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa
kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.
Dari
‘Uqbah bin al-Haarits –radhiallahu
‘anhu– berkata,
صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ
“Aku
sholat ashar di belakang Nabi –shallallahu
alaihi wa sallam– di Madinah, lalu Nabi salam kemudian
berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau
menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun
terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu. Maka Nabi pun keluar
menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena
ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas
dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut
mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan
untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)
Dari
‘Aisyah – radhiallahu
‘anha – berkata :
اشْتَدَّ
وَجَعُ
رَسُولِ
اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَعِنْدَهُ
سَبْعَةُ
دَنَانِيرَ
أَوْ
تِسْعَةٌ،
فقَالَ: «يَا
عَائِشَةُ
مَا فَعَلَتْ
تِلْكَ الذَّهَبُ»؟
فَقُلْتُ:
هِيَ
عِنْدِي،
قَالَ: «تَصَدَّقِي
بِهَا»، قَالَتْ:
فَشُغِلْتُ
بِهِ، ثُمَّ،
قَالَ: «يَا
عَائِشَةُ
مَا فَعَلَتْ
تِلْكَ
الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ:
هِيَ
عِنْدِي،
فقَالَ:
«ائْتِنِي بِهَا»،
قَالَتْ:
فَجِئْتُ
بِهَا،
فَوَضَعَهَا
فِي كَفِّهِ،
ثُمَّ،
قَالَ: «مَا
ظَنُّ
مُحَمَّدٍ
أَنْ لَوْ
لَقِيَ
اللَّهَ وَهَذِهِ
عِنْدَهُ»
“Sakit Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– semakin
keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka
beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan
emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”.
Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun
tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian
beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan
kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada
padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”.
Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di
telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan
Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada
padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)
Dan
dari Ummu Salamah –radhiallahu
‘anha– ia berkata,
دَخَلَ
عَلَيَّ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَهُوَ
سَاهِمُ الْوَجْهِ،
حَسِبْتُ
ذَلِكَ مِنْ
وَجْعٍ، فَقُلْتُ:
مَا لِي
أَرَاكَ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْكَ،
سَاهِمَ
الْوَجْهِ، قَالَ:
«مِنْ أَجْلِ
الدَّنَانِيرِ
السَّبْعَةِ
الَّتِي
أَتَتْنَا
الْأَمْسِ
فَلَمْ
نَقْسِمْهَا»
“Rasulullah –shallallahu
alaihi wa sallam– menemuiku dalam kondisi berubah raut
wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa
aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh
kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan”
(HR Ibnu Hibban)
Camkan,
hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu
sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– berubah
!!.
Maka
bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat
mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka
menunda-nunda.
Semoga
Allah –Subhanahu wa
Ta’ala– meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ عَلَى النَّبِيِّ المُصْطَفَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)). اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنِ
اتَّبِعُهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ,
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ إِخْوَانَنَا
فِي كُلِّ
مَكَانٍ
اَللَّهُمَّ
انْصُرْهُمْ
فِي
فِلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
أَيِّدْهُمْ
بِتَأْيِيْدِكَ
وَاحْفَظْهُمْ
بِحِفْظِكَ يَا
ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
وَعَلْيَكَ
بِاليَهُوْدِ
المُعْتَدِيْنَ
الغَاصِبِيْنَ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ
اللَّهُمَّ
مِنْ
شُرُوْرِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى
وَأَعِنْهُ
عَلَى
البِرِّ
وَالتَّقْوَى
وَسَدِدْهُ
فِي أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ
وَأَلْبِسْهُ
ثَوْبَ
الصِحَّةَ
العَافِيَةَ
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَالِحَةَ
النَاصِحَةَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أُمُوْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَاجْعَلْهُمْ
رَحْمَةً
وَرَأْفَةً
عَلَى
عِبَادَكَ
المُؤْمِنِيْنَ.
اَللَّهُمَ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَهَا،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالسَّدَادَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ
الخَيْرِ
كُلِّهُ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ
مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ نَعْلَمْ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
الشَّرِّ
كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ
مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ
إِنَّكَ
أَنْتَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ.
Khotbah
Jumat, Masjid Nabawi, 8 Rajab 1437 H oleh Syekh Shalah Al-Budair
Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja
Artikel firanda.com
Diposting
ulang oleh www.KhotbahJumat.com