
July 5, 2011
***
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للهِ الَّذي خَلَقَ السَـمَوَاتِ وَالأَرْضَ، وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ. وَالْحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَ الْعِلْمَ عَلَى الْجَهْلِ، فَقَالَ: قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُوْنَ وَتاَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْعَلِيْمُ بِمَنْ يُصْلِحُ لِلْعِلْمِ وَالدِّيْنِ . ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْقُائِلُ: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ . صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَسَلَّمَ تَسْلِمًا
Ma’syiral muslimin! Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta mempelajari
hukum-hukum syariat-Nya, dengan cara menuntut ilmu yang bermafaat. Sebab, ilmu
itu merupakan cahaya sekaligus petunjuk, sedangkan kebodohan adalah kegelapan
dan kesesatan. Pelajarilah apa yang telah Allah turunkan berupa wahyu kepada
Rasul-Nya. Sesungguhnya, ulama adalah pewaris para nabi. Adapun para nabi dulu
tidak mewariskan uang dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka,
siapa yang mengambil ilmu tersebut, berarti ia telah mengabil bagian kekayaan
yang besar dari warisan mereka. Pelajarilah ilmu, karena ia adalah kemulaiaan
di dunia dan akhirat, serta akan memberikan pahala yang terus mengalir sampai
hari kiamat. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
”Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah [58]: 11)
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْعَبْدُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ خَارِيـَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بـِهِ مِنْ بَعْدِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
“Jika
seorang hamba menginggal dunia, maka pahala amalnya terputus kecuali dari tiga
hal, yakni sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan oleh orang-orang
sepeninggalannya, atau anak shalih yang mendoakannya.”
Mari kita perhatikan, betapa kita masih merasakan
pengaruh-pengeruh para ulama Rabbani
hingga hari ini, meski berbulan-bulan dan bertahun-tahun telah berlalu.
Pengaruh mereka terpuji, jalan mereka diikuti, nama mereka terus disebut, usaha
mereka patut disyukuri. Jika nama mereka disebut di majelis-majelis, maka
orang-orang pun memohon rahmat dan mendoakan mereka. Jika disebut tentang amal
shaleh dan adab-adab luhur, maka mereka merupakan teladan manussia dalam
melaksakannya.
Ma’asyiral muslimin! Pelajarilah ilmu dan amalkanlah, sebab
mempelajari ilmu merupakan jihad
fi sabilillah, dan dengan mengamalkan ilmu akan mendatangkan cahaya
dan bashirah
dari Allah.
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَالَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا
“Apakah
orang yang sudah mati, lantas Kami menghidupkannya dan Kami berikan kepadanya
cahaya terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah
masyarakat manusia, serupa dengan orang yang berada dalam gelap gulita yang
sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (Al-An’am [6]:
122)
Ma’asyiral muslimin! Tak lama lagi kita akan menghadapi tahun
palajaran baru. Pada tahun pelajaran baru itu siswa-siswa akan menerima
ilmu-ilmu yang diajarkan kepada mereka, sedangkan para guru akan menghadapi
siswa-siswa yang hendak menimba ilmu, adab, dan akhlak dari mereka. Demi Allah,
apakah yang telah mereka persiapkan untuk menghadapi hal ini?
Hendaklah para siswa mempersiapkan diri menghadapi tahun pelajaran
ini dengan kesungguhan dan semangat mempelajari ilmu semaksimal mungkin,
melalui sarana-sarana dan cara- cara yang memungkinkan. Hendaklah para siswa
berupaya bersungguh-sungguh untuk menancapkan ilmu-ilmu itu di hati dan
bersungguh-sungguh mempelajarinya sejak awal tahun pelajaran, karena hal itu
akan memantapkan ilmu yang mereka terima dan memudahkan mereka meraihnya.
Sebab, jika seorang siswa bersungguh-sungguh sejak awal tahun, berarti ia
menyerap ilmu sedikit demi sedikit, sehingga belajarnya menjadi mudah. Namun,
apabila ia bersantai-santai dia awal tahun, maka sesudah itu ia pasti akan
mengalami kesulitan, dan ilmu-ilmu tersebut akan semakin berumpuk, sehingga
bayangan ilmu di benaknya hanya sepintas lalu, tertancap kuat di hati dan
mengendap di otak.
Selain itu, bila seorang siswa telah menguasai ilmu tentang suatu
persoalan, ia wajib menerapkan dan melaksanakannya pada dirinya, agar ilmu yang
diperolehnya itu bermanfaat bagi dirinya. Karena ilmu yang bermanfaat adalah
ilmu yang dipraktikan seseorang secara nyata, sedangkan amal adalah buah dari
ilmu. Orang bodoh sungguh lebih baik daripada orang berilmu yang tidak dapat
mendapat manfaat dari ilmunya dan tidak melaksanakannya. Ilmu adalah senjata,
mungkin senjata itu bermanfaat bagimu untuk menghadapi musuh justru mencelakai
dirimu.
Saya katakan kepada para siswa! Jika kamu semua telah mengetahui
satu persoalan agama, maka laksakanlah. Jika tidak, apa gunanya ilmu yang telah
kamu mengerti itu? Jika ada seorang yang telah mempelajari ilmu kedokteran,
tetapi ia tidak pernah mengobati dirinya sendiri dan orang lain, maka menurutmu
apa faidah ilmunya? Begitu pula ilmu-ilmu agama, jika tidak dilaksanakan. Bahkan,
ilmu agama lebih penting. Jika kamu melaksanakan ilmu tersebut, maka ia menjadi
ilmu yang paling bermanfaat, tetapi jika kamu melanggarnya, maka ia akan
menjadi hujjah
yang mencelakakanmu.
Wahai para guru! Anda semua berkewajiban menunaikan hak-hak agung
umat Anda dan hak-hak para siswa yang belajar tersebut karena Allah, dengan
ikhlas, memohon pertolongan kepada-Nya, dengan tujuan memberikan mafaatbagi
anak-anak dan para siswa yang mempelajari ilmu dari kalian. Ikhlaskan niat
dalam mengajar, pergunakan metode pengajaran yang paling mudah dan paling cepat
memberikan pemahaman. Sikapilah setiap kelas dengan sikap yang sesuai, karena
mengajari para ahli tentu tidak sama dengan mengajari para pemula.
Hendaklah! Anda memberikan contoh akhkak mulia di hadapan siswa.
Jauilah segala akhlak tercela dan nista. Sesungguhnya murid itu akan mengikuti
perilaku dan akhlak gurunya, sebagaimana ia menerima ilmu darinya.
Berikan pengarahan kepada anak-anak Anda, para siswa, setiap ada
kesempatan untuk menyelesaikan pengarahan itu. Sesungguhnya, guru sejati adalah
guru yang memadukan antara pengajaran dan pendidikan yang baik, sedangkan Allah
mencintai para pelaku kebaikan.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيـْطَانِ الرَّخِيْمِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: الر كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ * اللهِ الَّذِي لَهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ وَوَيْلٌ لِّلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
بَارَكَ
اللهُ لِي
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ
وَجَعَلَنَا
اللهُ مِنَ
الَّذِيْنَ
يَسْتَمِعُوْنَ
الْقَوْلَ
فَيَتَّبِعُوْنَ
أَحْسَنَهُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِـرُ
الله لِيْ وَلَكُمْ
KHUTBAH KEDUA
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ.
اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَ
الْمُسْلِمينَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ. اللَّهُمَّ
اجْعَلْ
هَذَا
الْبَلَدَ
آمِنًا مُطْمَئِنًّا
وَسَائِرَ
بِلاَدِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً،
يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ
آمِنَّا فِيْ
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلاَةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلاَيَتَنَا
فِيْ مَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُونَ
وَسَلَامٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ
Khutbah
Jumat Kewajiban Berilmu dan Mengamalkannya (3452)
Disalin dari Kumpulan
Khotbah Jumat karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Alqowam
Solo disertai penyuntingan bahasa dan beberapa tambahan oleh Tim Redaksi KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com