SIFAT KHUTBAH JUM'AT
Ustadz Abu Isma'il
al-Atsari حفظه
الله
Sumber: www.ibnumajjah.wordpress.com
dari almanhaj.or.id dari Majalah As-Sunnah Ed.02 Th.VIII 1425 H
/ 2004 M
MUQODDIMAH
الحمد
لله رب العالمين.
وصلى الله على
نبينا محمد
وعلى آله وصحبه
ومن تبعهم
بإحسان إلى
يوم الدين،
أَمَّا بَعْدُ:
Sesungguhnya
khutbah Jum’at merupakan kesempatan yang sangat besar untuk berdakwah dan
membimbing manusia menuju keridhaan Allah. Hal itu, jika khutbah dimanfaatkan
sebaik-baiknya, dengan menyampaikan materi yang dibutuhkan oleh hadirin
menyangkut masalah agama mereka, dengan ringkas, tidak panjang lebar, dan
dengan cara yang menarik serta tidak membosankan, sebagaimana dicontohkan telah
Nabi Muhammad صلى
الله عليه
وسلم.
KEDUDUKAN
KHUTBAH JUM'AT
Diantara
bukti yang menunjukkan pentingnya khutbah Jum’at adalah sebagai berikut.
Pertama: Perintah Allah untuk segera
mendatangi shalat Jum’at dan khutbahnya, dan larangan berjual-beli serta
mu’amalah lainnya pada saat itu.
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
إِذَا نُودِيَ
لِلصَّلاَةِ
مِن يَوْمِ
الْجُمُعَةِ
فَاسْعَوْا
إِلَى ذِكْرِ
اللهِ
وَذَرُوا
الْبَيْعَ
ذَلِكُمْ
خَيْرٌ
لَّكُمْ إِن كُنتُمْ
تَعْلَمُونَ
"Hai, orang-orang yang beriman.
Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu
kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih
baik bagimu jika kamu mengetahui" (QS. Al-Jumu'ah/62: 9)
Kedua: Perintah untuk mendengarkan
khutbah, dan gugurnya pahala shalat Jum’at bagi orang yang berbicara saat
khutbah berlangsung. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasul صلى
الله عليه
وسلم bersabda.
إِذَا
قُلْتَ
لِصَاحِبِكَ
أَنْصِتْ
يَوْمَ
الْجُمُعَةِ
وَالْإِمَامُ
يَخْطُبُ فَقَدْ
لَغَوْتَ
"Jika engkau berkata kepada
kawanmu “diamlah!”, pada hari Jum’at dan imam sedang
berkhutbah, maka engkau telah mengatakan perkataan sia-sia" (HR Bukhari,
no. 934; Muslim, no. 851)
Al
Hafizh Ibnu Hajar رحمه
الله berkata,”Hadits
ini dijadikan dalil larangan terhadap seluruh macam perkataan pada saat
khutbah, dan demikian itu pendapat mayoritas ulama’ terhadap orang yang
mendengar khutbah.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari)
Ketiga: Makmum dilarang melakukan segala perkara
yang melalaikan dari mendengar khutbah. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah رضي
الله عنه, Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم bersabda.
مَنْ
تَوَضَّأَ
فَأَحْسَنَ
الْوُضُوءَ
ثُمَّ أَتَى
الْجُمُعَةَ
فَاسْتَمَعَ
وَأَنْصَتَ
غُفِرَ لَهُ
مَا بَيْنَهُ
وَبَيْنَ
الْجُمُعَةِ
وَزِيَادَةُ
ثَلَاثَةِ
أَيَّامٍ
وَمَنْ مَسَّ
الْحَصَى
فَقَدْ لَغَا
"Barangsiapa
berwudhu, lalu dia melakukan wudhu itu sebaik-baiknya, lalu dia mendatangi
(khutbah) Jum’at, lalu mendengarkan dan diam, maka diampuni (dosanya)
yang ada antara Jum’at itu dengan Jum’at lainnya, ditambah tiga
hari. Dan barangsiapa menyentuh kerikil (yakni mempermainkannya, Pen.), maka
dia telah berbuat sia-sia" (HR Muslim, no. 857; Abu Dawud, no. 105;
Tirmidzi, no. 498; Ibnu Majah, no. 1090)
Imam
An Nawawi رحمه
الله berkata,”Pada
hadits di atas terdapat larangan menyentuh kerikil dan permainan lainnya pada
saat khutbah. Di dalamnya terdapat isyarat, agar hati dan anggota badan
(hadirin) tertuju kepada khutbah. Dan yang dimaksudkan dengan “berbuat
sia-sia” di sini, yaitu perbuatan batil, tercela, dan tertolak.” (Syarh
Muslim, karya An Nawawi)
Keempat: Malaikat mendengarkan khutbah
Jum’at. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah رضي
الله عنه, Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم bersabda,
إِذَا
كَانَ يَوْمُ
الْجُمُعَةِ
كَانَ عَلَى
كُلِّ بَابٍ
مِنْ
أَبْوَابِ
الْمَسْجِدِ مَلَائِكَةٌ
يَكْتُبُونَ
الْأَوَّلَ
فَالْأَوَّلَ
فَإِذَا
جَلَسَ
الْإِمَامُ
طَوَوُا
الصُّحُفَ
وَجَاءُوا
يَسْتَمِعُونَ
الذِّكْرَ
"Jika
hari Jum’at, pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid terdapat
malaikat-malaikat yang menulis orang pertama (yang hadir), kemudian yang
pertama (setelah itu). Jika imam telah duduk (di mimbar untuk berkhutbah),
mereka melipat lembaran-lembaran (catatan keutamaan amal) dan datang
mendengarkan dzikir (khutbah)". (HR Muslim, no: 24, 850)
Al
Hafizh Ibnu Hajar رحمه
الله berkata:
“Yang dimaksudkan dengan melipat lembaran-lembaran, adalah melipat
(menutup) lembar catatan keutamaan-keutamaan yang berkait dengan bersegera
menuju masjid, bukan lainnya, seperti: (lembaran yang mencatat pahala) mendengarkan
khutbah, mendapati shalat, dzikir, do’a, khusyu’, dan semacamnya;
karena sesungguhnya hal itu pasti ditulis oleh dua malaikat penjaga”. (Fathul
Bari, 2/448, Darul Hadits, Kairo, penjelasan hadits no. 881)
Dari
keterangan-keterangan di atas jelaslah, bahwa khutbah Jum’at memiliki
kedudukan yang agung dalam syari’at Islam, sehingga sepantasnya seorang
khatib melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Seorang khathib harus
memahami aqidah yang shahihah (benar), sehingga dia tidak sesat dan menyesatkan
orang lain. (Seorang khatib seharusnya) memahami fiqih, sehingga mampu
membimbing manusia dengan cahaya syari’at menuju jalan yang lurus.
(Seorang khatib harus) memperhatikan keadaan masyarakat, kemudian mengingatkan
mereka dari penyimpangan-penyimpangan dan mendorong kepada ketaatan.
Seorang
khathib sepantasnya juga seorang yang shalih, mengamalkan ilmunya, tidak
melanggar larangan, sehingga akan memberikan pengaruh kebaikan kepada para
pendengar. Wallahu a’lam.
TATACARA
KHUTBAH JUM'AT
Kita
meyakini, bahwa Nabi Muhammad صلى
الله عليه
وسلم adalah
suri teladan terbaik dalam beragama dan beribadah kepada Allah. Oleh karenanya,
hendaknya kita mencontoh Beliau dalam berkhutbah. Dan pasti, cara khutbah Nabi
adalah yang paling baik dan utama. Berikut adalah petunjuk Nabi صلى
الله عليه
وسلم secara
ringkas dalam menyampaikan khutbah Jum’at:
Pertama: Khathib naik mimbar, lalu
mengucapkan salam kepada hadirin.
Kedua: Kemudian duduk, menanti adzan
selesai, sambil menirukan adzan.
Ketiga: Kemudian berdiri untuk berkhutbah
dan membukanya dengan:
·
Hamdalah (bacaan
alhamdulillah).
·
Sanjungan kepada
Allah,
·
Syahadatain,
·
Bacaan shalawat
Nabi,
·
Bacaan ayat-ayat
taqwa,
·
Dan perkataan amma
ba’d.
Semua ini dapat
dilihat pada contoh khutbah yang akan kami sampaikan insya Allah.
Keempat: Khathib berkhutbah dengan berdiri,
menghadapkan wajah kepada jama’ah.
Kelima: Duduk diantara dua khutbah, dengan
tidak berbicara pada saat duduknya.
Keenam: Khutbah hendaklah sebentar, shalat
lebih panjang, namun keduanya itu sedang.
Ketujuh: Khathib hendaklah menjiwai
khutbahnya.
Kedelapan: Berkhutbah dengan perkataan yang
jelas dan tidak berbicara cepat.
Kesembilan: Jika ada keperluan, boleh
menghentikan khutbahnya sementara. Seperti mengingatkan shalat tahiyatul masjid
bagi orang yang baru datang, menegur hadirin yang ramai, dan semacamnya.
Kesepuluh: Jika berdo’a, mengisyaratkan
dengan jari telunjuk.
Kesebelas: Setelah selesai berkhutbah,
mengimami shalat.
Penulis -semoga Allah menjaganya-
menyebutkan 11 hal (point) dalam penyampaikan Khutbah, hanya saja setelah
ini dalam menyebutkan dalil-dalil beliau hanya menyebutkan 10 point, yang mana
point 1 dan 2 dalam 11 point tersebut penulis gabungkan dalam dalil pertama. Wallahu
a’lam. Ibnu Majjah
DALIL-DALIL TATACARA KHUTBAH JUM'AT
Adapun Dalil-dalil Hal di Atas
Adalah Sebagai Berikut:
Pertama: Khathib naik mimbar, lalu
mengucapkan salam kepada hadirin, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir bin
Abdullah رضي
الله عنه,
أَنَّ
النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
كَانَ إِذَا
صَعِدَ الْمِنْبَرَ
سَلَّمَ
"Sesungguhnya Nabi صلى
الله عليه
وسلم jika
telah naik mimbar biasa mengucapkan salam". (HR Ibnu Majah, dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
Bagaimana
bentuk mimbar Rasulullah? Hal ini disebutkan dalam banyak hadits shahih, antara
lain:
عَنِ
ابْنِ
عَبَّاسٍ
قَالَ
وَكَانَ
مِنْبَرُ
النَّبِيِّ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَصِيرًا
إِنَّمَا
هُوَ ثَلَاثُ
دَرَجَاتٍ
"Dari Ibnu Abbas, dia berkata:
“Dan mimbar Nabi صلى
الله عليه وسلم
pendek. Mimbar
Beliau hanyalah tiga tingkat”. (HR Ahmad, 1/268-269. Dihasankan oleh
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Washabi dalam kitab Al Jauhar Fi
‘Adadi Darajatil Mimbar, hlm. 61-64)
Dalam
hadits lain disebutkan, bahwa mimbar Nabi itu dua tingkat, kemudian yang ke
tiga tempat duduknya. (HR. Ibnu Khuzaimah, no. 1777, dan lainnya. Lihat kitab Al
Jauhar Fi ‘Adadi Darajatil Mimbar, hlm. 55-56).
Sesungguhnya
tidak ada perselisihan antara kedua hadits itu, karena mimbar tersebut ada tiga
tingkat, tingkat ke dua untuk berdiri, dan tingkat ke tiga untuk duduk,
wallahu a’lam.
عَنِ
السَّائِبِ
بْنِ يَزِيدَ
قَالَ كَانَ النِّدَاءُ
يَوْمَ
الْجُمُعَةِ
أَوَّلُهُ
إِذَا جَلَسَ
الْإِمَامُ
عَلَى
الْمِنْبَرِ
عَلَى عَهْدِ
النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَأَبِي
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
رَضِي
اللَّهُ عَنْهُمَا
فَلَمَّا
كَانَ
عُثْمَانُ
رَضِي اللَّهُ
عَنْهُ
وَكَثُرَ
النَّاسُ
زَادَ النِّدَاءَ
الثَّالِثَ
عَلَى
الزَّوْرَاءِ
قَالَ أَبُو
عَبْد
اللَّهِ
الزَّوْرَاءُ
مَوْضِعٌ
بِالسُّوقِ
بِالْمَدِينَةِ
"Dari
Saib bin Yazid, dia berkata: “Dahulu adzan yang pertama pada hari
Jum’at ketika imam telah duduk di atas mimbar. Itu pada zaman Nabi صلى
الله عليه
وسلم, Abu Bakar, dan Umar رضي
الله عنهما.
Ketika Utsman رضي
الله عنه (menjadi
Khalifah), dan orang-orang telah banyak, ia menambah adzan yang ketiga di
Zaura”. Abu Abdullah (yaitu Imam Bukhari) berkata, ”Zaura adalah
satu tempat di pasar di kota Madinah.” (HR Bukhari, no. 912)
Adapun
khathib menirukan adzan, disebutkan dalam hadits di bawah ini:
عَنْ
أَبِي
أُمَامَةَ
بْنِ سَهْلِ
بْنِ
حُنَيْفٍ
قَالَ
سَمِعْتُ
مُعَاوِيَةَ
بْنَ أَبِي
سُفْيَانَ
وَهُوَ
جَالِسٌ
عَلَى الْمِنْبَرِ
أَذَّنَ
الْمُؤَذِّنُ
قَالَ اللَّهُ
أَكْبَرُ
اللَّهُ
أَكْبَرُ
قَالَ مُعَاوِيَةُ
اللَّهُ
أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ
قَالَ
أَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ
فَقَالَ
مُعَاوِيَةُ
وَأَنَا
فَقَالَ
أَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
رَسُولُ
اللَّهِ
فَقَالَ
مُعَاوِيَةُ
وَأَنَا
فَلَمَّا
أَنْ قَضَى
التَّأْذِينَ
قَالَ يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
إِنِّي
سَمِعْتُ
رَسُولَ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
عَلَى هَذَا الْمَجْلِسِ
حِينَ
أَذَّنَ
الْمُؤَذِّنُ
يَقُولُ مَا
سَمِعْتُمْ
مِنِّي مِنْ
مَقَالَتِي
"Dari Abu Umamah Sahl bin
Hunaif, dia berkata: Aku mendengar Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang sedang
duduk di atas mimbar, ketika muadzin berkata “Allahu Akbar, Allahu
Akbar”, Mu’awiyah berkata “Allahu Akbar, Allahu Akbar”.
Muadzin berkata “Asyhadu alla ilaha illallah”, Mu’awiyah
berkata: “Dan saya”. Muadzin berkata “Asyhadu anna Muhammadar
Rasulullah”, Mu’awiyah berkata: “Dan saya”. Setelah
muadzin menyelesaikan adzannya, Mu’awiyah berkata: “Wahai, manusia.
Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم di
atas tempat duduk ini -ketika muadzin beradzan-, Beliau mengatakan apa yang
kamu dengar dariku, yaitu perkataanku”. (HR Bukhari, no. 914).
Kedua: Kemudian berdiri untuk berkhutbah
dan membukanya dengan: hamdalah, sanjungan kepada Allah, syahadatain, shalawat,
bacaan ayat-ayat taqwa, dan perkataan amma ba’d. Hal ini antara lain
ditunjukkan oleh banyak hadits, diantaranya hadits Abdullah رضي
الله عنه. Dia
mengatakan, “Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم mengajarkan
kami khutbah hajat (yaitu):
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
(نَحْمَدُهُ
وَ) نَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوذُ
بِهِ مِنْ
شُرُورِ
أَنْفُسِنَا
(وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا)
مَنْ يَهْدِ
اللَّهُ
فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا هَادِيَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ
(وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ) وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
( يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالْأَرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا )
(يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ )
( يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلًا
سَدِيدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا )
(أَمَّا بَعْدُ:)
"Dari Abdullah, dia berkata:
Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم telah
mengajari kami khutbah untuk keperluan: “Alhamdulillah…,”
artinya Segala puji bagi Allah (kami memujiNya), mohon pertolongan kepadaNya,
dan memohon ampunan kepadaNya. Serta kami memohon perlindungan kepadaNya dari
kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amalan kami.
Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh
Allah, tidak ada seorangpun yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang
disesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tidak ada yang
berhak diibadahi, kecuali Allah (semata, tidak ada sekutu bagiNya), dan saya
bersaksi bahwa Muhammad صلى
الله عليه
وسلم adalah
hamba dan utusanNya.
Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran/3:
102)
Hai sekalian manusia, bertaqwalah
kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya
Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
(QS. An Nisa’/4: 1)
Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya
Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan
barangsiapa menta'ati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat
kemenangan yang besar. (QS. Al Ahzab/33: 70-71).
Amma ba’du. (HR Ahmad dan
lainnya. Syaikh Al-Albani mengumpulkan sanad-sanad hadits ini di dalam sebuah
kitab kecil dengan judul Khutbah Hajah)
Setelah
memaparkan sanad-sanad hadits khutbah hajah, Syaikh Al Albani berkata dalam
penutup kitab kecil beliau “Khutbah Hajah”: “Dari
hadits-hadits yang telah lalu, menjadi jelas bagi kita bahwa khutbah ini
(yaitu, perkataan innal hamda lillah…) digunakan untuk membuka
seluruh khutbah-khutbah, baik khutbah nikah, khutbah Jum’at, atau
lainnya”.(Khutbah Hajah, hlm. 31, karya Syaikh Al-Albani)
Walaupun
membuka khutbah Jum’at dengan khutbah hajah sebagaimana di atas hukumnya
bukan wajib, namun pastilah merupakan keutamaan, karena diajarkan oleh Nabi صلى
الله عليه
وسلم. Dan dari khutbah hajah itu kita
mengetahui bahwa khutbah Nabi صلى
الله عليه
وسلم dibuka
dengan: hamdalah, pujian kepada Allah, syahadatain, bacaan ayat-ayat taqwa, dan
perkataan amma ba’d.
Imam
Ibnul Qayyim رحمه
الله berkata:
“Tidaklah Nabi صلى
الله عليه
وسلم berkhutbah,
kecuali Beliau membuka dengan hamdalah, membaca syahadat dengan dua kalimat
syahadat, dan menyebut dirinya sendiri dengan nama diri beliau”. (Zadul
Ma’ad, 1/189)
Tentang
membaca syahadat di dalam khutbah, ditegaskan juga dalam hadits lain,
sebagaimana hadits Abu Hurairah رضي
الله عنه, Nabi صلى
الله عليه
وسلم bersabda,
كُلُّ
خُطْبَةٍ
لَيْسَ
فِيهَا
تَشَهُّدٌ
فَهِيَ
كَالْيَدِ
الْجَذْمَاءِ
"Tiap-tiap khutbah yang tidak
ada tasyahhud (syahadat) padanya, maka khutbah itu seperti tangan yang
terpotong” (HR Abu Dawud, kitab Al-Adab, Bab: Di dalam Khutbah.
Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Dawud)
Membaca
shalawat di dalam khutbah merupakan sunnah dan keutamaan, sebagaimana dilakukan
oleh Ali bin Abi Thalib رضي
الله عنه dalam khutbahnya. Disebutkan dalam
riwayat di bawah ini:
عَنْ
عَوْنِ بْنِ
أَبِي
جُحَيْفَةَ
قَالَ كَانَ
أَبِي مِنْ
شُرَطِ
عَلِيٍّ
رَضِي
اللَّهُ
عَنْهُ وَكَانَ
تَحْتَ
الْمِنْبَرِ
فَحَدَّثَنِي
أَبِي
أَنَّهُ
صَعِدَ
الْمِنْبَرَ
يَعْنِي
عَلِيًّا
رَضِي
اللَّهُ
عَنْهُ
فَحَمِدَ اللَّهَ
تَعَالَى
وَأَثْنَى
عَلَيْهِ وَصَلَّى
عَلَى
النَّبِيِّ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَقَالَ
خَيْرُ
هَذِهِ
الْأُمَّةِ
بَعْدَ نَبِيِّهَا
أَبُو بَكْرٍ
وَالثَّانِي
عُمَرُ رَضِي
اللَّهُ
عَنْهُ
وَقَالَ
يَجْعَلُ
اللَّهُ
تَعَالَى
الْخَيْرَ
حَيْثُ أَحَبَّ
Dari ‘Aun bin Abi Juhaifah,
dia berkata: Dahulu bapakku termasuk pengawal Ali رضي
الله عنه, dan berada di
bawah mimbar. Bapakku bercerita kepadaku bahwa Ali رضي
الله عنه naik mimbar, lalu memuji Allah سبحانه
و تعالى dan menyanjungNya, dan bershalawat atas Nabi صلى
الله عليه
وسلم, dan berkata: “Sebaik-baik
umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, yang kedua adalah Umar رضي
الله عنهما“.
Ali رضي الله
عنه juga
berkata: “Alloh menjadikan kebaikan di mana Dia cintai” (Riwayat
Ahmad di dalam Musnad-nya, 1/107, dan dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
Ketiga: Khathib berkhutbah dengan berdiri dan
menghadapkan wajah kepada jama’ah, dan jama’ah menghadap wajah
kepada khathib. Dari Ibnu Umar رضي
الله عنهما,
dia berkata,
كَانَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَخْطُبُ
يَوْمَ
الْجُمُعَةِ
قَائِمًا
ثُمَّ
يَجْلِسُ
ثُمَّ يَقُومُ
"Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم biasa
berkhutbah dengan berdiri pada hari Jum’at, kemudian Beliau duduk,
kemudian Beliau berdiri" (HR Muslim, no. 861)
Imam
Bukhari berkata: “Bab: Imam menghadap kepada kaum (jama’ah), dan
orang-orang menghadap kapada imam ketika dia berkhutbah. Ibnu Umar رضي
الله عنهما
dan Anas رضي
الله عنه menghadap kepada imam”.
Ibnul
Mundzir رحمه
الله mengatakan:
“Aku tidak mengetahui perselisihan diantara ulama tentang hal itu”.
(Fathul Bari, 2/489. Penerbit: Darul Hadits, Kairo).
Ibnu
Hajar رحمه
الله mengatakan:
“Diantara hikmah makmum menghadap kepada imam, yaitu bersiap-siap untuk
mendengarkan perkataannya, dan melaksanakan adab terhadap imam dalam
mendengarkan perkataannya. Jika makmum menghadapkan wajah kepada imam, dan
menghadapkan kepada imam dengan tubuhnya, hatinya, dan konsentrasinya, hal itu
lebih mendorong untuk memahami nasihatnya dan mencocoki imam terhadap apa yang
telah disyari’atkan baginya untuk dilaksanakan”. (Fathul Bari,
2/489. Penerbit: Darul Hadits, Kairo).
Keempat: Duduk diantara dua khutbah, tidak
berbicara ketika duduknya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir رضي
الله عنه, dia berkata,
رَأَيْتُ
النَّبِيَّ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَخْطُبُ
قَائِمًا
ثُمَّ يَقْعُدُ
قَعْدَةً لَا
يَتَكَلَّمُ
"Aku melihat Nabi صلى
الله عليه
وسلم berkhutbah
berdiri, lalu duduk sebentar, Beliau tidak berbicara". (HR Abu Dawud,
dihasankan oleh Al Albani).
Kelima: Khutbah hendaklah sebentar, shalat
lebih panjang, namun keduanya itu sedang.
قَالَ
أَبُو
وَائِلٍ
خَطَبَنَا
عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ
وَأَبْلَغَ
فَلَمَّا
نَزَلَ
قُلْنَا يَا
أَبَا
الْيَقْظَانِ
لَقَدْ
أَبْلَغْتَ
وَأَوْجَزْتَ
فَلَوْ
كُنْتَ
تَنَفَّسْتَ
فَقَالَ
إِنِّي
سَمِعْتُ
رَسُولَ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَقُولُ
إِنَّ طُولَ
صَلَاةِ
الرَّجُلِ
وَقِصَرَ
خُطْبَتِهِ
مَئِنَّةٌ
مِنْ
فِقْهِهِ
فَأَطِيلُوا
الصَّلَاةَ
وَاقْصُرُوا
الْخُطْبَةَ
وَإِنَّ مِنَ
الْبَيَانِ
سِحْرًا
"Abu
Wa’il berkata: ’Ammar رضي
الله عنه berkhutbah kepada kami dengan
ringkas dan jelas. Ketika dia turun, kami berkata,”Hai, Abul Yaqzhan
(panggilan Ammar). Engkau telah berkhutbah dengan ringkas dan jelas, seandainya
engkau panjangkan sedikit!” Dia menjawab, ”Aku telah mendengar
Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم bersabda,
’Sesungguhnya panjang shalat seseorang, dan pendek khutbahnya merupakan
tanda kefahamannya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah! Dan
sesungguhnya diantaranya penjelasan merupakan sihir’.” (HR Muslim,
no. 869).
Dalam
hadits lain disebutkan, dari Jabir bin Samurah رضي
الله عنه, dia berkata,
كُنْتُ
أُصَلِّي
مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
فَكَانَتْ صَلَاتُهُ
قَصْدًا
وَخُطْبَتُهُ
قَصْدًا
"Aku biasa shalat bersama
Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم, maka shalat Beliau sedang, dan
khutbah Beliau sedang". (HR Muslim, no. 866).
Adapun
ukuran panjang shalat Jum’at dapat dilihat dari kebiasaan Nabi صلى
الله عليه
وسلم. Beliau biasa membaca surat Al
A’la dan Al Ghasyiyah, atau Al Jumu’ah dan Al Munafiqun. Sehingga
khutbah Jum’at hendaklah tidak lebih lama dari itu. Dari An Nu’man رضي
الله عنه, dia berkata,
كَانَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقْرَأُ فِي
الْعِيدَيْنِ
وَفِي الْجُمُعَةِ
بِسَبِّحِ
اسْمَ
رَبِّكَ الْأَعْلَى
وَهَلْ
أَتَاكَ
حَدِيثُ
الْغَاشِيَةِ
"Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم biasa
membaca di dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at dengan: Sabbihisma
Rabbikal a’la dan Hal ataaka haditsul ghasyiyah". (HR
Muslim, no. 878).
قَالَ
أَبُو
هُرَيْرَةَ
إِنِّي
سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقْرَأُ
بِهِمَا
يَوْمَ
الْجُمُعَةِ
"Abu Hurairah
berkata,”Aku pernah mendengar Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم membaca
keduanya (surat Al A’la dan Al Ghasyiyah) pada hari Jum’at".
(HR Muslim, no. 862).
Syaikh
Abdul Aziz bin Muhammad Al ‘Ablaani berkata,”Memanjangkan khutbah
merupakan cacat yang seharusnya ditinggalkan oleh para khathib. Mereka lebih
mengerti daripada yang lain, bahwa pengunjung masjid pada shalat Jum’at
ada pemuda, ada orang tua pikun yang tidak mampu menahan wudhu’ dan
kesucian sampai waktu yang lama, ada orang yang memiliki kebutuhan lain, ada
orang yang lemah, orang sakit, dan ada orang-orang yang memiliki halangan.
Sehingga memanjangkan khutbah akan sangat menyusahkan mereka. Selain itu,
memanjangkan khutbah akan membangkitkan kebosanan, bahkan kejengkelan terhadap
khathib dan khutbahnya. Sebagaimana dikatakan (dalam pepatah): Sebaik-baik
perkataan adalah yang ringkas dan jelas, dan tidak panjang lebar yang
membosankan.” (Imamatul Masjid, hlm. 95-96).
Ketika
membicarakan tentang sunnah memendekkan khutbah Jum’at, Syaikh Ahmad bin
Muhammad Alu Abdul Lathif Al Kuwaiti berkata: “Wahai, khathib yang
membuat orang menjauhi dzikrullah (khutbah), karena engkau memanjangkan
perkataan! Tahukah engkau, bahwa diantara sunnah khutbah Jum’at adalah
meringkaskannya dan tidak memanjangkannya. Dan sesungguhnya memanjangkan khutbah
Jum’at menyebabkan para hadirin lari (tidak suka), menyibukkan fikiran,
dan tidak puas dengan tuntunan Nabi Pilihan (Muhammad) صلى
الله عليه
وسلم serta
para pendahulu umat ini yang baik-baik”. (Al ‘Ujalah Fi
Sunniyyati Taqshiril Khutbah, hlm. 6).
Kalau
kita memperkirakan lama khutbah Jum’ah yang baik, mungkin sekitar 15
menit. Wallahu a’lam.
Keenam: Khathib hendaklah menjiwai
khutbahnya.
عَنْ
جَابِرِ بْنِ
عَبْدِ
اللَّهِ
قَالَ كَانَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
إِذَا خَطَبَ
احْمَرَّتْ
عَيْنَاهُ
وَعَلَا
صَوْتُهُ
وَاشْتَدَّ
غَضَبُهُ
حَتَّى
كَأَنَّهُ
مُنْذِرُ جَيْشٍ
يَقُولُ
صَبَّحَكُمْ
وَمَسَّاكُمْ
"Dari Jabir bin Abdullah رضي
الله عنه, dia
berkata,”Kebiasaan Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم jika
berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya tinggi, dan kemarahannya
sungguh-sungguh. Seolah-olah Beliau memperingatkan tentara dengan
mengatakan:’ Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi’,
‘Musuh akan menyerang kamu pada waktu sore’.” (HR Muslim, no.
867).
Imam
Nawawi رحمه
الله berkata,”Hadits
ini dijadikan dalil, bahwa khathib disukai yang membesarkan perkara khutbah
(yakni serius dan sungguh-sungguh dalam masalah khutbah,Pen.),
meninggikan suaranya, membesarkan perkataannya. Dan hal itu (hendaklah) sesuai
dengan tema yang dia bicarakan, yang berupa targhib (dorongan kepada
kebaikan) dan tarhib (ancaman terhadap keburukan). Dan kemungkinan
kemarahan Beliau yang sungguh-sungguh yaitu ketika Beliau memperingatkan
perkara yang besar dan urusan yang penting.” (Al Minhaj,
6/155-156. Dinukil dari kitab Hadyun Nabi Fi Khutbatil Jum’ah,
hlm. 16, Syaikh Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir).
Ketujuh: Berkhutbah dengan perkataan yang
jelas, pelan-pelan, dan tidak berbicara dengan cepat, sebagaimana hadits
A’isyah رضي الله
عنها,
...لَـمْ
يَكُنْ
يَسْرُدُ
الْحَدِيثَ
كَسَرْدِكُمْ
"... Beliau tidak berbicara
cepat sebagaimana engkau berbicara cepat." (HR Bukhari, Muslim).
Dalam
riwayat lain, disebutkan:
وَلَكِنَّهُ
كَانَ
يَتَكَلَّمُ
بِكَلاَمٍ
بَيِّنٍ
فَصْلٍ,
يَحْفَظُهُ
مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ
"Tetapi Beliau berbicara dengan
pembicaraan yang terang, jelas, orang yang duduk bersama Beliau dapat
menghafalnya". (HR Tirmidzi di dalam Asy Syamail, no. 191).
Dalam
riwayat lain, disebutkan:
...يَفْهَمُهُ
كُلُّ مَنْ
سَمِعَهُ
"Setiap orang yang mendengarnya
akan memahaminya" (HR Abu Dawud)
Rasulullah
صلى
الله عليه
وسلم tidak
memperbanyak perkataan dalam khutbahnya, juga tidak mengiringkan perkataan
mengikuti lainnya, sehingga perkataan itu masuk ke perkataan lainnya. Beliau
tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan khutbah. Bahkan Beliau melambatkan
perkataan dan tidak terburu-buru dalam mengeluarkannya. Metode ini, jelas
memberikan kemampuan para pendengar untuk memahami khutbah dan mencapai
tujuannya. (Hadyun Nabi Fi Khutbatil Jum’ah, hlm. 36, Syaikh Dr.
Anis bin Ahmad bin Thahir)
Kedelapan: Jika ada keperluan, khatib
boleh menghentikan khutbahnya sementara. Seperti mengingatkan orang yang hadir
tentang shalat tahiyatul masjid, menegur hadirin yang ramai, dan semacamnya.
Sebagaimana dalam hadits Jabir, bahwa Sulaik masuk masjid pada hari
Jum’at sementara Nabi صلى
الله عليه
وسلم sedang
berkhutbah, lalu ia duduk. Maka Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم bersabda
kepadanya,
يَا
سُلَيْكُ
قُمْ
فَارْكَعْ
رَكْعَتَيْنِ
وَتَجَوَّزْ
فِيهِمَا
ثُمَّ قَالَ
إِذَا جَاءَ
أَحَدُكُمْ
يَوْمَ
الْجُمُعَةِ
وَالْإِمَامُ
يَخْطُبُ
فَلْيَرْكَعْ
رَكْعَتَيْنِ
وَلْيَتَجَوَّزْ
فِيهِمَا
“Hai, Sulaik! Berdirilah, lalu
shalatlah dua raka’at, dan ringkaskanlah dua raka’at itu.”
Kemudian Beliau bersabda,”Jika salah seorang diantara kamu datang, pada
hari Jum’at, ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia shalat dua
raka’at, dan hendaklah dia meringkaskan dua raka’at itu.” (HR
Muslim, no. 875/59).
Begitu
juga Khalifah Umar رضي
الله عنه pernah menegur seorang sahabat yang
datang terlambat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, yang artinya:
Dari Ibnu Umar رضي الله
عنهما, bahwa ketika
Umar bin Al Khaththab sedang berdiri dalam khutbah pada hari Jum’at,
tiba-tiba ada seorang laki-laki -dari Muhajirin yang awal diantara sahabat Nabi
صلى
الله عليه
وسلم - masuk
(masjid). Maka Umar menegurnya,”Jam berapa sekarang?” Laki-laki itu
menjawab,”Aku disibukkan, sehingga aku tidak pulang kepada keluargaku
sampai aku mendengar adzan, lalu aku tidak menambah kecuali sekedar
berwudhu.” Maka Umar mengatakan,”Dan berwudhu’ saja? Padahal
engkau telah mengetahui, bahwa Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم dahulu
memerintahkan mandi.” (HR Bukhari, no. 878).
Kesembilan: Jika berdo’a,
mengisyaratkan dengan jari telunjuk.
عَنْ
عُمَارَةَ
ابْنِ
رُؤَيْبَةَ
قَالَ رَأَى
بِشْرَ بْنَ
مَرْوَانَ
عَلَى الْمِنْبَرِ
رَافِعًا
يَدَيْهِ
فَقَالَ
قَبَّحَ اللَّهُ
هَاتَيْنِ
الْيَدَيْنِ
لَقَدْ رَأَيْتُ
رَسُولَ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
مَا يَزِيدُ
عَلَى أَنْ يَقُولَ
بِيَدِهِ
هَكَذَا
وَأَشَارَ
بِإِصْبَعِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
"Dari ‘Umarah bin
Ruaibah, dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar sedang mengangkat kedua
tangannya. Maka ‘Umarah berkata: “Semoga Allah memburukkan dua
tangan itu! Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah صلى
الله عليه
وسلم tidaklah
lebih dari mengisyaratkan dengan tangannya begini”. Dia mengisyaratkan
dengan jari telunjuknya". (HR Muslim, no. 874)
Di
dalam riwayat Ahmad disebutkan, bahwa perbuatan itu dilakukan ketika
berdo’a dalam khutbah.
Tentang
khathib berdo’a di atas mimbar ini, Syaikh Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir
berkata: (Termasuk penyimpangan para khathib, yaitu) mendo’akan kebaikan
untuk orang-orang tertentu setiap Jum’at, dan selalu menetapi hal itu
seperti (menetapi) Sunnah. Adapun mendo’akan kebaikan untuk kaum muslimin
semuanya, dan untuk penguasa secara khusus terus-menerus, maka ini perkara yang
disyari’atkan, tidak terlarang. Telah diriwayatkan dari Abu Musa رضي
الله عنه, bahwa jika ia
berkhutbah, ia memuji Allah, menyanjungNya, memohonkan shalawat kepada Allah
untuk Nabi صلى
الله عليه
وسلم, dan mendo’akan kebaikan untuk
Abu Bakar رضي
الله عنه dan Umar رضي
الله عنه. Ibnu Qadamah رحمه
الله berkata:
”Khathib disukai mendo’akan kebaikan untuk mukminin dan mukminat
serta untuk dirinya dan hadirin. Jika dia mendo’akan kebaikan untuk
penguasa kaum muslimin, maka itu merupakan kebaikan … Karena jika
penguasa kaum muslimin baik, padanya juga terdapat kabaikan kaum muslimin. Maka
do’a kebaikan untuk penguasa kaum muslimin, merupakan do’a kebaikan
untuk kaum muslimin, dan itu disukai, bukan makruh”. (Al Mughni,
3/181. Dinukil dari Hadyun Nabi Fi Khutbatil Jum’ah, hlm. 16).
Kesepuluh: Setelah selesai berkhutbah,
kemudian mengimami shalat. Dalam hadits Abu Hurairah رضي
الله عنه, Nabi صلى
الله عليه
وسلم bersabda:
إِذَا
قُلْتَ
لِصَاحِبِكَ
أَنْصِتْ
يَوْمَ
الْجُمُعَةِ
وَالْإِمَامُ
يَخْطُبُ
فَقَدْ
لَغَوْتَ
"Jika engkau berkata kepada
kawanmu “diamlah!”, pada hari Jum’at, sementara imam sedang
berkhutbah, maka engkau telah mengatakan perkataan sia-sia". (HR Bukhari,
no. 934; Muslim, no. 851).
Sabda
Nabi صلى
الله عليه
وسلم “sementara
imam sedang berkhutbah” ini menunjukkan, bahwa imam shalat adalah khathib
Jum’at. Dan ini merupakan kebiasaan kaum muslimin sejak dahulu, sehingga
kita tidak sepantasnya menyelisihinya. Wallahu a’lam bish shawab.[]