
June
8, 2015
Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ غَرَسَ شَجَرَةَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِ مَنِ اخْتَارَهُمْ لِعُبُوْدِيَتِهِ، وَخَصَّهُمْ بِوَافِرِ رَحْمَتِهِ وَجَزِيْلِ نِعْمَتِهِ، وَفَضَّلَهُمْ بِجُوْدِهِ وَكَرَمِهِ عَلَى سَائِرِ خَلِيْقَتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ النِّعْمَةِ وَمُسَدِّيُ المِنَّةِ؛ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، أَرْسَلَهُ لِلْخَلَائِقِ رَحْمَةً، وَجَعَلَهُ لِلْصَالِحِيْنَ إِمَاماً وَقُدْوَةً، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهَ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى.
Ibadallah,
Sesungguhnya
kesudahan yang baiklah bagi seorang yang bertakwa, baik di dunia maupun di
akhirat. Akhir cerita dari orang yang bertakwa adalah kekelan dan kebahagiaan.
Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah ﷻ atas nikmat-Nya yang begitu banyak. Allah ﷻ
telah berjanji akan menambah nikmat-Nya bagi siapa yang bersyukur.
﴿
وَإِذْ
تَأَذَّنَ
رَبُّكُمْ
لَئِنْ شَكَرْتُمْ
لَأَزِيدَنَّكُمْ
وَلَئِنْ
كَفَرْتُمْ
إِنَّ
عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih”. (QS:Ibrahim | Ayat: 7).
Ibadallah,
Di
antara nikmat-nikmat Allah yang Dia anugerahkan kepada kita adalah nikmat hidup
kita pada saat ini. Masa-masa yang dekat dengan bulan Ramadhan. Masa-masa musim
kebaikan dan ketaatan. Di Arab, masa-masa seperti ini adalah masa-masa panen
buah kurma. Dari sana banyak jenis kurma datang ke Indonesia. Ini adalah nikmat
yang besar. Yang patut disyukuri. Allah ﷻ ridha kepada hamba-Nya yang beriman untuk
memakan makanan yang baik, kemudian memuji-Nya sebagai ekspresi syukur.
Kemudian meminum minuman yang baik, lalu memuji-Nya. Allah ﷻ sangat
mencintai hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji-Nya dan bersyukur atas
nikmat-Nya.
Ibadallah,
Pada
bulan Ramadhan, banyak orang membicarakan buah kurma dengan berbagai macam
jenisnya. Orang meramunya menjadi berbagai macam bentuk makanan bahkan minuman.
Kemudian membicarakan rasanya.
Ibdallah,
Masa-masa
seperti ini kita harus mencontoh bagaimana orang-orang shaleh terdahulu
menjalaninya. Karena kurma adalah buah yang penuh berkah. Buah yang Allah ﷻ
jadikan permisalan untuk para hamba-Nya. Allah ﷻ berfirman,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah
kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik
seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu
ingat.” (QS:Ibrahim | Ayat: 24-25).
Dalam
Shahih Bukhari
dan Shahih Muslim
bahwasanya suatu hari Nabi ﷺ datang dengan membawa beberapa butir
kurma. Kemudian beliau bersabda,
إِنَّ
مِنْ
الشَّجَرِ
شَجَرَةً
مَثَلُهَا
كَمَثَلِ
الْمُسْلِمِ
“Sesungguhnya di antara pohon-pohon, ada sebuah pohon yang
dipermisalkan seperti seorang muslim.”
Dalam
riwayat lain ada tambahan
تُؤْتِي
أُكُلَهَا
كُلَّ حِيْنٍ
بِإِذْنِ رَبِّهَا
وَلَا
تَحُتُّ
وَرَقُهَا
“memberi manfaat kepada orang lain dan tidak gugur
daun-daunnya?”
Abdullah
bin Umar radhiallahu
‘anhuma berkata,
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ
قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ
يَوْمًا
لأَصْحَابِهِ
«
أَخْبِرُونِى
عَنْ
شَجَرَةٍ
مَثَلُهَا
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِ
». فَجَعَلَ
الْقَوْمُ
يَذْكُرُونَ
شَجَرًا مِنْ
شَجَرِ الْبَوَادِى.
قَالَ ابْنُ
عُمَرَ
وَأُلْقِىَ
فِى نَفْسِى
أَوْ رُوعِىَ
أَنَّهَا
النَّخْلَةُ
فَجَعَلْتُ
أُرِيدُ أَنْ
أَقُولَهَا
فَإِذَا
أَسْنَانُ
الْقَوْمِ
فَأَهَابُ
أَنْ
أَتَكَلَّمَ
فَلَمَّا
سَكَتُوا
قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ -صلى
الله عليه
وسلم- « هِىَ
النَّخْلَةُ
».
“Suatu hari, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya,
‘Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya seperti
seorang mukmin?’ Maka para sahabat pun menyebutkan jenis-jenis pohon di
lembah-lembah. Ibnu Umar berkata, ‘Terlintas dalam benakku untuk menjawab
pohon kurma, tetapi aku segan menjawabnya karena banyak para sahabat yang lebih
tua dariku’. Tatkala para sahabat diam, Rasulullah bersabda, ‘Pohon
itu adalah pohon kurma’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam
hadits lainnya diriwayatkan oleh ath-Thabari dan lainnya dalam al-Mu’jam,
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِ
مَثَلُ
النَّخْلَةِ ,
مَا أَخَذْتَ
مِنْهَا مِنْ
شَيْءٍ
نَفَعَكَ
“Permisalan seorang mukmin adalah bagaikan pohon kurma.
Bagian manapun yang kau ambil, maka akan bermanfaat untukmu.”
Pada
musim-musim Ramadhan, bertambahlah rasa syukur dan dzikir kepada Allah. Inilah
yang diteladankan para pendahulu kita yang shaleh. Allah pun semakin menambah
karunia-Nya kepada mereka. Mereka berusaha meningkatkan keimana mereka.
Memperbaiki agama mereka. Dan semakin serius menaati Allah ﷻ.
Saat-saat
seperti inilah yang AllaH ﷻ permisalkan seorang mukmin di dalam
Alquran. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, dari Anas bin Malik rahiallahu ‘anhu.
Suatu hari Anas pernah membawa sepiring kurma masak. Tidak ditemui kurma masak
seperti itu kecuali di musim itu. Dan di sisinya ada Abu al-Aliyah. Anas
berkata, “Makanlah wahai Abu al-Aliyah. Sesungguhnya ini adalah dari
pohon yang Allah ﷻ sebutkan di dalam kitab-Nya”. Kemudian Anas membaca
firman Allah,
أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ
ضَرَبَ
اللَّهُ
مَثَلًا
كَلِمَةً
طَيِّبَةً
كَشَجَرَةٍ
طَيِّبَةٍ
أَصْلُهَا
ثَابِتٌ
وَفَرْعُهَا
فِي السَّمَاءِ
(24) تُؤْتِي
أُكُلَهَا
كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ
رَبِّهَا
وَيَضْرِبُ
اللَّهُ الْأَمْثَالَ
لِلنَّاسِ
لَعَلَّهُمْ
يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia
supaya mereka selalu ingat.” (QS:Ibrahim | Ayat: 24-25).
Ibadallah,
Ketika
kita merenungkan ayat ini. Sungguh Allah telah memberi permisalan seorang
mukmin dengan permisalan yang baik. Itulah pohon kurma yang kita dapati
persamaannya dengan seorang mukmin sebagai berikut:
Pertama: Pohon kurma adalah pohon yang baik.
Bahkan sebaik-baik dan seutama-utama pohon.
Keutamaannya
disamakan dengan orang-orang yang beriman sudah cukup menjadi alasan
keistimewaannya. Sifat seorang mukmin adalah sifat yang baik. Oleh karena itu,
dikatakan kepada penduduk surga di hari kiamat kelak,
طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
“Kalian
(orang-orang beriman) telah baik! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di
dalamnya”. (QS:Az-Zumar | Ayat: 73).
Baik
adalah sifat dari orang-orang yang beriman. Mereka baik dalam keadaannya,
perkataan, perbuatan, dan dalam segala hal.
Kedua: Kurma memiliki akar yang kokoh.
Allah
ﷻ
berfirman,
أَصْلُهَا ثَابِتٌ
“Akarnya
kokoh” (QS:Ibrahim | Ayat: 24).
Demikianlah
sifat seorang mukmin. Jika keimanan seseorang kuat, ia akan kokoh sebagaimana
kokohnya gunung. Imam al-Auza’i pernah ditanya tentang apakah iman itu
bertambah. Beliau rahimahullah
menjawab, “Iya, ia bertambah hingga ia seperti gunung”. Kemudian
beliau ditanya lagi, “Apakah berkurang?” Beliau menjawab,
“Iya, iman itu berkurang. Hingga tak tersisa darinya sedikit pun”.
Ketiga: Kurma memiliki cabang-cabang yang
menjulur ke langit.
Hal
ini sama seperti cabang-cabang iman. Ia memiliki cabang yang suci. Yaitu
berbagai macam bentuk ketaatan, ibadah, amalan-amalan yang bisa mendekatkan
diri kepada Allah berupa perkataan-perkataan yang benar dan amalan-amalan yang
shaleh.
Keempat: Kurma memiliki buah yang
terus-menerus.
Demikian
pula dengan orang yang beriman. Ia memiliki buah berupa akhlak yang terpuji.
muamalah yang mulia dan adab yang baik. Sebagaiman telah disebutkan tadi dalam
sabda Nabi ﷺ:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ , مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ
“Permisalan
seorang mukmin adalah bagaikan pohon kurma. Bagian manapun yang kau ambil, maka
akan bermanfaat untukmu.”
Orang
yang beriman begitu terasa kebaikannya dan orang lain jauh dari keburukannya.
Keimanan itu akan menghasilkan amalan yang baik. Ketaatan yang tulus. Adab yang
indah. Dan akhlak yang terpuji.
Kelima:
Pohon kurma butuh akan air yang menyiraminya. Apabila kurang air, maka ia menjadi
layu. Jika tidak diberi air sama sekali, ia akan mati.
Sama
halnya seperti orang yang beriman. Keimanannya harus senantiasa disirami dengan
air wahyu. Yaitu firman Allah dan sabda Rasulullah ﷺ. Hati itu hanya akan hidup dengan
mengkonsumsi keduanya. Allah ﷻ berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul
menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”
(QS:Al-Anfaal | Ayat: 24).
Keenam: Semakin tua usia pohon kurma, maka
semakin baik buahnya, semakin kuat akarnya, dan semakin banyak manfaatnya.
Nabi
ﷺ
pernah ditanya:
أَيُّ
النَّاسِ
خَيْرٌ؟
قَالَ: (( مَنْ
طَالَ عُمُرُهُ
وَحَسُنَ
عَمَلُهُ
“Siapakah orang yang paling baik?” Beliau menjawab,
“Orang yang panjang usianya dan baik amalannya.”
Ketujuh: Bagian manapun yang diambil dari
pohon kurma, maka ia akan bermanfaat.
Yakni
ia tidak akan memberi bahaya dan mudharat. Semuanya manfaat. Inilah sifat
orang-orang yang beriman.
Kedelapan: Buah kurma tidak hanya dalam satu
keadaan saja. Ada klasifikasi masa dan keadaan buahnya. Baik ketika dipandang,
dalam rasa, dll.
Demikian
juga keadaan orang-orang beriman. Orang-orang beriman tidak berada dalam satu
derajat yang sama. Allah ﷻ berfirman,
فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ
“di
antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada
yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat
kebaikan dengan izin Allah.” (QS:Faathir | Ayat: 32).
Ibadallah,
Wajib
bagi seorang mukmin untuk mengisi hari-hari dalam kehidupannya dalam keadaan
iman. Yakni menaati Allah. Mengingat-Nya. Menegakkan peribadatan kepada-Nya.
Beramal dengan amalan yang Dia ridhai. Dan menjadikan nikmat dan anugerah yang
Allah berikan kepadanya sebagai wasilah yang membantunya untuk menaati Allah.
أعوذ
بالله من
الشيطان
الرجيم ﴿
أَلَمْ تَرَ
كَيْفَ
ضَرَبَ
اللَّهُ
مَثَلًا
كَلِمَةً طَيِّبَةً
كَشَجَرَةٍ
طَيِّبَةٍ
أَصْلُهَا ثَابِتٌ
وَفَرْعُهَا
فِي
السَّمَاءِ (24)
تُؤْتِي
أُكُلَهَا
كُلَّ حِينٍ
بِإِذْنِ
رَبِّهَا
وَيَضْرِبُ
اللَّهُ
الْأَمْثَالَ
لِلنَّاسِ
لَعَلَّهُمْ
يَتَذَكَّرُونَ
﴾ .
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
الكَرِيْمِ،
وَنَفَعْنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Kita
telah mengetahui bahwa pohon kurma adalah pohon yang penuh berkah. Ia memberikan
sebaik-baik makanan untuk kita. Dan Allah ﷻ telah menjadikannya sebagai permisalan
untuk kita.
Pohon
keimanan haruslah ada tempat untuk menanamnya. Ia juga memiliki akar dan
cabang-cabang. Ia menghasilkan buah. Dan harus disirami dengan kadarnya.
Tempat
menanam pohon keimanan adalah hati seorang mukmin. Akarnya adalah mengimani
rukun iman yang enam. Iman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada
kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan beriman kepada
takdir yang baik dan yang buruk.
Cabangnya
adalah amalan shaleh dan ketaatan. Akhlak yang mulia dan muamalah yang baik.
Buahnya adalah segala kebaikan yang seorang hamba dapatkan di dunia dan
akhirat. Segala hal yang merupakan balasan dari keimanan. Adapun yang
menyiraminya adalah Kitabullah dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Ibadallah,
Semoga
Allah ﷻ terus menumbuhkan pohon keimanan di hati-hati kita. Dan semoga
Dia menganugerahkan kita siraman pemahaman terhadap Alquran dan sunnah
Rasul-Nya. Dan juga semoga Dia melindungi kita dari hal-hal yang dapat
melencengkan keimanan. Hal-hal yang melalaikan dan menghalangi yang menghambat
pertumbuhan pohon keimanan ini. Atau malah menyebabkan pohon tersebut mati.
Khotib memohon kepada Allah perlindungan untuk diri khotib pribadi dan jamaah
sekalian.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا - رَحمَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرٍ
الصِدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَى
وَأَعِنْهُ
عَلَى البِرِّ
وَالتَّقْوَى
وَسَدِدْهُ
فِي أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ،
اَللَّهُمَّ
وَمُنَّ
عَلَيْهِ
بِالصِّحَّةِ
وَالعَافِيَةِ،
اَللَّهُمَّ
أَلْبِسْهُ
ثَوْبَ
الصِّحَّةِ
وَالعَافِيَةِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ ﷺ
وَاجْعَلْهُمْ
رَحْمَةً
وَرَأْفَةً
عَلَى
عِبَادِكَ
المُؤْمِنِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ دِقَّهُ
وَجِلَّهُ
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذُكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com